Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan dengan Billy
Setelah capek berlarian cukup lama perut mulai terasa keroncong di tambah lagi cuaca sangat panas membuat tenggorokan kering dehidrasi,mereka duduk di sebuah kursi panjang tempat untuk bersantai sekalian mengembalikan nafas mereka masih bisa tertawa girang.
"Tuan sekertaris apakah disini ada jual makanan.?" Kasih sangat lapar berharap ada penjual makanan.
Rehan menoleh Kasih yang duduk di sebelah kirinya. "Ada nyonya,apakah anda lapar.?" Kasih hanya mengangguk sambil mengelus perutnya kempes nya.
Rehan memperhatikan gerak tangan Kasih saat mengelus perutnya Billy juga terlihat lelah dan butuh istirahat mungkin saat diisi makanan mereka akan kembali bugar,Rehan memutar pandangan mencari sebuah toko terdekat.
Rehan tak mendapatkan satu toko pun mungkin saat diluar pasti ada penjual makanan mungkin karena Mereka di belakang jadi tak kelihatan.
"Disana ada restoran makanan,sebaiknya kita kesana Ayo.!" Rehan tak tau restoran mana yang ia tunjuk padahal dia hanya menunjuk arah Kebun binatang.
Mereka bangkit serentak sambil berlari lagi agar cepat sampai menuju restoran yang di tunjukkan oleh Rehan,Kasih bingung dimana tukang jualan yang Rehan maksud malah mereka masuk ke kawasan kebun binatang, Rehan bertanya kepada salah satu staf penjaga untuk mencari tau lokasi penjual dan dengan senang hati si staf malah bersuka rela mengantarkan mereka.
Tibalah di tempat para penjual berbagai makanan ada yang lokal dan ala kebarat-baratan serta makanan internasional lainnya,sang staf pergi saat sudah melakukan tugas Rehan meminta pendapat Billy untuk makan di tempat yang mana,Billy menunjuk sebuah restoran mini tapi elegan sangat menarik sesudah sepakat mereka pun melangkah memasuki restoran.
Saat sampai di restoran yang terbuat dari bahan rotan mereka duduk di Sebuah tempat yang sederhana tapi nyaman berbentuk seperti panggung atau pondok,hanya di fasilitasi sebuah meja panjang untuk menaruh makanan Kasih dan Billy duduk bersampingan sedangkan Rehan duduk di hadapan Kasih.
Seorang pelayan datang menghampiri untuk menawarkan beberapa menu makanan yang tersedia padahal belum di panggil,pelayan cantik yang memakai seragam batik memberikan sebuah daftar menu ke atas meja untuk di baca,Rehan mengambil menu itu dan menawarkannya ke Kasih untuk di pilih.
Kasih menyimak setiap gambar dan tulisan di dalam kertas namun tak ada yang menarik kerena semua menu itu bertajuk khas kebarat-baratan,di tempat ia bekerja juga ada menu seperti itu pernah juga ia penasaran dengan rasa makanan dan menyicipinya dan ia rasa makanan itu sama sekali tak sedap,jadi dia memilih makanan lokal saja wajarlah dia kan orang kampung yang tak terbiasa menyantap makanan mahal.
Si pelayan pergi untuk membuat kan pesanan sesuai keinginan pengunjung,selagi makan di buat Kasih terdiam sambil menepuk meja membuat irama gendang sedikit,Kasih itu suka dengan hal-hal yang berbau music dan sejenisnya tapi ia tak bisa menyanyi apalagi suaranya sangat cempreng,jangankan manusia kucing saja mencakar wajahnya kalau mendengar ia menyanyikan lagu dengan suara fals nya.
Tak lama kemudian makanan tiba dengan macam-macam ragam pas dengan pesanan, pelayan menata rapi makanan di atas meja sangat sopan dan ekstra hati-hati,lauk pauk tersebut sangat indah karena di hiasi berbagai kreasi yang di buat khusus untuk mengunggah selera para penikmat kuliner, tapi Kasih lebih selera memakan rendang daging karena Itu adalah makanan favoritnya dulu saat ibunya masih ada,Ibu Sangat pandai memasak selain handal juga masakan nya di jamin enak ya walaupun cuma bisa di rasakan setahun sekali saat datangnya hari raya kurban,kadang juga ibu berusaha mati-matian membelikan sepotong daging lembu dengan uang gajian sebagai upah buruh cuci hanya untuk membelikan ia daging lalu di masak rendang,dikarenakan hidup Kasih tak seberuntung orang lain tapi dia tetap bahagia masih bisa menghabiskan waktu bersama ibu setiap hari dan berteduh di dalam gubuk kecil,dan akhirnya secepat itu ibu pulang duluan menyusul ayah meninggalkan ia sendirian di tengah penderitaan.
Hiks,Hiks.!
Tak sadar satu titik air mata jatuh ke pipinya saat memandangi rendang daging yang ada di dalam mangkuk putih,andai ibu dan ayah masih ada mungkin saat ini ia bisa menyantap rendang itu bersama dua orang tuanya di tempat itu ataupun tempat lain.
