karya pertama othor.. pasti banyak kesalahan dan mungkin keanehan. So, maafkan ya. but, baca dulu, semoga suka sama alurnya 💋
Marisa, gadis sederhana yang menolak untuk berpacaran. Pertemuannya dengan Elvan yang secara kebetulan membuat mereka saling menyukai. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah.
Dalam perjalanan mereka menuju hari pernikahan, fakta baru mulai terungkap tentang jati diri Elvan yang sebenarnya. Lalu akankah Marisa mau menerima masa lalu Elvan?
Dan bagaimana Elvan akan melindungi Marisa dari rencana jahat keluarganya?
Season 2 novel ini bisa dibaca di novel aku yang berjudul "Istri Big Boss" Bisa klik profilku ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Marisa yang masih merasakan mual, kembali berjalan ke kamar mandi. Ia berjalan dengan pandangan yang berkunang-kunang karena rasa pusing dikepalanya.
Setelah masuk kamar mandi, berkali-kali ia mengeluarkan isi perutnya, namun tak ada yang keluar selain cairan bening dan cairan kuning yang terasa pahit. Setelah itu Marisa merasa semakin pusing dan pandangannya tiba-tiba gelap. Namun tak lama ia kembali sadar setelah menghirup aroma menyengat dari minyak angin yang menempel tepat di hidungnya.
"Sayang kamu kenapa? Kita ke dokter ya." Suara Elvan yang terdengar begitu khawatir.
"Mas, aku nggak papa kok. Aku lapar mas." Keluhnya saat tangan suaminya menggenggam erat jemari tangannya.
"Mau Mas pesenin makan? Minum teh angetnya dulu ya." Elvan lalu meraih gelas teh yang tadi ia bawa.
"Mas, aku pengen makan bubur. Kayaknya asam lambung aku kumat deh." Kata Marisa setelah meminum tehnya. "Mas bisa masakin bubur nggak?" Tanyanya ragu
"Emm bisa sayang, tapi kalau kamu sendirian lagi nanti kamu kenapa-kanapa gimana?" Elvan tak tega.
"Aku ikut ke dapur ya mas, tapi gendong. Aku pengen lihat mas Elvan masak." Marisa dengan nada manja.
"Manjanya istriku kalau lagi sakit, yaudah sini."
Elvan pun menggendong Marisa dibelakang punggungnya. Dengan pelan ia membawa tubuh Marisa menuruni tangga lalu menuju dapur.
"Kamu duduk sini aja, Mas bikinin kamu bubur ya, tapi harus habis." Kata Elvan yang menurunkan istrinya di kursi meja makan.
Marisa tersenyum, ia lalu meletakkan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing di meja makan. Ia memperhatikan Elvan yang mondar-mandir hanya untuk memasak bubur. Untung saja Marisa membeli beberapa santan instan untuk persediaan di dapur. Apa jadinya kalau suaminya itu harus memarut sendiri kelapa segar, seperti yang biasa ia lakukan ketika memasak santan.
"Sayang ini udah jadi buburnya, aku suapin ya." Kata Elvan yang masih mengenakan celemek masaknya, dengan beberapa tepung yang menempel di tangannya.
"Cuci tangan dulu mas." Kata Marisa.
"Iya iya sayang, sebentar ya, jangan dimakan." Elvan lalu berjalan kembali ke dapur menuju wastafel nya dan mencuci tangannya.
"Jadi mas masak cuma boleh aku lihatin aja nih, nggak boleh aku makan." Marisa cemberut, aroma bubur yang terbuat dari tepung beras itu sungguh membuat perutnya berdendang, ditambah dengan kuah santan dan gula merah cair yang menambah harum aroma bubur yang nampak begitu lembut.
"Sabar sayang, kamu lapar banget ya." Elvan lalu duduk di kursi menghadap istrinya.
"Aku kan bisa makan sendiri mas." Protes Marisa yang telah lama menunggu suaminya masak, karena laki-laki tampan berkulit putih itu nampak kebingungan saat menuang bahan-bahan yang membuatnya semakin lama di dapur.
Elvan dengan sabar mendengar ocehan istrinya yang entah kerasukan setan dari mana tiba-tiba menjadi sensitif dan terus mengomel. Bahkan saat bubur telah habis tak tersisa pun Marisa masih saja mengeluh, kenapa tak membuat banyak padahal ia masih lapar. Namun Elvan menanggapinya dengan tersenyum.
