NovelToon NovelToon
Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Contest / CEO / Pembantu / Cinta Seiring Waktu / Istri ideal / Suami ideal / Tamat
Popularitas:767.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aricha Businnes

Anitha Putri, seorang wanita berusia 26 tahun adalah seorang sarjana manajemen bisnis, setelah menikah dia memutuskan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa.

Hidup rumah tangganya yang penuh kemelut mengantarkan dia yang seorang sarjana jadi seorang asiaten rumah tangga.

Dia bertolak ke Jakarta hanya untuk sebagai asisten rumah tangga pada salah satu keluarga berada.

Bagaimanakah perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aricha Businnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menumpang Kasihku

Namun tuan Nan tidak mentertawakan Anitha seperti ucapannya. "Ada apa? Apa kau mimpi buruk?" tanya tuan Nan serius.

"Bagaimana bisa aku mimpi buruk Tuan, jika sepicing mata aku belum ada tidur."

"Oh," kata tuan Nan kehabisan kata-kata.

"Jadi, bolehkan saya menumpang di kamar Tuan?" tanya Anitha serius.

Tuan Nan tahu Anitha lelah pikiran dan fisik setelah kejadian tadi. Tuan Nan tidak berniat mengganggu Anitha.

"Tidurlah, besok kau harus bangun pagi. Selain kau ikut belajar mengaudit laporan keuangan perusahaan kau juga harus belajar jadi sekretaris untuk proyek pembangunan gedung yang akan kita tanda-tangani dengan perusahaan kontruksi tadi."

Tuan Nan memang berniat melatih sedikit demi sedikit Anitha untuk mengembangkan sayapnya. Tuan Nan juga melihat reaksi Anitha saat dia membicarakan perusahaan kontruksi yang melibatkan mantan suami Anitha. Namun wajah datar Anitha yang hanya bisa di nikmati tuan Nan.

Anitha terus berjalan di sofa bad yang tersedia di kamar hotel tersebut. Tuan Nan ingin tersenyum melihat sikap Anitha yang acuh sambil menenteng bantal dari kamarnya. Pemandangan ini tidak pernah dia lihat pada istrinya. Tepatnya mantan istrinya.

"Kau mau tidur di sana?" Tuan Nan menunjuk sofa.

"Iya, saya tahu diri hanya menumpang di kamarmu Tuan," ucap Anitha tersenyum.

"Apa kau juga tak ingin menumpang kasihku?" tanya tuan Nan bercanda.

"Tidak ingin Tuan, saya takut terusir seperti dulu," Anitha menjawab serius gurauan tuan Nansen. Nadanya sedikit menjadi bersedih. Namun tuan Nan tidak menyesalkan pertanyaan dan jawaban yang keluar. Tuan Nan ingin mengorek habis isi hati Anitha. Walau secara bertahap.

"Kamu tidur di ranjang saja, biar saya yang di sana," ucap tuan Nan. Anitha tetap menuju sofa.

"Saya di sini saja Tuan, saya sudah terbiasa hidup biasa."

Tuan Nan tak ingin berdebat. Dia yakin tidak akan menang. " Baiklah terserah saja," jawab tuan Nan.

Anitha mengatur bantalnya. Dia lupa membawa selimutnya. Anitha tak mungkin menyusahkan tuannya. Anitha akhirnya meringkuk dan mengambil satu bantal untuk menutup bagian kaki. Baginya itu cukup ampuh mengurangi rasa dingin.

Anitha melipat tangan di dada dengan posisi masih meringkuk. Dia membaca doa dan memejamkan mata yang memang sudah terasa berat. Tuan Nan hanya memperhatikan kelakuan Anitha. "Dasar wanita keras kepala," batin tuan Nan.

Tuan Nan memang sudah berbaring dan memejamkan mata. Namun dia belum tertidur. Setengah jam setelah itu tuan Nan membuka matanya. Dia bergerak turun dari ranjang. Tuan Nan melangkah dengan perlahan menuju Anitha.

Deru napas Anitha sudah teratur dan pelan. Tuan Nan yakin Anitha sudah terlelap dalam tidur. Tuan Nan tidak bisa membiarkan Anitha tidur meringkuk seperti itu. Dia berniat memindahkan Anitha.

Tuan Nan mengangkat Anitha, Anitha sedikit merespon. Namun tuan Nan membeku sesaat. Anitha menyusupkan kepala ke dada tuan Nan. Seolah dia mencari kenyamanan di sana. Akan tetapi bukan itu yang membuat tuan Nan membeku. Bukan karena hasrat yang bangkit.

"Hmmm uda, terima kasih. Kau sudah mau memelukku dengan sayang," ucap Anitha pelan namun terdengar nyaring di telinga tuan Nan.

