Kepahitan hidup harus dijalaninya, orang yang dicintainya, telah meninggalkan dunia. Menata hidup dengan mengikuti perjodohan keluarga dilakukannya.
'Suatu hari nanti, jika kamu menikah. Sayangilah suamimu, seperti kamu menyayangiku,' Itulah kata-kata yang pernah diucapkan orang yang dicintainya. Sudah beberapa tahun dengan sabar Jeny mencoba mencintai suaminya dengan tulus.
Seorang presiden direktur sebuah perusahaan cargo bernama Daniel. Tampan, kaya tidak ada yang kurang terkecuali sifatnya yang tidak dapat lepas dari mantan kekasihnya. Menganggap istrinya hanya sebagai pemuas nafsu di tempat tidur dan pengurus dirinya bagaikan pelayan.
Dengan langkah kaki gontai Jeny menyerah, setelah resmi bercerai. Jeny meninggalkan rumah dalam keadaan hamil, keluarganya yang merupakan pengusaha tidak bersedia menerimanya. Karena takut akan kekuasaan Daniel.
Menyesal dan kesepian itulah yang dirasakan Daniel, setelah kepergian istrinya. Mencoba mencari Jeny pun percuma istrinya sudah melangkah terlalu jauh, entah kemana.
"Aku akan mendirikan perusahaan sendiri," tekad Jeny, sembari menggendong buah hatinya. Seorang pemuda tiba-tiba datang melamar pekerjaan pada perusahaan yang baru dibukanya.
"Gelar master!? Gaji berapa yang kamu minta, maaf tapi kami tidak dapat memberikan gaji yang sesuai dengan gelarmu," Jeny menghela nafasnya.
"Gajinya bulanan yang aku minta adalah sebuah ciuman..."
"Kamu sudah gila ya!?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Pelakor
Sinar matahari sudah semakin meninggi, mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Menyisakan Jeny yang sesekali melirik ke arah Farel tengah konsentrasi menyetir menatap penuh kecurigaan.
"Kenapa nona melihatku seperti itu, apa nona sudah mulai menyukaiku!?" tanyanya, sesekali melirik ke arah Jeny.
"Belum..." jawab Jeny ambigu, dibalas hanya dengan senyuman kecil dari Farel.
"Nona, bagaimana jika kita liburan!? Sekalian kita jemput Rafa..." ucap Farel masih konsentrasi dengan jalan yang dilaluinya.
Aku tidak tau kapan akan kembali dari Singapura. Andai saja aku bisa jujur, aku adalah ayah kandung Rafa dan membawa mereka... Farel menghembuskan napas kasar, ingin rasanya melepas kerinduan pada sosok istri dan putranya itu.
"I...iya..." Jeny menjawab, memperhatikan wajah Farel baik-baik yang memang berbanding jauh dengan sosok Ren.
***
Udara segar khas pegunungan terasa. Terlihat beberapa kendaraan berpapasan dengan mobil mereka membawa beberapa hasil bumi. Bahkan ada juga yang membawa hewan ternak.
Rafa telah tertidur dalam perjalanan menuju rumah lama milik Jeny. Rumah yang penuh kenangan untuknya, dengan perasaan berdebar wanita itu melangkah dengan menggendong Rafa.
Aku pulang... ucapnya dalam hati menahan rasa harunya.
"Ini kuncinya..." seorang pria paruh baya menyerahkan kunci rumah yang dijaganya dan istrinya selama belasan tahun.
Rumah yang terlihat lumayan terawat, Jeny dari dulu memang rutin mengirimkan uang untuk menggaji pasangan suami istri itu, sekedar untuk membersihkan dan merenovasi atau mengganti perabot rumah tersebut.
"Terimakasih..." ucapnya pada sang penjaga rumah.
Jeny perlahan membuka pintu besar di hadapannya. Tata letak barang masih sama seperti dulu. Hanya saja warna sofa terlihat berbeda, lampu dan beberapa perabotan juga berbeda.
Terlihat fatamorgana kenangannya bersama Ren dan ayahnya disana...
'Jeny jangan berlari di tangga!!' sosok Dony berteriak.
'Nona!!'suara anak kecil terdengar, keduanya serempak berlari menatap Jeny kecil yang menangis akibat terjatuh.
Ayah...Ren...Aku merindukan kalian... gumamnya dalam hati, menahan air matanya.
