NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Meski begitu, jauh di lubuk hatinya masih tersisa secercah harapan. Jika ia terus berjuang dan menjadi seseorang yang berhasil, mungkin suatu hari nanti takdir akan mempertemukan mereka kembali.

Harapan kecil itulah yang akhirnya membuat Dira kembali membuka bukunya malam itu. Ia mengusap air mata, menarik napas panjang, lalu mulai belajar lagi. Bukan karena Adrian berada di dekatnya. Melainkan karena ia ingin, ketika hari pertemuan itu benar-benar tiba, Adrian melihat bahwa gadis yang pernah diselamatkannya telah tumbuh menjadi wanita yang mampu mengubah nasibnya sendiri.

***

Hari keberangkatan Adrian akhirnya tiba. Sejak pagi, Dira sudah duduk di bangku kayu di depan gerbang yayasan. Mengenakan pakaian yang paling rapi yang ia miliki, ia terus menatap ke arah jalan, berharap mobil hitam yang begitu dikenalnya akan muncul. Ia hanya ingin melihat Adrian sekali lagi. Tidak perlu berbicara lama. Tidak perlu mengucapkan apa pun. Melihat wajahnya sebelum berangkat saja sudah cukup.

Waktu terus berlalu. Matahari semakin tinggi, lalu perlahan mulai condong ke barat. Anak-anak yayasan keluar masuk gerbang, para relawan datang dan pergi, tetapi sosok yang ditunggu Dira tak kunjung terlihat.

Ia tetap bertahan. Hingga azan Maghrib berkumandang. Langit berubah jingga lalu perlahan menggelap. Saat itulah Bu Emi yang baru selesai mengurus kegiatan yayasan menghampirinya. "Dira."

Gadis itu tersentak dan segera berdiri. "Iya, Bu."

"Kenapa dari tadi kamu masih di sini? Seharian Ibu lihat kamu duduk di depan gerbang. Kamu belum masuk juga?"

Dira menggigit bibirnya, tampak ragu sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan. "Bu... kira-kira... jam berapa Mas Adrian datang ke yayasan?"

Bu Emi terlihat sedikit heran. "Adrian?"

"Iya, Bu."

Bu Emi tersenyum tipis, tanpa menyadari betapa besar harapan yang sedang dipikul gadis di hadapannya. "Nak... Adrian tidak akan datang."

Dira mengernyit.

"Dia sudah berangkat ke Amerika sejak pagi tadi. Langsung ke bandara. Jadi dia memang tidak sempat mampir ke yayasan."

Kalimat itu membuat dunia Dira seakan berhenti berputar. "Oh..." Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Bu Emi mengusap lembut bahunya. "Ayo masuk. Hari sudah malam."

Dira mengangguk pelan..Dengan langkah berat, ia berjalan memasuki yayasan. Rasanya setiap langkah menjadi jauh lebih sulit daripada biasanya. Sesampainya di kamar, ia menutup pintu perlahan lalu bersandar di baliknya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Kenapa..." bisiknya lirih. "Kenapa tidak ada perpisahan?"

Ia tahu Adrian tidak memiliki kewajiban untuk berpamitan kepadanya. Bagaimanapun, ia hanyalah salah satu dari banyak anak yang pernah dibantu yayasan. Tetapi di dalam hati Dira, ia diam-diam berharap bisa mengucapkan satu kalimat sederhana. "Terima kasih. Hati-hati di jalan, Mas Adrian." Kini kesempatan itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah kerinduan, serta harapan bahwa suatu hari nanti takdir akan mempertemukan mereka kembali.

***

Kepergian Adrian meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang disadari Dira sendiri. Sejak hari itu, gadis yang biasanya tekun belajar mulai banyak diam. Ia tetap masuk kelas, tetap membuka buku, tetapi semangat di matanya perlahan memudar. Ia menjadi pendiam. Jarang tersenyum. Sering melamun sambil menatap ke luar jendela.

Beberapa hari kemudian, tubuhnya mulai melemah. Demam datang silih berganti. Wajahnya pucat, nafsu makannya menghilang, dan ia lebih sering berbaring di kamar daripada berkumpul bersama anak-anak yayasan.

