Kuliah diluar kota membuat Della mau tak mau harus tinggal serumah dengan kakak serta kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Della Kekamarnya
Dalam perjalanan itu Raka dibuat tak nyaman karena pertanyaan Della tadi, beberapa kali ia melirik gadis itu, "Nanti aja kakak kasih tau ya Dell... Kita fokus sama satu masalah aja dulu!" Katanya.
Della menganggukkan kepalanya, "Ya udah!"
Della merasa aneh, ia fikir jika itu hanyalah alasan sepeleh kenapa Raka harus menyembunyikannya, padahal Della tampaknya sudah mulai percaya lagi pada kakak iparnya itu.
Tiba di kantor polisi, Della semakin gugup melihat suasana kantor polisi tersebut, dia agak gugup saat melangkah apalagi ketika melihat Arya tengah di interogasi oleh salah satu petugas kepolisian.
"Dell... Kamu gugup lagi ya?" Tanya Raka yang langsung di anggukkan olehnya dengan kuat.
"Kamu yang tenang dong! Polisinya nggak bakal nyakitin kamu kok, tenang aja! Kamu tinggal jawab jujur semua pertanyaan petugas, nanti kakak dampingi kamu, jadi kamu tenang dulu yah!" Bisiknya sembari menenangkan Della.
Hingga kemudian Della kini duduk bersebelahan dengan Arya duduk di kursi bagian kirinya sementara Raka ada dibagian kanan.
Dengan sudut mata lebam Arya melirik Della, Laki-laki itu terlihat memperihatinkan, tampaknya ia menyesal terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.
"Dell... Aku.... " Arya mencoba bicara sambil menujulurkan tangannya ingin memegang tangan Della.
Namun tentu saja Raka tak akan membiarkan hal itu terjadi, dia kini pindah ketengah-tengah mereka agar ada jarak, "Berani kamu pegang adik aku lagi, siap-siap kamu bakal pulang di antar mobil ambulance!" Ancamnya berbisik di kuping Arya.
Ia langsung bergidik ngeri mendengarnya.
Satu persatu pertanyaan diajukan, Della menjawab semua percayaan itu dan Arya juga tak bisa berkutik lagi, bahkan ia tak berhak menyangkal karena apa yang di ungkapkan Della adalah faktanya.
Setiap kali Della menjawab selalu saja ia melihat ke arah Raka lebih dulu, seolah ia mendapat ketenangan ketika ia ragu untuk membuat keputusan.
...***...
Setelah dimintai keterangan sebagai korban, Della lalu kembali bersama Raka ke kontrakan, gadis itu masih pucat saat duduk di ruang tamu.
Raka khawatir, dia lalu bertanya, "Dell... Kamu tunggu bentar, Kakak ambilin minum ya!"
Tanpa mendengar jawabannya Raka bergegas kedapur dan kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya.
"Nihh minum dulu!"
Della tak menggubris, Raka sampai harus menyodorkan pinggir gelasnya ke dekat bibir Della.
Hikss... Hikss....
Tiba-tiba ia menangis, "Dell... Kamu kenapa lagi?" Raka menarik gelas itu lalu meletakkannya diatas meja, dia duduk di samping Della sembari mengusap air matanya.
"Kamu kenapa sih Dell? Kan kakak udah bilang kamu tenang aja, serahin semuanya sama pihak yang berwajib dan kita tungguin aja hasilnya!" Ia mencoba menenangkan Della.
Gadis itu terus menangis tersedu-sedu, Raka yang tak tega lantas mengelus kepalanya kemudian menyandarkan kepala Della di dadanya.
"Udah Dell... Kamu jangan nangis lagi dong! Kakak juga ikut sedih nih kalau kamu kayak gini terus!"
Dengan sesegukan Della berkata, "Aku nggak bisa bayangin gimana nasibku kedepannya kalau misalkan kak Raka nggak datang nolongin aku tadi, aku nggak tau lagi kak!"
"Udah, anggap aja itu sebuah pelajaran buat kamu!"
"Hampir aja aku kehilangan keperwanan aku kak! Tadi itu aku bener-bener takut!" Lirih Della dalam tangisnya yang pecah.
"Iya, kakak paham kok! Tapi tadi Arya belum apa-apain kamu kan sebelum kakak datang?" Tanyanya tiba-tiba serius.
Della menggelengkan kepalanya.
"Kamu serius kan?"
"Iya kak Della serius!"
"Baguslah! Terus dia pegang apa aja tadi?"
Della terdiam sebentar, dia kemudian memperbaiki posisi duduknya lalu mengelus air mata yang membasahi pipinya.
"Udah ya kak! Della mau kekamar dulu, Della malas mau ingat soal itu!"
Della seketika berdiri, Raka mengepal kedua tangannya. Jujur saja ia sangat kesal karena tak mendapat jawaban darinya.
Namun ia tak mau memaksa, ia hanya bisa melihat punggung gadis itu menjauh berjalan menuju kamarnya.