Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beberapa bulan yang lalu
Tampak keluarga kecil sedang menunggu kedatangan seseorang di bandara internasional. Mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing demi menyambut putra sulung keluarga Alexander yang telah lama tinggal di luar negeri. Terakhir mereka bertemu beberapa tahun lalu karena kesibukan masing-masing.
Senyuman mereka mengembang melihat orang yang di tunggu-tunggu akhirnya terlihat dan berjalan mendekat bersama seorang pria di sampingnya. Mereka bersiap untuk menyambut tetapi Liam Alexander malah melewati keluarganya. Menghampiri seorang gadis yang berdiri tidak jauh darinya dengan senyuman yang sama pula.
"Aku merindukanmu Arumi," ucap Liam langsung memeluk putri sulung dari sahabat ayahnya.
Semua mata tertuju pada Liam, termasuk orang tua yang tidak menyangka putra sulung mereka akan melakukan hal itu.
"Aku mengira mas sudah melupakanku dan melupakan janji mas dulu," lirih Arumi membalas pelukan Liam.
"Mana mungkin." Liam tersenyum dan mengacak-acak rambut Arumi. "Keberadaanmu disini menjawab kekhawatiranku Arumi. Kamu masih menungguku bukan?"
Senyuman Liam semakin lebar mendapatkan anggukan. Tetapi senyuman itu berubah menjadi ringisan ketika punggungnya dipukul cukup keras oleh adik perempuannya.
"Ih kok malah meluk-meluk kak Arumi sih. Adek cantiknya kakak ada di sini!"
"Liam, jangan bilang bahwa perempuan yang sering kamu bicarakan itu adalah dia." Tunjuk Seaven dengan wajah terkejut.
"Hm, dia orangnya."
Liam berbalik memeluk adiknya tanpa melepaskan genggaman di tangan mungil milik Arumi. "Kita sering bertemu dek, kalau sama Arumi mas nggak pernah."
"Sepertinya mama melewatkan sesuatu tentangmu mas," Liora tersenyum ketika Liam beralih memeluknya.
Selama ini yang mama Liora tahu, Liam tidak suka pada Arumi sebab tidak sekalipun Liam ingin berbicara dengan Arumi semenjak meninggalkan tanah kelahirannya. Bahkan Arumi sendiri mendapatkan setiap kabar Liam darinya.
Selama Liam di luar negeri menempuh pendidikan, hampir setiap hari Arumi mengunjungi kediaman Alexander mempertanyakan kapan Liam pulang. Bagaimana kabar Liam di sana.
Saat ditanya kenapa tidak menghubunginya sendiri Arumi selalu menjawab hal yang sama.
Liam menolak berbicara padaku tante
Keluarga memang orang yang seharusnya Liam rindukan, tetapi ia lebih merindukan Aruminya. Dulu dia bahkan tidak ingin meninggalkan rumah akan tetapi dipaksa oleh papanya.
Alasan kenapa tidak ingin menerima satu panggilan pun dari Arumi karena ia tidak ingin pertahanannya runtuh dan kembali ke indonesia tanpa menyelesaikan studynya.
"Aku akan menepati janjiku Arumi, tunggu beberapa bulan lagi," lirih Liam. Alih-alih semobil dengan orang tua dan adiknya, ia memilih mengemudikan mobil milik Arumi yang datang sendiri ke bandara. Sahabatnya? Pulang bersama keluarganya sendiri.
....
"Mau kemana Liam?"
Langkah Liam yang hendak meninggalkan rumah berhenti. Ia berbalik dan mengecup pipi mamanya.
"Mau jalan-jalan Ma."
"Leona ikut!" teriak Leona yang rambutnya acak-acakan sebab bertengkar dengan kembarannya.
"Nggak, mas mau jalan sama Arumi."
Dan Liam meninggalkan rumah tanpa mengidahkan teriakan manja adik bungsunya. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah orang tua Arumi.
"Loh pulangnya kapan Tuan Muda?"
"Tadi pagi om." Liam tersenyum pada ayah Arumi, tidak lupa mencium punggung tangannya. "Saya mau mengajak Arumi jalan-jalan."
"Arumi sudah tahu?"
"Sudah Om, sepertinya masih siap-siap."
"Masuk dulu Tuan Muda."
"Di sini saja om."
Liam memilih duduk di kursi teras rumah orang tua Arumi. Beruntung bukan Liam adalah putra sulung Alexander? Sehingga ayah segalak Rocky tidak mengusirnya saat ingin menjemput putri pertamanya untuk jalan-jalan.
