Dinda Larasati terpaksa harus membuang jauh jauh impiannya sebagai desainer ternama di saat ia harus rela menikah dengan Alan Sudrajat pria yang sudah beristri demi menolong karir sang kakak.
Di dalam pernikahan yang menyakitkan itu hanya kesabaran lah kunci utama Dinda, apa lagi Alan dan istri pertamanya hanya memandang Dinda sebelah mata, bahkan Alan tak pernah adil untuk menafkahi kedua istrinya.
Sampai suatu saat Dinda memberikan seorang bayi laki laki yang sangat tampan untuk suaminya.
Namun Dinda harus mengalami depresi berat saat Alan melarang keras Dinda untuk menemui putranya,
Apakah Alan bisa mencintai Dinda setelah itu ?, wanita yang berkorban mengandung putranya di usia yang masih sangat muda yang sudah menerima dengan ikhlas untuk menjadi istri keduanya.
Bagaimana dengan Faisal sang kakak setelah tahu kehidupan adiknya yang sangat menderita, apakah dia bisa memaafkan Alan selaku atasan dan sahabatnya.
Atau bahkan dia mengutuk dirinya untuk tidak menikah sebelum sang adik mendapat kebahagiaan.
Dan apakah penyesalan kedua pria tersebut mengembalikan Dinda se ceria dulu?''
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga terbaik
Di dalam kamar yang berbeda Dinda menghabiskan waktunya dan di balik jendela ia menatap nanar mentari pagi, tinggal di rumah mama mertua sedikit membuatnya bisa mengembangkan senyum yang selama ini tenggelam dalam kesedihan, semalam ia lewati tanpa beban, namun ada yang menjanggal dalam hatinya, meskipun Alan sudah mengizinkannya untuk tinggal di sana Dinda sedikit tak enak hati, apakah dirinya sudah benar menjauh dari suaminya, ataukah ini lebih baik untuk dirinya yang tidak pernah mendapat kasih sayang di rumah suaminya.
Menoleh ke arah suaminya yang masih berbalut selimut di sofa, Dinda tersenyum kecut.
Di rumah mama pun kamu tak mau tidur se ranjang denganku, jika sakit bisa membuat kamu tidur denganku aku ingin mengulanginya lagi seperti waktu itu, biarkan aku menjadi wanita yang bodoh asal aku sedikit bahagia.
"Dinda sayang kita makan yuk!" panggil Bu Yanti dari balik pintu. Dinda cepat cepat menyeka air matanya yang sempat menetes dan membuka pintu.
Dinda menelan ludahnya dengan susah payah, saat mendapati mamanya di sana, ia membuka pintu sedikit dan menyembulkan kepalanya takut jika mama mertuanya itu menilik Alan yang saat ini tidur di sofa, pasti Bu Yanti akan memarahinya.
"Aku belum lapar ma," seperti biasa wanita itu terus saja menolak, meski usia kandungannya sudah menginjak tiga bulan, namun Dinda masih aja mual dan kehilangan nafsu makan.
"Sedikit juga nggak apa apa," mengelus lengan Dinda.
Dinda memilih untuk keluar dan menutup pintunya kembali.
"Ma, panggil Dinda lagi saat keduanya mematung di depan kamar Alan.
"Seandainya aku tidak bisa memberi cucu untuk mama, apa mama masih sayang sama aku?" tanya Dinda serius, karena Ia pun ingin di sayangi dengan sepenuh jiwa bukan karena bisa memenuhi permintaannya.
Bu Yanti tersenyum. "Dinda, mama memang sangat menginginkan seorang cucu, tapi, bukan manusia yang menciptakannya, Ada Tuhan sang maha pencipta di balik kuasanya yang mengatur apapun di dunia ini, mama minta maaf karena sudah memaksa kamu untuk menikah dengan Alan, jadi kamu nggak usah khawatir, mama akan tetap menyayangi kamu dan menganggap kamu menantu mama yang terbaik.
Dinda terharu dengan ucapan Bu Yanti yang begitu mengoyah hati, ternyata apa yang di ucapkan Alan padanya itu salah, Dia bukan wanita yang hanya di butuhkan untuk memberikan keturunan Sudrajat, namun Ia benar benar menjadi menantu yang begitu di harapkan.
''Sekarang kita makan ya, mama nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, apa Alan sudah bangun?'' tanya Bu Yanti,
''Belum, mama ke meja makan saja dulu, biar aku yang bangunkan kak Alan.''
Bu Yanti tersenyum dan mengelus rambut Dinda sebelum meninggalkannya.
Dinda bernafas dengan lega setelah mendengar ucapan Bu Yanti, namun kali ini banyak tanda tanya dalam hatinya, jika memang itu pernyataan Bu Yanti padanya, lalu kenapa Bu Yanti harus meminta Alan untuk beristri lagi, kenapa Bu Yanti begitu benci dengan Syntia.
Sudahlah, itu urusan mereka mendingan sekarang aku bangunkan kak Alan.
Dinda kembali masuk ke dalam kamarnya.
