Bagai tersambar petir, saat Marinka tahu dan harus menyaksikan suami yang baru dia nikahi selama 3 bulan, memutuskan menikah kembali secara diam-diam. Tidak ada yang tahu seperti apa rasa sakit yang Marinka rasakan saat ini, pria yang dicintainya sejak lama, sudah bermain api dibelakangnya.
Marinka harus menerima kenyataan pahit, saat tahu gadis yang dinikahi suaminya adalah gadis yang dia kenal, bahkan mereka dengan tega merebut ranjangnya agar bisa menyingkirkan Marinka dari hidup mereka.
Akankah Marinka menyerah? atau Marinka akan bertahan demi pria yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34. Gemetar
Yuanita mencebikkan bibirnya ketika melihat reaksi sang sahabat begitu terpukau, saat melihat kecantikkan yang ditawarkan oleh Marinka. Ezra bahkan enggan mengedipkan matanya, yang membuat Marinka jadi tersipu malu.
"Abang. Bagaimana dengan penampilanku? apa dengan begini tidak akan membuatmu malu?"
"Eh?"
Ezra terkejut saat mendengar Marinka menyapa dirinya.
"Kok bengong? jadi gimana ini penampilanku? apakah adek sudah sesuai dengan yang abang mau?"
"Ehemmm...kamu sangat sempurna malam ini, abang pastikan penampilanmu yang terbaik diantara wanita-wanita cantik yang ada disana."
"Abang bikin adek GR nih, udah ah...nanti kita kemalaman, kan nggak enak kalau datangnya telat."
Ezra kemudian mengulurkan lengannya, Marinka yang mengerti langsung menggamit lengan kekar itu.
"Kak Nita. Kami pergi dulu ya?" ucap Marinka.
"Semoga acaranya menyenangkan," ujar Yuanita.
Marinka melambaikan tangannya kearah Yuanita, saat mobil yang mereka kendarai melaju perlahan meninggalkan galery milik Yuanita.
"Bang. Adek sangat gugup,"
"Kenapa?"
"Adek takut nggak bisa ngimbangin wibawa abang,"
"Jangan jauh dariku kalau memang kamu merasa canggung saat berada didalam sana."
"Emm." Marinka mengangguk.
Setelah memakan waktu hampir 25 menit, akhirnya mereka tiba disebuah hotel berbintang, tempat diadakannya acara tersebut. Terlihat banyak sekali mobil mewah bersusun rapi memenuhi tempat parkir. Beberapa orang yang Ezra kenal, juga terlihat menghadiri acara itu.
Marinka kembali menggandeng lengan Ezra saat mereka akan memasuki aula acara, semua mata langsung tertuju pada sosok pasangan yang baru saja masuk dengan penampilan yang memukau. Mereka tampak sangat serasi dan sempurna.
"Jangan menundukkan wajahmu, kamu yang tercantik malam ini," bisik Ezra.
Bukan tanpa alasan Ezra membisikkan hal itu, karena tanpa sengaja Ezra menyentuh tangan Marinka yang terasa begitu dingin. Ezra tahu Marinka saat ini sedang dilanda kegugupan, karena semua mata tertuju pada mereka.
"Tuan Ezra," sapa salah seorang rekan bisnis Ezra.
"Hai tuan Saseno, anda juga hadir disini?"
"Ya. Saya sangat terkejut anda mau menghadiri acara seperti ini, biasanya anda hanya akan mengirim tuan Yuda untuk datang ke acara seperti ini. Apa ini karena wanita cantik disebelah anda?" tanya Saseno tanpa ada maksud mencari muka.
"Tentu. Ini adalah debut pertama istriku, dalam mengikuti acara seperti ini. Sekalian aku ingin memperkenalkan dia secara publik."
"Itu sangat bagus tuan, Nyonya memang harus lebih sering terlihat dalam acara seperti ini agar tidak canggung lagi,"
"Ya. Lalu dimana istrimu?"
"Dia sedang tidak enak badan, saya kemari bersama dengan putraku."
"Oh begitu, titip salam untuk nyonya anda, semoga lekas sembuh."
"Terima kasih atas perhatian tuan,"
"Kalau begitu saya kesana dulu, saya ingin bertemu dengan si empunya acara."
"Silahkan tuan, beliau sedang berbincang dengan koleganya di sudut sana."
"Baiklah."
Ezra dan Marinka kembali melangkahkan kaki, senyum ramah selalu mengembang disudut bibir Marinka.
"Astaga, istri dari Ezra Hawiranata lebih cantik aslinya, daripada dilihat dari televisi atau majalah," bisik seorang wanita.
"Kamu benar. Dia sangat sempurna, mereka benar-benar pasangan yang luar biasa,"
Bisik-Bisik itu sangat bisa didengar oleh Ezra dan Marinka, hingga Ezra mengedipkan matanya pada istri kecilnya itu.
"Sayang. Bukankah dia pengusaha nomor satu itu?" bisik Karin saat melihat Ezra menghampiri kearah mereka.
Galang yang mendengar bisikkan istrinya seketika membalikkan badan dan menyunggingkan senyumnya.
