Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN
"Selamat pagi, Nona Bellinda Halley!" Sapa Theo saat Bellinda baru saja tiba di ruangannya.
"Pagi!" Balas Bellinda malas.
Nona direktur itu langsung menghenyakkan dirinya di kursi kerja dan bibirnya masih mencebik.
"Ada apa denganmu? Pagi-pagi sudah memasang wajah kecut begitu?" Tegur Theo yang ikut duduk di kursi di depan meja kerja Bellinda.
"Aku sedang kesal!" Jawab Bellinda ketus.
"Kesal pada Devan?" Tebak Theo sok tahu.
"Kesal pada diriku sendiri!" Sahut Bellinda frustasi.
"Apa yang terjadi? Coba cerita!" Theo terlihat antusias dan penasaran tentu saja.
Bellinda hanya melotot pada asistennya tersebut dan tidak menjawab sepatah katapun.
"Oh, ayolah! Kau bisa menceritakan apapun kepadaku, Bell! Aku bukan tukang gosip yang suka membicarakanmu di belakang," bujuk Theo yang sepertinya benar-benar penasaran.
"Kerjakan saja tugasmu, dan jangan terlalu kepo dengan hidup orang lain!" Titah Bellinda dengan nada geram.
Theo langsung berdecak berulang kali dan bangkit berdiri dengan kasar. Rasa kepo di hatinya semakin meronta-ronta sekarang. Mungkin Theo akan mencari tahu dari Devan saja nanti.
"Oh, ya. Aku lupa." Theo menyodorkan sebuah undangan ke atas meja kerja Bellinda.
"Pesta pembukaan resort baru milik Elliot Group," lanjut Theo memasang senyuman aneh.
"Kenapa kau tersenyum aneh begitu?" Tanya Bellinda curiga.
"Ada bonus tiket menginap di resort itu untukmu dan Devan," Theo menaik turunkan alisnya seolah sedang menggoda Bellinda.
"Apa?!"
Bellinda dengan cepat membuka undangan yang disodorkan oleh Theo tadi dan melihat tiket yang dimaksud Theo.
"Kenapa hanya satu kamar?" Protes Bellinda yang langsung disambut gelak tawa dari Theo.
"Kau dan Devan suami istri, Bell! Jadi kalian akan tidur dalam satu kamar dan sekalian berbulan madu di sebuah pulau terpencil, hanya kalian berdua," Theo mulai berandai-andai dan memaparkan khayalan di otaknya.
Terang saja hal itu langsung membuat Bellinda memutar bola matanya dan mendengus tak percaya.
"Pasti ada tamu yang lain selain aku dan Devan. Jadi tak perlu berlebihan seperti itu!" Dengkus Bellinda sebal.
Theo terkikik.
"Tetap saja, kau dan Devan akan berbulan madu di resort dengan suasana romantis," ujar Theo masih bersikeras.
"Bagaimana kalau kau saja yang pergi bersama Devan? Kau bisa memberikan alasan pada Mr. Josh kalau aku sedang tidak enak badan," usul Bellinda memberikan ide.
Theo tergelak.
"Aku tidak mau!" Jawab Theo dengan nada tegas.
"Lagipula, apa kau mau mengorbankan proyek jutaan dollarmu itu, Nona Halley!" Imbuh Theo lagi masih dengan nada tegas.
Bellinda berdecak berulang kali.
"Aku tidak mengerti, Theo. Kenapa kau bersemangat sekali membuat aku dan Devan menjadi dekat." Bellinda bangkit dari duduknya.
Gadis itu membuang pandangannya ke arah jendela besar di ruang kerja tersebut.
"Padahal kau kan tahu kalau aku dan Devan itu hanya menikah kontrak. Dan Devan sudah punya calon istri," sambung Bellinda lagi tak mengerti.
"Hanya calon istri!" Theo mengibaskan tangannya.
"Dan kau istri sahnya. Kedudukanmu lebih kuat dan kau lebih serasi bersanding dengan Devan," imbuh Theo lagi mengemukakan alasannya.
Bellinda berjalan mendekat ke arah asistennya tersebut.
"Silahkan bermimpi dan berkhayal! Tapi satu hal yang perlu kau tahu, khayalanmu tentang hubunganku dengan Devan itu tidak akan pernah terwujud. Begitu proyek selesai, hubunganku dengan Devan juga selesai!" Tegas Bellinda panjang lebar memaparkan rencananya sejak awal.