Deg....Dinda terkejut saat mendapati suaminya yang kini sudah berada di belakang pintu kamar.
''Ka...kakak sudah bangun?'' tanya Dinda gugup.
''Hemmm....Dan Aku sudah dengar apa yang kamu bicarakan dengan mama,'' ucapnya memutari tubuh Dinda.
''Jadi semua sudah jelas, kamu akan tetap di anggap putri oleh keluarga ini tanpa seorang anak, itu artinya nanti anak yang kamu kandung akan menjadi anakku dan Syntia, menunjuk perut Dinda yang sudah mulai membuncit.
Tak menjawab meskipun dadanya terasa sesak percuma, pasti ujung ujungnya akan menjadi pertengkaran, dan Dinda hanya menutupi sikap semena mena suaminya dari mertuanya.
''Sekarang aku mau mandi dan ke kantor, aku nggak janaji kalau malam ini aku bisa nginep sini lagi, meraih handuk dan berlalu.
''Nak, kamu dengar kan apa kata papa kamu, masih di dalam perut saja banyak sekali yang menginginkanmu, jadi sehat selalu ya, mereka semuanya pasti akan menyambutmu dengan baik dan istimewa, meskipun Mama belum tentu bisa menemani kamu, tetaplah menjadi anak mama yang terbaik, bermonolog sembari mengelus perutnya.
Tak terasa air mata Dinda kembali menetes, namun hatinya harus sekuat baja untuk menghadapi semuanya.
Bukan hanya Bu Yanti yang masih khawatir, Faisal sang abang pun masih khawatir dengan keadaan Dinda, meskipun Alan menginap di rumah mamanya, namun hati seorang abang masih saja tak tenang jika tak menatapnya langsung.
''Pagi tante, sapa Faisal yang seperti biasa langsung nyelonong masuk.
''Sal, kamu sudah sampai sini aja. tumben biasanya juga siang,'' menilik jam yang memang belum waktu ngantor.
''Pengin lihat keadaan Dinda Tante, di mana ya?'' celingak celinguk mencari wanita yang di sayanginya dari kecil.
''Masih di dalam, mungkin bangunin Alan,'' cicitnya menata makanan di meja.
''Kamu sekalian sarapan saja dulu, ngomong ngomong kapan nih kamu serius sama Amel?'' Tanya Bu Yanti tiba tiba.
Faisal memasang wajah kikuk tak tau harus jawab apa, pasalnya selama ini hubungannya datar saja, meskipun itu juga yang di pinta Amel, namun Faisal masih saja tak angkat bicara.
''Om Samuel sudah bilang dan Om Heru lo, kalau kamu nggak gerak cepat, Amel akan di jodohkan dengan anak dari rekan kerjanya. imbuhnya.
Faisal mendongak setelah beberapa saat menunduk, apakah ini waktunya untuk melamar Amel, tapi apa tanggapan keluarga kekasihnya jika tau dirinya itu adalah orang kampung, apa mereka masih mau menerima Faisal menjadi calon menantunya, itulah yang dari dulu di takutkan Faisal jika ingin melangkah maju.
''Tapi tante,_ ucapan Faisal berhenti saat Bu Yanti menghampiri dan mematung di sampingnya.
''Kalau kamu memang yakin sama Amel, Om dan tante yang akan melamar Amel untuk kamu, jangan khawatir, mereka akan terima meskipun kamu hanya orang kampung, Ucap Bu Yanti seperti membaca bahasa kalbu Faisal saat ini.
''Terserah tante saja gi mana baiknya, aku ikut, tapi aku juga ingin jujur pada mereka jati diri keluargaku yang sebenarnya, karena aku nggak mau ini jadi bomerang nantinya.''
''Hebat, sahut Pak Heru yang baru saja keluar dari kamarnya.
''Om bangga sama kamu Sal, tidak salah kami menjadikan kamu bagian dari keluarga ini, kamu dan Dinda adalah putra dan putri terbaik kami,'' menepuk bahu Faisal.
''Meskipun kamu sudah sukses, tetaplah jadi diri sendiri.''
''Siapa yang hebat pa?'' seru Dinda mendekati Faisal dan mencium punggung tangannya di ikuti Alan di belakangnya.
''Abang kamu, Papa bangga sama dia, dan sebentar lagi dia akan menjadi keluarga Samuel, teman Papa.'' ujarnya.
''Bukan hanya papa, Dinda juga bangga sama Abang, dan aku beruntung mempunyai abang seperti bang Faisal, Dinda mendongak dengan tangan yang melingkar di tubuh Faisal.
''Tapi akan ada wanita yang lebih beruntung nantinya, yaitu istri abang, bukan aku,'' ucapnya pelan.
''Kamu juga beruntung punya suami seperti Alan, tetaplah menjadi Dinda yang dulu yang selalu hormat dengan siapapun dan patuh dengan suami kamu.''
Dinda mengangguk meskipun hatinya merasa sakit, ternyata kepedihan yang di alaminya selama itu tiada yang tau selain dirinya dan Tuhan.