Ini masih cerita tentang anggota keluarga Nikolai. Siapkan mental gaesss karena petualangan baru akan segera dimulai.
"Malyshka!!!!" Daryl selalu berteriak setiap kali dia bangun di pagi hari. Atau ketika tak menemukan Nania di dalam rumah.
Tiba-tiba saja semuanya berubah, dan mereka tak mengira akan memiliki hubungan seperti ini. Karena semuanya begitu jauh dari bayangan.
Dan bagi Nania, dialah sebaik-baiknya perlindungan.
"Lalu apalagi yang aku harapkan, jika segalanya ada pada dirimu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nania
💖
💖
"Ibu sakit." Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Nania berhenti di tangga setelah membereskan pekerjaannya dan memastikan pintu serta semua jendela terkunci rapat.
"Ibu harus ke rumah sakit, tapi gue bingung." Sepertinya itu pesan dari Sandi, dan Nania berusaha mengabaikannya.
"Hanya kita anaknya ibu dan gue nggak tahu harus ngadu sama siapa." masuk pesan lagi.
"Tolong Nna, gimana kalau ibu nggak selamat?"
Pikirannya terbelah dua. Di satu sisi Nania tidak ingin bertemu lagi dengan mereka, tapi di sisi lain dia tak bisa mengabaikan jika Mirna adalah ibunya. Perempuan itu adalah yang mengandung dan melahirkannya dalam keadaan lemah dan kesulitan.
"Hhhh!" Gadis itu mendengus keras.
Dia benci perasaan ini, ketika otaknya menolak dan hatinya mengatakan tidak. Tapi tubuhnya malah berbuat sebaliknya. Situasi seperti ini akal dan pikirannya bahkan tak bisa bekerja sama.
Dia lantas mengeluarkan motor kedai lalu pergi setelah mengunci pintu.
Dan hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk tiba di rumah Mirna karena jalanan tidak terlalu padat pada malam itu.
Rumah terlihat sepi dan Nania segera turun, namun di saat yang bersamaan Sandi keluar dari dalam rumah.
"Ayo ikut." Pria itu berujar dan dia segera menyalakan motornya.
"Ke mana?" Nania bertanya.
"Lihat ibu."
"Katanya ibu sakit? Udah dibawa ke rumah sakit?"
"Hmm …"
"Abang bilang tadi …."
"Tadi belum bisa."
"Terus sekarang bisa?"
"Bisa."
"Ibu siapa yang bawa?"
"Om Hendrik."
"Pakai apa?"
"Angkot."
"Oke." Nania hampir saja menaiki motor yang dibawanya.
"Lu ikut gue."
"Nggak usah, aku bawa motor sendiri aja. Aku di belakang Abang."
"Lu ikut gue aja!" Pria itu membentak.
"Cepetan!" Dia pun berteriak. Membuat Nania segera menuruti apa yang dikatakannya.
"Bang, katanya mau ke rumah sakit?" Nania buka suara ketika mereka tak kunjung tiba di jalan raya. Namun malah masuk ke beberapa gang sempit yang tidak terlalu dikenalnya.
"Iya, ini juga ke rumah sakit." Sandi menjawab.
"Tapi kok jalannya ke sini?" Gadis itu bertanya.
"Biar deket." Semakin lama gang yang mereka lewati semakin sempit dengan penerangan yang semakin minim. Dan rasanya semakin jauh saja dari jalan raya.
Hal itu terlihat dari sepinya suasana dan semakin kumuhnya lingkungan yang terlihat.
"Bang? Nggak salah jalan?"
"Nggak."
"Tapi kok …." Nania terkesiap ketika motor yang mereka kendarai melaju lurus menuju sebuah bagunan temaram di ujung jalan buntu. Dan tak ada hal lain di tempat itu selain bangunan tersebut.
Alarm di kepalanya berdenging nyaring dan Nania merasa keadaan tidak baik-baik saja.
"Turun!" ucap Sandi saat motor yang dikendarainya berhenti di depan bangunan tersebut.
"Nggak mau, anter aku ke rumah lagi lah." Nania menolak.
"Turun dulu, ada yang harus gue ambil."
Nania tak punya pilihan selain melakukan apa yang kakak tirinya itu ucapkan.
"Ikut!" Sandi menyentakkan kepala.
"Aku nunggu di sini aja." Gadis itu mengkeret di samping motor.
"Ikut!" Namun Sandi segera menariknya ke dalam.
Bangunan itu tampak sepi dari luar, tapi ketika mereka masuk terlihat ada beberapa orang pria yang sedang berkumpul.
