NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 : Puing-Puing Kebohongan

Suara hujan yang menghantam jendela kaca rumah aman di pinggiran Madrid terdengar seperti rentetan peluru yang tak kunjung usai. Di dalam kamar yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang kekuningan, aroma antiseptik bercampur dengan bau kayu terbakar dari perapian.

Rafael Montenegro terbaring lemah, wajahnya yang biasanya memancarkan kekuasaan kini tampak tirus dan pucat. Namun, matanya—mata elang itu—masih menatap tajam ke arah Alicia yang sedang mengganti perban di perutnya dengan tangan gemetar namun teliti.

"Kau terlalu menekan lukanya, Alicia," gumam Rafael, suaranya parau.

"Diamlah, Rafael. Jika kau terus bicara, aku akan meminta dokter menyuntikmu agar tidur selama tiga hari," balas Alicia tanpa menatapnya. Matanya merah karena kurang tidur, namun ada api amarah yang masih menyala di sana.

"Kau sudah menjadi perawat yang sangat galak," Rafael mencoba tersenyum, meski rasa sakit menyengat sarafnya. Ia meraih tangan Alicia, menghentikan gerakan wanita itu. "Dengar. Di laci meja itu, ada sebuah flashdisk hitam. Ambilkan untukku."

Alicia mengerutkan kening, namun ia tetap melangkah menuju meja dan mengambil benda tersebut. "Apa ini? Strategi perangmu yang lain?"

"Itu adalah akses ke akun bayangan Montenegro Group yang memegang kendali atas merger pelabuhan di Valencia. Proyek senilai lima ratus juta Euro," bisik Rafael. Ia menatap Alicia dalam-dalam. "Dewan direksi sedang menungguku untuk menandatangani persetujuan akhir malam ini. Jika tidak, proyek itu akan jatuh ke tangan pesaing kita."

Alicia tertegun. "Lalu? Kau ingin aku memanggil pengacaramu?"

"Tidak," Rafael menggeleng lemah. "Aku ingin kau yang memutuskannya. Ambil kendali atas Valencia. Gunakan namaku, atau gunakan namamu sendiri jika perlu. Aku memberikanmu hak suara penuh atas keputusan ini."

Jantung Alicia berdegup kencang. Ini bukan sekadar bisnis. Valencia adalah proyek kesayangan Rafael, permata mahkota dari kerajaan Montenegro. Memberikan kendali itu kepada Alicia adalah sebuah ujian kepercayaan yang luar biasa besar—sebuah penyerahan takhta kecil di tengah badai.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Alicia, suaranya bergetar. "Kau tahu aku bisa saja menyabotase ini untuk menyelamatkan Solera."

"Karena kau adalah satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku saat aku sedang tidak berdaya," jawab Rafael, jemarinya mengelus punggung tangan Alicia. "Dan karena aku ingin kau membuktikan kepada dunia—dan kepada dirimu sendiri—bahwa kau bukan sekadar bayanganku. Kau adalah penguasa, Alicia. Sekarang, pergilah ke ruang kerja. Jalankan perangmu, dan biarkan aku melihat bagaimana ratuku menghancurkan musuh-musuhnya."

Alicia melangkah keluar dari kamar tidur dengan kepala tegak. Rasa lelahnya seolah menguap, digantikan oleh adrenalin yang dingin dan mematikan. Ia masuk ke ruang kerja yang dipenuhi monitor komputer dan sambungan telepon satelit.

Ia tidak langsung mengurusi proyek Valencia. Baginya, ada kanker yang harus diangkat lebih dulu, dia Isabel.

"Aktifkan tim intelijen siber," perintah Alicia melalui telepon terenkripsi. Suaranya kini penuh dengan wibawa yang tak tergoyahkan. "Aku tidak ingin penjelasan logika. Aku ingin setiap kotoran, setiap kebohongan, dan setiap dosa masa lalu Isabel Valero ada di mejaku dalam sepuluh menit."

"Tapi Nyonya, dia sedang sangat populer di media sosial—"

"Aku tidak peduli!" bentak Alicia. "Gali lebih dalam! Cari tahu ke mana perginya uang yayasan pertamanya sepuluh tahun lalu. Cari tahu tentang kematian misterius pamannya yang meninggalkan warisan besar padanya. Aku tahu wanita itu tidak sesuci yang dia tunjukkan. Santa tidak lahir dari rahim pengkhianatan."

Sambil menunggu, Alicia duduk di kursi kulit besar, membuka dokumen Valencia. Dengan beberapa ketukan jari, ia memindahkan aliran dana, memperkuat posisi Montenegro Group, namun secara cerdik mengaitkan jaminan proyek itu dengan aset Solera yang sedang terpuruk. Ia menyelamatkan perusahaan Rafael sekaligus memberikan napas baru bagi perusahaannya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke layarnya. Data intelijen telah tiba.

Mata Alicia membelalak saat membaca dokumen-dokumen rahasia itu. Senyum dingin muncul di bibirnya. "Oh, Isabel... kau benar-benar berani bermain api dengan masa lalu seperti ini?"

Ternyata, citra "Santa" Isabel dibangun di atas tumpukan penipuan asuransi keluarga dan penggelapan dana panti asuhan di luar Spanyol yang sengaja ia tutup-tutupi dengan mengganti identitas resminya bertahun-tahun lalu. Bahkan, video penyanderaan itu? Tim Alicia menemukan rekaman mentah dari kamera tersembunyi lain yang menunjukkan Isabel bertemu dengan Santiago di sebuah motel murah sehari sebelum kejadian, memberikan Santiago botol bensin yang digunakan untuk membakar gedung.

"Dia tidak hanya menghasut," bisik Alicia dengan geram. "Dia adalah otak di balik percobaan pembunuhan ini."

"Siapkan siaran langsung di semua platform media sosial Solera dan Montenegro Group," perintah Alicia. "Bypass semua protokol humas. Kita akan melakukannya secara mentah. Secara nyata."

Sepuluh menit kemudian, jutaan orang yang sedang menghujat Alicia dan Rafael di internet tiba-tiba mendapatkan notifikasi siaran langsung. Di layar ponsel mereka, muncul sosok Alicia Valero. Ia tidak mengenakan riasan tebal. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan yang digulung, latar belakangnya adalah ruang kerja yang gelap.

"Rakyat Madrid, rakyat Spanyol," suara Alicia terdengar tenang namun menusuk. "Kalian telah mendengar banyak cerita tentang 'Santa' kalian. Kalian telah melihat video yang dipotong sedemikian rupa untuk membuat pria yang menyelamatkan nyawaku terlihat seperti penjahat."

Alicia berhenti sejenak, menatap langsung ke kamera dengan pandangan yang seolah bisa menembus jiwa setiap penontonnya.

"Kebahagiaan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan bertahan lama. Isabel Valero bicara tentang kemanusiaan, tapi inilah yang dia lakukan di balik layar."

Satu per satu, dokumen asli, rekaman suara, dan foto-foto pertemuan rahasia Isabel dengan Santiago muncul di layar. Alicia membongkar bagaimana Isabel memanipulasi dana sumbangan publik untuk membayar hutang judi pribadinya dan bagaimana ia merencanakan kebakaran yang nyaris membunuh Alicia.

"Pria yang kalian sebut penjahat, Rafael Montenegro, saat ini sedang bertaruh nyawa karena luka tembak yang ia terima saat melindungi saya dari pria yang dipersenjatai oleh Isabel Valero," suara Alicia mulai bergetar karena emosi. "Siapa sebenarnya monster di sini? Wanita yang membangun rumah sakit, atau wanita yang membakar harapan?"

