Gadis bernama Bulan yang bekerja sebagai pemandu wisata di sebuah pulau terpencil mendadak berubah setelah diperkosa secara brutal di dalam sebuah gua oleh para turis yang ia pandu. Bulan hampir meregang nyawa sebelum setetes air dari dinding gua bagian atas jatuh dalam mulutnya. Setetes air yang dikira Bulan itu ternyata adalah darah terakhir milik Medusa yang jatuh ke Bumi.
Perubahan apa yang terjadi pada Bulan setelah meminum tetesan darah milik Medusa?
Apa yang akan Bulan lakukan pada para pemerkosanya?
Adakah orang yang mampu melawan kekuatan Medusa di tubuh Bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Titisan Medusa...
Bulan terbangun keesokan hari dan sosok yang pertama kali ia lihat adalah kelima anaknya. Setelah mengetahui semua yang menimpa sang ibu, mereka kompak menemani ibunya di sana dan bertekad akan melanjutkan misi sang ibu dan Ibu Medusa. Megalodon sudah meninggalkan mansion itu setelah bercerita panjang lebar pada anak-anak titisan Medusa tanpa sepengetahuan Eno dan Ela. Megalodon tidak mau Eno dan Ela melarang anak-anak titisan Medusa untuk menyelamatkan jiwa wanita ular itu dari kuil suci Athena karena Megalodon sendiri tidak menyukai sikap arogan Athena.
Sudah menjadi takdir dari titisan Medusa untuk membalaskan dendam ibu mereka. Baik ibu raga maupun ibu jiwa.
“Thea!” lirih Bulan memanggil nama putri bungsunya.
Kini ingatan Bulan hanya diisi oleh kehadiran anak-anak dan suaminya, Mario yang sampai saat ini belum menjenguknya.
“Ibu-“ panggil Althea lalu memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu. Saudara Althea ikut terbangun lalu mereka memeluk wanita pucat itu penuh haru. Plato menepuk pundak Altair sebagai bentuk terima kasih karena sudah menanamkan memori baru pada ibu mereka.
Eno, Ela, Tuan Riko dan Nyonya Laras memasuki kamar itu. Mereka tersenyum bahagia melihat bagaimana menantu dan cucunya saling berpelukan bahagia. Althaea dan Acasha memilihkan pakaian untuk sang ibu sementara para laki-laki keluar dari kamar itu. Ela memeluk wanita yang sempat dimasuki jiwa saudaranya sesaat lalu tersenyum.
“Selamat datang kembali.” Ucap Ela disambut senyum dari Bulan.
Althea juga mendandani ibunya dengan riasan tipis dan memberi warna di bibir sang ibu biar kelihatan segar. Ibunya berubah menjadi wanita yang sangat cantik sama seperti dirinya. Tidak ada yang menyangka jika Bulan adalah ibu dari kelima remaja beranjak dewasa itu. Bulan masih terlihat muda sama seperti Althea.
Althea mengambil banyak foto bersama ibu dan saudaranya. Kakek, nenek, paman dan bibi ikut keciprtan foto. Setelah itu, ia mengirimkannya untuk sang ayah yang tengah terbaring di kamarnya karena perbedaan waktu membuat mereka hidup dalam waktu yang jauh berbeda.
“Untuk merayakan kepulangan Ibu, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan seharian?” usul Orion. Tentu saja usul tersebut langsung disetujui oleh saudaranya tapi tidak dengan nenek dan kakek mereka.
“Ayah kalian sendiri yang melaran Ibu kalian untuk keluar rumah. Kalau tidak percaya, kalian tanya saja sama Ayah!” seru Nyonya Laras.
Altair lansung merogoh saku kemudian menghubungi sang ayah melalui panggilan video. Sambungan pertama tidak terjawab padahal sang kakek sudah mengatakan jika saat ini di Indonesia sedang jam tidur. Altair tidak peduli, dia menghubungi kembali dan gagal lagi tapi pantang untuknya menyerah apalagi melihat betapa bahagianya Althea saat ini.
Panggilan ke lima baru berhasil, “Hallo, ada apa, Nak?” pertanyaan Mario dengan suara seraknya. Bulan tidak mampu menyembunyikan senyumnya saat melihat kekesalan dari wajah sang putra.
“Hallo, Yah.”
“Hallo, ada apa? Ibu kalian baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?” Mario terus mencecar anaknya dengan pertanyaan membuat Altair merengut. Di tempat yang lain, Mario justru sedang merasa bersalah pada Bulan. Saat melihat wanita itu, Mario kembali teringat apa yang sudah ia lakukan dulu.
“Dia sangat cantik.” Ucap Mario seolah tersihir dengan kecantikan Bulan yang terpampang di layar ponselnya.
