Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Kecelakaan yang Sama
Hujan turun sebelum tengah hari.
Tidak deras pada awalnya, hanya titik-titik kecil yang menempel di kaca Alphard seperti napas seseorang yang tertahan. Kevin duduk di kursi belakang, diam, dengan sebuket bunga putih di sampingnya. Bunga itu bukan buket besar yang berlebihan. Hanya lili putih, krisan, dan beberapa tangkai bunga musim yang dipilih rapi.
Di sebelahnya, Kian menatap keluar jendela.
Di pangkuannya ada kotak kecil berisi kue bulan rasa delima.
Tidak ada yang bicara sejak mobil keluar dari Menteng Enclave.
Pak Liu menyetir pelan ke arah kompleks pemakaman keluarga di pinggir Jakarta Selatan. Jalanan mulai licin. Langit menggantung rendah, abu-abu, seperti sengaja menekan semua suara agar lebih pelan.
Kian memecah sunyi lebih dulu.
"Hari ini bukan tanggalnya."
Kevin menatap lurus ke depan. "Aku tahu."
"Biasanya kita datang tanggal tiga puluh satu Desember."
"Hari ini Kue Bulan."
Kian menoleh sebentar, lalu kembali melihat jendela. "Dia suka delima."
"Iya."
Jawaban Kevin hanya satu kata, tetapi jari-jarinya mengencang di atas bunga.
Kian melihat itu. Ia pura-pura tidak melihat.
Di makam itu, hujan mulai lebih rapat.
Batu nisan Ning berdiri bersih di bawah pohon tua. Tidak ada debu, tidak ada daun kering yang menumpuk. Seseorang jelas merawatnya setiap minggu. Kevin meletakkan bunga putih di depan nisan, lalu berdiri diam. Kian membuka kotak kecil dan menaruh satu potong kue bulan rasa delima di samping bunga.
"Kue tahun ini lebih enak," gumam Kian.
Kevin menoleh padanya.
Kian mengangkat bahu. "Bi Ruan beli dari toko lain."
Kevin tidak berkata apa-apa.
Kian berjongkok di depan nisan. Rambut peraknya basah terkena hujan, tetapi ia tidak peduli. Matanya menatap nama di batu itu lama sekali.
Kevin membuka saputangan hitam dari saku jasnya, lalu mengusap air hujan yang menempel di pinggir batu nisan. Gerakannya pelan, hampir hati-hati, seperti takut membuat orang yang tidur di bawah sana terganggu.
Kian melihat gerakan itu dari sudut mata.
"Pak Kevin masih bawa saputangan itu?"
"Masih."
"Itu punya dia?"
Kevin berhenti sebentar. "Dia yang pilih."
Kian menunduk, mengaduk tanah basah dengan ujung sepatunya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan tentang perempuan yang hanya ia kenal dari foto dan cerita. Apakah mamanya suka hujan? Apakah mamanya akan marah kalau melihat rambutnya dicat perak? Apakah mamanya akan tertawa saat Felix membuat lelucon bodoh?
Tapi semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.
Di depan Kevin, ia tidak tahu cara menjadi anak kecil.
"Kemarin ada tutor baru," katanya tiba-tiba, seolah sedang bicara pada hujan, bukan pada makam. "Namanya sama. Bikin bete."
Kevin berdiri di belakangnya, diam.
"Tapi dia gak nyebelin banget." Kian mengerutkan kening, seperti kesal pada kalimatnya sendiri. "Maksud gue, tetap nyebelin. Cuma gak separah yang lain."
Hujan jatuh di atas payung hitam yang dipegang Pak Liu beberapa langkah di belakang.
Kevin akhirnya berkata pelan, "Kalau tidak suka, tidak perlu dilanjutkan."
Kian langsung berdiri. "Gue gak bilang gak suka."
Kevin menatapnya.
Kian memalingkan wajah. "Maksud gue, dia lumayan bisa ngajarin."
"Kalau begitu lanjutkan."
"Gak usah sok ngatur."
Kevin menerima tusukan kecil itu tanpa berubah wajah. "Makan siang setelah ini."
"Gue gak lapar."
"Tetap makan."
Percakapan mereka berhenti di sana. Bukan karena selesai, tetapi karena keduanya tidak tahu cara melanjutkan tanpa saling melukai.