Kasih tak mau bersedih di hari yang membahagiakan,ini bukanlah waktu untuk menangis tapi ini adalah waktu untuk tertawa jadi ia berusaha tegar menghapus air mata nya.
Ia tersenyum kepada Billy sambil menyiapkan makanan untuknya dan untuk anak tirinya. Kasih menyuapi Billy dan begitu juga sebaliknya sekalian icip-icip.
Rehan memperhatikan mereka tak lupa ia memberikan informasi berupa sebuah foto yang di kirim untuk Tuan muda,hanya ingin memastikan mereka berada di mana dan apa yang mereka lakukan.
"Bunda ini cicipi makanan punya Billy." Billy mengangkat sendok yang berisi ayam mendekati mulut Kasih.
"Aaaaakkkk." Kasih membuka mulut selebar mungkin sampai suapan itu masuk kini giliran ia pula menyuapi rendang ke dalam mulut Billy." Sayang kamu cicipi punya bunda juga."
"Eemmm delicious." Billy memberikan acungan jempol untuk Kasih selanjutnya mereka terus bersuapan.
Nyonya muda begitu perhatian terhadap Billy dia sama sekali tak pernah memperlakukan Billy sebagai orang asing tapi sebaliknya,dia mampu memberikan kasih sayang yang teramat tulus pada anak itu.;; Batin Rehan.
Rehan menyuap makanan kedalam mulut namun matanya terus fokus kearah dua manusia yang ada di hadapannya,dua insan itu persis seperti ibu dan anak kandung jika di bandingkan dengan Sera Kasih lebih bersifat keibuan,sedangkan Sera yang cocok seperti wanita karier dan ibu-ibu sosialita bisa di akui Sera sangat pandai mencari uang tapi Kasih lebih pandai mencari perhatian,begitu penilaian tersendiri bagi Rehan.
******
Perut sudah terasa begah akibat kekenyangan penuh makanan,mereka berada di depan para wahana karena ini sudah mulai senja Rehan mengajak mereka pulang.
"Ayo kita pulang.!" Rehan mengajak mereka sembari melangkah pergi.
"Tuan sekertaris ada sesuatu yang belum saya coba." Kasih menarik tangan Rehan agar berhenti.
Rehan berhenti akibat di tarik. "Apa itu Nyonya." Rehan penasaran benda apa yang belum di cobain padahal semua sudah di coba.
"Itu.!" Kasih menunjuk roller coaster yang melingkar panjang diatas sontak membuat Rehan jantungan. "Ayo kita naik itu." Kasih menarik tangan Rehan dan Billy agar mengikuti kemauannya.
Rehan berhenti dan menolak tarikan Kasih. "Ti,ti,tidak nyonya,sebaiknya nyonya dan Billy saja yang naik biar saya yang tunggu disini." wajahnya mendadak pucat dan berbicara dengan nada panik.
Sebenarnya Rehan takut dengan benda itu baru melihat dari kejauhan saja matanya sudah melotot bulu kuduknya berdiri merinding apalagi kalau sudah naik, mengingat kemarin dia dan dua kadal sudah mencoba wahana yang mengandung adrenalin tinggi membuat suaranya memecah habis di udara.
Melihat Rehan yang terus saja diam Kasih memaksa lagi. "Ayo Tuan sekertaris." Kasih berusaha keras agar Rehan mau tapi sayangnya tetap di tolak. "Tidak nyonya,saya tidak mau." Rehan tetap bersikukuh menolak mundur-mundur saat di tarik.
Kasih melepaskan tarikannya dan menatap Rehan selekat-lekatnya. "Jangan bilang kalau sebenarnya anda takut kan Tuan sekertaris." telunjuk Kasih mengarah ke wajah Rehan yang memucat. "Tidak Nyonya itu tidak benar, saya kan pria jadi mana mungkin saya takut." membantah tudingan fakta.
"Bohong,anda takutkan." ledekan mulai keluar dari mulut Kasih.
"Cemen,cemen,cemen."
"Weekk,Tuan sekertaris cemen dasar penakut."
Kasih memutari tubuh Rehan yang sedang ketakutan sambil melontarkan jurus ledekan hingga membuat Rehan menjadi malu,Billy saja berani dan kenapa aku takut Rehan membatin sendiri merasa di rendahkan.
Tak tahan mendengar ledekan yang tak berhenti menghujamnya menjadi tantangan tersendiri bagi Rehan.
Rehan menarik tangan Kasih hingga wajah mereka berpapasan mendekat. "Baiklah ayo kita naik." Dengan mantap Rehan mengatakan itu bahwa sebenarnya jiwa dan raganya belum siap.
Kasih lepas dari dekapan Rehan ia merasa bahwa itu tadi sesuatu yang kelewatan batas tapi Rehan terlihat anteng anteng saja jadi kasih hanya menganggap itu sebuah gurauan jenaka,mereka pun menghampiri wahana tersebut.
BERSAMBUNG