"Papa akan marah besar jika tahu kau bercerai dengan Devan, Bell!" Theo masih belum menyerah.
"Aku akan memberikan alasan yang kuat, jadi paman Owen tidak akan marah ataupun kecewa." Sergah Bellinda tak mau kalah.
"Kau akan menjadi janda di usia muda. Apa kau pikir itu akan bagus untuk kariermu ke depan?"
"Siapa yang peduli dengan sebuah status? Lihatlah para pemilik bisnis besar itu, mereka juga sering kawin cerai dan proyek mereka tetap mulus dan lancar." Bellinda bersedekap di depan meja kerjanya.
Theo kehilangan kata-kata. Wanita di depannya ini selalu pandai bersilat lidah saat sedang berdebat.
"Lalu bagaimana jika kedepannya ada sebuah proyek yang mengharuskanmu mempunyai pasangan seperti proyek Mr. Elliot kali ini?" Pertanyaan bagus Theo.
Bellinda terkekeh.
"Maka aku tak perlu lagi mengambilnya," Jawab Bellinda enteng.
"Ambisi besarmu sudah jatuh ke jurang?" Ejek Theo pedas.
Bellinda mendengus kesal.
"Aku hanya tidak mau mengulangi melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya," jawab Bellinda seraya memalingkan wajahnya.
"Jadi maksudmu, menikahi seorang suami bayaran demi sebuah proyek adalah keputusan bodoh?" Theo tergelak.
"Aku senang karena akhirnya otakmu sudah kembali ke tempatnya," sambung Theo masih tergelak.
"Sialan!" Bellinda mendorong bahu Theo dan dengan cepat berjalan menyeberangi ruangannya menuju ke kulkas kecil yang ada di sudut ruangan.
Nona direktur itu mengambil satu botol air mineral dan menenggak isinya hingga hanya tinggal setengah.
"Tapi menurutku, meskipun ini sebuah keputusan bodoh, hubunganmu dengan Devan tetap harus dipertahankan, dan kalian tidak perlu bercerai," tutur Theo mengungkapkan ide di kepalanya.
Bellinda kembali menghampiri Theo dan bersedekap sekaligus mendelik pada pria tersebut.
"Ya, meskipun menurutmu menikahi Devan demi sebuah proyek adalah sebuah keputusan bodoh, tapi aku bersyukur dengan keputusan bodohmu itu," sambung Theo lagi yang sontak membuat Bellinda semakin mendelik ke arahnya.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, aku bersyukur karena kau akhirnya mau menikah dan menjalin hubungan dengan seorang pria setelah 27 tahun memilih sendiri," ujar Theo masih dengan teori anehnya.
Bellinda memutar bola matanya.
"Ini hanya hubungan pura-pura. Berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu?" Sergah Bellinda yang mulai hilang kesabaran.
Ck!
"Meskipun hanya hubungan pura-pura, aku yakin kau sudah mulai menaruh perasaan pada Devan sekarang," cibir Theo sok tahu.
"Itu hanya khayalanmu! Aku tidak punya perasaan apapun pada suami bayaranku itu!" Tegas Bellinda sekali lagi.
"Baiklah, kita lihat beberapa bulan kedepan. Kau tidak akan bisa menutupinya dariku!" Tukas Theo seraya menuding ke arah Bellinda.
Pria itu keluar cepat dari ruangan Bellinda sebelum nona direktur itu kembali menyemburnya dengan omelan pedas. Theo tak berhenti tertawa sendiri.
Setelah kepergian Theo, Bellinda menatap sejenak pada undangan dari Mr. Josh Elliot.
Bellinda membolak-balik undangan itu sebelum memasukkannya ke dalam tas.
Acaranya masih akhir minggu, jadi Bellinda akan membicarakannya dengan Devan nanti.
.
.
.
Yang tanya, kapan bucinnya?
Kapan belah durennya?
Nunggu nanti di resort sekalian aja 😂😂
Kalo udah bucin sama belah duren ujung-ujungnya jadi garing ceritanya dan konflik bakal ketebak juga kek novel yang udah banyak beredar... 😄😄
Cerita tentang Theo Rainer ada juga ya
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini