NovelToon NovelToon
Pernikahan Tanpa Mempelai

Pernikahan Tanpa Mempelai

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Percintaan Konglomerat / Persahabatan / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Spion Off "Tuan Muda Amnesia"

Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.

Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.

Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan

Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beberapa bulan yang lalu

Tampak keluarga kecil sedang menunggu kedatangan seseorang di bandara internasional. Mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing demi menyambut putra sulung keluarga Alexander yang telah lama tinggal di luar negeri. Terakhir mereka bertemu beberapa tahun lalu karena kesibukan masing-masing.

Senyuman mereka mengembang melihat orang yang di tunggu-tunggu akhirnya terlihat dan berjalan mendekat bersama seorang pria di sampingnya. Mereka bersiap untuk menyambut tetapi Liam Alexander malah melewati keluarganya. Menghampiri seorang gadis yang berdiri tidak jauh darinya dengan senyuman yang sama pula.

"Aku merindukanmu Arumi," ucap Liam langsung memeluk putri sulung dari sahabat ayahnya.

Semua mata tertuju pada Liam, termasuk orang tua yang tidak menyangka putra sulung mereka akan melakukan hal itu.

"Aku mengira mas sudah melupakanku dan melupakan janji mas dulu," lirih Arumi membalas pelukan Liam.

"Mana mungkin." Liam tersenyum dan mengacak-acak rambut Arumi. "Keberadaanmu disini menjawab kekhawatiranku Arumi. Kamu masih menungguku bukan?"

Senyuman Liam semakin lebar mendapatkan anggukan. Tetapi senyuman itu berubah menjadi ringisan ketika punggungnya dipukul cukup keras oleh adik perempuannya.

"Ih kok malah meluk-meluk kak Arumi sih. Adek cantiknya kakak ada di sini!"

"Liam, jangan bilang bahwa perempuan yang sering kamu bicarakan itu adalah dia." Tunjuk Seaven dengan wajah terkejut.

"Hm, dia orangnya."

Liam berbalik memeluk adiknya tanpa melepaskan genggaman di tangan mungil milik Arumi. "Kita sering bertemu dek, kalau sama Arumi mas nggak pernah."

"Sepertinya mama melewatkan sesuatu tentangmu mas," Liora tersenyum ketika Liam beralih memeluknya.

Selama ini yang mama Liora tahu, Liam tidak suka pada Arumi sebab tidak sekalipun Liam ingin berbicara dengan Arumi semenjak meninggalkan tanah kelahirannya. Bahkan Arumi sendiri mendapatkan setiap kabar Liam darinya.

Selama Liam di luar negeri menempuh pendidikan, hampir setiap hari Arumi mengunjungi kediaman Alexander mempertanyakan kapan Liam pulang. Bagaimana kabar Liam di sana.

Saat ditanya kenapa tidak menghubunginya sendiri Arumi selalu menjawab hal yang sama.

Liam menolak berbicara padaku tante

Keluarga memang orang yang seharusnya Liam rindukan, tetapi ia lebih merindukan Aruminya. Dulu dia bahkan tidak ingin meninggalkan rumah akan tetapi dipaksa oleh papanya.

Alasan kenapa tidak ingin menerima satu panggilan pun dari Arumi karena ia tidak ingin pertahanannya runtuh dan kembali ke indonesia tanpa menyelesaikan studynya.

"Aku akan menepati janjiku Arumi, tunggu beberapa bulan lagi," lirih Liam. Alih-alih semobil dengan orang tua dan adiknya, ia memilih mengemudikan mobil milik Arumi yang datang sendiri ke bandara. Sahabatnya? Pulang bersama keluarganya sendiri.

....

"Mau kemana Liam?"

Langkah Liam yang hendak meninggalkan rumah berhenti. Ia berbalik dan mengecup pipi mamanya.

"Mau jalan-jalan Ma."

"Leona ikut!" teriak Leona yang rambutnya acak-acakan sebab bertengkar dengan kembarannya.

"Nggak, mas mau jalan sama Arumi."

Dan Liam meninggalkan rumah tanpa mengidahkan teriakan manja adik bungsunya. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah orang tua Arumi.

"Loh pulangnya kapan Tuan Muda?"

"Tadi pagi om." Liam tersenyum pada ayah Arumi, tidak lupa mencium punggung tangannya. "Saya mau mengajak Arumi jalan-jalan."

"Arumi sudah tahu?"

"Sudah Om, sepertinya masih siap-siap."

"Masuk dulu Tuan Muda."

"Di sini saja om."

Liam memilih duduk di kursi teras rumah orang tua Arumi. Beruntung bukan Liam adalah putra sulung Alexander? Sehingga ayah segalak Rocky tidak mengusirnya saat ingin menjemput putri pertamanya untuk jalan-jalan.

"Mas menunggu lama ya?"

"Baru kok, ayo." Mengenggam tangan Arumi dan membukakan pintu mobil.

Sepanjang jalan tangan Liam terus mengenggam jemari lentik Arumi. "Harusnya aku datang lebih awal untuk hadir di wisudamu," ujarnya.

"Mas juga pasti sibuk banget, apalagi aku dengar dari ayah mas bakal jadi wakil direktur."

"Hm." Liam mengangguk. "Enaknya kita kemana? Aku lupa jalan."

"Aku punya tempat makan malam yang bagus."

"Oke kita ke sana." Liam mengangguk, segera memutar arah sesuai maps di mobil tersebut.

Sesekali Liam melirik Arumi yang diam dan memperhatikan jalanan. Ia tersenyum, ada kelegaan tersendiri dihatinya tahu Arumi mampu menunggu tanpa adanya status dan kabar.

