Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : DESAS-DESUS ISTANA TIMUR
Ujian sesi pertama dimulai di dalam ruang belajar sebelah kiri. Setiap peserta diberikan waktu selama satu jam untuk mengerjakannya. Setiap peserta akan diacak tempat duduknya dengan peserta dari halaman lain. Ye Ning duduk di urutan ketiga baris nomor dua.
Semua meja telah disediakan kertas soal dan kuas; peserta tinggal menjawab soal yang ada di dalam kertas tersebut. Ye Ning membaca soal tersebut dengan serius.
'Apa yang kamu ketahui tentang pemerintahan Kaisar Yuanzong?'
Ye Ning menulis jawabannya seperti ini:
'Ketika Kaisar Yuanzong mulai memimpin takhta, saya baru berusia delapan tahun saat itu. Anak perempuan di usia itu hanya tahu bermain dan belajar. Tetapi melihat bisnisku yang sekarang tidak memiliki kendala izin dan terus berkembang dengan pajak yang masuk akal, aku mengakui bahwa Yang Mulia Kaisar Yuanzong mampu memimpin Kekaisaran Barat dengan sangat baik.'
Ye Ning menulis sambil tersenyum, seolah jawabannya adalah jawaban paling cerdas yang pernah ada. Zhilan memperhatikan ekspresi Ye Ning dari jauh, dan dia tahu bahwa gadis itu sedang mengacaukannya. Zhilan hanya menggelengkan kepala tetapi juga ikut tersenyum.
Lalu Ye Ning menjawab soal lainnya dengan lancar. Hanya butuh waktu dua puluh menit baginya untuk menyelesaikan semua soal dan langsung mengumpulkannya ke depan. Setelah itu, ia keluar ruangan dengan langkah ringan. Teman sekamarnya belum ada yang keluar, jadi ia menunggu di taman kecil sambil melihat daun yang berguguran.
Dari belakang punggungnya, Ye Ning dapat mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat. Ye Ning berbalik dan mendapati Zhilan kini berdiri di hadapannya. Ye Ning ingin mengatakan sesuatu, namun entah kenapa lidahnya terasa kelu.
Zhilan melipat tangannya ke belakang sambil memandangi daun yang berguguran.
Ia berkata,
"Hindari orang-orang yang tidak kau kenal di istana Harem. Itu lebih aman untukmu. Jika kau merasa ada sesuatu yang tidak beres, kau boleh melaporkannya pada Tang Momo. Dia akan memberitahuku, aku akan membantumu semampuku."
Ye Ning menatap Zhilan dengan tatapan curiga. Tang Momo? Apakah wanita itu mata-mata Zhilan? Jadi dia ingin aku lolos seleksi?
"Jangan menatapku seperti itu. Penilaian dan keputusan seleksi aku tidak pernah ikut campur. Tang Momo memang orangku, tetapi ia bukan budakku."
Ye Ning menghela napas lega. Eh, tapi tunggu dulu? Seharusnya Tang Momo tidak meloloskannya, tapi kenapa malah...? Ye Ning mengangkat dagunya tinggi sambil menantang Zhilan. Zhilan hanya tertawa melihat tingkahnya dan mengusap bagian atas kepala Ye Ning.
"Kau sama sekali tidak mau berbicara denganku?" tanya Zhilan.
Ye Ning bukan tidak mau, tetapi tidak bisa. Lalu Lu Wan dan Ming Zi memanggilnya, Ye Ning pun kabur dari hadapan Zhilan. Ming Zi menggoda Ye Ning di sepanjang jalan, membuat Ye Ning tersipu malu. Saat mereka akan memasuki koridor, mereka melihat dua gadis pelayan sedang berbicara mengenai putra mahkota. Spontan Ming Zi menarik dua lainnya untuk bersembunyi di belakang pohon besar agar mereka tidak terlihat.
"Kau tidak takut ketahuan orang Istana Timur karena kemari?" gadis pelayan yang memegang sapu itu bertanya.
"Ssst. Aku keluar diam-diam dan hanya sebentar saja kemari hanya untuk melepaskan penat. Kami selalu merasa ketakutan jika berada di dalam sana sepanjang hari," ujar pelayan satunya.
Lawan bicaranya pun bertanya kenapa. Pelayan yang menutupi wajahnya dengan topi itu pun mendekat dan berkata bahwa sekarang di Istana Timur seperti medan perang. Putra Mahkota yang dulu dikenal sebagai pria lembut dan baik hati berubah dan membuat semua orang ketakutan setengah mati.