"Sepertinya dewi fortuna sedang berada dipihak kita, pria itu biasanya tidak pernah hadir diacara sepele seperti ini, mungkin ini kesempatan bagi kita untuk bisa melebarkan sayap perusahaan."
"Kamu tenang saja, aku akan berusaha mendekati istrinya dan berteman dengannya."
"Aku tahu kamu bisa diandalkan sayang," ucap Galang.
"Hussttt mereka datang," bisik Karin.
Sementara itu Marinka yang tidak memperhatikan orang didepannya sangat terkejut saat melihat keberadaan galang dan karin yang berada didepannya, bahkan tubuhnya tiba-tiba gemetar karena teringat peristiwa kebakaran yang menghanguskan kulitnya.
Ezra yang merasakan tubuh Marinka gemetar, memegang tangan istri kecilnya itu, Ezra tahu betul apa yang Marinka rasakan saat ini hingga wanita itu memiliki reaksi yang tidak biasa.
"Adek. Apa tubuhmu sedang tidak sehat? kalau sakit, kita bisa pulang sekarang," bisik Ezra.
Marinka mentap kearah Ezra, bola mata pria itu tiba-tiba bisa membuat perasaannya menjadi tenang.
"Tenanglah Marinka, kendalikan dirimu. Ada Ezra yang akan selalu melindungimu, jangan kecewakan dia, ini adalah acara penting baginya. Lagipula para mahluk terkutuk itu tidak mengenalimu juga," batin Marinka.
"Adek baik-baik saja bang. Mungkin karena udara disini agak sedikit dingin,"
"Katakan padaku kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa langsung pulang."
"Emm." Marinka mengangguk.
"Tuan Ezra," Galang yang tidak sabar langsung menghampiri Ezra yang tengah berbincang dengan Marinka.
"Tuan Galang bukan?" sapa Ezra.
"Ya. Terima kasih sudah sempat hadir di acara kami yang sangat sederhana ini, saya tidak menyangka anda akan menyempatkan waktu untuk datang kemari, ini merupakan kehormatan buat kami."
"Jangan sungkan. Jika saya memiliki waktu luang, pasti saya akan menyempatkan diri untuk hadir. Ini karena istri saya, dia ingin sekali menghadiri acara ini. Bisa dikatakan ini untuk pertama kalinya bagi dia,"
"Saya ucapkan selamat untuk pernikahan anda bulan lalu tuan Ezra, andai saja saya mempunyai undangannya, pasti saya akan hadir waktu itu."
"Maaf, tidak mengundang anda waktu itu. Karena memang hanya mengundang kalangan terbatas saja,"
"Tidak masalah. Mungkin kedepannya kita bisa menjalin silahturahmi dengan cara berbeda,"
"Oh Ya kenalkan, ini istri saya Karina," sambung Galang.
Karin mengulurkan tangannya pada Ezra yang disambut hangat oleh Ezra, Karin kemudian mengulurkan tangannya pada Marinka dan hanya mendapatkan tatapan datar.
"Senang berkenalan dengan anda Nyonya..."
"Marinka. Nama saya Marinka," ujar Marinka sembari menjabat tangan Karin dengan begitu erat, hingga membuat Karin sedikit meringis kesakitan.
Marinka melepaskan genggaman tangan itu dan sedikit memperlihatkan senyum palsunya.
"Sayang. Kamu bisa mengajak Nyonya Ezra untuk mencicipi hidangan disebelah sana?"
"Tentu. Mari nyonya,"
Marinka menoleh kearah Ezra, pria itu menganggukkan kepalanya sembari mengembangkan senyumnya.
Marinka berjalan beriringan dengan Karin, rasa gatal ditelapak tangannya selalu ia tahan agar tidak menjambak rambut wanita yang berada disebelahnya itu.
Karin meraih segelas minuman berwarna merah dan menyodorkannya pada Marinka. Marinka menerima minuman itu dari tangan Karin dan meminumnya hingga tandas.
"Saya sangat senang bisa berkenalan dengan istri pengusaha nomor satu di kota J," ujar Karin.
Mendengar itu Marinka sangat terkejut, pasalnya Marinka sama sekali tidak mengetahui identitas dari suami yang baru ia nikahi sebulan yang lalu.
"Pasti hidup anda terasa sempurna sekali ya?"
"Tentu. Sama seperti anda, yang terlihat bahagia bersama suami yang sangat anda cintai,"
"Ya. Saya memang harus merasa puas, meskipun saya hanya mendapatkan pengusaha nomor tiga di kota J. Tidak mudah bisa berada ketahap seperti posisi kita ini bukan?"
"Tentu saja. Saya bisa berada ketahap ini, karena sudah melewati berbagai ujian hidup. Termasuk menyingkirkan beberapa sampah dari hidup saya."
"Sama. Saya juga demikian, demi mencapai tujuan saya, saya bahkan sudah menyingkirkan penghalang terbesar saya."
Greeeeeettt
Tanpa Karin tahu, tangan Marinka sudah terkepal erat dibawah sana. Dada Marinka terasa bergemuruh dan ingin sekali memberi Karin pelajaran.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
tetap semangat/Ok//Good/