Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Hari Bahagia Menanti
Ameer tak bisa menghentikan senyum sumringahnya setiap kali mengingat percakapan dengan Meizia, sekarang hubungannya dan Meizia sudah memiliki kepastian. Kemajuan yang selalu Ameer inginkan.
Hal yang sama dirasakan oleh Meizia, bahkan tak henti-hentinya ia bersyukur atas anugerah yang tak terduga ini.
Setelah melewati hari pertamanya bekerja, Meizia segera pulang ke rumah dan ia bercerita tentang semuanya pada Jenny. Tentu saja sahabatnya itu ikut merasa senang, bahkan langsung mendoakan yang terbaik untuk Meizia.
"Kesempatan kedua dalam hidup kamu sangat indah, Mei," kata Jenny.
"Benar, dulu aku pikir Tuhan itu tidak adil, Jen. Dia bahkan tidak membiarkan aku mati dan juga tidak membiarkan aku hidup bahagia," tukas Meizia sembari menyentuh bekas luka yang sepertinya takkan hilang itu. "Tapi sekarang aku tahu kenapa aku masih hidup, karena Dia merencanakan hal yang indah ini untukku."
"Aku sangat bahagia untukmu, Mei," kata Jenny sembari memeluk sahabatnya itu dan tanpa terasa Jenny menitikan air matanya. "Doakan aku semoga aku juga mendapatkan kebahagiaan," lirih Jenny dengan suara tercekat.
"Aamiin, aku pasti mendoakan kamu, kita saling mendoakan." Meizia mengusap punggung temannya itu.
"Tapi apa do'a ku bisa terkabul, Mei? Aku menjual diri bukan karena dipaksa seperti kamu, tapi memang itu pilihanku," ucap Jenny lirih.
"Tapi sekarang kamu 'kan sudah tahu itu salah dengan bertubat, aku yakin Allah mau mengabulkan do'a kita dan memaafkan kita," kata Meizia.
Jenny memang terpaksa menjual diri demi mendapatkan uang untuk pengobatan sang Ibu yang harus melakukan operasi jantung, tetapi saat operasinya selesai, ibunya tahu pekerjaan Jenny dan itu membuat sang ibu shock hingga meninggal saat itu juga.
Nasib malang Jenny tak berhenti sampai di sana, karena Mami Lala masih terus menjualnya untuk melunasi sisa hutang Jenny pada mucikari itu.
"Kita semua salah, tidak apa-apa, itu cuma masa lalu," kata Meizia. "Nanti kita pergi ke kajian Ameer bersama, ya? Aku yakin setelah itu perasaan kita bisa jauh lebih baik," saran Meizia meyakinkan.
Jenny hanya bisa mengangguk pelan sembari menyeka air matanya. "Kita harus totalitas dalam perjalanan hijrah ini, Jen, kita harus belajar banyak hal. Okay?"
"Hem, calon istri Ustadz," goda Jenny sambil tertawa yang membuat Meizia tersipu.
Sementara di sisi lain, Ameer yang baru pulang dari kantornya langsung berteriak memanggil sang Ibu.
"Di dapur, Ameer!" teriak Ummi Nayla.
Ameer begergas ke dapur dan ia langsung memeluk Ibundanya itu dengan erat sambil mengucapkan banyak terima kasih.
"Ummi adalah Ibu terbaik di dunia, terima kasih banyak Ummi. Aku sangat mencintaimu, Ummi, belahan jiwaku," tukas Ameer yang membuat Ibunya meringis.
"Apa sih? Ummi sedang memasak, jangan ganggu," tegur Ummi Nayla. Namun, Ameer tak perduli, ia masih bergelanyut manja pada ibunya bahkan juga menghujani pipi sang yang sedikit keriput itu dengan kecupan-kecupan kecil.
"Ameer, mau Ummi pukul pakai wajan?" ancam Ummi Nayla dengan kesal.
"Jangan," jawab Ameer sambil menjauh dari ibunya. "Aku bantuin Ummi masak, ya," kata Ameer sembari melipat lengan bajunya.
"Tidak usah," cegah Ummi Nayla. "Lebih baik kamu mandi, bau asem tubuh kamu." Usirnya.
"Baiklah ... baiklah, Ibunda tercinta," kata Ameer. "Haruskah kita mengundang Meizia makan malam untuk membicarakan pernikahan kita? Aku rasa lebih cepat lebih baik," kata Ameer.
"Jemput dulu kakekmu," seru sang Ummi Nayla. "Biar Ummi yang mengurus Meizia."