Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 34
Sudah tiga minggu Ellena masuk kuliah, setelah meliburkan diri sebulan karena pergi ke London. Semua berjalan normal dan tidak ada masalah apa pun, termasuk hubungannya dengan Marco. Makin ke sini mereka malah semakin harmonis.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak Ellena sadari. Lelaki yang menyukainya dalam diam, sekarang mulai gencar mendekatinya. Seperti siang ini, lelaki yang bernama Gibran itu memberanikan diri untuk menjajari langkah Ellena.
"El, kamu udah dijemput?" tanya Gibran.
Ellena menoleh dengan santai, lalu membalas senyuman Gibran yang tak semanis senyuman Marco. Ah, jadi ingat sang suami. Sayang sekali hari ini masih bekerja dan tidak bisa menjemput.
"Aku pulang dengan taksi, Kak Marco nggak bisa jemput karena masih ada kerjaan." Ellena kembali tersenyum, tampak tulus dan tidak canggung. Dia memang tak curiga dengan Gibran, menurutnya wajar karena mereka teman satu kampus. Lagi pula, sikap Gibran masih terhitung normal dan tidak melewati batas.
Sementara itu, di samping Ellena Gibran bersorak girang karena rencananya berjalan lancar. Kemudian, dia mulai berani menawarkan bantuan.
"Dari pada naik taksi, bagaimana kalau aku antar aja?"
Ellena diam sejenak, masih berpikir antara menerima atau menolak. Karena sebenarnya, Ellena sudah memesan taksi, tetapi ponselnya lebih dulu mati sebelum mendapat balasan dari sana.
"Bagaimana? Mau, nggak?" tanya Gibran. Matanya masih menatap raut muka Ellena yang tampak berpikir. Namun, menurutnya tetap terlihat cantik.
Ellena menarik napas panjang, kemudian menjawab tawaran Gibran, "Baiklah."
Gibran sangat bahagia saat mendengar jawaban Ellena itu. Sungguh pencapaian yang luar biasa di usaha pertamanya.
Dengan wajah semringahnya, Gibran berjalan cepat menuju parkiran. Lalu, mengambil mobil dan membawanya ke tempat Ellena. Demi membuat sang pujaan nyaman, Gibran rela turun dan mengitari mobil untuk membukakan pintu.
"Nggak perlu seperti ini, aku bisa sendiri." Ellena tertawa, menganggap tingkah Gibran hanyalah candaan.
Gibran tidak menyahut ucapan Ellena tersebut. Dia lebih suka menikmati tawa di bibir Ellena, sangat memesona. Sampai akhirnya, ia tersadar setelah Ellena duduk di samping kemudi. Gibran pun kembali masuk dan mereka meluncur meninggalkan gedung kampus.
"El, nggak apa-apa kan kalau kita mampir beli buku dulu? Nggak lama kok, cuma sebentar aja," cakap Gibran ketika mereka sudah menempuh separuh perjalanan.
Raut wajah Ellena sedikit berubah, tidak seceria tadi. Ia merasa tak nyaman jika bepergian dengan lelaki lain karena statusnya sudah menjadi seorang istri. Namun, untuk menolak juga Ellena merasa tidak enak karena sudah diberi tumpangan.
"Kalau kamu keberatan nggak usah aja. Aku bisa beli nanti kok, setelah mengantar kamu," ucap Gibran, memahami rasa enggan yang tampak dari ekspresi Ellena.
Wanita itu pun tersenyum dan berusaha mencairkan suasana, lalu menyetujui ajakan Gibran dengan syarat hanya sebentar.
Akan tetapi, satu kata "iya" yang diucapkan Ellena membawanya pada keadaan yang rumit. Perkataan Gibran yang cuma sebentar ternyata hanya di mulut saja, karena faktanya mereka menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku.
"Sorry ya, El, tadi aku milihnya lama. Sampai sore begini," kata Gibran sambil menghentikan mobilnya di depan tempat kost.
"Iya, nggak apa-apa."
Ellena menjawab asal, tanpa menoleh dan tanpa mengulas senyum. Wajahnya malah ditekuk, terlihat kusut dan masam. Gibran juga menyadari hal itu, tetapi apa bisa dikata, dia memang ingin menghabiskan banyak waktu bersama Ellena.
Tak ingin berlama-lama dalam posisi salah, Gibran kembali menunjukkan perhatiannya. Dia turun dan membukakan pintu untuk wanita pujaannya itu. Ellena pun tidak banyak bicara. Dia langsung turun dan bergegas masuk ke tempat kost, berlalu begitu saja usai mengucap terima kasih tanpa menawari Gibran untuk mampir.
"Siapa lelaki itu?" gumam seorang lelaki dengan mata yang memicing.
Dia adalah Marco. Saat ini sedang berada di mobil yang tak jauh dari mobil Gibran. Dia baru pulang kerja dan langsung disuguhi pemandangan yang memancing emosi. Sang istri pulang telat dan diantar oleh lelaki, sampai dibukakan pintu segala. Sedekat apa hubungan mereka?
Tanpa sadar, tangan Marco mengepal. Ingin sekali mendaratkan bogeman mentah di wajah lelaki yang saat ini belum juga masuk mobil, padahal tubuh Ellena sudah menghilang di balik pintu.
***
Kembang kopinya jangan lupa, biar Kang Mas Marco semangat besok bisa updeeet lagi wkkkk
sana sama Otor aja... pasti mau dia...