Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb30
Tiga tahun yang lalu saat di dalam pesawat ketika hendak menuju Jerman, Ryn tak menyangka pria yang duduk disebelahnya adalah Bass. Bass berniat mengunjungi kediaman orang tuanya disana. Selain itu Bass juga sudah resign dari Le Star Hotel, ia telah diterima di kampus ternama disana dengan mengambil jurusan manajemen. Selama penerbangan Bass maupun Ryn saling bertukar cerita.
Dibanding rekan kerja yang lainnya Ryn paling menghormati Bass selama bekerja sama. Dia tidak pernah melewati batas sehingga Ryn cukup nyaman berada di dekatnya.
"Terima kasih sudah mengantar kami Bass. Sayang sekali kau tidak bisa mampir." Zhu Ma mewakili Ryn mengucapkan terimakasih karena mobil jemputan Bass bersedia mengantarkan mereka ke apartemen milik Zhu Ma selama menetap di Jerman.
"Sama-sama tuan. Kalau begitu aku permisi." Bass pamit undur diri sementara Ryn telah masuk lebih dulu untuk beristirahat.
Penerbangan mereka berlangsung cukup lama yaitu dua belas jam tanpa transit dari Guangzhou ke Munich. Ryn sempat mengalami mual muntah, entah itu karena bawaan hamil atau memang mabuk udara.
Ryn berencana meneruskan pendidikannya meski dalam keadaan hamil muda. Ia ingin mendalami ilmu gizi agar bisa menjadi staf ahli suatu saat nanti. Zhu Ma awalnya kurang setuju mengingat kondisi kesehatan Ryn, ia berharap Ryn memulainya setelah melahirkan saja. Tapi Ryn yang bersikeras, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dari pada harus berdiam diri tanpa kegiatan bermanfaat.
"Ryn, kau disini?" Tanya seorang pria ceria melihat keberadaan Ryn di kampus yang sama.
"Bass? Aku baru saja mendaftar kuliah. Kebetulan sekali." Ucap Ryn tak menyangka mereka akan selalu bertemu nantinya.
"Saya titip Ryn ya Bass, tolong jaga dia." Zhu Ma bahkan memohon bantuan Bass meski keduanya baru saling mengenal.
"Pasti tuan Zhu,,,"
"Paman, panggil saja paman." Potong Zhua membenarkan panggilan Bass padanya.
Masuknya Ryn dan Bass terbilang sedikit terlambat karena semester awal sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Tapi pihak kampus masih bersedia menerima dengan syarat mereka mampu mengejar ketertinggalan.
***
Hari-hari Ryn jalani penuh semangat. Ia bertekad menjadi pribadi lebih baik dan berguna bagi siapapun. Bass yang melihatnya semakin kagum dan bangga Ryn bahkan bisa bangkit dari keterpurukan.
"Dia pasti marah besar ketika tahu darah dagingnya di sembunyikan." Pemikiran Bass sangat masuk akal bagi Ryn, tapi ia tidak peduli jika suatu saat nanti Sian mengetahui keberadaan Lee Jian.
"Aku tahu. Aku hanya ingin Jian hidup aman dan damai. Karena kakeknya saja tega menyakiti papanya." Jawab Ryn santai. Matanya terus memperhatikan Jian yang tengah asik bermain bola dengan pengasuh.
Sejak melahirkan Jian tiga puluh bulan yang lalu, Ryn memang dibantu pengasuh dalam menjaga Jian karena dirinya tetap sibuk kuliah. Dan selama tiga tahun itu Ryn tahu Sian tidak pernah mencarinya sama sekali. Lebih baik begitu dari pada Ryn harus goyah atau bahkan menyesali kepergiannya.
"Apa penawaranku benar-benar kau tolak Ryn? Aku siap membantumu dalam segala ha, kau tahu itu." Bass kembali mengingatkan Ryn tentang ajakannya menikah kontrak. Menjadi ayah sambung untuk Jian, agar statusnya kuat secara hukum. Dan jika nanti Jian bertemu Sian, Sian bisa mengira Jian adalah anak Ryn bersama Bass.
"Selagi Jian aman aku rasa itu tidak perlu Bass." Lagi, Ryn menegaskan batasan diantara mereka. Ryn sangat menyayangi Bass layaknya seorang keke. Apalagi Bass sudah sangat banyak membantunya, menjaga Jian.
"Tapi minggu depan kau akan kembali ke Jasata Ryn. Peluang Sian bertemu Jian sangat besar. Entah itu Sian, Lee Tak ataupun musuh mereka lainnya bisa demgan mudah menebak siapa Jian." Lagi-lagi Bass benar. Sian pasti langsung bergerak mencari bukti saat tahu ada Jian disisinya.
"Aku harus menghadapinya, karena pada akhirnya Jian harus tahu siapa papanya." Ryn menghela nafas seolah melepaskan ketegangan dalam menghadapi hari esok.
"Aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai. Kau harus janji, jaga dirimu dan Jian baik-baik." Bass mengusap kepala Ryn sayang. Tak lagi sungkan menunjukkan perasaannya.
"Terima kasih karena kau selalu ada untukku." Ucap Ryn tersenyum pada Bass. Bass hanya menatap Ryn tanpa berkedip, dia tahu waktunya bersama Ryn akan habis.
Ryn bukannya tidak mengerti akan perasaan Bass, dia hanya ingin Bass berhenti berharap Ryn bisa membalasnya. Karena sampai kapanpun hatinya enggan menerima pria lain lagi.
"Waktunya makan siang..." Teriakan Zhu Ma dari arah samping rumah mengalihkan perhatian mereka semua.
Jian bersorak gembira mendengar kata makan. Dia selalu lahap jika sang kakek yang memasak. Berbeda jika Ryn, anak laki-laki dua tahun itu selalu GTM. Membuat pusing sang mama.