Bu Emi tentu menyadari perubahan itu. Hampir setiap beberapa jam sekali, ia datang memeriksa keadaan Dira. "Masih pusing, Nak?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangan ke dahi Dira.

"Iya, Bu..."

"Badanmu masih panas."

Dokter yayasan pun dipanggil untuk memeriksanya. Setelah pemeriksaan dilakukan, hasilnya justru membuat Bu Emi kebingungan. "Tidak ada tanda penyakit serius," ujar dokter. "Kemungkinan ini dipengaruhi kondisi psikologisnya. Tubuhnya memang sedang demam, tetapi saya melihat penyebab utamanya bukan infeksi yang berat."

Bu Emi duduk di tepi ranjang sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh Dira. Gadis itu masih terbaring lemah. Wajahnya pucat, sementara dahinya masih terasa hangat. Perempuan paruh baya itu mengusap lembut rambut Dira. "Dira..." panggilnya pelan.

Dira membuka mata sebentar, lalu kembali menatap langit-langit kamar.

"Ada apa, Nak?" tanya Bu Emi dengan penuh kelembutan. "Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?"

Tidak ada jawaban. Dira hanya menggigit bibirnya pelan.

Bu Emi kembali bertanya, "Kalau ada masalah, kamu bisa bercerita kepada Ibu. Jangan dipendam sendirian."

Namun Dira tetap diam. Perlahan ia memejamkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian, air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal tanpa suara. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang sejak lama ia sembunyikan.

Melihat itu, Bu Emi tidak memaksa. Ia tahu, ada luka yang terlalu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bu Emi hanya menggenggam tangan Dira erat-erat. "Kalau sekarang belum sanggup bercerita, tidak apa-apa," ucapnya lembut. "Ibu akan tetap ada di sini."

Tangis Dira justru semakin deras. Ia ingin berkata bahwa ia merindukan Adrian. Ia ingin mengakui bahwa kepergian lelaki itu membuat hatinya terasa kosong. Namun setiap kali kalimat itu hampir keluar, ia merasa dirinya tidak pantas. Bagaimanapun, Adrian hanyalah orang baik yang pernah menolongnya. Sementara dirinya hanyalah seorang gadis yang kebetulan diselamatkan. Status sosial mereka bak bumi dan langit. Dira akan dianggap tidak tahu diri. Akhirnya, semua perasaan itu tetap terkubur di dalam hatinya, hanya terwakili oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Bu Emi tetap duduk di sisi ranjang Dira. Ia tidak terburu-buru meminta jawaban. Pengalamannya bertahun-tahun mengasuh anak-anak membuatnya tahu bahwa terkadang diam pun bisa bercerita. Perlahan, ia mengingat kembali beberapa hari yang lalu. Dira yang duduk sejak pagi di depan gerbang. Tatapan yang tak pernah lepas dari jalan. Harapan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan saat Maghrib tiba. Dan wajah gadis itu yang langsung pucat ketika mendengar Adrian telah berangkat ke Amerika sejak pagi. Semua potongan kejadian itu kini terasa saling terhubung. Bu Emi menghela napas pelan. "Dira..." panggilnya lembut.

Dira tetap memejamkan mata, tetapi air matanya belum berhenti mengalir.

Dengan suara yang sangat hati-hati, Bu Emi bertanya,"...Apa kamu memikirkan Adrian?"

Tubuh Dira sontak menegang. Ia tidak membuka mata, tetapi tangisnya yang semula tertahan kini pecah. Bahunya bergetar semakin kuat, seolah pertanyaan sederhana itu berhasil menyentuh rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Dira masih tidak menjawab. Namun, bagi Bu Emi, diam itu sudah menjadi jawaban. Perempuan itu mengusap pelan kepala Dira. "Ibu mengerti, Nak," katanya lirih. "Mas Adrian memang telah mengubah hidupmu. Wajar kalau kamu sangat berterima kasih dan merasa kehilangan setelah kepergiannya."

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!