"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Trombosin Plus
"Siapa sebenarnya kamu?"
Pertanyaan Bu Farah menggantung di udara laboratorium.
Rangga tidak langsung menjawab.
Di sampingnya, Kevin menelan ludah. Rini dan Andi sama-sama diam. Pak Bambang berdiri dengan wajah kaku, seolah siap memotong pertanyaan itu kalau berubah menjadi tuduhan.
Rangga hanya menatap laporan di tangan Bu Farah.
"Saya dokter di UGD RSUD Harapan Bangsa, Bu."
Jawaban itu terlalu sederhana untuk data di meja.
Bu Farah jelas belum puas. Ia mengesampingkan rasa penasaran pribadi, mengenakan kembali kacamatanya, lalu membuka halaman catatan observasi hewan.
"Data mentahnya lengkap. Rantai penyimpanan tercatat. Batch awal jelas. Tidak ada penggunaan pada manusia sampai saat ini."
"Betul, Bu," jawab Pak Bambang.
"Saya akan mengeluarkan persetujuan uji klinis terbatas dengan pengawasan langsung BPOM, komite etik rumah sakit, dan tim medis lengkap. Satu pasien pertama. Semua parameter dipantau. Jika ada satu tanda bahaya, uji dihentikan."
Kevin langsung menarik napas panjang, seolah paru-parunya baru ingat cara bekerja.
Pak Bambang menatap Rangga.
Rangga mengangguk perlahan. Jalan yang terbuka itu sempit, namun cukup untuk menyelamatkan satu orang yang waktunya terus menipis.
Saat mereka kembali ke RSUD Harapan Bangsa, Pak Karto sedang berbaring di ruang observasi intensif. Wajah lelaki tua itu lebih cekung daripada dua hari lalu. Sri duduk di samping ranjang dengan mata sembap, sementara Agus berdiri di dekat jendela, mengepalkan tangan tanpa tahu harus marah kepada siapa.
Bu Farah menjelaskan prosedur dengan suara datar.
"Ini bukan obat yang sudah dijual bebas. Ini uji klinis terbatas. Risiko tetap ada. Bapak dan keluarga berhak menolak."
Sri menggenggam tangan ayahnya. "Pak, kita pikir dulu. Rumah juga masih bisa kita jual..."
Pak Karto membuka mata.
Suara lelaki tua itu lemah, tetapi anehnya sangat jelas.
"Rumah itu untuk kamu dan adikmu nanti. Bukan untuk membeli napas Bapak yang belum tentu panjang."
"Pak..."
Pak Karto menoleh ke Rangga.
"Dokter Rangga, obat itu bisa memberi saya kesempatan?"
Rangga menjawab hati-hati. "Bisa, Pak. Tetapi belum ada jaminan. Kami akan pantau setiap detik."
Pak Karto tertawa kecil, lalu batuk.
"Saya sudah tua. Daripada jual rumah untuk berobat, lebih baik saya coba obat ini."
Sri menangis di tempat.
Agus menunduk, bahunya bergetar.
Pak Bambang mengambil berkas persetujuan. Tangannya tidak gemetar sedikit pun ketika ia menandatangani bagian penanggung jawab medis.
"Saya ikut bertanggung jawab," katanya. "Bukan cuma sebagai dokter, tapi sebagai guru Rangga."
Bu Farah menambahkan tanda tangan pengawasan BPOM. Komite etik rumah sakit memberi persetujuan cepat untuk penggunaan terbatas karena kondisi pasien berulang dan mengancam nyawa. Semua ditulis, direkam, disaksikan.
Tidak ada yang sadar bahwa di luar gedung, beberapa reporter lokal sudah berkumpul.
Bimo yang mengirim mereka.
Di ruang tamu rumahnya, Bimo duduk dengan satu kaki di atas meja, ponsel menempel di telinga.
"Tulis saja dokter muda sok jenius mau coba obat belum jelas ke pasien miskin," katanya. "Kalau pasien itu kenapa-kenapa, kalian punya berita besar."
Di layar ponselnya, nama Rangga muncul di beberapa grup percakapan rumah sakit.
Dokter muda itu lagi.
Anak miskin itu lagi.
Sampah yang seharusnya diinjak itu lagi.
Wajah Bimo mengeras.
"Kali ini lo tamat, Rangga."
Satu jam kemudian, kamera sudah berada di koridor observasi.
Pak Hendra sempat ingin mengusir semuanya, tetapi Bu Farah justru mengangkat tangan.
"Biarkan mereka melihat. Tapi tidak boleh mengganggu tindakan, tidak boleh merekam wajah pasien tanpa izin keluarga, dan semua berada di luar garis batas."
Reporter-reporter itu saling pandang. Mereka datang mencari skandal, tetapi aturan Bu Farah terlalu rapi untuk diterobos.
Rangga berdiri di samping ranjang Pak Karto.
Trombosin Plus berada dalam spuit steril, cairannya bening seperti air.