Di meja makan penuh dengan masakan khas Tiongkok. Zhu Ma sejak memutuskan tinggal bersama Ryn di Jerman selalu memasak meski sibuk buka praktek di ruma sakit kota.
Ryn perlahan menjadi akrab dengan sang papa. Terkadang Ryn juga mengunjungi Zhu Ma untuk sekedar mengirimnya makan siang atau camilan dan kopi. Jian sangat dekat dengan Zhu Ma, tak jarang Jian juga bisa tidur siang maupun malam bersama sang kakek. Ryn sempat berpikir, akankah Lee Tak menerima kehadiran Jian sebagai cucunya? Mengingat setiap hinaan yang Lee Tak ucapkan padanya tempo dulu membuat Ryn meringis meratapi nasib Jian.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Zhu Ma menyusul Ryn duduk di ruang keluarga usai menidurkan Jian. Jian memang memiliki kamar tidur sendiri, Zhu Ma dan Ryn selalu bergantian membacakannya dongeng tergantung keinginan Jian.
"Aku takut orang itu menyakiti Jian." Jawab Ryn menghela nafas kasar sepert mencoba melepaskan beban menyesakkan dada.
"Bicarakan dengan Sian. Dia pasti akan melindungi anak kalian." Saran Zhu Ma agar Ryn mau memberitahu Sian keberadaan Jian.
"Jika ada kesempatan, aku tidak akan menutupinya lagi." Ucap Ryn berjanji pada dirinya sendiri.
***
Sedangkan di belahan dunia lainnya, Sian baru saja selesai memimpin rapat utama pemegang saham. Usai menjalani masa tahanan selama dua tahun dan bayar denda sekitar dua puluh miliar Lee Tak mendapatkan remisi tahanan satu tahun. Yang berarti dia akan keluar sekitar satu minggu lagi.
Sejak sidang putusan penahanan Lee Tak semua saham milik Lee Tak di Lee Group telah dibeli oleh Sian sekitar dua puluh persen. Sementara sepuluh persen milik neneknya, lima persen untuk meimei dan sisanya pihak luar. Jadi Sian memiliki enam puluh persen sebagai pemegang terbesar, dengan demikian Lee Tak sudah tidak lagi memiliki kuasa apapun di dalamnya.
"Tuan, malam ini staf ahli gizi dari Munich mendarat di Guangzhou. Le Hospital telah menyeleksi lulusan terbaik di Jerman secara ketat." Informasi yang Jun sampaikan bagai angin lalu ditelinga Sian. Pria itu masih setia menatap pemandangan kota melalui kaca jendela antara langit-langit.
"Tercatat atas nama Zhu Ryn..." Dan pada akhirnya nama itu kembali terdengar olehnya. Sian tetap tidak bereaksi hanya saja dadanya bergemuruh, darahnya mendidih secara bersamaan. Sian tahu, waktunya bertemu dengan Ryn akan tiba. Dan perasaannya campur aduk mempersiapkan pertemuan mereka nanti.
Ryn kini memiliki nama belakang sang ayah setelah mengurus Prosedurnya secara hukum yang tidak mudah karena baik Zhu Ma ataupun Yuni sendiri enggan menjalani mediasi. Sian merasa... Lega. Kedepannya orang-orang tidak menganggapnya hina lagi.
"Bagaimana bisa?" Hanya itu tanggapan Sian setelah berdiam diri sesaat.
"Surat resmi balik nama rumah sakit belum turun tuan, kita masih menggunakan nama terdahulu." Ungkap Jun menjelaskan, pantas saja Ryn bisa sampai di salah satu bisnis Sian di bidang kesehatan itu.
"Dia kembali, dan papaku juga segera bebas. Kau tahu bukan apa yang harus dilakukan?" Sian menatap Jun intense menegaskan keinginannya tanpa ada celah.
"Orangku akan terus berada di jarak aman nona Ryn dan siap mengawasi tuan kedua Lee." Jun meyakinkan Sian agar tidak perlu khawatir akan keselamatan Ryn. Apalagi Lee Tak sudah tidak memiliki apapun.
"Beri dia keperluan yang dibutuhkan, tidak perlu lapor padaku." Meski berat Sian berusaha menjaga batasan.
"Apa aku mengganggu?" Di sisa percakapan keduanya dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis yang menerobos masuk. Jujur Jun kurang suka melihat sikapnya, etika dasar mengetuk pintu seolah dia lewatkan.
"Kami sudah selesai. Jun kau boleh pulang lebih awal." Sian menyuruh Jun meninggalkan ruangannya sekaligus mengakhiri tugasnya hari itu.
Jun melewati tamu Sian begitu saja, jika dia tidak sopan Jun juga malas memberinya timbal balik.
"Kenapa dia selalu menatapku seperti itu? Sian dia pasti membenciku." Ujarnya mengadu, Sian hanya bisa memijat pangkal hidungnya.
"Ada apa kali ini?" Tanya Sian langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu, nenek Sansan memintamu datang ke panti. Nenek bilang kau harus menyumbangkan uangmu atau kau harus menikah denganku." Dia malah terkikik geli sendiri mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Kalau begitu aku akan menghabiskan semua uangku. Kita pergi Lusi." Sian mengajak gadis bernama Lusi itu menuju tempat tinggal Sansan neneknya.
Lusi merupakan seorang pengasuh di panti jompo. Sansan meski bergelimang harta lebih memilih tinggal disana. Alasannya karena disana ramai, banyak teman mengobrol dari pada harus tinggal di rumah besar sendirian tanpa keluarga lain. Lusi seusia Ryn, dia dan Sansan sangat akrab jadi tak jarang sang nenek selalu mencoba menjodohkan keduanya.