Dalam hitungan detik, gelombang komentar di media sosial berubah arah. Tagar #SantaPalsu dan #JusticeForRafael mulai meledak. Opini publik yang tadinya seperti ombak yang hendak menenggelamkan Alicia, kini berbalik menghantam Isabel dengan kekuatan tsunami.

Setelah mematikan siaran langsung tersebut, Alicia merasa lututnya lemas. Ia bersandar di meja, napasnya tersengal. Keheningan kembali menyergap ruangan itu, namun kali ini terasa lebih tenang.

Ia kembali ke kamar Rafael. Pria itu ternyata masih terjaga, ia menonton seluruh siaran langsung itu dari tablet di samping tempat tidurnya.

"Kau melakukannya," bisik Rafael. Ada binar kebanggaan di matanya yang sayu. "Kau menghancurkannya tanpa mengeluarkan satu peluru pun."

Alicia berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahi Rafael. Panas tubuh pria itu mulai turun. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Rafael. Sekarang, tugasmu adalah sembuh. Kau tidak punya hak untuk mati setelah aku memberikan proyek Valencia kepada dewan direksimu."

Rafael meraih tangan Alicia, menariknya hingga wajah mereka berdekatan. "Kau menyelamatkan Valencia? Aku pikir kau akan menggunakannya untuk menghancurkan pesaingmu."

"Aku tidak butuh menghancurkan orang lain untuk merasa kuat, Rafael," jawab Alicia, matanya berkaca-kaca. "Aku hanya butuh kau tetap di sini. Jangan pernah berikan aku ujian kepercayaan seperti itu lagi. Itu menjijikkan."

Rafael tertawa kecil, meskipun itu membuatnya meringis kesakitan. "Kau benci saat aku menyerahkan kendali padamu, atau kau takut kau akan menyukainya?"

"Aku takut karena aku menyadarinya, Rafael," bisik Alicia, air mata akhirnya jatuh di pipinya. "Aku menyadari bahwa tanpa instruksimu, tanpa dominasimu, aku merasa kesepian di atas sana. Kita adalah sepasang predator, Rafael. Dan predator butuh pasangannya untuk tetap hidup."

Rafael menarik Alicia ke dalam pelukannya yang terbatas karena luka. Di dalam kamar yang sunyi itu, di bawah pengawasan ketat Alicia, sang penguasa Madrid yang terluka itu akhirnya menemukan ketenangannya. Tidak ada lagi strategi, tidak ada lagi pengkhianatan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang saling terikat oleh darah, api, dan kepercayaan yang baru saja teruji.

...****************...

Sementara itu, di sebuah apartemen murah di pusat kota, Isabel sedang menatap layar televisinya dengan tatapan kosong. Teleponnya tidak berhenti berdering—panggilan dari polisi, dari pengacaranya yang mengundurkan diri, dan dari ribuan pesan ancaman kematian.

"Tidak... ini tidak mungkin... siapa yang melakukan ini padaku!!!" isak Isabel. Ia melihat polisi mulai mengepung gedung apartemennya di bawah sana.

Citra sucinya hancur berkeping-keping. Ia bukan lagi martir; ia adalah buronan. Santiago telah tertangkap, dan kini giliran dia. Kekuasaan yang ia bangun dari kebencian ternyata hanya sebuah istana pasir yang tersapu oleh satu gerakan tangan Alicia Valero.

Isabel jatuh terduduk di lantai, meratapi nasibnya yang kini berakhir di dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Di sisi lain, Alicia menatap ke luar jendela, melihat hujan yang mulai mereda. Ia tahu bahwa meskipun satu musuh telah jatuh, dunia bisnis tetaplah hutan belantara. Namun kali ini, ia tidak lagi merasa takut. Ia menoleh ke arah Rafael yang tertidur tenang di bawah pengawasannya.

"Cepatlah sembuh, Rafael," bisik Alicia. "Karena saat kau bangun nanti, Madrid akan melihat bahwa ratu yang kau ciptakan telah menjadi jauh lebih berbahaya daripada raja yang mereka takuti."

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!