NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Sugar Daddy KR

​Pagi itu, Aula Serbaguna SMA Bintang Bangsa sangatlah hening. Ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS), dan ketegangan terasa di udara.

​Lingga Mahardika, sang CEO Mahardika Group dan Ketua Yayasan, tiba-tiba hadir. Ia tampak dingin, berwibawa, dan sedikit... tersiksa. Matanya terlihat kurang tidur, tetapi setelan jasnya yang mahal menutupi kelemahannya.

​Alasan ia datang bukan semata-mata karena kewajiban yayasan. Ia datang karena dompetnya. Dompet itu tidak hanya berisi kartu penting, tetapi juga foto usang ibunya yang ia selalu bawa. Ia membutuhkan dompet itu kembali, dan Ken, asisten kepercayaan sekaligus kepala keamanannya, melacak gadis itu.

​Ken melaporkan: Gadis itu, Ayu Puspita, adalah siswi di SMA Bintang Bangsa, kelas 12, salah satu sekolah di bawah Yayasan Mahardika. Kebetulan hari ini ada UAS.

​Lingga, didampingi Kepala Sekolah, memasuki ruang ujian. Semua mata siswa dan guru pengawas tertuju padanya. Seolah-olah ada vitamin C yang tiba-tiba bertebaran di udara, semua mata, termasuk Vera, siswi paling centil di kelas, langsung berbinar-binar.

Vera bahkan sempat melirik genit, membayangkan Lingga sebagai sugar daddy impiannya. Lingga sendiri mempertahankan ekspresi stoiknya, berjalan lambat di lorong meja, pura-pura memeriksa ketertiban.

​Tiba-tiba, langkahnya terhenti.

​Di barisan paling belakang, dengan seragam lusuh dan wajah tegang, duduklah Ayu. Dan di sudut meja Ayu, terselip dompet kulit hitam miliknya. Dompet yang dicuri.

​Namun, yang membuat Lingga tercekat adalah pemandangan di tengah meja ujian Ayu. Di sana, di antara pulpen dan penghapus, tergeletak sebuah kartu. Itu adalah kartu Platinum BNI Private Client-nya, kartu yang sangat eksklusif dan hanya untuk transaksi sangat rahasia.

​Kartu itu tidak hanya tergeletak. Di bawahnya ada nota kecil dari TU (Tata Usaha).

​Lingga langsung mengerti. Ayu tidak punya uang tunai. Ia putus asa. Ia pasti menggunakan kartu itu untuk membayar tunggakan SPP-nya langsung ke TU, berjanji untuk mengembalikannya atau membayar ganti rugi.

​Dia. Dia menggunakan kartu kreditku untuk membayar SPP-nya di sekolah yayasan ku sendiri.

​Kemarahan Lingga bercampur dengan rasa panik dingin. Jika ada yang tahu bahwa kartu itu milik Lingga—Lingga yang dicuri dompetnya oleh siswi yang kemudian menggunakan kartu itu untuk membayar biaya sekolah—maka penyelidikan akan dimulai.

Penyelidikan itu akan mengarah ke mana? Tentu saja ke transaksi terakhir kartu itu: tagihan minuman keras di The Abyss malam sebelumnya.

​Citra Lingga sebagai CEO yang berdedikasi, Ketua Yayasan yang menjunjung moral, akan hancur lebur di depan dewan guru, orang tua murid, dan media. Ia tidak bisa membiarkan rahasia pesta mabuknya—pelarian atas patah hati kekasihnya—terbongkar.

​Lingga membungkuk, mensejajarkan dirinya dengan Ayu, seolah sedang memberikan petuah penyemangat.

​"Pencuri," bisik Lingga, suaranya nyaris tidak terdengar.

​Ayu mendongak. Matanya dipenuhi campuran rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam. Ia tahu ia tertangkap.

​"Tuan," cicit Ayu, "Saya akan mengembalikannya. Saya hanya butuh jaminan untuk ikut ujian. Saya tahu Anda tidak punya uang tunai..."

​Lingga meraih kartu Platinum itu dengan cepat, menyembunyikannya di telapak tangannya. Ia kemudian mengambil dompetnya dan memasukannya ke dalam saku jasnya.

​"Kau tidak hanya mencuri, Ayu. Kau menempatkan seluruh reputasiku dalam bahaya," bisik Lingga, tatapannya membekukan. Ia lalu menegakkan tubuhnya, tersenyum lebar ke arah Kepala Sekolah.

​"Anak yang cerdas," kata Lingga keras-keras, merujuk pada Ayu. "Semoga berhasil dengan ujiannya."

​Setelah UAS selesai, Lingga memerintahkan Ken untuk menjemput Ayu dan membawanya ke Penthouse nya.

​Ayu ingin kabur tapi sebuah mobil hitam mewah sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Ken, asisten kepercayaan Lingga Mahardika telah menunggunya dengan ekspresi dingin berbahaya.

​Ayu sama sekali tak berbicara selama di dalam mobil. Ia pasrah. Kemana pria itu membawanya.

​Ketika mereka tiba di penthouse Lingga, Ayu ternganga. Pemandangan kota dari ketinggian, furnitur mewah yang berkilauan, dan desain interior modern yang elegan membuatnya merasa seperti masuk ke dalam majalah.

"Oh, astaga," bisiknya dalam hati, "Aku benar-benar dalam masalah besar dengan pria ini. Sepertinya aku baru saja mencuri dari bukan orang sembarangan."

​"Saya akan membayar ganti rugi pemakaian kartu Anda, Tuan. Saya janji," ucap Ayu langsung dengan tubuh gemetar. Kedua bola mata indahnya berkaca-kaca.

​Lingga tertawa hampa. "Bayar ganti rugi? Kau sudah menggunakan kartu itu untuk membayar SPP-mu. Itu cukup. Nilainya kecil dibandingkan harga rahasia yang kau pegang."

​Lingga lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya mendesis rendah. "Aku akan membiayai seluruh sekolahmu, bahkan kuliahmu, tanpa perlu kau sentuh kartu itu lagi. Aku akan anggap lunas biaya SPP itu."

​Ayu terkejut. "Syaratnya?"

​"Syaratnya, kau harus menandatangani Kontrak Kerahasiaan. Kau harus menjadi Asisten Pribadi-ku untuk memastikan kau tidak membuka mulutmu tentang pesta mabuk ku, tentang The Abyss, atau tentang aku yang mabuk berat karena patah hati. Kau akan di bawah pengawasanku 24 jam sehari."

​Lingga pun mengeluarkan salinan kontrak tebal.

​"Pikirkan baik-baik. Kau akan mendapatkan masa depan yang terjamin, pendidikan yang mahal, dan biaya hidup mewah. Atau..."

Lingga menunjuk ke luar jendela, ke arah pos polisi terdekat. "...aku laporkan kau atas pencurian, penyalahgunaan kartu kredit, dan merusak properti. Dengan bukti dompet dan kartu itu, kau akan kehilangan ijazahmu dan menghabiskan tahun-tahunmu di penjara."

​Wajah Ayu langsung memucat, tangannya semakin gemetar. Menjadi asisten pribadi seorang CEO yang mabuk dan emosional adalah mimpi buruk, tetapi penjara adalah akhir dari hidupnya. Ia tidak punya pilihan.

​Lingga menyeringai kecil. "Pilihan ada di tanganmu, Ayu. Jadi, apakah kau mau menjadi asistenku yang dibayar mahal, atau menjadi siswi pencuri yang kere?"

​Ayu menelan ludah. Ia memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk mengangguk.

​"Saya terima, Tuan. Saya akan menjadi asisten Anda."

​Lingga mengulurkan pulpen mahal. "Bagus. Jangan pernah menyesali keputusan ini. Kau baru saja membeli masa depanmu, dengan harga kebebasanmu."

Ayu Puspita menelan ludah lagi. Tangan kanannya gemetar hebat saat meraih pulpen emas yang disodorkan Lingga.

Antara kemewahan yang membuatnya sesak dan ketakutan akan penjara, ia tahu bahwa tidak ada jalan lain. Ia menghela napas panjang, menunduk, dan membubuhkan tanda tangannya di halaman paling bawah kontrak itu, seolah sedang menandatangani hukuman mati atas kebebasannya sendiri.

"Selamat datang di neraka pribadiku, Nona Ayu Puspita," bisik Lingga, suaranya mengandung kemenangan yang pahit.

Tubuh Ayu semakin gemetar. Ia merinding membayangkan bagaimana hidupnya kedepan.

Lingga sendiri tersenyum smirk memandang Ayu yang sedang menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar.

***

Jumpa lagi dengan author receh ini gaess 🥰

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
Sofiaa
seruuuu thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!