Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Sentuh!
Memanjakan lidah setelah menyuapi suaminya lebih dulu, Anita harus rela untuk dipaksa pergi ke mall dan memilihkan pakaian. Ada sopir di toko kue, tak boleh untuk meninggalkan istri Tuannya seperti perintah diberikan. Mobil diparkirkan Reno di toko kue, menutupnya dengan sangat rapi agar tak terkena terik sinar mentari.
Jelas apa dilakukan lelaki itu pada barang-barangnya membuat Anita dan Arga tersenyum menggelengkan kepala. Reno sangat menjaga mobil kesayangan dan tak pernah membiarkan rumah tanpa perawatan. Ya, mungkin itu sisi lain yang harus dihapal dari lelaki pecinta kesempurnaan tersebut.
Menggunakan sopir untuk menuju ke mall, tak henti Reno bertingkah manja dan membiarkan Arga duduk di depan, karena tak ingin mengganggu kedua orang tuanya. Meski, kadang ingin memprotes sikap kekanakan ditunjukkan, tapi dalam hati juga turut merasakan bahagia. Karena sang mama menunjukkan kebahagiaan selama ini diharapkan.
Memasuki mall dengan menggandeng kedua anak mereka bersama begitu tiba, ada seseorang berpapasan dengan mereka dan berhasil menghentikan langkah. Seorang lelaki berbalut jas warna navy, mengamati setiap inci wajah Anita yang tak dipercaya jika kini ada di depan mata.
"Anita?" ucap lelaki bernama Vano—mantan kekasih Anita yang berhasil membuat Reno mengeratkan rahang sekarang. "Ini anak kita?" imbuhnya menunjuk Arga.
"Jangan berbicara yang tidak-tidak!" tegas Anita, memegang kuat tangan Arga. "Jangan pernah menyapaku, anggap saja kita tidak pernah saling kenal!"
"Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan hal itu? kita jelas saling kenal dan kita pernah melalui banyak hal bersama. Apa kamu bahkan melupakan tentang apa yang kita lalui setiap malam?" kata Vano dengan percaya diri.
"Berhenti bicara, atau kau akan aku hancurkan!" geram lelaki menutupi wajah dengan topi hitam, terangkat kepala dan menunjukkan tatapan tajam.
"Tu—tuan muda?!" terbebelak Vano, mengetahui siapa orang bersama mantan kekasihnya.
"Jangan pernah kau berani menatap atau menyentuh istri dan anakku! atau kau tidak akan pernah melihat dunia lagi setelah hari ini!" ancam Reno, menarik Arga pergi agar putranya tak perlu mendengar banyak hal tak masuk akal.
"Anita tunggu!" ucap Vano ketika perempuan itu hendak melewati, lengan dipegang dan dihempaskan cepat.
"Beraninya, Kau!" hantaman kuat diberikan oleh Reno tepat pada wajah, mengejutkan Anita dan menutup mulut dengan telapak tangan. Dia memegang dada Reno agar tak menghajar lagi, saat melihat sang suami ingin menghampiri dan melayangkan pukulan.
"Jangan pernah menyentuh istriku! apa kau sudah tuli?! terlalu bodoh untuk mengerti semuanya?!" teriak Reno.
"Anda sudah salah paham! Dia bukan perempuan seperti apa Anda pikirkan, dia bahkan sudah tidur dengan banyak laki-laki! dia bukan anak Anda!" ucap Vano, tendangan diberikan tepat pada perut cepat.
"Dan kamu, Anita! dia bukan laki-laki yang baik! dia sudah menjebak Rara dengan banyak laki-laki lalu menyebarkan video!" imbuh Vano seraya memegangi perut.
"Kalian pantas mendapatkan hal itu, bahkan lebih. Kalian sudah menjual ku padanya, dan kalian harus menerima semua akibat karena telah menipunya juga! jadi, tunggu saja apa yang bisa suamiku lakukan!" tegas Anita, mengajak pergi Arga dan Reno.
Tercengang Vano di atas lantai memegangi perut, telinga seperti salah mendengar. Seingatnya, dia menjual Anita pada pria tua, dan bagaimana bisa itu berubah menjadi lelaki berpengaruh dalam dunia bisnis. Seorang perempuan berlari menghampiri, membantu untuknya berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Rara seraya membantu.
"Kau! apa kau tahu tentang Reno yang membeli Anita waktu itu?!" tegas Vano bernada emosi.
"Apa?!" terkejut Rara.
"Kau sangat tidak berguna!" dorong Vano, hingga tubuh Rara hampir terjatuh.
