NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Yang Terlupakan

Menghadap tempat Keira baru saja pergi.

Keira tidak tahu harus meletakkan tatapan di balik kaca buram itu di bagian mana dari pikirannya.

Ethan Ciu terlalu sulit dibaca. Kevin Ciu terlalu diam. Darren Ciu terlalu berbahaya. Kediaman Ciu, dengan semua pintu dan koridornya, mulai terasa seperti sebuah rumah yang setiap sudutnya menyimpan seseorang yang tidak benar-benar hidup di bawah cahaya.

Pada akhir minggu kedelapan, Keira menemukan satu lagi.

Hari itu, hujan turun sejak pagi. Jayden tidak bisa belajar di taman, jadi Keira memindahkan kegiatannya ke perpustakaan keluarga. Ruangan itu jarang dipakai anak-anak. Rak bukunya tinggi sampai hampir menyentuh langit-langit, dengan tangga kecil beroda dan lampu baca kuning di beberapa meja. Udara di dalam berbau kertas tua, kayu poles, dan sedikit kapur barus.

Jayden awalnya mengeluh.

"Buku di sini besar-besar. Nggak ada gambar Bola."

"Kalau begitu kita cari buku yang ada gambar lain," kata Keira. "Setelah itu Adik Jay boleh gambar Bola sendiri."

Anak itu setuju setelah mendengar kata menggambar.

Selama hampir satu jam, Keira memilih beberapa buku bergambar yang aman untuk usia Jayden, memisahkan ensiklopedia berat yang terlalu sulit, lalu membuat tumpukan kecil di meja rendah. Jayden duduk di karpet, ditemani pengasuh tua, sibuk menempel kertas warna pada gambar pohon.

Keira masuk lebih jauh ke antara rak untuk mencari buku tentang bentuk dan pola.

Di sanalah ia melihatnya.

Seorang remaja laki-laki duduk di pojok paling dalam perpustakaan, hampir tertutup dua rak besar. Tubuhnya kurus, bahunya sedikit membungkuk. Ia mengenakan kaus polos abu-abu dan celana panjang gelap. Kainnya jelas mahal, jahitannya rapi, tetapi di rumah sebesar Kediaman Ciu, pakaian itu tampak terlalu tidak terlihat.

Seolah ia memilih warna yang bisa membuat dirinya larut ke dinding.

Di tangannya ada buku tebal. Matanya menunduk, tetapi Keira merasa ia tidak sedang membaca. Halaman di depannya tidak bergerak sejak Keira masuk ke lorong rak itu.

Keira berhenti.

Remaja itu langsung mengangkat kepala.

Reaksinya terlalu cepat. Seperti orang yang terbiasa waspada terhadap suara langkah, bukan orang yang santai membaca.

Mata mereka bertemu.

Wajahnya pucat. Bukan pucat sakit, melainkan pucat karena terlalu jarang berada di tempat yang membuat darah naik ke pipi. Matanya gelap, besar, dan kosong dengan cara yang mengingatkan Keira pada kamar yang jarang dibuka jendelanya.

"Maaf," kata Keira pelan. "Saya tidak tahu ada orang di sini."

Remaja itu tidak menjawab.

Tangannya mencengkeram sisi buku. Buku itu sedikit terangkat, seperti perisai yang terlambat dinaikkan.

Keira menurunkan volume suaranya.

"Saya hanya mencari buku untuk Adik Jay. Kamu boleh tetap di sini. Saya tidak akan mengganggu."

Ia sengaja tidak mendekat.

Dalam pekerjaan baby care, Keira belajar bahwa anak yang takut tidak selalu butuh dipeluk. Kadang yang paling mereka butuhkan adalah jarak yang membuat mereka bisa bernapas. Remaja di depannya bukan bayi, bukan anak kecil, tetapi ketakutannya punya bentuk yang sama: jangan tiba-tiba masuk terlalu dekat.

Keira mengambil satu buku dari rak samping, lalu hendak berbalik.

"Bryan."

Suaranya sangat pelan sampai Keira hampir mengira ia salah dengar.

Ia menoleh.

Remaja itu menatap lantai, bukan wajah Keira.

"Nama saya Bryan."

Bryan.

Keira pernah mendengar nama itu satu kali.

Beberapa minggu lalu, saat Bi Sari menjelaskan area rumah yang boleh dan tidak boleh dipakai staf, Keira melihat satu kamar kecil di dekat perpustakaan dengan lampu menyala siang hari. Ia bertanya siapa yang biasa memakai ruangan itu.