"15 tahun bukan waktu yang singat, memangnya kamu nggak naksir sama cowok lain?"

"Pernah dan sering tapi hanya sesaat. Setiap mengingat janji mas sebelum berangkat ke LN, aku langsung sadar dan merasa bersalah. Mas sendiri?" Arumi menatap Liam yang fokus menyetir.

"Nggak pernah sedikitpun, aku fokus belajar mau cepat-cepat pulang bertemu kamu."

"Benarkah?" Pipi Arumi bersemu merah.

"Hm."

"Aku kira mas akan lupa, untung aku nggak tergoda."

"Kalau pun kamu tergoda dan memiliki kekasih saat aku tiba di indonesia, aku akan egois memilikimu menggunakan kekuasaan papa."

"Obsesi dong jadinya." Arumi tertawa lagi. Sejujurnya dia sangat bahagia pria yang dia selalu pertanyakan kabarnya pada tante Liora kembali tanpa berubah sikap sedikitpun. Berbeda dengan wajahnya yang semakin tampan dan tubuhnya kian kekar.

"Loh Seaven?" Liam terkejut menemukan Seaven ada di restoran yang sama.

"Kebetulan bertemu, sebenarnya aku malas makan malam sendiri," ujar Seaven dan melirik Arumi yang berdiri di samping Liam tidak lama retinya turun dan menemukakan genggaman erat Liam.

"Sekalinya ketemu dikekepin terus sampai lupa sama sahabat sendiri," sindir Seaven.

"Bukan lupa tapi meluangkan waktu untuk calon istri Ven." Liam menarik kursi untuk Arumi duduk. Dibandingkan mencari kursi kosong, dia lebih memilih duduk betiga.

"Pantesan nggak kepincut bule orang calon istrinya secantik ini."

"Arumi memang cantik dan kamu dilarang naksir."

"Santai bro nggak ada sejarahnya seorang Seaven nikung teman."

Arumi tertawa menyaksikan perdebatan kedua pria tampan di hadapannya ini. Mereka bertiga makan malam dengan hangat. Liam secara resmi memperkenalkan Seaven pada Arumi yang telah dia anggap saudara sebab selama 15 tahun di luar negeri hanya Seaven yang menemani suka dukanya.

"Rencana kedepannya bagaimana?" tanya Seaven di sela makan malam mereka.

"Seperti yang sudah diatur, jadi wakil direktur."

"Sama dong, bokap juga nunjuk aku jadi wakil direktur. Kalau kamu?" Seaven kembali tertuju pada Arumi.

"Ouh kalau says buka studio foto sama sesekali adain pameran ntah itu karya sendiri atau pun milik klien."

"Bertemu di saat yang tepat kalian," gumam Seaven.

"Titip calon istri aku Ven." Liam beranjak saat mendapatkan telepon dari seseorang, mencari tempat yang lebih tenang.

Kecanggungan pun terjadi antara Arumi dan Seaven. Mereka tidak bertukar suara tetapi mencuri-curi pandang satu sama lain.

"Mas Seaven dan mas Liam awal ketemunya gimana?"

"Panjang ceritanya apalagi kita berdua sama-sama dipaksa pisah sama orang tua."

"Senasib tertanya. Kalau tahu mas Liam punya teman dekat, saya pasti sudah neror mas Seaven buat tahu kabarnya."

"Syukurlah kamu nggak tau, nggak kebayang repotnya gimana diteror kamu terus."

"Mas Seaven nggak capek pura-pura terus?" tanya Arumi tiba-tiba dengan mimik wajah seriusnya.

....

Masih masa flashback biar nggak bingung sama paragraf akhir di bab 1🤭

1
Nena Anwar
bhahaha emang enak kepergok sama camer omelin Om Rocky Tuan mudanya kapan lagi kan ngomelin Liam 😂😂
ken darsihk
😂😂😂😂😂 Di rumah tetap Rocky yng berkuasa atas anak nya
nuraeinieni
nikahkan cepat pak,supaya mereka bebas nyosor,,,😂😂😂😂
nuraeinieni
uuhh liam lagi model manja sama arumi,,,athur dan sofia seperti tommy and jerry saja,,,,😂😂😂😂
Ikaaa1605
Keciduk nih mas liam main nyosor ajaa🤣
Ikaaa1605
Semangat up mba othor
Nena Anwar
Arhan anak tirinya Eril ya thor
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: iya kak, jadinya nggak sepupu seayah
total 1 replies
Dew666
👑🍎
Teh Yen
konflik ringan aj Thor kan yg berat nya udh d awal hehe
nuraeinieni
tangammu sakit liam,tunggu saja kamu di omelin sama arumi.
nuraeinieni
kwkwkw kasian dirimu athur,,pacarmu ngambek
nuraeinieni
yg ringan aja thor biar enak di baca
Teh Yen
menikah saja dengan yg hadir hanya keluarga inti itu sudah cukup yah Liam
ken darsihk
Memang nya masih ada konflik lagi tbor , yang ringan 2 saja thor
Ikaaa1605
Yang ringan aja mba othor
Arsyad Algifari.
yang ringan aja lah Thor ..
Nena Anwar
yg ringan aja thor yg berat cukup berat badan aku aja 🤣✌️
Nena Anwar: maaf maaf thor ✌️😁
total 2 replies
Nena Anwar
semoga Liam dan Arumi hidup bahagia
sryharty
jangan hadirkan seaven lg ka
jijik
nuraeinieni
nggak apa2 sederhana,yg penting sah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!