Pagi yang cerah dengan jalanan ibu kota yang padat dengan kendaraan. Terdapat satu keluarga dengan seorang anak gadis yang sangat cantik.
Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya ada satu kejadian yang di harus kan ayah dari gadis itu di penjara.
Setiap hari gadis itu mendapatkan bully di sekolah karena ayah nya yang berada di dalam penjara. Sampai akhirnya dia bertemu salah satu pria yang menemani dia saat semua orang menghinanya.
Pria itu sangat baik, tetapi dari kebaikan nya itu ada maksud tersendiri, sampai akhirnya gadis itu mengetahui apa maksud pria itu mendekati nya.
Sampai pada suatu hari ayah dari gadis itu akhir nya bebas dari tuntutan yang membuat gadis itu sangat senang, tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama gadis itu harus menuruti perkataan orang tuanya.
Dia harus menikah dengan seorang pria yang sudah di tentukan oleh orang tua nya, pria itu ternyata satu sekolah dengan dia dan bisa di bilang musuh nya sejak awal masuk sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Setiap kali naik mobil bersama Elfaro, dia selalu memasangkan sabuk pengaman Adira. “Loe tau Enggak El?" tanya Adira
“Tau apa?” tanya sembari memasang sabuk pengamannya.
“Gue enggak pernah di perlakukan kayak gini selama pacaran sama Alfino,” ujar Adira.
“Gue enggak suka di banding bandingin,” ucap Elfaro sambil menyetir mobilnya.
“Cowok aneh,” batin Adira. Bukannya cowok lebih senang jika di bandingkan dengan orang lain bahwa dirinya lebih bagus? Tetapi mengapa Elfaro tidak?
Adira berhenti bertanya, kini hanya musik dari mobil Elfaro yang menemani perjalanan mereka hingga menuju kediaman Adira.
“Enggak mampir dulu?” tanya Adira ketika Elfaro membukakan pintu mobil untuknya.
“Enggak usah, udah malam, kamu istirahat saja,” ujar Elfaro, sembari menutup pintu mobil, sebab Adira sudah keluar.
“Hemm ya udah,” jawab Adira.
“Titip salam buat mamah sama papah."
“Iya,” jawab Adira singkat.
“Gue balik dulu ya." Elfaro kembali berjalan menuju pintu mobil bagian pengemudi.
“Hati-hati." Adira tidak langsung masuk ke dalam rumahnya, ia ingin menunggu Elfaro pergi dulu baru dia masuk. Namun sepertinya mobil Elfaro tidak bergerak sama sekali. "Kok mobil El enggak jalan-jalan sih?”
Adira sempat menduga jika mobil Elfaro mogok atau me galami kendala, namun tak lama Elfaro membuka kaca jendela mobil. Adira melongok ke kaca jendela. “Ada apa El?”
“Masuk!!” perintah Elfaro dingin.
“Aku nunggu kamu jalan,” jawab Adira masih setia menunggu mobil Elfaro jalan.
“Enggak usah, masuk!” perintah Elfaro.
“Iya deh iyaaa,” ucap Adira pasrah dengan perlakuan Elfaro, ia pun masuk ke dalam rumahnya, Elfaro terus memperhatikan Adira hingga, gadis itu masuk ke kediamannya.
“Dasar cowok aneh,” batin Adira ketika ia menutup pintu depan.
Setelah memastikan Adira masuk, barulah Elfaro melajukan kendaraannya menuju kediamannya.
Sementara itu di dalam kediamannya Adira menghampiri kedua orangtuanya di ruang keluarga. Ibundanya yang terlebih dahulu melihat kedatangan putrinya langsung bertanya. “Kamu udah pulang sayang?"
“Udah mah, udah dapet juga kok bajunya,” Adira mengacungkan paper bag berisi gaun yangbia beli dari mall.
“Bagus. Sekarang kamu istirahat gih, sudah malam ini, ” ucap ibundanya.
“Ya sudah kalau begitu, aku basuk dulu ya mah, pah,” Adira memberikan pelukan dan kecupan selamat malamnya kepada kedua orangtuanya barulah ia masuk ke kamar.
Di dalam kamar, Adira langsung membuka hp-nya dan memblokir semua kontak serta akun sosmed milik Alfino sesuai perintah Elfaro tadi.“Gue harus lupain loe dan menjalankan hidup gue yang baru bersamma Elfaro,” ucap Adira sambil mengingatkan bahwa dirinya sebentar lagi ia akan menikah dengan Elfaro.
Selesai memblokir semua akses komunikasi dengan Alfino, Adira merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
...****************...
Sementara Elfaro baru saja tiba di kediamannya, ia sudah di berondongi banyak pertanyaan dari orangtuanya. “Kamu sudah membelikan bajunya untuk Adira?” tanya Mama Elfaro ketika melihat Elfaro masuk ke dalam rumah.
“Udah mah,” jawab Elfaro.
“Kalau begitu kamu istirahat aja sekarang biar besok nggak kecapean,” ujar mamah Elfaro.
“Ya udah kalau gitu Elfaro istirahat dulu ya mah,” ucap Elfaro sambil menuju ke kamarnya.
“Besok bangun pagi-pagi ya El,” ujar mamah Elfaro.
“Iya mah,” ucap Elfaro.
Lalu Elfaro pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat dan ia mengunci pintu kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Ya tuhan apakah ini mimpi bahwa gue akan menikah dengan Adira besok pagi, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan gue sampai gue hidup bahagia bersama Adira,” gumam Elfaro senang. Lama ia memikirkan Adira, hingga akhirnya ia pun terlelap.
...****************...
Akad nikah berlangsung secara intimate, di hadiri hanya keluarga dari kedua mempelai. Selesai Elfaro mengucapkan ijab, MC memanggil Adira untuk keluar dari ruang tunggu.
Sembari tersenyum Adira berjalan menuju suaminya, ia tampak cantik dengam balutan gaun pengantin yang ia pilih kemarin bersama Elfaro. Adira nampak sempurna dengan olesan make up yang natural di wajah cantiknya, serta rambut disanggul membuat perhatian Elfaro tertuju kepada Adira. Elfaro tidak henti-hentinya melihat ke arah Adira.
“Ya Tuhan cantik sekali,” batin Elfaro.
“Cantik ya, pantes di liat terus,” bisik papah Elfaro.
“Ih apaan sih pah,” ucap Elfaro yang tidak sadar bahwa dirinya terlalu lama menatap Adira.
Adira pun duduk di sebelah Elfaro, jantung keduanya tidak henti-hentinya berdebar.
“Kenapa gue gugup sih,” batin Adira.
“Kok tiba-tiba gue gugup ya,” batin Elfaro.
Sesuai komando dari MC, Elfaro menyerahkan mas kawin yang ia persembahkan untuk Adira.
Hingga acara selesai Elfaro masih tak menyangka dirinya dan Adira sudah sah sebagai sepasang suami istri. “Ya tuhan ini mimpi bukan sih, aku bener-bener tidak nyangka bahwa yang menjadi istri aku adalah Adira,” batin Elfaro senang.
“Aduh gue sekarang udah jadi istri Elfaro, gue harus gimana ini,” batin Adira.
Seluruh keluarga yang hadir, satu persatu meninggalkan acara, termasuk kedua orangtua Elfaro.
“El kamu tinggal di sini dulu ya,” ucap papah Elfaro. “Baru besok kalain tinggal di rumah kalian sendiri, yang sudah papah belikan kemarin."
“Iya pah,” jawab Elfaro mengerti.
“Kalau gitu mamah sama papah pulang dulu ya,” sambung mamah Elfaro.
“Iya mah pah, hati-hati ya,” jawab Elfaro dan Adira.
“Hati-hati ya besan,” ucap mamah Adira ke mamah Elfaro.
“Iya besan, nggak nyangka yah sekarang kita besanan,” kata mamah Elfaro.
“Iya nggak sabar lagi punya cucu,” ujar mamah Adira.
Degg.....
Cucu?
Dira dan El hanya menunduk malu, mengantar Mamah dan papah Elfaro hingga ke depan.
“Kalian berdua istirahat dulu gih,” ujar mamah Adira.
“Iya mah,” ujar Adira lalu menuju kamarnya dan diikuti oleh Elfaro dari
“Kok loe ngikutin gue sih?” ujar Adira yang melihat Elfaro mengikutinya.
“Kan kamar loe kamar gue juga,” jawab Elfaro.
“Kan ada kamar tamu,” ucap Adira lagi.
“Tapi gue bukan tamu, gue suami loe sekarang,” jawab Elfaro sambil menggoda Adira.
“Ihh apaan sih,” jawab Adira malu.
Lalu Elfaro pun masuk ke dalam kamar Adira dan mengunci kamarnya.
“Nggak usah macam-macam ya,” ucap Adira ke Elfaro.
“Enggak macam-macam kok, cuman satu macam aja,” jawab Elfaro sambil tersenyum.
“Udah minggir gue mau bersih-bersih dulu,” ujar Adira sambil menuju kamar mandi.
“Ikutt,” rengek Elfaro.
“Ihh nggak usah lah, loe tidur aja di situ,” jawab Adira ya sudah mulai kesal dengan Elfaro.
“Mau ikut,” rengek Elfaro lagi.
“Eggak, gue mandi duluan nanti gantian,” ujar Adira.
Lalu Adira dengan cepat masuk ke dalam kamar mandinya dan mengunci pintu kamar mandinya.
“Cepet ya mandinya,” ujar Elfaro sambil berbaring di kasur Adira.
“Iya sebentar,” teriak Adira dari dalam kamar mandinya.
“Loe jangan tidur di kasur gue,” teriak Adira lagi.
Elfaro tal memperdulikan ucapan Adira, ia justru terlelap dalam tidurnya di atas kasur Adira.
akhir nya setelah lama menunggu Dira sadar juga.