- Lanjutan dari Novel My Possesive Husband
Awalnya rumah tangga Sean dan Dara berjalan dengan baik. Kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga mereka setelah insiden penyerangan Mansion waktu itu. Namun seketika, semuanya berubah ketika datanglah sosok wanita dari masa lalu Sean dan Garvin. Dia datang dan menjalin hubungan tersembunyi dengan Sean Crishtian yang merupakan Ketua Geng Mafia Crowned Eagle sekaligus suami sah dari Andara Claire Crishtian.
Dara di hadapkan dengan dua pilihan terberat dalam hidupnya, yaitu bertahan dengan rasa sakit atau pergi menjemput kebahagiaan terbaru dengan sahabat Sean.
"Aku memang mencintai mu Sean. Bahkan sangat mencintai mu. Tapi maaf, aku tidak sekuat itu untuk bertahan dengan rasa sakit yang kamu berikan untuk ku. Tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi dengan laki-laki yang mencintai ku." - Andara Claire Crishtian.
"Bodoh. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Dara. Jika kamu melakukan itu, maka bersiaplah, orang disekeliling mu yang akan menerima akibat atas apa yang kamu perbuat. Katakan saja aku gila. Tapi inilah cara ku mempertahankan wanita yang aku cinta." - Sean Crishtian
Jangan lupa klik tombol Love ❤️ agar tidak ketinggalan info Update terbarunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Eva Fullandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. HINGGA AKHIR WAKTU | Part Khusus Elden dan Lexa
Happy Reading 🥳
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Di sana ada Elden, suaminya sedang duduk di atas lantai. Tubuh yang tegap itu bersandar di pinggiran kasur. Kepalanya menunduk. Kedua tangannya yang berotot memegang kepalanya. Lexa menatap nanar kondisi Elden yang sekarang. Terlihat jelas kerapuhan dan keterpurukan yang Elden rasakan.
Perlahan, kedua kakinya melangkah mendekat ke arah Elden. Kedua tangannya memegang snack dan minuman yang baru saja ia ambil dari dapur. "El, aku membawakan beberapa Snack kesukaan kamu." Ucap Lexa sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Elden. Diletakkannya snack dan minuman yang ia bawa di depan Elden.
Bagaikan patung, Elden tidak merespon perkataan istrinya sama sekali. Bahkan tubuh Elden tidak merespon apapun.
"El, apa kamu mau makan sesuatu? Atau mau main sesuatu dengan ku?" Lexa tidak menyerah untuk membujuk suaminya. "Hm?" Dengan sabar Lexa menunggu respon dari Elden. Namun dalam beberapa menit ini tidak kunjung mendapatkan respon sama sekali. Jujur, Lexa juga merasa takut. Merasa khawatir dengan apa yang terjadi. Tapi, melihat kerapuhan Elden, Lexa tidak bisa ikut terpuruk seperti ini. "El, kamu harus makan. Jangan seperti ini." Ujarnya memohon. Digenggamnya kedua tangan Elden dengan lembut. Kedua bola matanya yang teduh menatap dalam wajah lesu Elden. "El, jangan seperti ini. Hiks!" Lexa sudah tidak bisa memendam kesedihannya. Hatinya sudah hancur semakin hancur ketika melihat kondisi pria yang ia cintai seperti ini. Dengan perlahan buliran kristal mulai jatuh membasahi kedua bola matanya yang indah. "Hiks! Hiks!" Isakan lolos dari mulutnya. Dengan kesal Lexa langsung berdiri lalu melempar Snack dan minuman yang ia bawa ke dinding.
Prang!
Bunyi pecahan dicampur bantingan memenuhi penjuru ruangan. "Argghhh!!" Jeritnya frustasi. "Kenapa kau harus muncul lagi Bram! Kenapa?!" Rasa kesal, sedih tercampur menjadi satu. Ingatannya terlempar ke masa lalunya bersama Bram. Kedua tangannya menarik kuat rambut panjangnya. "Hiks! Hiks!" Tangisnya pecah.