Di sisi lain kompleks pemakaman, Ning berdiri di bawah kanopi pos penjaga, basah kuyup.
Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat itu.
Setelah keluar dari Menteng Enclave, ia hendak menuju halte terdekat. Hujan turun cepat, sinyal ponselnya buruk, dan aplikasi peta mengarahkannya melewati jalan samping yang katanya lebih dekat ke jalan besar. Ia mengikutinya karena tidak sanggup membayar ojol jauh lagi.
Lalu ia melihat papan nama kompleks pemakaman.
Melihat nama keluarga yang terlalu ia kenal.
Kakinya berhenti dengan sendirinya.
Ia tidak masuk.
Ia tidak berani.
Di dalam sana ada makamnya. Makam seorang perempuan bernama Ning yang pernah menjadi istri Kevin dan ibu Kian. Jika ia melihat batu nisan itu sekarang, mungkin tubuh ini tidak akan sanggup menanggungnya.
Ia berdiri di balik pagar besi, cukup jauh untuk tidak terlihat jelas dari dalam, tetapi cukup dekat untuk melihat dua payung hitam di antara pepohonan makam. Satu sosok tinggi berdiri tegak. Satu sosok remaja berambut perak berjongkok lama di depan sebuah nisan.
Ning langsung tahu.
Lututnya kehilangan tenaga.
Ia harus memegang tiang pagar agar tidak jatuh. Hujan menampar wajahnya, tetapi yang membuatnya sulit bernapas bukan dingin, melainkan pemandangan Kian yang meletakkan sesuatu kecil di depan makam. Dari jauh ia tidak bisa memastikan, namun hatinya tahu itu pasti kue bulan rasa delima.
Anaknya membawa makanan kesukaannya ke makam.
Selama enam belas tahun, ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Fakta itu begitu hangat sampai terasa menyakitkan.
Hujan membuat bajunya menempel pada kulit. Rambutnya basah, air menetes dari dagu. Di pergelangan tangannya, bekas luka terasa perih terkena dingin.
Ia hendak pergi ketika Alphard hitam keluar dari gerbang pemakaman.
Ning mundur satu langkah.
Mobil itu berhenti.
Kaca depan turun sedikit. Pak Liu menatapnya dengan terkejut, lalu menoleh ke belakang. Beberapa detik kemudian, kaca belakang turun.
Kevin ada di sana.
Kian duduk di sebelahnya.
Ning tiba-tiba merasa lebih malu daripada saat berdiri di warteg semalam. Ia basah kuyup, membawa tas murah, dan berada di tempat yang seharusnya menjadi ruang pribadi keluarga mereka.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Kevin.
Suaranya datar, tetapi matanya bergerak cepat dari wajah Ning ke baju basahnya.
Ning mengusap air dari pipi. "Saya tersesat. Aplikasi peta mengarahkan ke jalan ini."
Kian menatapnya dari dalam mobil. "Lo hobi muncul di tempat aneh?"
"Sepertinya iya," jawab Ning, mencoba tersenyum.
Kian mendengus, tetapi matanya sempat turun ke tangan Ning yang gemetar.
Hujan semakin deras.
Kevin berkata pada Pak Liu, "Buka pintu."
Ning cepat menggeleng. "Tidak perlu, Pak Kevin. Saya bisa pesan ojol."
"Masuk."
"Baju saya basah. Nanti kursinya..."
"Masuk."
Nada itu tidak tinggi, tetapi tidak memberi ruang.
Kian menoleh ke jendela. "Kalau pingsan di pinggir jalan, nanti repot."
Ning menatapnya.
Kalimat itu kasar di permukaan, tetapi telinganya menangkap sesuatu yang lain. Khawatir yang disamarkan terlalu buruk.
Ia akhirnya masuk.
Masalahnya, kursi belakang hanya punya dua tempat nyaman yang sudah ditempati Kevin dan Kian. Pak Liu memberi isyarat bahwa kursi tambahan bisa dibuka, tetapi Kevin berkata, "Tidak perlu. Sebentar saja."
Jadilah Ning duduk di tengah, di antara ayah dan anak itu.
Tubuhnya kaku seperti papan.