Orang tuanya tersenyum senang tapi tidak dengan anak-anaknya terutama Althea yang melihat secara jelas apa yang ayah dan para pria itu lakukan pada sang ibu. Althea melerai pelukannya pada sang ibu lalu pergi meninggalkan meja makan. Hatinya sakit mengingat semua yang dilihatnya, ia tidak bisa memaafkan ayahnya walaupun ibunya tidak mengingat kejadian itu tapi ia ingat dengan jelas.
“Ayah kapan ke sini?” tanya Bulan tiba-tiba membuat Mario tercengang.
Panggilan itu sangat manis di telinganya yang sudah lama tidak merasakan perasaan cinta pada seorang wanita.
“Ibu rindu Ayah ya?” sahut Plato membuat Bulan tersipu malu tapi tetap mengangguk.
Mario mengusap kasar wajahnya, “Nanti Mama belikan ponsel untukmu dan kalian bisa bebas bicara berdua di kamar. Suamimu belum bisa ke sini karena ada hal serius yang menyangkut keselamatanmu. Dia sedang mencari tahu rekan bisnis yang mengkhianatinya dan ingin menghancurkan keluarganya. Jika dia ke sini maka sama saja seperti dia membawa musuh untuk membunuh kalian.” Ujar Nyonya Laras panjang lebar. Wanita tua itu juga tidak mau kehilangan cucu dan menantunya yang cantik jelita seperti Bulan.
Hari berlalu dan Bulan selalu berada di rumah bersama ibu mertuanya. Wanita itu mempelajari banyak hal dari orang-orang yang didatangkan khusus oleh Nyonya Laras supaya menantunya tidak bosan tanpa kegiatan. Di usianya yang mendekati setengah abad, Nyonya Laras sangat paham akan sifat Bulan hingga sebisa mungkin beliau memerah otak memikirkan apa saja keinginan menantunya.
Mulai dari guru tata boga, guru bahasa asing hingga guru penata busana beliau datangkan supaya Bulan tahu cara berpakaian yang baik dan benar kemudian ia juga pintar memasak dan yang paling penting adalah menguasai bahasa asing untuk memudahkan Bulan dalam bergaul dikemudian hari. Bulan tidak membantah hanya saja saat mengikuti les bahasa asing, ia merasa bahasa itu ringan hingga dia mudah memahaminya. Sebagai seorang pemandu wisata, Bulan sangat telaten melayani para turis mulai dari menjelaskan berbagai tempat dan menjawab pertanyaan dari mereka.
“Apa kau sudah mendapatkannya?” tanya Don melalui orang kepercayaanya.
Don tidak bisa berhenti memikirkan putri-putri dari Mario. Setiap malam pria itu berfantasi sambil membayangkan wajah kedua putri dari sahabatnya itu. Sementara itu, Mario tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa walaupun ia tahu kalau ada orang yang selalu mengikutinya. Untuk mengantisipasi semua kemungkinan, Mario menggunakan ponsel lain untuk menghubungi Bulan dan anak-anaknya.
Angin sejuk berhembus hingga bulu kuduk Don berdiri. Bayangan hitam itu menatap Don lalu menghilang. Don kembali berbicara dengan orang suruhannya untuk mencari tahu di mana anak-anak dari Mario berada saat ini. Orang tua Mario juga tidak pernah membahas tentang tempat tinggal mereka dan cendrung tertutup. Mereka juga jarang memenuhi undangan seperti yang selama ini mereka lakukan bersama orang tua yang lain. Mario berhasil menutup semua akses dan orang tuanya juga mau bekerja sama.
Di kampus, anak-anak Mario sedang duduk bersama untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya untuk membalas dendam dua ibu mereka.
“Kita mulai dengan dendam Ibu Bulan, bagaimana?” tanya Altair.
“Lalu Ayah? Dia termasuk salah satunya, bukan?” sahut Orion.
Mereka tampak berpikir, “Ayah kita buat pengecualian, bagaimana?” Acasha memberi saran.
“Begini saja, soal Ayah biar Ibu yang memutuskan. Aku rasa Ayah memang mencintai Ibu Bulan dan Ibu Medusa juga. Kalau mereka tidak saling suka bagaimana kita bisa ada.” Althea berujar membuat keempat saudaranya mengangguk paham.
“Baiklah, kita mulai dari mana? Ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Ayah menutup jejak kita pada teman-temannya. Itu berati Ayah tahu sesuatu atau mungkin keberadaan kita sedang diincar oleh mereka. Bagaimana kita membalaskan dendam Ibu kalau bertemu mereka saja kita tidak bisa.” ujar Plato.
“Satu lagi, bagaimana cara kita pergi dari rumah? Kalian tahu sendiri bagaimana Nenek dan Kakek menjaga kita. Lalu apa yang akan kita katakan pada Paman dan Bibi? Ingat, mereka itu siapa? Pasti pergerakan kita mudah terbaca oleh mereka.”
“Ada yang punya ide?”
***
aku menunggu titisan Medusa menikah dan berbahagia dengan pasangan ny juga aku ingin melihat Briana dan Jacob bersatu bahagia..