Aku Juli si Dewa Pengetahuan, begitulah mereka mengenalku di kehidupan sebelumnya. Aku manusia terakhir yang berdiri diantara langit dan bumi yang bertarung seorang diri selama 100 tahun melawan lima Dewa Kaisar Siluman,
Tujuan perjuanganku hanya satu! Yaitu untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi umat manusia, akan tetapi perjuangan ku sia-sia karena musuh yang sebenarnya bukanlah mereka..
Setelah aku berpetualangan di Dunia Timur aku menyadari satu rahasia, musuh yang sebenarnya ialah 9 Dewa Kegelapan, Dewa yang sangat mengerikan, Dewa yang tidak kenal belas kasihan, Dewa yang suka menindas dan membunuh Dewa Dewa yang lemah.
Sahabat! Aku Juli berjanji! Akan mengumpulkan kalian semua.. Perjuangan masih belum berakhir, sebelum dunia ini aman sejahtera dan makmur sentosa.. atau kita mati bersama dengan damai..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Fuadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33. Goyang
HAHAHAHA...
“Hahaha.. Itu pasti tiga keping emas naik ojek baru bisa sampai kemari lagi, hahaha” tawa Juli terdengar menggelegar sambil memegangi perutnya sementara para siluman Kera Bertanduk yang berbaris semuanya bersorak ria.
Kekekeke
Para Kera terlihat membuat peragaan tangan pada sesama kera bertanduk lain bagaimana Aboki terbang meluncur dalam kabut tebal yang tak berujung,
“Syuuuuuu Shu Syuuuuu kek kek”
Pasukan Aboki tercengang dan syok berat mereka tidak menyangka hal yang sangat mengenaskan menimpa bos mereka,
“A-Apa! Bagaimana bisa? Apa yang salah? Pada hal Bos sudah mengangkat tinju tinggi-tinggi” tanya anak buah Aboki tergagap.
“Mu... Mungkin kabut terlalu padat sehingga mereka tidak dapat melihatnya kadang” ucap Gentong menyapu keringat dingin di wajahnya.
Kakek Husen juga kembali berkeringat dingin, “Ini.. ga.. gawat.. tidak.. ada cara untuk melewati Para Siluman Kera Bertanduk itu.. apa yang harus kita lakukan” Gumamnya gemetar hebat.
Juli menoleh ke arah Bomo, “Bomo! Kau pergi lah angkat tinju dengan tangan kiri mu.. maju sana!” Perintah Juli dengan tatapan gembira.
Bomo langsung berkeringat, tawa Juli itu bagaikan ancaman yang sangat mengerikan baginya bahkan jauh lebih mengerikan daripada ribuan Siluman Kera Bertanduk di depannya, “Ba.. baik..!!” Jawab Bomo ketakutan ia segera bergerak maju mematuhi perintah Juli.
“Apa? B.. Bomo mematuhinya?”
Semua orang tercengang, “Bomo apa kau telah hilang akal? Tidakkah kau lihat bagaimana Aboki terbang ditendang oleh Monster-monster itu?” Tanya Husen penasaran dengan sikap bomo yang mulai ikutan gila.
Husen lalu menoleh ke arah Juli yang terlihat senyum-senyum santai, “Apa yang kau lakukan? Ini bukan lelucon sama sekali, kenapa si Bomo ikut-ikutan gila.. kau telah gila namun kau membuat dia juga menjadi gila.. Kalau dia mati siapa yang akan melindungi kita?” bentak Husen memarahi Juli dengan perasan kesal.
Bomo tidak peduli, ia segera maju mengangkat tinju tangan kirinya seperti diperintahkan, sontak semua Kera itu memberikan jalan untuknya, tidak ada seekor Kera pun mengganggunya hingga ia masuk pintu portal dengan selamat.
"Apa?!"
“Apa? Kenapa ini bisa berhasil? Apa yang salah dengan Aboki sebelumnya” Tanya Dolah penasaran.