"Nanti kita beli aja ya sayang, kamu kelihatan cantik banget hari ini walaupun ngomel ngomel terus." Elvan duduk berjongkok, lalu mencium tangan istrinya yang sepertinya masih kelaparan karena sebelumnya muntah-muntah.
"Aku nggak mau beli mas, aku mau makan yang mas Elvan masak." Rengeknya, entah sejak kapan wanita cantik yang biasanya malu-malu itu mulai merengek-rengek seperti anak kecil minta mainan.
"Kamu tega lihat dapur kamu yang biasa bersih jadi kapal pecah gitu." Kata Elvan menunjuk dapur yang terlihat sangat berantakan, banyak tumpahan tepung disana. "Mas ini nggak bisa masak, tadi aja kalau gak lihat google mas gak akan tau cara masaknya, kita ke ahlinya bubur gimana?" Elvan memberi penawaran, karena sepertinya dia memang laki-laki sempurna yang hanya ahli di bengkel namun nihil di dapur.
"Nggak mau mas, kalau mas nggak mau masak lagi, aku nggak usah makan." Marisa mode ngambek.
"Iya iya sayangku, mas bikin lagi ya." Elvan pun mengalah, tak ingin berdebat dengan wanita yang biasanya anggun sesuai namanya itu.
Elvan pun kembali ke dapur, menakar lagi tepung-tepung dan air. Untung saja cairan gula yang tadi ia buat masih banyak, jadi ia hanya tinggal membuat bubur dan juga kuah santannya.
Setelah selesai memasak, Elvan menuang bubur dalam mangkuk dan kemudian ia cuci tangannya yang kotor terkena tepung. Bubur panas itu kembali tersaji dihadapan istri yang seperti lupa suaminya juga butuh makan.
Dengan telaten Elvan kembali menyuapi istrinya hingga habis tak tersisa.
"Sayur.. Sayur.. Sayurnya ibu-ibu" terdengar suara teriakan khas yang setiap pagi menyapa penghuni komplek itu.
"Mas, aku belanja dulu ya." Marisa yang hampir berdiri langsung dicegat oleh suaminya.
"Mas saja yang belanja sayang, kamu perlu apa?" Tanya Elvan yang lalu melepas celemek masak yang biasa mereka sebut apron itu.
"Mas beli ayam ya satu kilo, sayurnya sawi sama bayam, terus bawang merahnya seperempat aja, sama kalau ada roti kukus ya mas, yang warna hijau jangan yang ping." Kata Marisa dengan sumringah.
"Iya iya sayang, ayam,sawi bayam,bawang merah sama roti kukus ijo kan." Elvan mengulang lagi belanja yang disebutkan istrinya tadi.
Setelah melihat Marisa mengangguk, Elvan pun keluar rumah untuk membeli sayur.
"Eh Mas Elvan, Mbak Risa mana?" Tanya bu Ana, wanita bertubuh gemuk yang diyakini Marisa adalah pemimpin ibu-ibu komplek itu.
"Istri saya lagi sakit bu, nggak enak badan dia tadi muntah-muntah." Kata Elvan yang baru bergabung dengan ibu-ibu. "Ayam sekilo, sawi sama bayam terus bolu kukus nya yang ijo Pak." Kata Elvan kepada penjual sayur.
"Jangan-jangan lagi hamil mas?" Tanya Bu Ana, yang langsung membuat ibu-ibu yang sedang berbelanja itu menoleh ke Elvan.
Elvan yang mendengar kata hamil langsung terkejut. "Hah??? Tidak mungkin lah Bu." Elvan menggeleng-geleng tak percaya namun bibirnya tak bisa menahan senyumnya yang melelehkan hati ibu-ibu komplek itu.
"Mas Elvan coba aja mbak Marisanya suruh test, siapa tau beneran positif." Kata Bu Esti yang langsung diangguki setuju oleh ibu-ibu lain.
"Saya sama istri saya baru 3 minggu menikah masa iya secepat itu hamil." Kata Elvan dalam hati ia begitu berharap tapi otaknya tak ingin kecewa karena terlalu berharap.