Di layar monitor, detak jantung Pak Karto bergerak tidak stabil. Di meja samping, EKG, hasil darah, tekanan darah, saturasi, dan catatan observasi tersusun seperti barisan saksi.
Sri mencium tangan ayahnya.
"Pak, jangan tinggalin kami."
Pak Karto menepuk punggung tangannya.
"Kalau Bapak tidur sebentar, jangan ribut."
Kalimat itu membuat beberapa perawat memalingkan wajah.
Rangga memeriksa jalur intravena sekali lagi.
"Pak Karto, saya mulai."
"Mulai saja, Dok."
Cairan itu masuk perlahan.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada cahaya ajaib.
Hanya satu tetes, lalu tetes berikutnya, masuk ke tubuh lelaki tua yang selama tiga hari terakhir berkali-kali diseret kembali dari tepi kematian.
Sepuluh menit.
Tidak ada reaksi alergi.
Dua puluh menit.
Tekanan darah stabil.
Empat puluh menit.
Nyeri dada berkurang.
Satu jam.
Hasil pemeriksaan cepat menunjukkan indikator bekuan darah turun tajam.
Ruangan yang sejak tadi menahan napas mulai berubah.
Seorang reporter berbisik, "Serius ini?"
Reporter lain sudah mengetik ulang judul berita di ponselnya.
Pak Bambang menatap angka di layar, lalu menatap Rangga.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya melunak.
"Kerjanya nyata," katanya pelan.
Belum sempat Sri menangis lega, monitor menjerit.
Detak jantung Pak Karto melonjak kacau.
Tubuh lelaki tua itu mengejang. Tangannya mencengkeram seprai.
"Dada... panas..."
Sri menjerit.
Reporter-reporter di luar garis batas langsung bergerak seperti mencium darah.
"Itu efek obat?"
"Pasien kolaps setelah suntikan!"
"Dokter muda eksperimen gagal?"
Bimo, yang menonton siaran langsung pendek dari salah satu akun, langsung berdiri.
"Kena lo."
Di ruang observasi, Rangga tidak mendengar apa pun selain monitor.
"EKG sekarang. Siapkan defibrillator. Oksigen naikkan. Pak Bambang, saya butuh akses obat emergensi."
Perintahnya keluar cepat, bersih, tanpa panik.
Pak Bambang sudah bergerak sebelum kalimat selesai.
Bu Farah berdiri di sisi ruangan, wajahnya tegang tetapi ia tidak mengganggu.
Rangga membaca pola EKG dan menyingkirkan reaksi sistemik obat serta perdarahan masif. Serangan itu berasal dari lesi lama yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya sebelum obat mencapai efek penuh.
"Ini infark berulang," kata Rangga. "Bukan reaksi alergi. Lanjut protokol resusitasi."
"Kamu yakin?" tanya Pak Bambang.
"Yakin."
Defibrillator menyala.
"Semua menjauh."
Tubuh Pak Karto terangkat sebentar dari kasur.
Garis monitor kacau.
Rangga menekan dada dengan ritme kuat. Keringat turun dari pelipisnya. Sri menangis tanpa suara di pelukan Agus. Kamera di luar terus merekam, tetapi kali ini tidak ada reporter yang berani bicara.
Satu siklus.
Dua siklus.
Obat emergensi masuk.
Monitor berdecit panjang.
Lalu, seperti seseorang menarik benang dari kekacauan, irama itu kembali.
Tek... Tek... Tek.
Pak Karto menarik napas kasar.
Sri hampir jatuh berlutut.
"Bapak!"
Rangga tidak berhenti pada kemenangan kecil. Ia langsung meminta pemeriksaan lanjutan. Dalam tiga puluh menit, hasilnya keluar.
Trombus besar yang menjadi target utama telah menyusut drastis.
Pembuluh kecil lain yang sebelumnya menunjukkan tanda sumbatan ringan kini bersih.
Tidak ada tanda perdarahan internal.
Tidak ada kerusakan organ akut.
Serangan itu bukan pukulan balik obat.
Justru sebelum serangan terjadi, obat sudah mulai membersihkan bagian yang selama ini tidak pernah bisa mereka sentuh.
Bu Farah membaca hasil itu dengan wajah yang semakin sulit dijelaskan.
Reporter yang tadi paling agresif menurunkan ponselnya.
"Jadi pasien selamat?"
Pak Bambang menoleh kepadanya.
"Bukan hanya selamat. Data menunjukkan obatnya bekerja."
Reporter itu membuka mulut, tetapi tidak ada pertanyaan yang keluar.
Saat itulah suara sistem muncul di kepala Rangga.
[Uji klinis pertama berhasil.]
[Registrasi BPOM telah selesai secara otomatis.]
[Dokumen izin edar, data klinis, dan berkas pendukung telah disinkronkan.]
Rangga menutup mata setengah detik.
Di dunia luar, Bu Farah menerima notifikasi pada tablet resminya. Ia membukanya, lalu membeku.
"Berkas registrasi..." gumamnya. "Lengkap?"
Kevin menoleh cepat. "Bu?"
Bu Farah menggeser layar. Data batch, catatan klinis, hasil pendukung, nomor berkas, semuanya muncul seolah sudah melalui jalur panjang yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan.
Ia menatap Rangga lagi.
Kali ini tidak bertanya.
Mungkin karena ia mulai sadar, beberapa pertanyaan tidak akan mendapat jawaban normal.
Namun serangan media belum selesai.
Satu reporter masih mencoba mencari celah.
"Publik tetap perlu bukti keamanan pada orang sehat, dokter, dan pasien dengan kondisi berat."
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Rangga hendak menjawab, tetapi Pak Bambang sudah menggulung lengan bajunya.
"Ambil darah saya."
"Pak!" Rangga menoleh tajam.
"Saya sehat untuk ukuran orang tua cerewet," kata Pak Bambang. "Saya punya risiko mikro-trombus karena umur dan tekanan kerja. Kita periksa sebelum dan sesudah."
"Ini bukan perlu, Pak."
"Perlu." Pak Bambang menatapnya. "Kamu sudah berdiri di depan pasien. Sekarang biar gurumu berdiri di depan dunia."
Bu Farah langsung memotong, "Tidak boleh spontan tanpa persetujuan tertulis dan pengawasan."
"Siapkan berkasnya," jawab Pak Bambang. "Saya tanda tangan. Komite etik mencatat sebagai uji sukarela terbatas dengan pemantauan penuh."
Rangga menatap dokter senior itu.
Di mata Pak Bambang, tidak ada pamer. Tidak ada nekat kosong. Hanya keyakinan seorang guru yang memilih memasang tubuhnya sendiri sebagai jembatan agar muridnya tidak dihancurkan keraguan publik.
"Pak..." suara Rangga lebih rendah.
Pak Bambang tersenyum tipis. "Jangan lembek. Kamu dokter UGD."
Prosedur ulang dilakukan.
Pemeriksaan awal menunjukkan beberapa tanda mikro-sumbatan ringan yang wajar pada usia dan pola kerja Pak Bambang. Trombosin Plus diberikan dalam dosis pengawasan.
Satu jam kemudian, hasil kontrol keluar.
Parameter stabil.
Tidak ada efek samping.
Tanda mikro-sumbatan menghilang.
Ruangan itu pecah.
Keheningan mereka menyampaikan pengakuan yang lebih kuat daripada tepuk tangan.
Reporter-reporter yang tadi menyiapkan judul kehancuran Rangga kini berebut sinyal.
Dokter senior ikut uji obat.
Pasien selamat dari serangan berulang.
Obat baru dari RSUD Harapan Bangsa menunjukkan hasil di luar dugaan.
Dan di tengah semua itu, seorang dokter muda berdiri dengan wajah letih, tidak sekali pun meminta kamera menyorotnya.
Menjelang malam, berita pertama naik.
Dokter Ajaib dari RSUD Harapan Bangsa!
Video Pak Bambang menggulung lengan baju tersebar lebih cepat daripada api di musim kemarau.
Kolom komentar meledak.
Komentar menyebut Rangga penyelamat dan melihat harapan baru bagi pasien miskin, meski harga obat belum diumumkan. Potongan video Sri yang menangis sambil memeluk Pak Karto juga diputar berulang kali.
Instagram Rangga, yang selama ini hanya berisi foto lama dan beberapa unggahan biasa, mendadak dibanjiri pengikut.
Sepuluh ribu.
Seratus ribu.
Lima ratus ribu dalam semalam.
Di kamar rawat, Pak Karto tidur dengan napas lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya. Sri duduk di sampingnya sambil terus melihat layar ponsel, menangis setiap kali membaca komentar orang yang mendoakan ayahnya.
Pak Bambang berdiri di koridor, lengan bekas suntikannya ditempeli plester kecil.
"Sekarang kamu terkenal," katanya.
Rangga menatap koridor yang masih penuh reporter.
"Saya cuma ingin Pak Karto pulang hidup-hidup."
"Justru karena itu orang percaya."
Di tempat lain, Bimo menatap layar ponselnya.
Judul yang ia harapkan menjadi skandal kini berubah menjadi pujian.
Nama Rangga ada di mana-mana.
Dokter Ajaib.
Dokter muda penyelamat.
Harapan baru RSUD Harapan Bangsa.
"Bangsat!"
Ia melempar ponsel itu ke lantai.
Layar pecah seperti jaring laba-laba.
Nadia yang duduk di sofa terkejut, tetapi tidak berani bicara.
Bimo mengambil ponsel lain dan menelepon ayahnya.
"Ayah, dia makin naik. Media malah muji dia semua!"
Di ujung sana, Pak Santoso diam beberapa detik.
Lalu suaranya keluar, dingin dan berat.
"Cukup. Mulai sekarang, biar Ayah yang urus."