"Nona kenapa ingin kemari!?" Farel mengenyitkan keningnya, sembari menyeret tiga buah koper.
"Tidak apa-apa ingin saja..." ucapnya masih menggendong Rafa.
"Nona terlihat kelelahan, biar aku yang menjaga Rafa..." Farel meraih Rafa, menggendong bayi mungil yang tengah tertidur pulas.
Jeny menyunggingkan senyumnya, menatap Farel menggendong putranya penuh kasih sayang bagaikan sosok ayah yang sesungguhnya.
Ren sifat lembutnya sangat mirip denganmu... Apa karena aku terlalu merindukanmu, hingga aku mengira dia adalah dirimu... tanyanya.
"Sudah mulai gelap, nona tinggal di kamar dengan Rafa, nanti saya akan membuatkan makan malam dan membawakan barang-barang nona," Farel mulai berjalan menuju lantai dua bersama dengan Jeny.
Kamar Jeny yang belasan tahun kosong, masih terlihat hampir sama. Farel memberikan Rafa kembali pada wanita yang bersetatus istrinya itu, berlari dengan cepat, mengambil baby box dari dalam mobil untuk tempat tidur putranya.
Satu demi satu kenangan Jeny kembali terulang. Senyuman Ren yang selalu membangunkannya, penindasan yang selalu dilakukannya, menjadikan remaja yang dicintainya itu bagaikan kacung. Jeny sedikit tertawa kecil.
***
Beberapa jam berlalu, malam semakin larut. Rafa sempat terbangun dan bermain dengan Jeny beberapa jam. Hingga kembali menyusu dan tertidur lagi.
Terdengar suara ketukan pintu, seorang pemuda menatap penuh senyuman membawa sebuah nampan dengan dua buah piring di atasnya.
"Nona..." ucapnya menunjukkan dua porsi sate ayam tanpa kecap dengan irisan bawang.
Perlahan meletakkannya di atas meja,"Rafa sudah tidur!?" tanyanya.
"Sudah..." jawab Jeny melangkah, kemudian duduk di sofa dengan perasaan aneh.
Farel menghebuskan napas kasar,"Padahal aku ingin bermain dengannya," mulai duduk berdampingan dengan Jeny.
"Farel..." Jeny menatap wajah pemuda itu intens."Satenya sangat enak, kamu memang paling tau seleraku..."lanjutnya enggan melanjutkan percakapan, kemudian makan dengan cepat.
"Pelan-pelan..." Farel menyodorkan segelas air, kemudian mulai memakan seporsi sate miliknya.
Jeny tertegun beberapa saat, mulai meminum air putih. Kembali menatap wajah itu baik-baik, selama beberapa menit.
"Ren..." panggilnya ragu.
"Iya..." Farel yang fokus pada makanannya, refleks menjawab, kemudian membulatkan matanya, menatap ke arah Jeny.
***
Di tempat lain, seorang wanita mengenakan celana pendek dan kaos ketat saja, memakan kripik kentang dan segelas orange juice di ruang tamu, sebuah rumah yang tidak begitu besar. Matanya mengamati rumah kosong lewat jendela menggunakan teropong jarak jauh penuh persiapan.
"Sedang apa...!?" terdengar suara pemuda di sampingnya.
"Astaga, kamu manusia atau setan!!" Nana membentak kesal.
"Kamu menyewa kamar, bukan ruang tamu. Uang tambahannya mana!?" Key menadahkan tangannya.
"Berapa!?" Nana membentak.
"150 ribu, jika untuk duduk-duduk saja selama sebulan..." jawabnya.
"Ini!! Dasar matre!!" Nana mengenyitkan keningnya, merogoh uang di sakunya.
"Lumayan..." ucapnya penuh senyuman.
"Key, siapa saja penghuni rumah itu!?" Nana mengenyitkan keningnya mencari informasi lebih dalam.
"Ada seorang wanita di dekat toilet, nenek-nenek di ruang tamu. Di kamar belakang juga ada anak kecil. Di gudang, seorang pria dan seorang kakek tua tinggal di sana. Tapi mereka tidak ada yang jahat dan mengganggu..." Key menjawab serius.
"Banyak juga ya!? Tapi ada yang sering memakai pakaian rapi seperti jas tidak...!?" Nana bertanya antusias mengingat sosok Tomy yang disangkanya Ren.
"Ada, dia tinggal di sudut dekat pohon..." Key kembali menjawab.
