Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — Tamu dari Hutan
Setelah perayaan singkat kemarin malam di lapangan desa, keputusan diambil untuk menempatkan Ayla di rumah tetua Gordon agar keadaannya bisa terus dipantau.
Di dalam ruangan batu yang hangat, Ayla duduk di tepi pembaringan kulit rusa. Mantel kulit yang dipinjamkan warga terasa agak kebesaran di tubuhnya yang ramping. Saat ini, Bibi Nora berdiri di dekat perapian, mengaduk sup daging hangat di dalam kuali tanah liat.
Aron, Tetua Gordon, dan Paman Bimo duduk mengelilingi meja kayu di tengah ruangan. Sementara itu, Yana berdiri diam di sudut dekat pintu masuk, bersandar pada dinding batu sambil mengamati situasi.
"Makanlah dulu selagi hangat, Nak," kata Bibi Nora seraya menyerahkan semangkuk sup kayu kepada Ayla.
"Terima kasih banyak, Bibi," jawab Ayla dengan suara pelan dan sedikit gemetar. Tangannya menerima mangkuk itu dengan sangat hati-hati. "Kalian semua sangat baik padaku."
Tetua Gordon berdehem pelan, membetulkan posisi duduknya. Mata kelabunya yang tenang menatap lurus pada Ayla.
"Sekarang, ceritakan pada kami," ujar Tetua Gordon membuka pembicaraan. "Siapa namamu dan dari mana asalmu sebenarnya? Tidak ada orang yang bisa bertahan hidup sendirian di Hutan Hitam tanpa senjata."
Ayla meletakkan mangkuk supnya di atas pangkuan. Ia menundukkan kepala, memegang pelipisnya seolah sedang berusaha keras mengingat sesuatu yang menyakitkan.
"Namaku... Ayla," ucapnya lirih. "Hanya itu nama yang kuingat."
Paman Bimo mengerutkan dahi. "Hanya nama? Bagaimana dengan sukumu? Suku Beruang? Suku Elang? Atau suku di balik pegunungan es?"
Ayla menggelengkan kepala pelan.
Wajahnya memasang ekspresi bingung dan serba salah.
"Aku tidak ingat," jawab Ayla, matanya mulai berkaca-kaca. "Setiap kali aku mencoba mengingat dari mana aku berasal, kepalaku terasa sangat sakit. Yang kuingat hanya kegelapan, rasa dingin yang menusuk, dan... sebuah bisikan."
"Bisikan?" pangkas Aron cepat. "Bisikan apa yang kamu maksud, Ayla?"
Ayla mendongak, menatap Aron dan Tetua Gordon secara bergantian.
"Sebuah suara yang sangat hangat," jelas Ayla dengan nada yakin namun tetap terkesan ragu. "Suara itu menyebut dirinya 'Dewa Binatang'. Dia menyuruhku berjalan ke arah utara dan berjanji bahwa aku akan menemukan orang-orang baik yang akan menyelamatkanku. Lalu... aku terbangun di tengah hutan dan bertemu kelompok pencari Paman Aron."
Paman Bimo saling pandang dengan Aron.
Cerita tentang hilangnya ingatan dan bisikan gaib itu terdengar sangat tidak biasa, tetapi ekspresi wajah Ayla yang tampak begitu polos membuat cerita itu sulit untuk langsung dibantah.
"Kehilangan ingatan..." gumam Paman Bimo sambil menopang dagunya. "Bisa saja dia pingsan dan kepalanya terbentur batu saat tersesat di hutan utara."
Yana yang memperhatikan dari sudut pintu tetap membisu. Ia tidak menyela atau memotong pembicaraan itu.
Yana paham betul cara Ayla bermain kata—menyebut nama "Dewa Binatang" untuk memancing rasa segan dari suku yang sangat taat pada kepercayaan ini, namun sengaja mengaku hilang ingatan agar tidak bisa diinterogasi lebih jauh soal asal-usulnya.
Sebuah taktik yang sangat rapi, batin Yana.
Tetua Gordon tidak langsung memakan mentah-mentah ucapan Ayla.
Sang tetua mengetukkan jemarinya di atas meja kayu beberapa kali.
"Dewa Binatang tidak pernah bicara sembarangan kepada manusia biasa, Ayla," tegas Tetua Gordon dengan nada datar. "Tapi kami juga tidak bisa mengusir seseorang yang kehilangan ingatan dan tidak punya tempat tinggal di tengah musim dingin."
Aron mengangguk setuju. "Tetua benar. Kita tidak boleh membuat keputusan terburu-buru."
Aron lalu berdiri, menatap Ayla dengan raut wajah seorang pemimpin yang bijaksana. "Kamu boleh tinggal di sini untuk sementara waktu, Ayla. Selama kamu tidak membuat masalah atau membahayakan Suku Serigala, kami akan melindungimu."
Wajah Ayla seketika berbinar gembira. Ia membungkukkan tubuhnya berkali-kali di atas pembaringan.
"Terima kasih banyak, Kepala Suku! Terima kasih, Tetua!" seru Ayla penuh rasa syukur. "Aku janji akan berusaha berguna dan membantu pekerjaan warga di sini untuk membalas kebaikan kalian!"
Bibi Nora tersenyum lega melihat kesepakatan itu. "Baguslah. Kamu bisa tinggal di kamar samping rumah Tetua Gordon ini dulu."
"Terima kasih, Bibi," jawab Ayla lembut.
Saat Aron dan Paman Bimo beranjak berdiri untuk keluar dari kediaman tetua, Ayla melirik ke arah pintu. Matanya berpapasan langsung dengan Yana yang masih berdiri.
Ayla menyunggingkan senyum kecil yang terkesan sangat bersahabat ke arah Yana. Namun, Yana hanya membalas tatapan itu dengan pandangan datar, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar lebih dulu menembus udara dingin di sore hari.
Yana berjalan menyusuri jalanan tanah desa menuju rumahnya. Ia mendongak menatap asap perapian yang membumbung di atas pemukiman.
Ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. Ayla telah mendapatkan pijakan pertamanya di Suku Serigala, dan Yana tahu ia harus tetap mengawasi setiap pergerakan gadis itu tanpa harus bertindak gegabah.