"Saya kemarin nikah 2 miggu juga langsung positif mas, Alhamdulillah saya dikasih kepercayaan lebih cepet." Kata Bu Esti.
Elvan pun mulai menampilkan raut bahagianya, senyumnya merekah seperti bunga-bunga bermekaran di tepi jalan komplek mereka.
"Ini uangnya pak?" Tanya Elvan kepada penjual sayur. Tunggu, bukankah ia melupakan sesuatu.
"Coba beli test nya mas ke apotek. Tapi paling bagus sih pas pagi hari, pipis pertama setelah bangun tidur." Kata Bu Ana saat Elvan menyerahkan uang kepada penjual sayur.
"Iya terimakasih bu, nanti akan saya belikan." Elvan pun kembali ke dalam rumah setelah menerima uang kembaliannya.
"Sayang, ini pesenan kamu." Elvan meletakkan kantung belanjanya di meja makan.
Marisa yang baru selesai mencuci piring pun menghampiri suaminya.
"Berapa ayam sekilo mas?" Tanya Marisa saat menemukan bolu permintaannya dan langsung melahapnya.
"Nggak tau sayang, pokoknya tadi mas kasih uang aja udah." Jawab Elvan yang kini memainkan ponselnya.
"Kok nggak tau sih mas, kan aku jadi nggak tau ayamnya naik atau turun harganya." Kata Marisa lalu memeriksa plastik belanja suaminya tadi.
"Ya sama aja sayang, mau naik mau turun tetep beli sekilo kan?" Kata Elvan dengan santainya.
"Ih, mas ini nggak ngerti perasaan perempuan." Marisa lalu menyadari jika Elvan lupa membeli bawang merah yang telah dipesannya tak dibeli suaminya.
"Mas kayaknya mas lupa beli bawang merah deh." Marisa lalu segera keluar sebelum Pak Hasan penjual sayur komplek itu pergi.
"Aku lupa sayang." Kata Elvan setengah berteriak karena istrinya telah jauh darinya.
"Pak Hasan, bawang merahnya ada? Seperempat aja." Tanya Marisa saat melihat pak Hasan memberikan bungkusan plastik ke Bu Esti, sementara ibu-ibu yang lain sepertinya telah selesai belanja.
"Eh mbak Marisa, apa bener mbak Marisa sakit?" Tanya Bu Esti.
"Iya mbak, pagi-pagi pas selesai sholat mual banget, sampek lemes dan pingsan kayaknya tadi, tapi pas habis makan bubur bikinan mas Elvan udah mendingan kok." Kata Marisa laly membayar bawang merahnya.
"Periksa ke dokter aja mbak siapa tau lagi hamil." Kata Bu Esti.
"Hamil??" Tanya Marisa. Lalu mengingat ingat lagi sepertinya memang dia belum menstruasi bulan ini. "Kalau cek ke dokter, dimana ya yang bagus mbak Esti?" Tanya Marisa yang memang tidak berpengalaman.
"Ke dokter temenku aja mbak, aku hamil kemaren juga kesana kok." Kata Bu Esti. Mereka masih mengobrol di depan pagar rumah Marisa karena Pak Hasan yang tak ingin mendengar mereka berbincang telah pergi berkeliling menjual dagangannya.
"Dimana mbak? Tapi aku takut kalau ngajak Mas Elvan kesana nanti kalau nggak hamil mas Elvan nya malah kecewa." Kata Marisa.
"Mbak Risa nggak kerja hari ini?" Tanya Bu Esti yang melihat Marisa masih memakai piyama tidurnya dan belum berpakaian rapi seperti biasa ia ke kantor.
"Iya mbak, udah terlanjur ijin soalnya." Kata Marisa.
"Kalau mau nunggu besok, pakai tes pek aja mbak, tapi kalau mau cepet bareng aku aja, aku mau ke rumah sakit juga, anakku ada jadwal imunisasi." Kata Bu Esti.
"Boleh deh mbak, nanti pas Mas Elvan kerja, aku ikut mbak Esti. Nanti aku WA ya mbak." Kata Marisa.
"Siip mbak." Kata Bu Esti. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
bersambung....
terimakasih.. jangan lupa tinggalkan like, dan koment kalian ya.. salam hangat, untuk readers kece 😁😁😁
Alvero.... kalian keluarga kaya....sewa detektif handal untuk mengungkap kecelakaan ini...