Elden yang awalnya terdiam dan hanya menundukkan kepala langsung mendongak dan menatap wajah perempuan yang ia cintai selama ini. "Elden." Panggilan lirih itu membuat hatinya berdesir. Kedua bola matanya terkunci dengan kedua bola mata yang sedang menatapnya lelah. "Apa lebih baik aku pergi saja dari dunia ini El?"
Deg
Bagaikan tersambar petir, Elden langsung dibuat terpaku dengan Lexa. Dunianya seakan berhenti berputar. Waktu seakan berhenti bergerak.
"Aku lelah El. Aku lelah jika terus seperti ini." Lexa menatap wajah itu dengan sendu. Jika boleh jujur, Lexa merasa sudah tidak sanggup untuk menghadapi ini semua. Namun, melihat Elden yang berusaha kuat untuk dirinya dan anak-anaknya, membuat Lexa tegar dan yakin jika semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. Lalu apa yang terjadi sekarang? Orang yang menjadi sandaran hidupnya jatuh dan terpuruk. Memang benar dengan perkataan Chayden, Ayah dari Elden waktu itu.
"Ingat Lexa. Jangan pernah berhubungan dengan orang baru jika masalah mu dengan orang yang lama belum selesai."
"No matter how hard you run from reality. No matter how hard you run from destiny. No matter how hard you look for answers to all the questions, in fact the answer to all of them is only one Lexa, which is yourself. It's just that you don't know yet. But I hope you notice before this goes too far. Sekeras apapun kau berlari dari kenyataan. Sekeras apapun kau berlari dari takdir. Sekeras apapun kau mencari jawaban dari semua pertanyaan, sebenarnya jawaban dari semua itu cuma ada satu Lexa, yaitu dirimu sendiri. Hanya saja kau belum mengetahuinya. Tapi aku harap, kau segera menyadarinya sebelum semua ini melangkah terlalu jauh."
Namun semuanya terlambat. Lexa terlambat untuk menyadari semua ini. Sudah banyak nyawa yang jatuh karena dirinya. Jika saja Lexa memilih menurut dengan perkataan Ayah Elden waktu itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. "Aku lelah El." Lirihnya pelan. Air matanya semakin deras membasahi wajah cantiknya. Tubuh mungilnya bergetar hebat.
Dengan perlahan Elden bangkit dari posisinya. Kedua kakinya melangkah mendekat ke arah istrinya. Kepalanya bersandar di bahu kokoh yang selama ini membuatnya kuat. "Maafkan aku Lexa. Maafkan aku. Bukan kamu yang harus disalahkan. Tapi harusnya aku yang disalahkan. Jika aku tidak bersikeras untuk mendapatkan mu, mungkin sekarang kamu sudah hidup bahagia dengan Bram. Mungkin sekarang kamu sudah menikmati hari tua mu bersama anak dan cucu mu." Ujar Elden. Sungguh, Elden benar-benar merasa menyesal. Kebahagiaan yang dipaksakan memang tidak akan bertahan lama.
(Ngga tau. Aku nangis ngetik part ini 😭)
Lexa menggeleng lemah. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Elden. "Jangan berkata seperti itu El. Jangan. Ini bukan salah kamu. Bukan." Kata Lexa. Sudah cukup Elden yang selalu disalahkan. Sudah cukup kesedihan yang Elden alami.
Elden semakin menenggelamkan wajahnya di bahu yang selalu membuatnya nyaman. Elden menangis dalam diam. Mulutnya terkunci rapat. Tidak ada isakan. Hanya keterdiaman dan kesunyian yang mengisi.
"Kita pasti bisa melewati ini semua El? Tidak akan ada yang memisahkan kita kecuali maut yang memisahkan kita." Bisik Lexa tepat di telinga Elden.
Inilah Lexa. Perempuan yang tangguh, yang selalu memberinya kekuatan. Yang selalu setia padanya. "Aku mencintaimu Lexa. Jangan tinggalkan aku." Lirih Elden.
Sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Iya El. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu."
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
😭😭😭😭