Revisi
JANGAN BACA KALAU GAK MAU PUSING
Di tolak dengan cara yang memalukan membuat Nabila berusaha keras untuk melupakan sosok Arthur yang sudah memiliki sosok pendamping hidup.
Nathan Novalio yang merupakan seorang casanova mencintai sepupunya sendiri yang tak lain adalah Nabila Axelio.
Memiliki umur sepantaran membuat Nabila dan Nathan sangat dekat apalagi mereka tinggal di apartemen dan kampus yang sama.
Dalam usahanya melupakan sang DOI akhirnya hati Nabila terpatri pada sepupunya sendiri yang lebih tua 2 bulan darinya.
Tak lama hubungan mereka berjalan, keduanya harus dihadapkan dengan keluarga yang sudah menjodohkan mereka.
Melakukan hubungan yang tak seharusnya mereka lakukan itu selalu dihantui rasa takut jika ketahuan kedua keluarga.
Keputusan mereka untuk hidup bersama membuat keduanya harus pergi dari rumah besar itu dan memulai semuanya dari nol.
NOTE: NOVEL INI AKU GANTI ALURNYA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tutut Pedas
Happy reading
Setelah sarapan tadi, Hafiz merengek ingin pulang hingga membuat pasangan itu harus mengantarkannya.
"Om tadi kenapa bangunnya lama?" tanya Hafiz yang berjalan lebih dulu itu.
"Om sama Tante capek Fiz, jadi kesiangan bangunnya," jawab Nathan yang membuat wajah Nabila memerah.
"Capek? Hafiz juga capek tapi gak kesiangan," jawabnya dengan polos.
"Sudah sudah kenapa malah bahas capek sih? Hafiz mau beli apa gitu buat di rumah?" tanya Nabila pada Hafiz.
"Enggak tante, nanti aja kalau pas Hafiz pengen sesuai Hafiz bilang sama tante," jawabnya dengan senyum.
Mereka terus berjalan, kenapa tak memakai mobil karena jarak antara rumah Nathan dan rumah Pak Kades tak terlalu jauh mungkin 30 menitan sampai jika jalan kaki.
Sampainya di rumah Pak Kases, ternyata banyak orang disana. Tak enak jika mengganggu hingga keduanya memutuskan untuk pulang.
"Mereka siapa pak?" tanya perempuan yang ada di sana.
"Oh itu Nak Nathan dan istrinya, baru kemarin mereka nikah," jawab Mas Ilham dengan senyum.
"Owh."
Dalam perjalanan pulang, Nabila dan Nathan tak mau cepat sampai rumah. Jalan mereka sangat santai dengan tangan saling bertautan membuat keduanya tampak romantis jika dilihat dari jauh.
"Nath.."
"Gak romantis banget sih sayang, masa sama suami sendiri panggilnya nama."
"Terus mau dipanggil apa hmm?" tanyanya.
"Suamiku, sayangku, cintaku, atau apalah yang buat mesra," jawabnya menatap mata indah sang istri.
"Mas aja gimana? Kayak Mbak Suci panggil Mas Ilham."
"Boleh, aku suka," balasnya setuju akan nama panggilan itu.
Mereka kembali berjalan dan menikmati suasana sejuk dan dominan dingin disana untung tadi mereka memakai jaket.
"Mas dingin," ujarnya malu. Panggilan Mas masih terdengar mengelikan di telinga Nathan begitupun Nabila.
"Kita cari yang hangat hangat mau?" tanyanya.
"Apa?"
Nathan tak menjawab ia mengajak sang istri ke sebuah warung sederhana yang agak ramai pembeli. Nabila bisa mencium aroma rempah-rempah itu sangat kuat di hidungnya.
"Kita coba makanan sederhana ini ya, aku jamin kamu pasti suka," ujarnya dengan senyum.
"Itu apa?" tanyanya menatap wadah besar itu.
"Keong sawah sayang, tapi yang belum dimasak," jawabnya.
"Keong? Kerang?" tanyanya.
"Beda sayangku, udah ya diam biar aku pesankan," ujarnya yang membuat Nabila terdiam.
Setelah memesan makanan itu, Nathan menatap istrinya yang tampak biasa. Nathan tahu Nabila jarang ketempat seperti ini tapi demi hidup sederhana Nathan memaksakan semua ini.