Beberapa di antaranya seperti sedang bermain kartu dengan tumpukan uang di tengah meja. Dengan beberapa botol minuman keras yang mereka tenggak sehingga menimbulkan bau alkohol yang cukup menyengat.
"Balik juga lu? Hampir gue nyuruh orang nyari lu ke sana?" Seorang di antara mereka memalingkan perhatian.
"Gue bilang bakal balik lagi kan?"
Pria yang usianya tampak lebih tua dari Sandi itu bangkit kemudian mendekat. Lalu dia menatap Nania dari atas ke bawah.
"Ini yang lu bilang?" Dia menyeringai.
"Iya, cepetan kasih duitnya!" jawab Sandi yang membuat Nania terperangah.
"Hutang lu udah banyak!"
"Kan kita udah deal duitnya dipotong hutang?"
Pria itu tertawa.
"Inget aja lu!"
"Inget lah. Kalau soal duit, biar lagi mabok juga pasti inget." Sandi menjawab.
"Sialan lu!"
"Cepetan! Taruhannya nunggu." ucap Sandi lagi, lalu dia mendorong Nania ke hadapan pria itu.
"Bang, ini maksudnya apa?" Gadis itu mundur.
"Lu, ikutin aja yang dia mau. Gue yakin lu ngerti. Kalau dia puas, lu juga dapat keuntungan."
"Lho? Katanya mau lihat ibu ke rumah sakit?"
"Iya, nanti habis dari sini."
Nania terhenyak. Lalu dia menatap ruangan itu di mana pria-pria yang sedang duduk dan bermain kartu hanya tertawa.
"Bang?"
"Nurut ajalah, biar lu selamat." Sandi menjauh, sedangkan pria di hadapannya mendekat.
"Bang!!" Nania berteriak.
"Dia udah jual lu!" katanya kemudian.
"Sebagian dipakai buat bayar hutangnya yang banyak itu."
Wajah Nania memucat seketika.
"Sekarang mendingan lu nurut, biar nggak gue hajar."
Nania mundur hingga punggungnya membentur dinding lembab di belakang. Otaknya berputar mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut pria itu dan kepalanya sungguh berisik dengan teriakan yang tak dimengerti.
Tapi satu hal yang menghantam pikirannnya. Yaitu, saat ini dirinya sedang dalam bahaya dan dia harus menyelamatkan diri.
Nania hampir saja berlari ketika pria dengan pakaian berantakan dan bau alkohol itu mencekal pergelangan tangannya.
"Nggak! Nggak mau!" Gadis itu meronta.
"Ayo! Duitnya udah dia terima itu!" Pria tersebut menariknya ke dalam.
"Nggak! Lepasin!" Nania melakukan apa pun yang dia bisa untuk melepaskan diri.
"Nanti kalau gue udah selesai!"
Nania hampir menangis. Rasa takut menguasai dirinya dengan segera saat dia menyadari akhirnya akan bagaimana.
Tidak mungkin!
Tidak mungkin hidupnya akan berakhir seperti ini. Tidak boleh terjadi!
Gadis itu terus meronta, dan dengan segala upaya dia melepaskan diri.
"Abang! Jangan begini Bang! Tolong aku!" Nania berteriak.
Banyak orang di tempat itu tapi tak ada satupun yang menghiraukan. Mereka tampak tertawa dan membiarkan hal itu berlangsung di depan mata.
Saat pria yang diperkirakan adalah pemimpin mereka menariknya ke satu ruangan di ujung, dan dengan mudah mengangkat tubuh kecilnya kemudian melemparkannya ke atas tempat tidur usang.
"Ugh!!"
Nania bangkit lalu kembali berlari, meski akhirnya pria itu kembali mendapatkannya.
Dia menendang dan memukul saat tangan besar pria itu menyentuh tubuhnya dengan kasar sambil tertawa. Lalu kembali mencekalnya dan membuat Nania terjungkal ke belakang. Kemudian dengan cepat dia mencengkram leher gadis itu.
Nania memukul apa pun yang dapat dijangkau dengan tangan kecilnya. Lalu kembali menendang apapun yang dapat dikenai oleh kakinya. Meski pada kenyataannya hal itu tampak sia-sia karena tak menghasilkan apa pun.
Air matanya meleleh ke samping dan dia berusaha menjerit. Meski suaranya terhenti di tenggorokkan dan dia hampir kehilangan napas.
Pria itu telah melepaskan celana, kemudian berusaha menelanjanginya saat satu ide muncul di kepalanya.
Tidak mungkin seperti ini! Aku tidak mau! Pikirannya berteriak.
Lebih baik aku mati dari pada harus begini!
Lalu dengan sisa tenaga yang sedikit Nania menjejakkan kakinya dengan keras pada sela*gkang*n pria itu sehingga dia terjungkal ke belakang.
