Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAM
Ya ampun... Aku cuma mimpi rupanya. Tapi kenapa peluk tangan Raniya jadi beneran gitu ya? Apa mungkin manggil sayangnya juga beneran tadi?~ Gumam Taufiq bingung. Dia bergidik ngeri membayangkan jika yang ada dalam pikirannya itu adalah kenyataan sebenarnya.
Apa mungkin Raniya marah karena itu?~ Batin Taufiq semakin merasa tidak enak hati.
"Aaahhh..." Taufiq mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Yaa Allah... Sudah jam enam kurang seperempat... Shalat shubuh jama'ahku..." Sungutnya menyesal sambil menatap sedih ke arah jam dinding di hadapannya. Dia bangkit dari sofa, dan segera menuju ke kamar mandi.
*****
Sudah hampir setengah tahun kematian Renima, tapi Taufiq masih saja belum bisa melupakan ibu dari anak-anaknya. Tidak bisakah dia memandangku sebagai istrinya untuk sesaat saja? Bahkan ketika tidur pun, dia masih saja menyebut almarhum istrinya itu.
Dia menyentuhku, memeluk tanganku dalam igauannya... Tapi yang dipanggilnya adalah Renima... Panggilan Sayang...
Yaa Allah... Harusnya aku tidak perlu merasakan perasaan sakit seperti ini. Karena pada dasarnya, aku telah yakin akan menemui ini sebelumnya.
Raniya berusaha mengusap air matanya yang nakal. Hatinya begitu sakit jika mengingat tingkah Taufiq tadi. Panggilan 'sayang' yang terlontar dari mulut Taufiq begitu melukai perasaannya.
Dia tidak tahu saja, bahwa panggilan itu sebenarnya adalah untuk dirinya sendiri.
"Pagi Mommy..." Seruan Samudra menyapanya dari pintu dapur.
Raniya terkejut. Dia dengan cepat menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya berkali-kali dengan cepat.
Raniya memaksakan senyuman termanis di bibirnya itu dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Samudra yang masih berdiri di ambang pintu. "Hai, Sayang... Pagiii..." Sahut Raniya seraya mendekati Samudra.
Raniya berjongkok di hadapan Samudra, dan memegangi bahu bocah itu. "Tampan sekali anak Mommy pagi ini. Udah siap mau pergi belanja perlatan sekolah ya?" Tanya Raniya sambil mengusap lembut pipi chubby Samudra.
"Sudah dong, Mom... Sam mau pergi sama Mommy saja. Mommy mau kan temani Sam?" Ucap Samudra sekaligus memohon dan merayu Raniya.
"Iya, Sayang... Nanti Mommy temeni Samudra ya. Tapi... Setelah pekerjaan Mommy beres semua." Jawab Raniya sembari tersenyum kecil.
"Mommy habis nangis ya?" Terka Samudra dengan wajah mengiba.
Raniya gelagapan. "Ti-tidak kok, Sayang..." Jawabnya berbohong.
"Tapi Sam lihat wajah Mommy sedih. Hidung Mommy juga merah seperti irang habis menangis. Mommy beneran tidak menangis, kan?" Tanya Samudra lagi merasa ragu.
"Iya, Sayang... Beneran... Untuk apa Mommy menangis?" Tekan Raniya agar Samudra percaya. "Sekarang kita sarapan ya... Sebentar lagi Daddy selesai. Kamu panggil Sunny dulu..." Perintah Raniya mengalihkan perhatian Samudra.
"Baik, Mommy..." Sahut Samudra seraya memutar tubuhnya beranjak meninggalkan Raniya.
Pandangan Raniya sayu menatap punggung Samudra yang perlahab menghilang di balik tembok pembatas ruangan itu. "Maafin Mommy ya, Sayang. Mommy tidak bermaksud bohong sama kamu, Nak." Gumam Raniya kembali sendu.
Dia ikut bangkit untuk menyiapkan sarapan kembali.
Sudah hampir pukul tujuh, anak-anak sudah duduk di kursi meja makan menunggu kedatangan Daddy mereka. Sunny terlihat sudah mulai rewel minta makan. Tapi ketika di suapin Raniya sekalipun, dia malaha enggan dan menolaknya.
" Canny Tundu Daddy, Mommy..." Elaknya sembari menggelengkan kepala dan menutup rapat mulutnya.
"Kalau Kak Samudra dan Kak Sunny lapar, nggak apa-apa kok Sayang, kalian makan duluan..." Bujuk Raniya lagi.
Anak-anak tetap menggeleng.
Raniya kewalahan. Taufiq tak juga kunjung datang ke meja makan. Beberapa kali dia mendongakkan kepala untuk melihat kedatangan Taufiq, tapi sia-sia. Batang hidung suaminya itu tak juga tampak. Mau jemput ragu, tidak dijemput kasihan anak-anak.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Raniya memutuskan hendak menjemput Taufiq ke kamar. "Kalian tunggu di sini sebentar ya... Mommy panggil Daddy dulu." Ujar Raniya.
"Baik, Mommy..." Sahut mereka hampir bersamaan.
Tanpa Raniya tahu, sebenarnya Taufiq juga ragu-ragu untuk bertemu dengan Raniya. Setelah kejadian shubuh tadi, Taufiq merasa bersalah sekaligus kecewa. Dia bingung harus bagaimana. Beberapa kali, dia asik mondar-mandir sembari sesekali melirik ke jam dinding di kamar itu.
Sama hal-nya dengan Raniya, Taufiq juga mengumpulkan keberaniannya untuk keluar dari kamar. Waktu yang terus berjalan, membuat dia tidak bisa berlama-lama sembunyi dan lari dari perasaannya saat itu.
Baru saja Taufiq menarik pintu kamar, Raniya juga sudah berada di depan pintu itu hendak membukanya. Serentak, mereka sama-sama terlihat salah tingkah ketika tatapan mereka saling beradu satu sama lain.
"Ka-kamu kenapa lama sekali?" Tanya Raniya gugup.
"Umm... Aku... Aku tadi.. Umm. Tadi ada yang meneleponku..." Sahut Taufiq beralasan. Dia seperti tengah tertangkap basah telah berbuat salah.
"Owh... Kalau sudah selesai, ayo sarapan. Kasihan anak-anak. Mereka sudah menunggumu sedari tadi." Ucap Raniya terdengar ketus untuk menyembunyikan kegugupannya.
Taufiq mengangguk. "Ini, aku sudah selesai. Kamu duluan saja." Ujar Taufiq juga berusaha sesantai mungkin.
Raniya balas mengangguk, dan meninggalkan Taufiq yang bersiap hendak menyusul dirinya.
Setelah mereka sama-sama tidak bisa saling melihat lagi, mereka sama-sama menghembuskan nafas lega.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