Sama-sama terkejut, mereka tak mengetahui tentang Reno sama sekali. Bagaimana mungkin semua terjadi, bagaimana bisa mereka harus berurusan dengan seorang Reno yang bahkan sanggup menghancurkan apa saja dalam waktu singkat.
Rara berdiri diam, teringat hari di mana ia ke hotel dan melihat wajah Reno. Sepertinya memang benar, karena tak mungkin apa dilakukan tanpa sebuah alasan. Lalau, seperti apa dia harus menghadapi nanti? terlebih Vano tak lagi sama seperti dulu.
Rara tak pernah dinikahi dan hanya dijadikan pelampiasan saja oleh Vano setelah kepergian Anita. Entah itu untuk amarah, atau ***** belaka. Bahkan dia rela untuk menjual diri dan memberikan uang pada Vano ketika usaha sempat hampir gulung tikar, itu terjadi sampai sekarang.
Rara melayani banyak pria hidung belang, di mana uang tak pernah diberikan sepeser pun oleh Vano padanya. Cinta sudah membuatnya buta, bahkan enggan untuk sekedar pergi meninggalkan. Anita bahkan dipersalahkan atas apa sudah terjadi dalam hidupnya, kini dendam Rara semakin besar untuk ibu satu anak itu.
Dia pergi menyusul Vano ke tempat parkir, sementara Anita masih bersama suami dan anaknya. "Jangan lakukan hal itu lagi pada siapa pun, jangan mempertaruhkan nama baikmu untuk membelaku. Aku bahkan tidak pantas menerima semua itu," kata Anita.
"Kamu pantas! bahkan lebih dari apa yang aku lakukan! kami istriku, dan tidak ada yang bisa menyentuh atau menghinamu seperti tadi! aku akan rela membunuh siapa pun demi membelamu juga anak kita, tanpa peduli tentang siapa diriku! mereka yang berani menyentuh kalian, berarti juga telah membuka jalan kematian!" tegas Reno menyiratkan keseriusan dalam kata juga ekspresi wajah.
"Aku mencintaimu juga Arga, kalian lebih berarti dari semua yang aku miliki. Jadi, jangan pernah menghentikan ku sama sekali," timpal Reno.
Anita tak bisa berkata apa-apa, dia memeluk lelaki tinggi di sampingnya tanpa mempedulikan jika banyak pasang mata memperhatikan sedari pemukulan terjadi. "Aku mencintaimu, sangat! terima kasih banyak," tulus Anita.
"Aku tidak ingin mendengar terima kasih, cukup katakan kamu mencintaiku saja." Reno membalas pelukan.
Melihat Arga tersenyum, ia menariknya untuk turut dipeluk. Rasanya tak bisa diwakilkan dengan kata-kata oleh Anita, betapa ia merasa sangat dicintai dan menjadi perempuan paling istimewa. Bersama Reno, ia merasa sangat dilindungi dan dicintai, walau kadang merasa itu berlebihan.
Lelaki itu melepaskan pelukan, mengecup kening Anita lembut dan lama. "Jangan pernah menangis, cukup semua kamu tumpahkan selama ini. Beri aku senyummu setiap hari," ucap Reno menyeka air mata sang istri.
"Lalu, bagaimana denganku?" tanya Arga.
"Kamu bekerja saja! lihat komputer setiap hari, jangan pedulikan papa mu yang tampan ini!" sahut Reno. "Dia mengabaikanmu seharian, bahkan tidak menawarkan ku makan atau minum. Bukankah itu tidak baik?" mengadu ke Anita.
"Aku menawarkan papa makan dan minum, tapi papa tidak mau. Itu semua tidak bersih, apa papa lupa?" sahut Arga.
"Mana mungkin? aku tidak pernah mengatakan hal itu! makanan tidak harus kita hina, harusnya kita puji karena itu berkah. Benarkan, Sayang?" jawab Reno mengalihkan mata pada istrinya.
"Papa snagat tampan, tubuh papa juga bagus." Arga tiba-tiba berkata, membanggakan diri Reno seketika dengan senyum terpasang. "Kenapa tidak jadi aktor saja, papa sangat pandai bersandiwara di depan mama." Arga melangkah ke arah eskalator.
"Ka—kamu bilang apa?!" teriak Reno seperti di rumah sendiri. "Tunggu, atau papa lempar kamu dengan sepatu!"
"Sudah, jangan seperti itu. Kita dilihat banyak orang," bisik Anita.
"Dia menjengkelkan. Lagi pula, mereka melihatku karena aku sangat tampan. Harusnya kamu bangga dengan hal itu," kata Reno.
Anita justru tertawa mendengar, dia pergi mengikuti putranya dan membiarkan Reno menggerutu seorang diri dalam rasa kesal.
ap ms ad seosean 2 ny