Ming Zi melebarkan telinganya untuk mendengar gosip itu. Lu Wan juga tampaknya penasaran sebenarnya apa yang terjadi.
Pelayan itu melanjutkan, "Putra Mahkota menjadi seperti orang lain sejak dia sakit dan bangkit dari koma. Awalnya ia selalu berteriak histeris dan mengamuk setiap malam. Kami pikir itu efek dari tidurnya yang panjang, tetapi ternyata lebih besar dari itu."
Gadis penyapu itu mendengarkan dengan serius lalu bertanya, "Apa yang lebih mengejutkan?"
"Hampir setengah dari pelayan di Istana Timur dipecat secara dadakan dan dilempar keluar dari Ibukota. Aku hanya tukang cuci jadi tidak begitu berdampak," ujarnya.
"Yang lebih mencengangkan lagi, sejak saat itu Putra Mahkota menatap istrinya dengan jijik, bahkan mengusirnya dari kamar."
Mendengar itu, bahkan Ye Ning menganga tidak percaya. Lu Wan menutup mulutnya dan Ming Zi seperti mendengar gosip panas dan sangat antusias.
Pelayan itu ingin melanjutkan pembicaraannya ketika Ye Ning menyela dengan berdeham. Ye Ning mengingatkan mereka dan memerintahkan mereka untuk bubar.
"Lain kali jika kau menyebarkan gosip lagi dari Istana Timur, jangan salahkan aku jika kepalamu terpenggal." Perkataan itu membuat dua gadis pelayan itu gemetar ketakutan. Mereka meminta maaf lalu membubarkan diri.
Ming Zi protes kepada Ye Ning, kenapa keluar dan membubarkan mereka. Dia jadi tidak bisa mendengarkan lanjutan gosipnya. Ye Ning menatapnya dengan serius dan berkata,
"Sebenarnya sungguh sial karena kita ikut mendengar cerita itu. Baiklah mari kita kembali." Ye Ning pergi dari tempat itu disusul oleh Ming Zi dan Lu Wan.
Tanpa mereka sadari, di belakang mereka Qing He berdiri di balik gedung. Ia melihat rombongan Ye Ning pergi lalu juga ikut pergi dengan tenang. Sepertinya nasib kedua pelayan itu tidak akan berakhir baik.
Ye Ning dan yang lainnya tiba di balai pertemuan, dan melihat bahwa sebagian peserta sudah menunggu di dalam. Para dewan istana juga sudah duduk di depan sambil memilah lembar jawaban peserta. Sekitar sepuluh menit kemudian, Kanselir Agung mengeluarkan suaranya.
"Saya cukup kagum dengan wawasan kalian tentang negara dan pemerintahan kita ini walaupun kalian hanya seorang gadis dan tidak memiliki jabatan di pemerintahan. Oleh karena itu, demi mempersingkat waktu, kami akan mengumumkan peserta yang lolos ke tahap ujian lisan. Berikut adalah nama-namanya..."
Kanselir Agung menyebutkan tiga puluh peserta yang lolos dan maju ke tahap selanjutnya. Ketiga puluh peserta itu termasuk Ye Ning, Lu Wan, Qing He, Ming Zi dan Jiu Lin. Ye Ning tidak habis pikir lagi dengan semua ini. Sebenarnya dia memang cukup berbakat untuk membuat semua juri terkesan atau dia memiliki hoki yang melebihi seekor ikan koi?
Tanpa sadar Ye Ning menatap ke arah Tang Momo yang berdiri di pojok sebelah kiri, tak jauh dari Bai Zhilan. Apakah ini ulahnya lagi? Menyadari jika dirinya ditatap seseorang, Tang Momo hanya menyilangkan tangannya membentuk angka X.
Ye Ning yang melihat gerakan itu merasa takjub. Sepertinya ia memang harus berguru pada Tang Momo. Setelah semua nama peserta diumumkan, mereka diperbolehkan kembali ke Istana Harem dan kembali lagi esok pagi untuk mengikuti ujian sesi kedua.
Kali ini Ye Ning bertekad, Esok saat ujian lisan dia akan menjawab soal dengan sejelek mungkin, bahkan kalau perlu di luar nalar pemikiran manusia biasa.