Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Pelindung atau Penjaga?
Setengah bulan setelah nama Vanessa Tanujaya kembali mengisi percakapan sosialita Jakarta, Keira Salim belajar satu hal: rumor tidak pernah mati, ia hanya berganti meja.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar tinggi, Keira berdiri di dapur apartemennya dengan segelas air putih. Di tangannya ada botol kecil berlabel Vitamin C. Labelnya bersih, terlalu biasa untuk menarik perhatian siapa pun.
Ia membuka tutupnya, menuang satu pil ke telapak tangan, lalu menelannya tanpa ekspresi.
Ponselnya bergetar.
Tari mengirim jadwal rapat, disusul satu pesan tambahan.
Ci, Direktur Parfum baru resmi masuk hari ini. Katanya papanya Daniel Tjiang.
Keira menutup botol itu dan memasukkannya ke laci paling dalam.
Baik. Siapkan file Valentine.
Di HEALER, udara kantor terasa berbeda. Bukan karena diffuser di lobi, bukan karena aroma jeruk pahit dari sampel lini baru, melainkan karena semua orang berjalan sedikit lebih hati-hati.
Hartawan Tjiang, Direktur Tjiang yang baru, memperkenalkan diri di depan tim parfum dengan senyum seorang pria yang merasa ruangan itu sudah menjadi miliknya. Daniel berdiri di sampingnya, dagu terangkat, seolah beberapa minggu lalu ia tidak pernah dipermalukan Keira di pantry.
“Untuk proyek Valentine,” kata Direktur Tjiang, “kita butuh energi baru. Pasar butuh cerita cinta yang segar, bukan formula lama yang terlalu dingin.”
Beberapa staf melirik Keira.
Keira duduk di kursinya, pena di antara jari. Wajahnya tidak berubah.
Direktur Tjiang menoleh padanya. “Bu Keira tentu bisa membantu Daniel sebagai konsultan.”
Tari hampir menjatuhkan tablet.
Daniel tersenyum. “Saya akan jadi perancang utama?”
“Itu rencana saya,” jawab ayahnya. “Anak muda harus diberi kesempatan.”
Keira menutup map di depannya. “Formula awal, riset pasar, dan brief kreatif proyek Valentine berada di bawah tanggung jawab saya.”
“Itulah sebabnya Anda cocok jadi konsultan,” ujar Direktur Tjiang halus. “Pengalaman Anda masih dibutuhkan.”
Kata pengalaman terdengar seperti usia tua. Kata konsultan terdengar seperti disingkirkan.
Tari membuka mulut, tetapi Keira mengangkat tangan kecil. Ia berdiri.
“Kalau begitu, saya minta proposal tertulis. Termasuk alasan bisnis, target aroma, proyeksi pasar, dan risiko jika struktur kreatif diubah di tengah proses.”
Daniel mendecak. “Semua harus sedingin laporan, ya?”
“Parfum dijual dengan emosi,” jawab Keira. “Tapi dibuat dengan data. Kalau kamu tidak bisa membedakan keduanya, kamu belum siap memimpin proyek.”
Ruang rapat hening.
Senyum Direktur Tjiang menipis. “Nanti kita bahas lebih santai. Siang ini ada makan bersama tim di restoran hotel. Semua wajib hadir.”
Keira tahu kata wajib jarang berarti makan.
Restoran hotel itu berada di lantai atas gedung sebelah HEALER. Meja panjang disiapkan di ruang privat. Di luar jendela, Jakarta tampak kecil, seperti kota yang bisa dilipat dengan satu tanda tangan.
Direktur Tjiang duduk di kepala meja. Daniel mengambil tempat di dekatnya. Tari duduk di samping Keira, tubuhnya kaku.
“Bu Keira,” Direktur Tjiang mengangkat gelas. “Sebagai senior, sebaiknya Anda memberi contoh. Mari minum untuk proyek Valentine.”
Pelayan menuangkan minuman dingin berwarna emas pucat ke gelas Keira. Bau alkohol langsung naik, tajam.
Keira menatap gelas itu. Hari pertama menstruasinya selalu membuat perut bawahnya nyeri seperti ditarik dari dalam. Tari tahu, karena tadi pagi ia sempat membeli pembalut dan kompres hangat untuk Keira.
“Saya tidak minum alkohol hari ini,” kata Keira.
Daniel tertawa. “Sekali gelas saja. Jangan terlalu dramatis.”
Tari menahan diri. “Ci Keira sedang tidak enak badan.”
“Justru sedikit alkohol menghangatkan tubuh,” balas Direktur Tjiang. “Atau karena yang mengajak bukan Bos Besar Hartono, jadi tidak mau?”
Kalimat itu jatuh di meja seperti kotoran di kain putih.
Beberapa staf menunduk. Beberapa pura-pura tidak mendengar.
Keira mengangkat mata. “Direktur Tjiang, kalau Anda ingin membahas relasi pribadi saya, lakukan di luar jam kerja. Kalau ingin membahas proyek Valentine, pakai materi.”
Wajah Daniel mengeras. “Jangan sok suci. Semua orang tahu kamu bisa duduk di posisi itu karena siapa.”
Keira belum menjawab ketika pintu ruang privat terbuka.
Rayhan Hartono masuk tanpa mengetuk.
Di belakangnya, Steven dan Wakil Direktur Liem menyusul dengan wajah yang berbeda: Steven tampak seperti orang yang terlambat mencegah bencana, Wakil Direktur Liem pucat seperti baru menerima panggilan dari neraka korporat.
Semua orang berdiri.
“Pak Rayhan,” suara Direktur Tjiang langsung berubah.
Rayhan tidak menatapnya. Matanya berhenti pada gelas alkohol di depan Keira, lalu pada tangan Keira yang menekan ringan perut bawah.
“Siapa yang menyuruh dia minum?”
Tidak ada yang menjawab.
Daniel mencoba tersenyum. “Pak Rayhan, ini hanya acara tim. Kami tidak tahu Bu Keira begitu sensitif.”
Rayhan berjalan ke arah Daniel.
Pukulan pertama membuat kursi Daniel jatuh.
Jeritan tertahan pecah dari beberapa staf. Tari berdiri refleks, tetapi Keira tetap duduk. Hanya ujung jarinya yang mengencang di serbet.
Rayhan mencengkeram kerah Daniel dan menariknya berdiri. “Kamu tidak tahu apa-apa, tapi berani bicara.”
“Rayhan!” Direktur Tjiang berdiri panik. “Ini salah paham.”
Rayhan mengambil gelas alkohol dari depan Keira dan menyiramkannya ke wajah Direktur Tjiang.
Cairan dingin membasahi rambut rapi pria itu, turun ke jas mahalnya. Seluruh ruang privat membeku.
“Salah paham?” Rayhan menatapnya dengan suara rendah. “Kamu memaksa karyawan perempuan minum alkohol saat dia sedang sakit, lalu menyeret namaku untuk mempermalukannya.”
Wajah Direktur Tjiang merah, antara malu dan takut. “Saya tidak bermaksud begitu.”
“Mulai hari ini, kamu tidak punya maksud apa pun di HEALER.”
Wakil Direktur Liem langsung menunduk. “Saya akan proses pemecatan Direktur Tjiang dan Daniel hari ini juga.”
Daniel yang bibirnya berdarah mencoba bangkit. “Papa!”
Rayhan menoleh padanya. “Kamu juga keluar. Kalau keluarga Tjiang keberatan, datang ke Hartono Group.”
Direktur Tjiang masih mencoba menyelamatkan wajah. “Pak Rayhan, keputusan struktural seperti ini sebaiknya melalui rapat direksi.”
Rayhan mengambil serbet, mengelap ujung jarinya yang terkena alkohol, lalu melemparkannya ke atas meja.
“Rapat direksi?” Ia tersenyum tipis. “Direksi HEALER baru saja menerima memo dari pemegang saham terbesar. Kamu punya waktu sepuluh menit untuk mengambil barang pribadi sebelum akses kartumu dimatikan.”
Wakil Direktur Liem menelan ludah. “Benar, Pak. Saya sudah menerima instruksi.”
Daniel memandang Keira dengan mata merah. “Kamu puas?”
Keira baru kali itu menatapnya langsung. “Aku tidak memecatmu.”
“Tapi karena kamu.”
“Tidak. Karena mulutmu sendiri.”
Kalimat itu tidak keras, tetapi menghentikan Daniel lebih efektif daripada pukulan Rayhan. Beberapa staf menunduk lebih dalam. Mereka tahu Keira benar. Mereka juga tahu kebenaran itu tidak akan menghapus cerita yang lebih menarik untuk dibicarakan nanti.
Rayhan melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Keira. “Dingin?”
“Tidak.”
“Wajahmu pucat.”
“Karena aku sedang menahan nyeri, bukan menunggu kamu membuat keributan.”
Steven, yang berdiri dekat pintu, menghela napas sangat pelan. “Ray, mungkin biarkan Keira bicara dulu.”
Rayhan menoleh. “Dia sudah dipaksa minum.”
“Dan sekarang seluruh kantor akan tahu dia milikmu,” balas Steven, suaranya cukup rendah agar hanya mereka yang mendengar.
Untuk sepersekian detik, Rayhan berhenti.
Keira mendengar juga.
Ia melihat perubahan kecil di wajah Rayhan, terlalu singkat untuk disebut penyesalan. Pria itu mengerti, tetapi terlambat. Gelas sudah disiram. Daniel sudah dipukul. Direktur Tjiang sudah dipecat di depan belasan saksi.
Tidak ada satu pun orang di meja itu berani bernapas terlalu keras.
Keira berdiri perlahan. “Rayhan.”
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi Rayhan langsung menoleh. Kekerasan di wajahnya berkurang setengah.
“Pulang,” katanya.
“Aku masih jam kerja.”
“Jam kerjamu selesai.”
Sebelum Keira bisa menolak, Rayhan sudah mengambil tasnya dan menggenggam tangannya. Di belakang mereka, bisik-bisik mulai bergerak meski pintu belum tertutup.
Perempuan itu benar-benar dibackingi Bos Besar Hartono.
Pantas saja Daniel habis.
Jadi selama ini dia memang dipelihara?
Keira mendengar semuanya.
Ironinya begitu tajam sampai hampir lucu. Rayhan datang untuk melindunginya. Dalam lima menit, ia menghancurkan Direktur Tjiang, Daniel, dan juga sisa tipis reputasi profesional Keira di mata seluruh kantor.
Di lift menuju parkiran, Rayhan masih menggenggam tangannya.
“Aku akan minta HR mengeluarkan pernyataan,” katanya.
“Pernyataan apa?”
“Bahwa mereka dipecat karena pelanggaran profesional.”
“Orang percaya pada apa yang lebih enak didengar, Rayhan. Bukan pada pernyataan HR.”
Pintu lift memantulkan wajah mereka. Rayhan berdiri tegak, marahnya belum habis. Keira di sampingnya terlihat rapi, jas Rayhan menutup bahunya, seperti bukti bergerak dari semua gosip yang baru lahir.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kariermu.”
“Kamu baru saja menyentuhnya.”
Rayhan menoleh.
Keira menatap angka lantai yang turun. “Kamu selalu berpikir perlindungan berarti datang dengan suara paling keras.”
“Mereka menghina kamu.”
“Dan sekarang mereka punya cerita yang lebih kuat.”
Lift berhenti. Pintu terbuka. Keira berjalan lebih dulu, meninggalkan Rayhan satu langkah di belakang. Untuk pertama kalinya hari itu, pria itu tidak langsung menyusul.
Malam itu, di apartemennya, Keira berdiri di depan wastafel. Perutnya masih nyeri. Di luar kamar mandi, Rayhan sedang menelepon orang untuk memastikan Daniel tidak lagi bisa masuk industri parfum mana pun.
Keira membuka laci.
Botol kecil berlabel Vitamin C tergeletak di sana.
Ia memegangnya sebentar, lalu menutup laci kembali ketika suara Rayhan memanggil dari luar.
“Kei, minum obat nyeri dulu.”
Keira menatap pantulan wajahnya di cermin.
Pelindung atau penjaga.
Kadang, jaraknya hanya setipis label palsu di botol obat.