"Tinggal dekat pohon!?" Nana mengenyitkan keningnya, merasa aneh dengan jawaban Key.
Tinggal dekat pohon, apa Ren dikutuk menjadi setengah monyet... Nana tidak mengerti.
"Dimana mereka sekarang!? Kenapa kelihatannya sepi!?" lanjutnya.
"Masih di sana, tapi kamu mungkin tidak dapat melihatnya sepertiku. Pria berpakaian rapi cukup menyeramkan separuh wajahnya mengeluarkan darah. Matanya sedikit keluar..." Key berucap tanpa rasa bersalah, mengambil sedikit kripik kentang milik Nana kemudian memakannya.
Bulu kuduk Nana berdiri, wanita itu menjatuhkan kripik kentangnya. Menatap curiga pada pria di sampingnya,"Kamu indigo!?" tanyanya, dijawab hanya dengan anggukan oleh Key.
Plak...
Satu pukulan tepat mendarat di bahu pemuda itu. Nana berteriak dengan emosi,"Aku menanyakan tentang penghuni manusianya. Bukan setannya!!"
"Aku kira kamu pembuat konten misteri di YouTube, makanya terus mengamati rumah itu!!" Key mengusap-usap bahunya yang kebas.
Jika dia berkata aneh-aneh lagi aku benar-benar ingin merebusnya. Lalu memanggil para setan untuk memakan tubuhnya... Nana mengenyitkan keningnya kesal.
Dering suara handphone tiba-tiba terdengar di atas meja di samping pemuda itu. Dengan malas Nana mengangkatnya.
"Dady..." ucapnya terdengar mesra.
"Kamu dimana!? Kenapa tidak berangkat ke kantor!?" terdengar suara Jony dari seberang sana.
"Aku sedang sibuk... maaf..." ucapnya enggan untuk melayani Jony.
Saatnya balas dendam pada wanita murahan yang mengambil ciuman pertamaku... Key menyunggingkan senyuman jahat di wajahnya.
"Sayang pelan-pelan..." Key berucap dengan nada rendah, terdengar mesra, bagaikan melakukan adegan erotis.
"Baby kamu dengan siapa!?" Jony yang berada di seberang sana membentak.
Kesempatan untuk putus dengan om Jony... bukannya kesal atau menjelaskan, Nana malah menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Maaf, sayang aku tidak kuat lagi, sebentar lagi keluar..." kata-kata Nana terdengar bergetar, seperti menahan sesuatu. Dan tiba-tiba mematikan telfonnya sepihak, penuh tawa.
"Aneh!!" Key yang awalnya hendak membalas dendam mengenyitkan keningnya. Memungut kripik kentang milik Nana, kemudian memakannya sambil berlalu pergi.
"Akhirnya, aku bisa putus dengan Om Jony, dan berhenti menjadi pelakor!!" ucap wanita itu sembari tertawa kencang.
Bersambung
beautiful story'
aku selalu suka dengan gaya penulisan mu Thor,yg selalu memberikan kesempatan bahkan buat si antagonis.
cint yg penuh obsesif yg menerima nya dengan utuh dirinya tanpa ada sifat yg tertinggal.
dan bisa mengobati rindu akan beberapa puisi mu.
Daniel apa kemal...
aku lagi terharu,Tommy....Tomy
mau kasian tapi kok kamu lucu
demi kapal pesiar
iya lah..jaman sekarang harus realistis,bukan matrealistis ya🤣🤣🤣
sama aja denk
Kenzo iy..sedih tapi masih ada yg mau terima. apalagi farel
tapi Tomy...ah
dr kecil udah di abaikan,di tolak di telantarkan
inget demi kapal Fery, semangat 💪🤣
setiap orang mempunyai alesan untuk berbuat kotor atau jahat atau spa itu kepada orang lain bukan?
balik lagi, semua tergantung sudut pandang bukan?
tapi....bukan mencari pembenaran atas cerita sedih maka semuanya diperbolehkan.
author ini selalu... selalu bisa merubah sudut pandang seseorang
😔😔
gaskan lah🤣
ayo main cosplay
hargai lah setiap nafas yg kau punya..
kau tau ,kata apa yg paling memilukan sepanjang yg pernah ku dengar
bukan " aku mau mati"
tapi .." aku mau hidup"
karena dibelahan dunia ini banyak orang yg bertahan tiap hari nya untuk hidup
karena kisah Tomy dan Kenzo
ahh...CK.. CK