Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Mencari Pengacara
Bab 34. Mencari Pengacara
(POV Author)
Mobil menderu kembali membelah jalan ibu kota. Menelusuri jalan dan menembus gang kecil untuk sampai tanpa kendala macet yang menjadi makanan sehari-hari.
Sesekali Lyra menatap Teguh yang tampak serius menyetir mobilnya. Rasa kagum itu terus mucul dan semakin bertambah dari hari ke hari walau mereka belum lama saling mengenal.
"Jangan lihatin Abang mulu Cil, ntar gantengnya Abang luntur."
Cih, dasar pede! Tapi bener sih... Batin Lyra.
"Ehem. Siapa juga yang lihatin Abang. Aku cuma sesekali nengokin sebelah sana aja kok." Kilah Lyra berdalih.
Teguh terkekeh melihat Lyra yang manyun.
Duh Cil, gemesin banget ciii... Untung bini orang, kalau nggak, dah Gue sosor nih! Batin Teguh. Eh...
"Bang, kira-kira pengacara itu mau bantuin aku nggak ya? Aku takutnya dia ada di pihak Mama."
"Jangan takut Cil, semua itu sudah Abang persiapkan."
"Iya, tenang aja. Yang Abang ingin sekarang kamu bisa bantuan Abang."
"Bantu gimana Bang?" Tanya Lyra antusias.
"Saat bertemu dengan mereka, siapa pun itu, jangan takut, jangan lemah karena kamu nggak salah. Kamu harus kuat dan tegas. Kedepannya mungkin akan ada hal-hal rumit yang menghalangi." Ujar Teguh.
Lelaki sudah banyak menangani bermacam kasus itu tentu telah banyak pengalaman dalam hidupnya. Sedikit banyak Teguh sudah dapat menganalisa akan seperti apa permasalahan yang ada.
Apalagi yang mengangkut soal harta dan warisan, bahkan tidak jarang ada yang sampai berbuat keji menghabisi nyawa seseorang.
Bener kata Abang, Gue nggak salah. Gue korban disini, jadi Gue nggak boleh lemah. Apalagi Abang udah banyak bantu Gue. Jadi Gue nggak boleh ngecewain Abang. Batin Lyra.
Setelah mutar-mutar mencari alamat pengacara tersebut, sampai lah mereka disebuah rumah dengan arsitektur bergaya Eropa bercat putih. Teguh yakin rumah itu adalah rumah sang pengacara yang mereka cari-cari.
Dengan melangkah pasti, selamat Teguh dan Lyra mendekati pintu dan memencet bel pintu disana.
"Selamat siang...." Sapa Teguh ramah sambil tersenyum.
"Siang, cari siapa ya?"
Seorang wanita paruh baya tampak bingung dengan kehadiran dua anak muda yang baru pertama kali di lihat olehnya itu.
"Saya Teguh dari Firma Jaya Abadi ingin bertemu dengan Bapak Hairul. Apa beliau ada di rumah Bu?" Tanya Teguh ramah dan sopan.
"Oh, ada. Mari masuk..."
Teguh dan Lyra mengangguk. Mereka pun masuk mengikuti langkah wanita paruh baya itu.
"Mari silahkan duduk, saya akan panggilkan suami saya dulu."
"Baik, terima kasih Bu..."
Wanita yang tu mengangguk sambil tersenyum, kemudian berlalu kedalam memanggil sang suami. Tidak lama kemudian lelaki tua yang diperkirakan Teguh adalah Bapak Hairul itu muncul dengan menggunakan kaca mata minus sambil memegang sebuah buku.
Teguh dan Lyra berdiri menyambut kedatangannya.
"Selamat siang Pak Hairul, Saya Teguh dari Firma Jaya Abadi." Sapa Teguh sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat siang." Jawab Pak Hairul menyambut uluran tangan Teguh lalu kemudian bergantian menjabat tangan Lyra. "Silahkan duduk..." Ujarnya kembali.
Teguh dan Lyra kembali duduk.
"Jadi ada apa ya?"
"Begini Pak, Saya mewakili klien Saya ingin membahas surat wasiat dari Muhammad Zailudin. Dia adalah putri kandung Almarhum, namanya Lyra Larasati."
"Oh ya, Saya ingat soal wasiat itu. Jadi Nak Lyra sudah memiliki pengacara sendiri. Lalu apa yang bisa Saya bantu?"
"Apa boleh Saya melihat wasiat itu Pak?"
"Boleh, tapi surat wasiat itu ada di kantor Firma anak Saya. Saat ini, Saya sudah pensiun. Jadi soal warisan itu di limpahkan kepada anak Saya."
Teguh mengangguk Paham.
"Jadi apa Nak Lyra ingin mengganti pengacara untuk yang mengurus wasiat itu?" Tanya Pak Hairul lagi.
"Iya Pak. Saya memercayakan segala kepengurusan wasiat itu kepada pengacara Saya." Jawab Lyra yakin.