Masih terpaku sambil masih tetap membopong Anitha dalam pelukannya tanpa ada niat meneruskan melangkah ke tempat tidur. Tuan Nan menahan emosi yang datang karena rasa cemburu. Namun seketika rasa itu hilang saat dia merasakan piyamanya terkena setitik air yang terasa hangat.

Tuan Nan yang tadinya sedang mengatur emosi yang membuncah, menundukkan kepala dan melihat air mata Anitha mengalir perlahan dari sudut mata yang terpejam. Tuan Nan jadi iba dan dia mengerti apa maksud perkataan Anitha barusan.

Tuan Nan akhirnya melangkah dan meletakan Anitha dengan perlahan dan lembut. Anitha tidak merespon apapun. Tuan Nan menyelimuti Anitha. Dia menunduk dan mencium dahi Anitha. "Tidurlah tanpa beban apapun. Aku akan terus ada untukmu walau mungkin kau tak bisa mencintaiku," bisiknya.

Lama tuan Nan memandang Anitha yang terlelap. Tuan Nan mengusap pelan sisa air mata Anitha. Dia melangkah ke sofa dan berbaring sambil menengadah ke langit-langit kamar hotel. Entah apa yang dipikirkannya. Akhirnya tanpa tuan Nan sadari dia menyusul Anitha di alam mimpi.

Tuan Nan tidurnya sangat tipis. Entah sudah berapa lama dia terlelap, dia mendengar igauan Anitha. Tuan mendekati ranjang.

"Tidak ... jangaaan. Sakiiit uda, sakiiit," rintih Anitha dalam igauannya. Tuan Nan mengernyitkan dahi sambil menelisik wajah Anitha. Anitha beberapa kali mengulang kalimat itu. Dia gelisah di dalam selimutnya.

"Ampuun, jangan lakukan padaku. Hentikan, sakiit uda." Anitha masih saja mengigau. Tuan Nan merasa sakit di relung hatinya melihat Anitha mengigau seakan penuh siksa. Tangannya terkepal erat menahan amarah yang hadir dalam hatinya. Sejenak dia sempat menyesal akan tindakan yang membawa Sahrul hadir kembali didekat Anitha.

Tuan Nan kembali ke sofa. "Awas kau Sahrul, akan aku balas penderitaan yang kau torehkan pada Anitha. Akan aku cari tahu semua masa lalunya bersama kau!!" geram hati tuan Nan.

Tuan Nan baru bisa tertidur ketika hampir dini hari. Dia terbangun jam 6 pagi dan masih melihat Anitha meringkuk dalam selimut. Tuan Nan pergi menyegarkan diri dan membuat kopi hitam panas yang ada di kamar.

Dia duduk di balkon kamar. Tuan Nan tidak membangunkan Anitha. Jika sebagian CEO besar mengatakan 'time is money', tidak dengan tuan Nan. 'precious time when healthy'. Baginya kesehatan jauh lebih penting dari pada mencari kekayaan dengan mengorbankan diri sendiri.

Setelah dia menyesap seteguk kopi buatan sendiri. Tuan Nan menelepon Jeffy. "Kau sudah bangun Jeff?"

"Sudah, ada apa?"

"Aku tunggu Anitha bangun, setelah itu ke kantor. Helmi minta duluan ke kantor Jeff. Biar dia yang mengurus apa yang harus diurusnya pagi ini. Kau jangan terlihat mereka. Cukup di belakang layar saja."

"Ok Nan, aku paham."

Jeffy paham apa yang dimaksud oleh tuan Nan. Dia cukup jadi mata-mata dalam memantau pergerakan Sahrul. Jeffy juga paham bukan karena Anitha tuan Nan melonggarkan waktunya. Tuan Nan sendiri jika merasa sedikit lelah dia akan merehatkan dirinya. Tuan Nan tidak terlalu memaksakan diri mencari kekayaan. Namun nasib baik berpihak padanya. Kekayaan selalu ngotot ingin dekat padanya.

"Aku perlu ke kamarmu membuatkan secangkir kopi?" tanya Jeffy tulus. Jeffy menangkap sedikit terselip nada letih tuan Nan.

"Tak perlu Jeff, aku sudah membuat sendiri. Ada Anitha yang masih tertidur di kamarku," kata tuan Nan menjelaskan pada Jeffy.

"Ada apa?" tanya Jeffy tanpa rasa curiga, namun lebih ingin tahu apa yang terjadi. Jeffy sangat mengerti tuan Nan tidak akan mau bersenang-senang tanpa ikatan pernikahan, walau itu dengan wanita yang di cintanya sekalipun.