Mereka bukan lagi pewaris keluarga Novalio dan Axielo lagi. Mereka hanya seorang rakyat biasa yang mencoba meraih kebahagiaannya sendiri tanpa tergantung akan aturan keluarga.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya dua porsi tutut pedas pesanan Nathan datang.
(Bagi yang gak tahu tutut itu apa inilah dia, biasanya kalau ke sawah dulu Tya sering main ni keong gak tahu kalau bisa dimasak. Kalau soal rasa Tya juga gak tau karena Tya sendiri belum pernah makan. Keong sawah atau tutut juga halal dan memiliki banyak manfaat, kalau gak percaya tanyakan Google.)
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Nathan makan tutut sawah, dulu pernah sekali ia makan bersama Mas Ilham saat ikut keliling dan ia cukup menikmatinya. Ternyata makanan murah tak kalah dengan makanan di restoran ternama.
"Cobalah," Nathan mengambilkan daging keong itu dan memberikannya pada Nabila.
"Yakin bisa dimakan?"
"Bisa sayang, enak kok. Gak kalah sama kerang dara yang biasa kamu makan," jawabnya dengan senyum.
Dengan pelan Nabila mengambil tusuk itu dan memakan tutut yang sudah terpisah dari cangkangnya itu.
"Emm enak," ujarnya seraya mengunyah tutut itu. Pedasnya terasa di lidah apalagi bumbung ikut meresap kedalam tutut yang ia makan.
Nathan menatap istrinya dengan senyum, ia lega setidaknya Nabila mulai paham akan posisinya sekarang. Nathan janji akan mengubah kehidupan mereka yang dulunya serba kecukupan sekarang sederhana.
Nabila mencoba mengambil tutut itu sendiri, walau agak susah tapi akhirnya ia bisa.
"Ternyata gak seburuk kelihatannya," ujar Nabila dan diangguki oleh Nathan.
Mereka memakan tutut diporsi masing masing hingga habis, Nabila yang belum puas itu memesan untuk dibawa pulang satu porsi.
"Minum dulu, kamu kepedasan gitu."
Nathan mengambilkan es teh milik istrinya dan Nabila meminumnya hingga tandas.
Setelah membayar makanan itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju rumah baru mereka.
"Sayang," panggil Nathan.
"Apa?" tanya Nabila menatap suaminya.
"Gak apa-apa kan kalau kita kuliah di sini, jaraknya gak terlalu jauh tapi aku yakin itu kampus terbaik kok," ujarnya dan dianggukkan oleh Nabila.
Baginya tak masalah mau kuliah dimanapun selagi ia masih bisa mengemban pendidikannya sampai sarjana.
"Gak apa-apa yang penting ada jurusan busana," ujarnya dan diangguki oleh Nathan.
"Lengkap kok, aku juga udah ngurus kepindahan kuliah kita," balasnya.
Tak terasa mereka kembali sampai rumah sudah pukul 6 sore, rasa malas untuk mandi karena cuacanya yang cukup dingin membuat mereka hanya mencuci wajahnya saja.
Nathan yang baru keluar dari kamar itu melihat istrinya sudah duduk di karpet dengan tutut yang tadi ia beli seraya menonton televisi.
Nathan berlalu menuju tempat istrinya dan duduk dibelakang Nabila.
"Jangan banyak banyak makan tutut ya sayang," ujar Nathan lembut.
"Kenapa? Enak kok!" tanya Nabila menghentikan makannya padahal hanya tinggal satu biji tutut yang belum dimakan.
"Gak baik buat kesehatan, menurut pakar kesehatan terlalu banyak mengkonsumsi tutut bisa menyebabkan cacingan, schistosimiasis, bahkan mual dan muntah," jawabnya dengan lembut. Kepalanya kini sudah nyaman di leher sang istri yang harum itu.
"Masa iya, tapi aku udah makan banyak," ujarnya.
"Minum air hangat yang banyak."
Nabila mengambil satu tutut itu dan memakannya setelah itu ia bangkit dari duduknya menuju dapur. Meninggalkan Nathan yang hanya menggeleng melihat apa yang di lakukan sang istri itu.
Bersambung
Hai kak mampir ke novel teman aku ya!
Judul: Kesandung cinta anak bau kencur
Karya; Yanktie ino
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?