Bi Sari hanya berkata, "Ko Bryan kadang di sana."

"Ko Bryan?"

"Anak keluarga juga," jawab Bi Sari, lalu menutup pembicaraan dengan kalimat yang terlalu ringan. "Beliau ya di situ."

Saat itu Keira tidak mengerti.

Sekarang ia mulai mengerti sedikit.

Di keluarga Ciu, ada orang yang disebut dengan jabatan panjang. Ko Ethan, Ko Reynard, Ko Kevin, Ko Darren. Setiap nama membawa ruang, aturan, larangan, atau bisik-bisik.

Bryan hanya disebut "di situ".

"Saya Keira," kata Keira. "Pengasuh bayi Nyonya Stephanie dan pendamping belajar Adik Jay."

Bryan mengangguk sangat kecil.

Setelah itu, hening.

Keira tidak memaksa percakapan. Ia tahu ada orang yang sudah terlalu lama tidak diajak bicara sampai satu pertanyaan saja bisa terasa seperti pemeriksaan.

Dari meja rendah di bagian depan, suara Jayden terdengar.

"Ci Keira, pohonnya boleh punya daun ungu?"

"Boleh," jawab Keira, tetap tidak melepas perhatian sepenuhnya dari Bryan. "Kalau itu pohon imajinasi Adik Jay."

"Apa itu imajinasi?"

"Nanti Ci Keira jelaskan."

Bryan mendengar percakapan itu. Kelopak matanya bergerak sedikit.

Keira melihatnya, tetapi pura-pura tidak melihat.

Ia mengambil dua buku tipis dari rak, lalu kembali ke area Jayden. Selama sisa waktu belajar, ia tidak mendekati pojok Bryan. Ia hanya beberapa kali memastikan lewat sudut mata bahwa remaja itu masih di sana, masih memegang buku yang sama, masih terlalu diam untuk seseorang seusianya.

Saat Jayden selesai menggambar pohon berdaun ungu dan Bola yang entah kenapa duduk di atas awan, pengasuh tua mengajaknya mencuci tangan.

Perpustakaan menjadi sepi.

Keira mulai merapikan buku-buku di meja. Ia melihat ke pojok rak.

Bryan masih di sana.

Di sampingnya tidak ada gelas. Tidak ada camilan. Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah masuk untuk bertanya apakah ia butuh sesuatu sejak pagi.

Keira teringat bagaimana staf selalu cepat membawa teh untuk Nyonya Besar, kopi untuk Ko Ethan, air hangat untuk Nyonya Stephanie, bahkan biskuit khusus untuk Jayden.

Untuk Bryan, meja kecil di samping kursinya kosong.

Kosongnya terlalu bersih.

Keira membawa tumpukan buku ke meja utama, lalu berjalan ke dispenser kecil di dekat pintu samping perpustakaan. Di sana ada gelas kaca bening yang biasa dipakai pengunjung keluarga. Ia mengambil satu, membilasnya, lalu mengisinya dengan air putih suhu ruang.

Bukan air es. Anak remaja yang terlalu lama duduk di ruang ber-AC sering sakit perut kalau minum terlalu dingin.

Ia kembali ke pojok rak.

Bryan langsung menegang saat melihatnya datang.

Keira berhenti dua langkah dari meja kecil.

"Saya taruh di sini," katanya.

Ia meletakkan gelas itu di meja, tidak terlalu dekat dengan tangan Bryan, tidak terlalu jauh sampai terlihat seperti formalitas.

"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa."

Bryan menatap gelas itu.

Keira tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia tahu menunggu bisa berubah menjadi tekanan. Ia hanya mengangguk pelan, lalu hendak pergi.

"Kenapa?"

Suara Bryan membuatnya berhenti.

Keira menoleh sedikit.

"Kenapa apa?"

Bryan melihat gelas, lalu melihat Keira. Untuk pertama kalinya, matanya benar-benar bertemu dengan mata Keira. Di sana ada sesuatu yang membuat dada Keira terasa berat.

Bukan rasa tidak percaya biasa.

Itu rasa tidak percaya dari seseorang yang terlalu sering dilewati sampai perhatian kecil tampak seperti kesalahan alamat.

"Itu..." katanya lirih. "Untuk saya?"

"Iya."

Bryan tidak bergerak.

Jari-jarinya di sisi buku bergetar sedikit.

Ia menatap gelas air itu lagi, seolah tidak yakin apakah Keira salah meletakkannya.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!