"Baiklah Saya akan menelpon anak Saya untuk melimpahkan kepengurusan wasiat itu kepada saudara Teguh. Dan ini, alamat kantor anak Saya. Anda bisa datang kesana untuk mempelajari dan mengambil surat wasiat itu. Ah, juga ada rekaman suara milik Almarhum Pak Muhammad Zailudin."
Teguh mengangguk paham. Ia menerima kartu nama yang di berikan Pak Hairul padanya.
"Baiklah Pak, kami akan langsung ke sana." Ujar Teguh.
"Baik, silahkan saudara Teguh."
"Kalau begitu kami pamit permisi."
Sekali lagi Teguh dan Lyra menjabat tangan Pak Hairul. Kemudian mereka pun kembali menelusuri jalan menuju kantor firma yang tertera di dalam sebuah kartu nama yang diberikan oleh Pak Hairul.
Dalam hati Teguh berdecih. Ia sangat tahu kantor firma yang akan ia tuju ini. Sebuah firma yang sejak lama bersaing dengan firmanya. Firma yang yang sudah lama berdiri itu yang Teguh tahu di kepalai Oleh Robby Syailendra, sering menerima kasus korupsi, manipulasi dan sebagainya.
Semoga saja Gue nggak telat. Batin Teguh berkecamuk.
Ada perasaan bersalah dalam dirinya bila sampai dugaan-dugaan yang ada dalam pikirannya terjadi.
"Capek nggak Cil?"
"Laper Bang."
Teguh melirik arloji di tangan kirinya.
"Eh, iya udah jam 1an ya. Kita makan dulu kalau gitu."
Lyra mengangguk.
Teguh mengingat-ngingat di sekitar daerah itu, Dimana ada kafe atau restoran yang enak menurutnya. Lalu matanya tertuju pada sebuah bangunan mirip Joglo. Teguh pun merasa tertarik untuk mencoba makanan di kafe yang berada di daerah Depok itu.
"Kita makan disini saja ya Cil?"
"Boleh Bang, kayaknya enak."
Mereka segera turun dari mobil setelah di parkirkan. Lalu masuk ke dalam mencari tempat duduk yang nyaman bagi mereka.
"Silahkan Bapak, Ibu, mau pesan apa..." Tanya pelayan kafe itu dengan ramah.
"Aku aja ya Bang?"
"Pilih aja Cil."
"Abang mau yang mana?"
"Terserah deh, Abang suka yang pedes-pedes aja."
Lyra mengangguk paham. Kemudian ia menunjuk beberapa menu pesanannya kepada pelayan untuk di catat.
Teguh membiarkan Lyra memesan apa saja makanan yang ingin di makan wanita itu. Ia sendiri sibuk mengutak ngantik handphone-nya sedang berkirim pesan terhadap seseorang orang disana.
Teguh melihat ke arah Lyra yang tampak sama sepertinya sedang mengutak ngatik handphone. Wajah Lyra yang tampak serius membuat bibir wanita itu sedikit mengerucut ke depan. Dan itu membuat Teguh gemas.
Diam-diam Teguh mengambil foto Lyra yang menggemaskan baginya.
Hehehe, kayak ikan mujaer. Untung bukan di Korea, kalau nggak habis Gue dilaporin sama si Bocil pasti. Batin Teguh melihat hasil jepretannya tanpa diketahui Lyra.
15 menit kemudian makanan pun datang. Ada 4 jenis masakan yang di sajikan serta sebakul nasi untuk mereka berdua, lalu dua gelas Es teh, juga dua botol sedang air mineral.
"Ayo kita makan Cil." Ajak Teguh yang ternyata perutnya juga lapar, minta di manja dengan makanan.
"Bentar Bang, kurang."
Teguh bingung mengerutkan dahi.
"Masih ada pesanan lagi?" Tanya Teguh.
"Iya Bang. Nah itu dateng!" Seru Lyra.
Dua pelayan datang membawa masing-masing satu nampan yang berisi penuh makanan.
Mereka perlahan meletakkan satu persatu makanan itu di meja Teguh dan Lyra hingga meja itu penuh makanan.
"Ini beneran Cil?!" Tanya Teguh yang seketika mendapatkan serangan jantung dadakan.
Lyra mengangguk sambil tersenyum manis dengan mata berkedip nista agar Teguh tidak memarahinya.
Makanan yang Lyra pesan sangat banyak. Sepertinya hampir semua menu ia pesan. Dari beberapa jenis sayur hingga ayam-anyaman ada di meja mereka. Ada ayam kremes, ayam kalasan, ayam pedes manis, sampai opor ayam. Ada juga, ikan bakar, ikan gulai dan juga sate kambing. Tidak sampai disitu, ada udang goreng, cumi pedas dan juga kepiting pedas manis. Yang membuat Teguh shyok, kepiting itu bukan kepiting pada biasanya, melainkan King Crab.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