“Hore! Bomo berhasil, Hahaha” tawa canda Juli terlihat senang
Semua orang tercengang melihat Bomo dapat melewat kawanan kera itu hanya bermodal mengangkat tinju tangan kirinya, kini semua orang mulai berspekulasi dan menduga-duga.
“Ba.. Bagaimana bisa.. mengangkat tinju kiri langsung bisa lewat.. berarti Aboki salah tinju tadi.. iya.. Aboki mengangkat tinju kanan” ucap kakek Husen menganguk-anguk mulai mengerti.
Kejadian itu juga disadari oleh Gentong dan kawan-kawannya yang melihat secara seksama aksi si Bomo tadi,
“Benar! Bos Aboki tidak mengetahui dengan jelas.. karena informasi yang dia dengar hanya angkat tinju.. dia tidak tahu kalau tinju yang harus diangkat itu tinju kiri.. Ayo kalian lima orang maju bersama.. ingat semuanya angkat tinju tangan kiri” perintah gentong pada lima rekannya.
Kelima rekan akhirnya dengan lutut bergetar maju mengangkat tinju tangan kiri, namun begitu sampai di depan Siluman Kera bertanduk semuanya bernasib sama.
KEK! KEK! KEK! KEK! KEK!
Wus… wus… wus… wus… wus…
Aaakkkkk!!! Aaakkkkk!!! Aaakkkkk!!!
Kelimanya ditendang terbang melayang tidak tahu tahu seberapa jauh mereka terbang dalam kabut tebal itu.
HAHAHA HAHAHA..
“Apa?!”
Juli kembali tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, sementara semua orang mulai berkeringat dingin tidak tahu lagi harus bagaimana,
“Ayo.. sekarang masuk ke portal sana, angkat dua tangan siapa yang mau masuk.. ini berlaku untuk tiga orang saja? Hehehe” Tanya Juli bercanda sambil tertawa kikik kan.
“Aku mau” Jawab Hana singkat.
“Aku Juga” Jawab Mija
“Aku Juga ikut” Jawab Risa cepat.
Juli senyum senang, “Pergilah kalian aku akan menyusul kalian sebentar lagi! Hahaha” Juli terus tertawa memukul-mukul pahanya “Sungguh lucu saat aku mengingat semua tuyul-tuyul itu di tendang terbang… hahaha” tawa Juli yang membuat Husen semakin jengkel melihatnya.
“Hana, Mija, Risa.. hati-hati aku takut anak gila ini mempermainkan kalian.. karena sebelumnya angkat tinju satu tangan kiri, kini malahan kalian angkat dua tangan..? Ah yang benar saja” Kakek Husen semakin gila memikirkannya, matanya terus menatap cucunya dengan denyut jantung yang semakin menggebu-gebu.
Ketiga orang itu mengangkat kedua tangannya, lagi-lagi Kera Siluman itu memberi jalan bagi mereka hingga ketiganya berhasil melalui tanpa hambatan sampai masuk pintu portal dengan selamat.
“Kenapa bisa begini?” Yuyun Terlihat bingung namun dia sangat bersyukur mereka bertiga bisa selamat.
“Syukur lah mereka selamat.. jantung ku hampir meledak tadi” ucap Ruyu pucat karena sekarang gilirannya, 'Hm.. Sekarang hal gila macam apalagi akan keluar dari mulut si Juli gila itu..' pikirnya.
“Apa? Kenapa bisa?” tanya si Gentong memukul-mukul kepalanya, semua Anggota Aboki mulai pusing memikirkan cara sehingga si Gentong beserta yang lainnya kini memutuskan untuk menghampiri Juli guna bertanya rahasia melewati pintu Portal.
“Tuan Kecil! kami percaya padamu.. sekarang katakan lah bagaimana cara kami melewati Kera Bertanduk itu.. apapun itu kami pasti akan melakukannya” Gentong bertanya dengan penuh hormat
Juli senyum, “Baiklah! Sekarang siapa mau masuk ke sana sambil goyang-goyang, tapi untuk sepuluh orang saja itu pun termasuk aku, hehehe” tanya Juli yang membuat semua orang menelan ludahnya.