Di sisi kiri, Kevin duduk dengan aroma kayu dingin dan hujan. Di sisi kanan, Kian bersandar dengan wajah seolah seluruh dunia mengganggunya. Bahu Ning hampir menyentuh lengan Kian, sementara lututnya terlalu dekat dengan Kevin.
Terlalu dekat.
Terlalu familiar.
Kian meliriknya. "Lo gemetar."
"Saya kedinginan."
"Kan sudah dibilang masuk."
"Kamu yang bilang kalau saya pingsan akan repot."
"Memang repot."
Ning menunduk, menahan senyum. "Baik. Saya akan berusaha tidak merepotkan."
Kian tidak menjawab.
Kevin mengambil handuk kecil dari kompartemen samping dan menyerahkannya kepada Ning.
"Keringkan rambut."
Ning menerima dengan kedua tangan. "Terima kasih."
Saat ia mengangkat wajah, tatapan Kevin kembali berhenti di matanya.
Kali ini lebih lama.
Ning buru-buru menunduk, menggosok ujung rambutnya. Jantungnya tidak tenang. Dalam ruang sempit mobil itu, ia bisa merasakan kehadiran Kevin seperti dulu. Diam, kuat, terlalu mudah membuatnya ingin bersandar.
Mobil memasuki jalan besar.
Hujan berubah deras.
Wiper bergerak cepat. Jalanan licin, lampu kendaraan memantul panjang di aspal. Ning menatap kaca depan. Bunyi hujan di atap mobil membuat napasnya pelan-pelan berubah pendek.
Suara itu.
Hujan deras.
Mobil bergerak.
Lampu dari belakang.
Tangannya mulai dingin.
"Bu Ning?" Pak Liu tiba-tiba berseru dari depan. "Pegangan!"
Sebuah truk dari jalur belakang melaju terlalu cepat.
Benturan pertama menghantam sisi belakang Alphard.
Dunia terlempar.
Ban berdecit. Tubuh Ning terdorong ke depan. Kian yang tidak sempat bersiap ikut terlempar dari sandaran. Dalam sepersekian detik, semua ingatan enam belas tahun lalu meledak kembali.
Hujan.
Lampu truk.
Perut besar.
Kevin berteriak.
Kali ini, Ning tidak berpikir.
Ia memutar tubuh dan memeluk Kian sekuat tenaga, menarik kepala anak itu ke dadanya, menahan bahunya agar tidak menghantam sisi kursi.
"Kian!"
Di saat yang sama, lengan Kevin bergerak dari belakang, menahan tubuh Ning dan Kian sekaligus. Bahunya menghantam pintu, tetapi ia tidak melepas pegangan.
Benturan kedua tidak sekeras yang pertama. Alphard berputar setengah, menyapu genangan air, lalu berhenti miring di bahu jalan.
Suara klakson panjang terdengar dari luar.
Hujan terus menghantam kaca.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Ning hanya mendengar napasnya sendiri, kasar dan patah-patah. Tangannya masih mengunci tubuh Kian. Wajah anak itu menempel di bahunya. Ia bisa merasakan jantung Kian berdetak cepat, hidup, hangat, nyata.
"Kevin," bisiknya panik. "Kevin, jangan..."
Kalimat itu berhenti terlambat.
Mobil sunyi.
Kevin yang masih memegang bahunya menegang.
Kian juga membeku dalam pelukannya.
Ning sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
Bukan Pak Kevin.
Bukan Pak.
Kevin.
Seperti istri memanggil suaminya.
Pak Liu menarik napas dari kursi depan. "Tuan, saya hubungi polisi dan ambulans."
Kevin tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada Ning. Pada tangannya yang melindungi Kian. Pada wajahnya yang pucat seperti orang yang baru saja mati untuk kedua kalinya.
Ning memaksa dirinya bicara. "Saya pernah kecelakaan. Dulu." Suaranya gemetar. "Saya pernah melindungi adik saya. Jadi saat tadi..."
Alasan itu terdengar tipis bahkan di telinganya sendiri.
Kian bergerak sedikit dalam pelukannya.
Ning baru sadar ia masih memegang anak itu terlalu erat.
"Kamu..." Suara Kian lebih pelan daripada biasanya. "Lepas."
Ning segera hendak menarik tangannya.
Tapi tangan Kian sendiri tidak bergerak.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya