NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putusan

#11

Hening malam di sebuah ruangan motel, dua orang berbeda jenis kelamin, tengah bergulat dalam genangan dosa. 

Semakin lama semakin liar, lagi dan lagi, seolah esok tiada lagi hari baru jadi malam ini juga mereka menghabiskannya karena sayang untuk dilewatkan. 

Si wanita pasrah membuka kedua kakinya lebar-lebar, dan si pria dengan perkasa menggagahinya, bangga dengan tubuhnya yang bugar. 

Tawa bahagia terdengar bersamaan dengan suara jahanam menjijikkan, peluh bercampur cairan lain yang keluar dari tubuh mereka, gelimang dosa serta tatanan susila mereka langgar, sumpah setia tak lagi sanggup menjadi pagar. Karena terlalu menikmati kesenangan dunia yang hanya sesaat, mereka tak peduli bahwa laknat Tuhan lebih besar dan jauh lebih  mengerikan. 

•••

Kembali ke ruang sidang, sebelumnya Pak Gunawan sempat memberitahunya, bahwa jaksa penuntut ingin memanggil Bu Halimah sebagai saksi. 

Kenapa harus Bu Halimah? Kenapa bukan Mutia saja, atau Karmila anik iparnya? 

Ayu hilang semangat, semakin pesimis jika Bu Halimah akan mengatakan hal yang baik tentang dirinya. Mungkin akan terkesan jika Bu Halimah justru berdiri di pihak Anjani. 

“Tenang saja, Bu. Daripada berprasangka, lebih baik berpikir positif.” 

Begitulah ucapan Pak Gunawan kala Ayu mengungkapkan kegelisahan hatinya. 

Suasana sidang masih terasa mencekam dan menakutkan bagi Ayu, terlebih setiap kali berada di ruangan tersebut, dirinya kerap merasakan pandangan tajam serta gunjingan menyakitkan dari para tetangga di desanya. Serta orang-orang awam yang turut menghakiminya padahal tak tahu menahu tentang fakta yang sebenarnya. 

Hingga tiba saatnya Bu Halimah mulai diberi pertanyaan setelah bersumpah, tapi entah apakah sumpah itu akan membuatnya berkata jujur tentang tabiat putranya, atau justru menuruti kebenciannya pada sang menantu yang menjadi tersangka pembunuh putranya. 

“Bu Halimah, bagaimana menurut Anda sifat Bu Ayu sebagai menantu?” Pak Rudi sang Jaksa mulai bertanya. 

“Kelihatannya baik.”

“Kenapa Anda menambahkan kata kelihatannya?” Jaksa menambahkan tanda kutip. 

“Karena aslinya tidak.” 

Tajam dan pedas ucapan Bu Halimah membuat air mata Ayu kembali bergulir, sepenuh hati ia berbakti pada sang mertua sebagai bukti takzim pada suaminya. Ternyata hanya dianggap palsu oleh Bu Halimah. 

Bukan Ayu tak ikhlas berbakti, tapi cara Bu Halimah menyatakan pendapatnya sungguh terdengar menusuk tajam di telinga Ayu. 

“Bisakah Anda beri contoh?” 

“Banyak, salah satunya saya merasa dia bermuka tebal ketika menyuguhkan makanan atau minuman pada saya. Tapi di lain waktu dia berbohong, padahal anak saya berkata sudah membelikannya perhiasan seharga 50 juta.” 

“Jadi karena itu Anda berasumsi bahwa menantu Anda mengenakan topeng baik dan polos di depan Anda dan suaminya?” 

“Iya, itu yang saya rasakan,” kata Bu Halimah tanpa perasaan sedikitpun, benar kiranya bila hatinya sudah berselimut kebencian akibat prasangkanya sendiri. 

“Anda mengatakan Bu Ayu memiliki perhiasan senilai 50 juta, apa Anda pernah melihatnya?” 

“Saya memang tak pernah lihat, tapi di ruang persidangan ini dia pernah mengatakan memiliki kalung, bukan?”

Ayo menggeleng kuat tanpa suara, “Tapi saudara Ayu mengaku, bahwa kalung itu peninggalan almarhumah ibunya.” 

“Pak, pekerjaan Bu Tinah itu hanya buruh sawah musiman, mana mungkin bisa membeli perhiasan sebanyak itu, apalagi totalnya 50 juta. Saya, kok, tidak yakin.”

“Tapi menurut harga pasaran perhiasan, 3 buah kalung harganya tak sampai 50 juta. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?” 

“Itu— itu— diluar pengetahuan saya. Entah dia kemanakan uang sisanya.” Bu Halimah melengos, dengan sengaja menghindari tatapan kemarahan di kedua mata Ayu. 

 

Karmila yang kali ini hadir ikut merasakan sesak melihat ibunya yang tega berbohong hanya karena rasa bencinya pada sang menantu. 

“Sekian pertanyaan saya, Pak Hakim.” Pak Rudi pun kembali ke tempatnya. 

“Saudara pengacara? Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?” 

Pak Gunawan berdiri, lalu maju ke tengah ruangan persidangan. 

“Bu Halimah, tadi Anda mengatakan bahwa menantu Anda hanya bertopeng kebaikan.”

“Benar, Pak.” 

“Kenapa Anda tega berujar demikian? Padahal menantu Anda sedang mengandung seorang anak yang selama ini sangat Anda harapkan kehadirannya.” 

Bu Halimah tersenyum miring. “Entahlah, saya tak yakin. Bisa jadi anak itu bukan cucuku,” sanggah Bu Halimah. 

“Mak—” kata Ayu dengan suara lirih. 

“Hati-hati dengan ucapan Anda Bu. Karena itu termasuk tuduhan perzinahan.”

“Ada banyak saksi yang melihat Ayu dan seorang pria jalan berduaan di siang bolong, bahkan mampir ke salah satu kedai milik warga,” imbuh Bu Halimah. 

“Bisa saja mereka hanya bicara?” 

“Bicara?! Seorang wanita bersuami apakah pantas berbicara akrab dengan seorang pria yang bukan suaminya? Di depan banyak orang lagi. Bukankah itu dilarang agama?”

“Lalu bagaimana dengan putra Ibu, yang mendatangi bar dan pulang dalam keadaan mabuk? Bukankah itu juga dilarang agama?”

Skak mat, Bu Halimah terdiam, dan tak sanggup lagi berucap. Pak Gunawan pun kembali duduk, ia melirik sekilas kliennya yang menunduk sambil mengusap air matanya. 

Di kursi tamu yang menghadiri sidang, Anjani tersenyum penuh kemenangan. Ternyata mudah sekali, kemarin ia mendatangi Bu Halimah dan mulai mengarang cerita, seolah-olah Restu memang mencurahkan semua kejelekan Ayu padanya. 

•••

Setelah break sejenak, Ayu kembali duduk di kursi saksi, dan kali ini Jaksa berdiri di hadapannya untuk bertanya. Dalam hati Ayu mulai merasa bahwa firasatnya tak enak, karena pernyataan Bu Halimah dan Anjani sebagai saksi kunci, benar-benar membuat posisinya semakin sulit. 

Wanita muda itu sedang hamil besar, duduk seorang diri menerima serangan dan tudingan bertubi-tubi dari segala sisi. Tak memiliki tameng kuat, tak ada yang bersedia membantunya, apalagi Jaksa dan pengacara seolah sengaja menghadirkan saksi yang berpotensi menyudutkannya. 

Kesempatan yang seharusnya menjadi miliknya untuk meluruskan pernyataan saksi, justru dimanfaatkan oleh jaksa untuk membacakan tuntutannya. 

“Setelah mendengar pernyataan saksi dan juga bukti yang teramat kuat, maka kami menyimpulkan bahwa benar jika saudara Lembayung Senja, tega membunuh suaminya karena merasa cemburu, serta ingin menguasai harta milik suaminya untuknya sendiri. Menuduh suaminya berselingkuh, hanya demi menyembunyikan hubungan terlarangnya bersama seorang pria.”

“Tidak!” jerit Ayu, “Kenapa tiba-tiba ada kesimpulan semacam itu?!” 

Ayu menyuarakan keraguan serta kecurigaannya. 

“Karena sidik jari Anda terlihat jelas di permukaan senjata yang telah menghilangkan nyawa saudara Restu Singgih.”

“Tentu saja, karena sehari-hari saya menggunakan pisau itu untuk menyiangi sayuran.” 

“Tapi itu bukan alasan!” sambung Pak Rudi dengan suara tegas. “Sebenarnya hanya dari sana saja, Anda sudah sangat layak menjadi pelaku utama. Tak perlu melenceng kemana-mana.”

“Tetap saja— ini tidak adil! Aku tidak terima!” Ayu berteriak seorang diri, karena pengacara yang diharapkan menjadi pembela dirinya, justru hanya menunduk diam, seolah-olah skenario inilah yang ia harapkan. 

“Maka berdasarkan pasal-pasal pembunuhan yang berlaku, saya menuntut saudara Lembayung dengan tuntutan penjara seumur hidup. Terima kasih,” pungkas Pak Rudi mengakhiri pembacaan tuntutannya. 

Tak perlu menunggu lama, hakim pun segera membacakan putusan. 

“Berdasarkan bukti-bukti serta saksi, maka secara sah dan meyakinkan saya menjatuhkan hukuman seumur hidup potong masa kurungan!”

Tok! 

Tok! 

Tok! 

“Ini tidak adil!”

Ayu yang buta dengan urusan hukum, tak mengerti bahwa ia bisa mengajukan banding. Jadi ketika pengacara hanya diam, Ayu pun tak mengerti apa-apa.

Wanita itu memberontak dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dengan air mata bercampur amarah, ia bersumpah. 

“Aku pasti kembali, tunggu saja, siapapun kalian yang hari ini berhasil membuatku seperti ini, aku harap kalian berumur panjang, serta menanggung hukuman pedih yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya!” 

Riuh seketika ruang sidang, setelah bersumpah, Ayu yang belum siap dengan putusan hakim langsung pingsan di tempat. Tapi dibalik semua itu, ada senyum tipis sepasang manusia yang kini saling melempar kedipan memuakkan. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!