#penghianatan
Dia pergi meninggalkan keluarganya karena sakit hati, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain yang usianya jauh di atas dirinya. Setelah kembali, dia menyadari jika semua yang terjadi pada kekasih hatinya tidaklah seperti yang dinilainya selama ini. Padahal dia sendiri sudah menikahi wanita lain, bahkan memiliki banyak hutang.Apakah benar, hidup sebercanda ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Undangan
Sebuah Undangan
Dia menggunakan pengaruh Edi, sebagai warga yang cukup berada. Selain itu, dia juga memanfaatkan kepiawaiannya dalam bernegosiasi dengan banyak orang untuk, mendapatkan izin mendirikan sebuah taman Quran.
Hasil dari bersilaturahmi secara terus menerus dengan para tokoh agama dan beberapa muslim yang lumayan berada, berdampak sangat baik, hingga mereka mau menjadi donatur kecil-kecilan, bagi kegiatannya. Sekarang sudah tercipta tempat belajar yang menarik meski seadanya.
Awalnya dia mengajak anak-anak kecil di sekitar rumah Edi bermain dan belajar bersama, lama-kelamaan dia mengajak mereka mengaji. Lalu, keinginan membuat sebuah taman Qur’anpun terlaksana setelah beberapa bulan lamanya.
Selain itu, dia tetap rajin menanam sayuran. Jadi, dalam beberapa bulan terakhir ini, nama Usfi mulai di kenal banyak orang sebagai si guru ngaji penanam sayuran.
Tanah gambut yang ada di sana sebenarnya memiliki tingkat kesuburan yang sama dengan tanah pada umumnya. Namun, masyarakat lebih dominan menanam sawit, dan palawija, karena memang tehnik tanam yang mudah serta tidak membutuhkan perawatan yang intensif. Daerah itu memang salah satu penghasil palawija terbaik, hingga tidak heran jika banyak tanaman serupa di mana-mana.
“Kak Usfi!” kata Aisi, seorang gadis manis katurunan asli daerah yang memiliki kulit putih dan manis, dia dan Ahmad adalah teman seperjuangan dalam mendirikan dan mendidik anak-anak di madrasah kecil mereka.
Meskipun kecil, tapi, taman Qur’an itu sudah memiliki legalisasinya sendiri. Semua itu karena pengalaman Usfi bersama Sholeh membina anak-anak di kampungnya dulu. Mereka memiliki satu yayasan besar, membuat gadis itu membuat pengajian anak-anaknya secara legal dengan akta notaris lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan. Dia punya mimpi menjadi seperti abahnya yang walaupun bukan sarjana, tapi bisa bermanfaat bagi agama serta lingkungannya.
Apalagi dia tahu kalau menjadi guru, adalah salah satu cara yang bisa dijadikan amal jariah bila dirinya sudah tiada kelak, karena ajaran yang dia sampaikan berguna bagi banyak orang.
“Ada apa, Ai!” sahut Usfi sambil menyapu bagian dalam Pos ronda yang kini sudah jauh lebih besar.
Hari itu masih pagi, dan belum ada anak-anak yang akan mengaji, karena mereka akan datang di siang, sore atau malam hari sesudah magrib, itu untuk anak-anak yang lebih besar.
“Ada undangan, Kak!” kata Aisi lagi sambil terengah-engah, sepertinya dia setengah berlari.
“Undangan apa?” tanya Usfi.
“Dari Bu Lurah!”
“Oh, coba lihat!”
Usfi membuka surat undangan resmi dengan kop PKK di sana, yang mengajaknya untuk hadir dalam rapat para Bunda PAUD sekecamatan.
Sudah lebih dari satu tahun berjalan, hingga wajar bila keberadaan taman Qur’an binaan Usfi dikenal banyak orang di desa setempat. Sebenarnya dia tidak tahu akan dikategorikan sebagai apa, yayasan pendidikan anak miliknya, sebab dia berdiri secara mandiri. Namun, memang masih termasuk pendidikan anak usia dini.
Apalagi dia sadar diri jika madrasahnya, berada dalam daerah mereka, tentu saja dia harus hadir dalam rapat itu sebagai sumbangsihnya pada masyarakat desa.
Ternyata Usfi sungguh dibuat tercengang ketika datang dalam rapat, yang dihadiri oleh para kepala sekolah PAUD dan kebanyakan adalah ibu-ibu pengurus PKK desa atau para kader yang luar biasa. Mereka adalah para wanita yang ikut aktif di setiap kegiatan desa, termasuk menjadi guru pendidikan anak usia dini. Biasanya sekolah mereka itu kebanyakan didirikan oleh para pengurus desa setempat.
Di sana, Usfi bukan hanya dimasukkan menjadi sekolah PAUD kecamatan, tapi juga, diminta untuk membagi ilmunya dalam membina anak-anak didiknya yang tergolong baru.
Usfi memang membuat semboyan dan nama Yayasannya dan sekolahnya, sesuai imajinasinya sendiri yaitu “Qur’an Bergizi”
“Jadi, apa maksud Bu Usfi menamainya demikian?” kata Bu Camat.
“Maksudnya sebenarnya bukan cuman belajar ngaji Qur’an saja, tapi mengajarkan berkebun setiap hari, dan menanam sayur, lalu, kalau syurannya sudah panen, akan di masak oleh anak-anak sendiri dan di makan sendiri.” Usfi menjawab sesuai dengan yang dia ajarkan selama ini.
Sudah banyak anak yang berhasil menanam dalam pot kaleng bekas yang mereka beri nama masing masing, tiap anak akan menanam lebih dari satu jenis sayuran dan mereka harus bertanggung jawab pada sayuran yang mereka tanam.
“Oh, jadi begitu ya, Bu? Bisa di contoh oleh pada Bunda PAUD yang lain, nih!” kata Bu Camat lagi.
“Silakan, Bu. Saya hanya berinisiatif sendiri, walaupun Al Qur’an sudah sangat bergizi dalam hal akal dan Ruhani, alangkah baiknya kalau dalam makanan pun bergizi.” Kata Usfi lagi.
Sejak saat itu, hampir setiap pekan ada saja tamu yang berkunjung ke sekolah taman Qur'an miliknya, dari berbagai kalangan. Termasuk para pedagang yang meminta stok sayuran dari hasil tanaman Usfi.
Walaupun, tidak berhubungan dengan sekolah, tapi, penghasilan yang di dapat dari penjualan sayur mayur yang di tanam Usfi itu, digunakan untuk biaya operasional sekolah.
Lama kelamaan, anak-anaknya tidak harus mencari air kalau mau menyiram tanaman, karena Usfi membuat sumur sendiri untuk keperluan sekolah. Itu hanya salah satunya, hingga dari bulan ke bulan, tahun kentahun, aktivitas mengaji dan menjual sayuran menjadi kegiatan utama yang digemari dan menguntungkan.
Juga berpahala tentunya, karena sejak Usfi menjual sayur mayurnya, para tetangga sekitar yang rumahnya berdekatan dengan Edi, tidak harus mahal-mahal membeli sayuran pada pedagang keliling, karena mereka bisa memetik secara gratis dan cukup memberi uang infak ke sekolah seikhlasnya.
$$$$$$$$$
Usfi duduk di salah satu kursi restoran yang ada di pusat kota Paster Utara, dia tengah menikmati jus setelah beberapa menit yang lalu, selesai menikmati makanannya.
Dia bersama Ahmad, kini tengah istirahat disela-sela seminar daerah dan menjadi pembicara di akhir acara, sebagai sumber insfirasi bagi peserta yang kebanyakan para pendidik anak usia dini.
“Bola!” Kata Seorang anak laki-laki sekitar usia empat tahun, berjalan mengambil bolanya yang menggelinding di dekat kaki Usfi.
Usfi segera menoleh dan mengambil bola itu dengan tersenyum, lalu menyerahkannya pada anak kecil yang menjadi pemiliknya. Jiwa keibuan membuatnya melambaikan tangan dan mengusap kepala yang berambut lurus dan rapi, dengan lembut.
Anak itu berjalan kembali ke tempat sebelumnya, dan hanya menatap Usfi sekilas, dengan wajah polosnya. Tiba-tiba saja gadis itu melihat sesuatu di wajah sang anak yang mengingatkannya pada seseorang. Pikirannya masih mencoba mengingat ... mirip siapa anak laki-laki itu.
“Ayah!” teriak anak itu sambil melemparkan bolanya.
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
lanjut baca dulu ya...