Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 34
Marissa menilik penampilan gadis yang berdiri di depannya ini, dari atas sampai bawah. Sepertinya hanya gadis biasa dari kalangan bawah, tapi Kenapa bisa ada di rumah ini?
"Ada yang bisa aku bantu Tante?"
Kanaya memulai lebih dulu untuk menyapa wanita yang terlihat bingung. Marissa tersadar dari lamunannya mendengar suara gadis itu lalu tersenyum manis. "Tante ca...
"Hai Tante, apa kabar"
Marissa mengehentikan ucapannya lalu menoleh ke arah Ayrin yang berjalan mendekat ke arahnya begitu juga dengan Kanaya yang ikut menoleh.
"Hai cantik, Tante baik. kamu disini juga?" Sahut Marisa seraya mencium pipi kanan dan kiri Ayrin.
"Iya Tan, aku jenguk bang Raka." Ayrin menoleh ke samping melihat Kanaya yang terlihat bingung " Tante kenalin ini Kanaya temen aku" ucap Ayrin memperkenalkan Kanaya pada Marissa.
"Salam kenal Tante"
Kanaya mengulurkan tangannya pada Marissa dengan senyum mengembang, begitu mendengar bahwa Kanaya adalah teman Ayrin Marissa menyambut uluran tangan Kanaya dengan senyum termanisnya. "Salam kenal juga sayang. Marissa"
"Ngapain Tante dateng kesini?"
Ray yang datang entah dari mana kini berdiri di samping Kanaya dengan menatap Marissa tidak suka. Marissa dan Ayrin menoleh ke arah Ray yang sedang merangkul bahu Kanaya seakan memberi perlindungan dari bahaya yang ada di dekatnya. Kanaya mengerutkan dahinya, ia merasa aneh dengan sikap Ray yang tidak biasanya dan siapa wanita di depannya ini kenapa Ray bersikap seperti itu?
Ayrin yang sudah mengetahui hubungan Ray dengan ibu tirinya tidak ingin ikut campur. Ayrin memilih diam dan mengundurkan diri dari sana."Tante Ayrin permisi dulu mau nyamperin Edo " Marissa mengangguk pelan dengan tersenyum tipis, kemudian Ayrin langsung meninggalkan mereka dengan langkah cepat tanpa menoleh kebelakang.
"Mama mau jenguk Raka, dimana kakak kamu?" Jawab Marissa lembut mencoba tetap tenang menghadapi Ray, ia tidak boleh terpancing emosi. Sementara Kanaya melongo mendengar wanita cantik itu menyebut dirinya sebagai mama, jadi wanita cantik ini ibu tirinya Ray?
"Mari aku anter Tante?"
Kanaya melangkahkan kakinya untuk menunjukkan keberadaan Raka, namun tangan kokoh Ray menahan bahunya hingga membuat Kanaya kembali mundur ke posisi semula."gak usah! Dia bisa cari sendiri."
Ray menarik Kanaya berbalik meninggalkan Marissa untuk bergabung bersama Ayrin dan edo.
"Tunggu!"
Marissa mengehentikan langkah Ray sebelum menjauh, "Tha, sini masuk sayang" panggil Marisa kemudian, memanggil seseorang yang sedari tadi menunggu di luar, sontak membuat Ray dan Kanaya menoleh. Tha? Siapa lagi ?!
Seorang gadis cantik berjalan menunduk memasuki ruangan sembari menarik narik roknya, seumur umur baru kali ini ia memakai pakaian yang menurutnya aneh. Bagaimana bisa Tantenya memilihkan pakaian yang kekurangan bahan seperti ini?
"Titha, sini"
Marisa menarik gadis itu agar berjalan lebih cepat,"sebentar Tante, ini sepatunya susah, bajunya juga sempit." Talitha mempercepat langkahnya hingga berdiri tepat di depan Ray.
Ray menatap gadis itu lucu, ia seperti Dejavu saat bersama Kanaya. Kanaya yang menggerutu karena memakai Dress yang ia pilihkan. Tapi sebaliknya Talitha menatap Ray dengan tatapan benci, lalu beralih melihat gadis di sampingnya yang sedang di rangkul oleh Ray. Hmm hanya gadis biasa.
"Sini sayang, kenalin ini Ray anak Tante"
"Anak tiri!" Sela Ray mengoreksi perkataan Marissa, dengan wajah datarnya. Ia tidak sudi di kenal sebagai anak dari Nenek sihir di depannya ini. Ray langsung mendapat sikutan dari Kanaya yang tidak trima dengan sikapnya yang tidak sopan pada ibu tirinya.
Talitha tersenyum samar, melihat respon Ray pada Tante Marissa. Sepertinya ia butuh tenaga ekstra untuk menaklukkan cowo angkuh itu.
"Gue Thalita" gadis itu mengulurkan tangannya.
"Udah tau" jawab Ray acuh, ia sangat malas berbasa basi. Mendengar jawaban ketus Ray lalu Kanaya melirik tajam ke arah Ray memberi peringatan lagi untuknya agar bersikap sedikit sopan namun hanya di balas gelengan kecil oleh Ray.
"Oh-okeh" Thalita menarik tangannya dengan menahan kesal karena tidak mendapat balasan dari Ray.
"Yaudah mama ke kamar Raka dulu ya"
Ray mengangkat bahunya acuh, masa bodoh wanita itu mau pergi kemana, bahkan ke neraka sekalipun ia tidak peduli. Sedangkan Marissa menarik Thalita untuk mengikutinya ke kamar Raka, yang ia tau di lantai atas adalah kamar Ray jadi Raka pasti ada di kamar tamu. Marissa terus melangkah dengan membawa parsel buah-buahan di tangannya menuju kamar Raka.
"Itu yang namanya Ray Tante?" Bisik Thalita sembari berjalan mengikuti Marissa dan hanya di balas anggukan olehnya.
"Ganteng juga, tapi galak"
"Kamu takut?" Marissa menoleh ke samping "Gak dong Tante, mana ada sejarahnya Titha takut sama orang"
Marissa mengangguk percaya, ia memang tidak salah pilih membawa Thalita untuk menaklukkan Ray. Tidak sia sia dirinya memanipulasi kematian orang tua Talitha dan melimpahkan kesalahan itu pada Martin. Agar gadis itu menuruti perintahnya dengan dalih keluarga Martin lah penyebab kematian orang tuanya.
"Bagus, Tante percaya kamu berani. Dan gadis yang bersama Ray itu biar Tante yang urus."
Talitha menggeleng cepat "gak perlu Tante, Titha bisa urus dia kok," Marissa tersenyum lebar mendengar jawaban Talitha.
Marissa mengetuk pintu berwarna coklat yang ada di depannya setelah melewati dua ruangan.
"Masuk"
Begitu mendapat persetujuan dari pemilik kamar, Marissa membuka pintu itu perlahan dan masuk dengan Talitha yang mengekor di belakangnya sembari bergelut dengan fikirannya sendiri. Seperti apa sih Raka? sampai Tante Marissa ingin sekali menemuinya.
Raka menoleh ke arah pintu begitu seseorang masuk ke dalam kamarnya, sebelumnya ia berfikir itu adalah Kanaya atau Ayrin tapi ternyata ibu tirinya. Raka mengabaikan Marissa dengan kembali menatap layar ponselnya.
"Gimana keadaan kamu Raka?" Marissa berjalan mendekat dan meletakkan buah itu di atas nakas. Namun Raka tidak meresponnya.
"Tante toilet dimana?" Talitha berjalan masuk dengan gelisah, Raka reflek menoleh ke arah suara yang tidak asing di telinganya.
"Kamu!!" Talitha mengangkat wajahnya untuk melihat pemilik suara bariton yang baru saja menegurnya. Sontak Talitha melongo "Astaga, kenapa dia disini" lirihnya sembari berbalik arah.
"Tunggu!!"
Marissa mengerutkan dahinya bingung, apa Raka pernah bertemu dengan Titha sebelumnya?
"Ada apa lagi?!" Talitha berbalik mengahadap Raka dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Seakan menantang pria tampan yang kini sedang berbaring di ranjang.
"Kamu udah kenal sama Raka Tha?" Marissa ikut ambil suara di tengah perdebatan itu sembari menoleh ke arah Raka secara bergantian.
"Gak kenal, dan gak pengin kenal" jawab Talitha tegas tanpa ada rasa takut atau berpura-pura manis di depan Raka tidak seperti saat bertemu Ray tadi. Marissa semakin bingung di buatnya, mereka bertemu dimana?
"Ngapain kamu disini?" Raka menilik penampilan gadis di depannya ini yang sedikit berbeda tidak seperti awal bertemu saat di rumah sakit. Dress tanpa lengan dengan bawahan ketat, sangat tidak cocok dengan karakternya yang sedikit barbar.
"Biasa aja liatnya, gak pernah liat cewe cantik?" Ketusnya memutar bola matanya jengah. Sudah berapa kali para pria memandangnya seperti itu sejak keluar dari butik hingga salon. Cih menjijikan.
"Kamu gak cocok pake baju kaya gitu" Raka menahan senyumnya, melihat gadis di depannya itu terlihat kesal karena ucapannya.
"Udah udah, mama yang bawa dia kesini Raka." Marisa menatap Raka lalu menoleh ke arah Talitha "kenalin Tha ini Raka anak Tante"
Raka tidak memperdulikan ucapan Marissa ia masih fokus menatap gadis di depannya ini yang berpenampilan aneh.
🍁🍁🍁
Hmmm jahat sekali kau rupanya 🤔
Mesti di ruqyah nih si Tante biar tobat 😂
Sampai jumpa di chapter selanjutnya yang bikin geregetan😂
Okeh see you 😉