Nania bangkit lalu tanpa berpikir panjang dia menginjak bagian bawah perutnya yang terlentang di lantai.
Dan gadis itu tak memberinya kesempatan untuk bagkit saat dilihatnya sebuah kursi di sisi lain, Nania segera menarik dan menghatamkannya pada tubuh yang sedang berusaha bagkit itu sehingga dia tersungkur di lantai.
Dan kesempatan itu tidak Nania sia-siakan untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Tanpa menghiraukan apa pun dia berlari melewati pria-pria mabuk yang sedang berjudi, dan dengan tekad yang kuat dia memilih untuk melawan dan pergi dari sana.
Pria di dalam kamar berteriak memanggil Sandi yang segera mengejarnya.
"Nania!!!"
Gadis itu terus berlari sekencang yang dia bisa. Pikirannya hanya satu, yaitu keluar dari tempat tersebut dan menghindari siapapun yang berhubungan dengan keluarganya.
Tidak lagi! Dan ini terakhir kalinya mereka memanfaatkan aku! Batinnya berbicara.
"Nania!!!" Sandi mengendarai motornya untuk mengejar gadis itu.
Lebih baik mereka bunuh aku saja dari pada terus menyiksa seperti ini!
Air mata terus mengalir dari netranya dan kesedihan yang besar menguasai gadis itu.
Mengapa hal ini terus berulang? Mengapa mereka memperlakukannya seburuk ini? Dosa apa yang sudah dia lakukan sehingga ibu, dan kakaknya bersikap buruk seperti ini?
Dia tak pernah minta dilahirkan dari rahim seorang Mirna, tapi perempuan itu selalu menyalahkannya atas segala hal yang terjadi kepada mereka.
Dirinya pun tidak pernah mengusik Sandi tapi pria itu sekalipun tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
Dan sekarang ini. Hal lebih buruk apa yang mungkin terjadi setelah ini?
Ambil saja nyawaku sekarang, Tuhan! Aku rela mati asalkan mereka tak bisa menyentuhku selagi aku masih hidup. Setidaknya aku tak merasakan kekejian mereka sehingga tak memiliki dendam. Batinnya.
"Nania!!!" Sandi berteriak lagi.
Motor yang dikendarainya tak bisa melaju kencang karena gang yang dilewatinya begitu sempit. Sehingga dia hanya bisa melaju pelan mengejar adik tirinya tersebut.
Entah sudah berapa jauh Nania berlari, namun dia tak menemukan gang menuju ke rumah mereka.
Tenaganya hampir habis dan dia hampir saja menyerah ketika di depan sana terlihat lampu-lampu kecil dan tanda-tanda kehidupan sudah nampak. Gang di depannya bahkan sudah lebih besar dari sebelumnya.
Nania berhenti sebentar untuk menarik napas dan dia menoleh sebentar ke belakang. Lalu dia kembali berlari saat melihat Sandi sudah mendekat.
Dan pada saat Nania hampir mencapai ujung gang yang lebih terang, tiba-tiba saja Sandi mengencangkan laju motornya sehingga mengenai kaki gadis itu dan membuatnya jatuh tersungkur dengan kening membentur tanah keras dibawah.
"Ugh!!"
Sandi turun dan segera mencengkram tengkuk Nania saat dia hampir merangkak untuk bangkit.
"Sialan lu! Mau bikin gue mati?" adiknya kepada Nania.
Gadis itu meronta.
Sandi menariknya namun dia melawan. Kali ini dia tidak akan membiarkan pria itu membawanya kemanapun. Tidak, selagi dirinya masih bernyawa.
Nania menjejakkan kakinya dengan keras sehingga mengenai Sandi, dan pria itu berteriak kesakitan sehingga melepas cengkramannya.
Lalu dia kembali berlari ketika dengan secepat kilat Sandi meraih rambutnya yang tergerai kemudian menariknya dengan kencang sehingga Nania kembali terjatuh.
Sandi berkali-kali menendang perutnya dengan keras, lalu beralih ke punggungnya ketika Nania meringkuk kan tubuh kecilnya untuk berlindung.
Kemudian pria itu melayangkan pukulan bertubi-tubi pada apa pun yang dapat dia kenai. Kepala, wajah, rahang, pundak, apa pun. Dan dia melakukannya dengan begitu brutal
Tak ada siapapun yang melintas dan tak ada seorang pun yang melihat. Malam itu Nania sedang berjuang mempertahankan diri sendirian.
💖
💖
💖
Bersambung ...
duh? Kenapa nggak ada yang nolong??😵😵😵😵
semangat terus kak Fit, tambah sukses dan selalu bahagia 🤲