"Mas menunggu lama ya?"
"Baru kok, ayo." Mengenggam tangan Arumi dan membukakan pintu mobil.
Sepanjang jalan tangan Liam terus mengenggam jemari lentik Arumi. "Harusnya aku datang lebih awal untuk hadir di wisudamu," ujarnya.
"Mas juga pasti sibuk banget, apalagi aku dengar dari ayah mas bakal jadi wakil direktur."
"Hm." Liam mengangguk. "Enaknya kita kemana? Aku lupa jalan."
"Aku punya tempat makan malam yang bagus."
"Oke kita ke sana." Liam mengangguk, segera memutar arah sesuai maps di mobil tersebut.
Sesekali Liam melirik Arumi yang diam dan memperhatikan jalanan. Ia tersenyum, ada kelegaan tersendiri dihatinya tahu Arumi mampu menunggu tanpa adanya status dan kabar.
"15 tahun bukan waktu yang singat, memangnya kamu nggak naksir sama cowok lain?"
"Pernah dan sering tapi hanya sesaat. Setiap mengingat janji mas sebelum berangkat ke LN, aku langsung sadar dan merasa bersalah. Mas sendiri?" Arumi menatap Liam yang fokus menyetir.
"Nggak pernah sedikitpun, aku fokus belajar mau cepat-cepat pulang bertemu kamu."
"Benarkah?" Pipi Arumi bersemu merah.
"Hm."
"Aku kira mas akan lupa, untung aku nggak tergoda."
"Kalau pun kamu tergoda dan memiliki kekasih saat aku tiba di indonesia, aku akan egois memilikimu menggunakan kekuasaan papa."
"Obsesi dong jadinya." Arumi tertawa lagi. Sejujurnya dia sangat bahagia pria yang dia selalu pertanyakan kabarnya pada tante Liora kembali tanpa berubah sikap sedikitpun. Berbeda dengan wajahnya yang semakin tampan dan tubuhnya kian kekar.
"Loh Seaven?" Liam terkejut menemukan Seaven ada di restoran yang sama.
"Kebetulan bertemu, sebenarnya aku malas makan malam sendiri," ujar Seaven dan melirik Arumi yang berdiri di samping Liam tidak lama retinya turun dan menemukakan genggaman erat Liam.
"Sekalinya ketemu dikekepin terus sampai lupa sama sahabat sendiri," sindir Seaven.
"Bukan lupa tapi meluangkan waktu untuk calon istri Ven." Liam menarik kursi untuk Arumi duduk. Dibandingkan mencari kursi kosong, dia lebih memilih duduk betiga.
"Pantesan nggak kepincut bule orang calon istrinya secantik ini."
"Arumi memang cantik dan kamu dilarang naksir."
"Santai bro nggak ada sejarahnya seorang Seaven nikung teman."
Arumi tertawa menyaksikan perdebatan kedua pria tampan di hadapannya ini. Mereka bertiga makan malam dengan hangat. Liam secara resmi memperkenalkan Seaven pada Arumi yang telah dia anggap saudara sebab selama 15 tahun di luar negeri hanya Seaven yang menemani suka dukanya.
"Rencana kedepannya bagaimana?" tanya Seaven di sela makan malam mereka.
"Seperti yang sudah diatur, jadi wakil direktur."
"Sama dong, bokap juga nunjuk aku jadi wakil direktur. Kalau kamu?" Seaven kembali tertuju pada Arumi.
"Ouh kalau says buka studio foto sama sesekali adain pameran ntah itu karya sendiri atau pun milik klien."
"Bertemu di saat yang tepat kalian," gumam Seaven.
"Titip calon istri aku Ven." Liam beranjak saat mendapatkan telepon dari seseorang, mencari tempat yang lebih tenang.
Kecanggungan pun terjadi antara Arumi dan Seaven. Mereka tidak bertukar suara tetapi mencuri-curi pandang satu sama lain.
"Mas Seaven dan mas Liam awal ketemunya gimana?"
"Panjang ceritanya apalagi kita berdua sama-sama dipaksa pisah sama orang tua."
"Senasib tertanya. Kalau tahu mas Liam punya teman dekat, saya pasti sudah neror mas Seaven buat tahu kabarnya."
"Syukurlah kamu nggak tau, nggak kebayang repotnya gimana diteror kamu terus."
"Mas Seaven nggak capek pura-pura terus?" tanya Arumi tiba-tiba dengan mimik wajah seriusnya.
....
Masih masa flashback biar nggak bingung sama paragraf akhir di bab 1🤭
jijik