Faylan Laurentika Plavius, gadis penebus hutang yang kemudian dijadikan tumbal sebuah tradisi di kerajaan Oesteria, di mana setiap keturunan bangsawan wajib menjadi duda agar terhindar dari kutukan. Faylan dipaksa menikah dengan seorang pangeran yang arogant dan kejam. Sesuai tradisi Faylan akan diceraikan setelah sebulan menjadi Unlucky Bride.
Allison Jois Afson, pangeran tampan yang sengaja menikahi Faylan dan tak berniat menceraikannya. Apa alasan Allison enggan menceraikan Faylan? Benarkah karena timbulnya perasaan cinta atau hanya ingin membuktikan kebenaran tentang kutukan? Atau ada motif lain di baliknya?
Sekuel DUREN BANGSAWAN
jangan lupa follow IG Author @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 ~ Agresif
"Iya, ini pakaian olahragaku. Kemarilah, kita mulai olahraganya," Allison meminta Faylan mendekat padanya. Dengan polos Faylan pun mendekat dan naik ke atas ranjang.
Faylan duduk di sebelah Allison, Allison melepaskan baju dalamnya begitu saja, memamerkan otot tubuh yang besar dan keras.
"Berbaringlah," pinta Allison, Faylan ragu melakukannya.
"Kenapa tidak di lantai saja, tuan? Kita gunakan matras khusus olahraga," protes Faylan belum menyadari apa yang sebenarnya Allison pikirkan tentang olahraga di malam hari.
"Aku lebih suka di kasur," balas Allison kembali melucuti celananya, Faylan menghindari pandangan.
"Lepas bajumu!" titah Allison membuat Faylan bingung.
"Lepas baju?"
"Mau aku yang lepaskan?" ancam Allison tersenyum miring, Faylan langsung melepas bajunya seorang diri.
"Bra-mu mengecil? Kenapa tumpah begini?"
"Tidak tahu, tuan." jawab Faylan yang memang tidak tahu. Seingatnya ia mengenakan bra lama yang biasa ia pakai, ukurannya pun sama. Entah kenapa sekarang malah jadi kekecilan.
Faylan kaget saat Allison mengukung tubuhnya, ia ingin bangkit melarikan diri. Tapi, Allison menahannya. "Mau ke mana?"
"Kita tidak jadi olahraga, tuan?" Faylan bingung.
"Ini juga olahraga, nanti juga akan berkeringat," jelas Allison menerkam Faylan tanpa ampun.
"Olahraga apa ini!?" teriak Faylan dalam hati ketika Allison melu mat bibirnya dalam. Sementara tangan laknat mulai melucuti kain yang melekat di tubuhnya.
Entah kenapa kali ini Faylan sangat menikmati setiap sentuhan Allison. Bahkan, Faylan tak lagi merasa sakit meski sudah beberapa jam berlalu. Kali ini Faylan lebih menikmati, tegang seperti dulu-dulu cukup berkurang. Walau berkali-kali digempur, ia tak lagi mengalami lecet seperti sebelumnya. Perlahan namun pasti, ia juga membalas meski masih kaku.
Allison pun dapat merasakan sedikit perubahan yang terjadi kepada istrinya. Malam itu, Faylan sedikit lebih agresif daripada malam-malam sebelumnya.
"Suka?" tanya Allison setelah berhasil membuat tubuh Faylan berguncang untuk yang kesekian kalinya.
Dengan helaan napas yang berat, Faylan menganggukkan kepala. Tampaknya, tubuh Faylan sudah mulai terbiasa dengan kehadiran sesuatu mengganjal di bawah sana. Ia juga mulai beradaptasi akan kekuatan sang suami. Kedua pipi Faylan memerah, keringat membanjiri wajah dan membasahi rambutnya.
Satu kecupan hangat nan lembut mendarat di kening, Faylan memejamkan mata. "Karena suka, kita harus sering-sering melakukannya," Faylan kembali menganggukkan kepala, tubuhnya masih sedikit berguncang karena senjata Allison masih terbenam di bawah sana.
Allison tersenyum simpul, kemudian kembali menggerakkan tubuhnya dengan brutal. Allison tak memberi ampun, tiga empat kali tidak cukup baginya. Faylan telah menjadi candu yang tak kunjung membuatnya puas.
Melihat wajah Faylan yang memucat, Allison pun mempercepat gerakannya hingga pada akhirnya ia kembali tumbang. Ia baru sekali, sementara Faylan sudah tak terhitung berapa kali.
Memang Faylan tak lagi merasa perih dan lebih menikmati. Tapi, entah kenapa perutnya tiba-tiba kram.
Allison dibuat khawatir kala melihat Faylan meringis, ia segera menyingkir dari tubuh sang istri, kemudian memangku Faylan yang menekan perut datarnya.
"Kenapa?"
Faylan tak merespon, ia meringkuk menekan perutnya dengan kuat, Allison semakin khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya Allison lagi.
"Ti-tidak apa-apa, tuan. Hanya sedikit kram biasa, tapi sekarang sudah mendingan," balas Faylan meraih selimut kemudian menutupi tubuh polosnya.
"Ya sudah, istirahatlah," Allison turut menutupi tubuh Faylan, memastikannya hangat.
"Pasti karena kau agresif malam ini, lain kali tidak perlu terlalu berusaha. Cukup nikmati, biar aku yang melakukannya," pesan Allison membuat wajah Faylan semakin memerah karena malu.
Saat Allison masuk ke dalam kamar mandi, Faylan memukul kepalanya beberapa kali, berharap dapat melupakan dirinya yang begitu agresif.
"Aku tidak belajar apa pun, bagaimana aku bisa melakukannya. Aaahh, sangat memalukan!" Faylan menjerit dalam hati.
Sebelum Allison keluar dari kamar mandi. Faylan memungut pakaiannya, kemudian memasangnya dengan cepat. Setelah itu Faylan melarikan diri menuju kamarnya sendiri.
Sampai di kamar, ia tak langsung tidur. Tetapi masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri.
"Nyamannya."
Faylan sudah berendam di dalam buthub.
"Aw! Kenapa kram lagi?"
.
.
.