“Aku!”
“Aku ikut!”
“Aku Juga!”
Semua orang angkat tangan ingin ikut bersama Juli, Juli senyum ceria, “Kalau begitu masuklah kalian semua, tapi ingat! Siapa yang jelek goyangnya akan ditendang oleh monyet itu, jadi ayo mulai goyang..” Ucap Juli mulai berjalan santai sementara semua orang mulai berlenggak-lenggok seperti cacing kepanasan.
Sementara Juli terus menertawai mereka, “Hahaha, Goyang lah yang bagus.. jangan goyang patah.. patah.. goyang mu itu sungguh jelek, Hahaha” Juli mengejek Husen yang goyang patah-patah.
“Ini bukan goyang patah-patah bodoh, tapi memang tulang ku sudah keropos semua.. Lhoh! Kau sendiri kenapa tidak goyang? Malahan jalan santai?” Bentak Husen marah melihat sikap Juli seolah mengerjainya.
Juli senyum, “Hehehe, belum juga sampai di depan kera, untuk apa digoyang.. lagi pula kita harus bergoyang sejauh seratus meter.. hahaha” Ucap Juli berjalan paling belakang dengan santainya sambil tertawa terbahak-bahak, sementara yang lainnya semuanya berwajah serius dan jengkel.
Begitu mereka sampai, para Kera Bertanduk membuka jalan bagi mereka, dan baru masuk sepuluh meter goyangannya sudah ditendang satu orang, sementara Juli berjalan santai sambil tertawa melihat semua orang joget sambil sesekali protes orang joget.
“Kak Ruyu.. Goyang bebek mu janganlah cepat sekali.. ntar kena tendang nanti.. hahaha”
“Aku ingin cepat-cepat supaya diriku cepat sampai.. pinggang ku udah pegal-pegal semua” ucap Ruyu berkeringat dingin matanya terus memandang para kera yang berdiri berjejer menonton goyangannya.
“Kak Yuyun goyang ngecor mu seperti siput, cepat lah! Kalau tidak kau tinggal seorang diri di sana.. lantai sudah bagus tidak usah di cor lagi”
“Tidak! kakiku lagi keseleo.. Cuma goyang model ini yang aku bisa” Ucap Yuyun mulai pusing dengan goyangannya.
“Paman Dolah Joget lah yang bagus? Jangan sampai kau ditendang, hahaha” Kelakar Juli sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“Ba.. Baik! ini lagi goyang gergaji” ucap Dolah berusaha goyang sebagus mungkin sampai hampir-hampir mirip seperti orang mabuk.
"Tukang lu.. sekalian goyang palu hahaha.."
Plak…. Bhuk…… Bhak…..
Sementara Pasukan Aboki satu persatu ditendang, baik jogetnya bagus ataupun tidak yang paling terakhir ditendang adalah si Gentong, Juli terus tertawa tidak henti-henti hingga sampai ke pintu portal.
“Kurang ajar! Capek ku goyang sana ku goyang sini ditendang juga buwajingaan………” teriak Gentong marah yang tak terima ditendang hingga hilang dalam kabut tebal.
“Hahahaha… Goyang kek! Goyang tidak goyang kek tetap ditendang!”
Sementara itu si Jujur, si Cunguk dan anggota lainnya mengintip dari sela-sela reruntuhan bangunan, “Ow! Cara melewati para Siluman Kera Bertanduk dengan cara bergoyang-goyang rupanya” Ucap Cunguk pada kawan-kawan lainnya.
"Benar! Untung kita update informasi.. ayo kita masuk sebelum pintu portalnya tertutup"
“Ayo! kita goyang-goyang ini hal yang mudah… Hahaha”
Phak… Phuk… Phak… Phuk… Phak… Phuk…
**