"Dia meneleponku karena takut. Nanti aku cerita apa yang terjadi. Sekarang tolong pesankan aku sarapan dan antar ke kamarku. Setelah itu duluan ke kantor cabang dan perhatikan apa yang harus kau cari tahu Jeff," ucap tuan Nan serius.

"Ok Nan, aku tutup telepon. Aku akan pesankan kau sarapan."

Anitha yang kelelahan selalu terlambat bangun. Itu bukan hanya sekarang. Dari dulu juga begitu. Tubuhnya tidak sekuat semangatnya. Anitha kecil dulu sering jatuh sakit.

Anitha tersentak ketika matanya menangkap seberkas cahaya. Bukan dari lampu kamar, tapi dari secercah cahaya matahari pagi. Anitha terduduk dan melihat tuan Nan berselonjor di sofa.

"Tuan ...." kata Anitha masih dengan selimut yang menempel di pangkuan. Terbersit sedikit perasaan menyesal.

Tuan Nan membuka matanya. Tuan Nan hanya tidur-tidur ayam menunggu Anitha terjaga. "Kau sudah bangun?"

"Maaf Tuan, badanku terasa sangat letih." Anitha mulai sedikit terbuka sejak tuan Nan tidak menyerang kelemahannya. Tuan Nan jelas sangat bahagia melihat Anitha mulai sedikit mau jujur dengan apa yang dirasanya.

"Saya paham, ke sinilah." Tuan Nan memanggil Anitha.

"Sebentar tuan, aku cuci muka dulu." Anitha turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Anitha mencuci mukanya dan berkumur-kumur saja dulu. Anitha mengambil satu handuk yang belum terpakai. Dia mengelap wajahnya.

"Ada apa Tuan?"

"Sarapan dulu, lalu minum multivitamin yang sudah dicarikan Jeffy. Nanti baru kamu bersiap dan kita ke kantor."

"Maaf aku membuat Tuan terlambat."

"Tidak usah repot untuk merasa bersalah. Saya juga sedikit lelah. Maka saya menunda ke kantor dan tidak membangunkan."

Anitha menyantap sarapannya dan tuan Nan menelisik raut wajah Anitha. Anitha terlihat tidak merasa ada yang terjadi. Itu artinya dia tidak menyadari sudah mengigau. Satu-satunya yang disadarinya dia sudah berpindah ke ranjang.

"Tuan memindahkan saya?" tanya Anitha tanpa ada maksud menyudutkan tuannya.

"Iya, saya tak sampai hati melihat kau meringkuk di sofa. Saya pria, fisik saya lebih kuat."

"Terima kasih," kata Anitha dan dibalas tuan Nan dengan anggukan kepala.

***

1
Kaneti Neng
maaf ya ceritanya buat aku bosan sih awal awal seru tapi makin kesini kurang Manarik ...maaf sekali ini hanya pendapat aku
Penyalur Tenaga Kerja
Luar biasa
Penyalur Tenaga Kerja
Biasa
Adin Da
crtny mnglir enk mdh d selmi
Adin Da
Luar biasa
Adin Da
ini bru nmny tmn
𝐀⃝🥀𒈒⃟ʟʙᴄ🦆͜͡Liez🅟ᴳ᯳ᷢ
Suka
Lestari Upin
kuserahkan seluruh hatiku padamuh tuan nan ..erh kak author hahah
Aricha: Hahahahah 🙏🥰
total 1 replies
Lestari Upin
MasyaAllah ngekek AQ kak😃😆😆
Lestari Upin
nah gitu ceritanya das Des sat set ... kwereeeen bgt 👍👍👍
Aricha: 🤭 tengkiyu say 🥰🥰🙏
total 1 replies
Lestari Upin
xixi 👍👍👍👍
Lestari Upin
asyik cerita nya ...🥰
Aricha: 🙏🙏🥰🥰🥰
total 1 replies
Farhah Ali basebe
CERITA MU BAGUS THOR , PERCAYA DIRILAH DWNGAN KARYAMU, SEMOGA MAKIN BANYAK YG MEMBACA KARYAMU, SEMANGAT MENULIS YAH THOR KARYA MU SEPERTI roller coaster BIKIN JANTUNG SAYA MAU COPOT DAN GAK BISA DI TEBAK KERENNNNNN👍👍👍
Aricha: Aamiin semoga. Makasihhhh Kak 😍🥰🥰
total 1 replies
Farhah Ali basebe
jangan jangan suami Anitha yg jadi selingkuhan Ibu Bos nya????
Farhah Ali basebe
😭😭kenapa baru mulai udah bikin Nangis😭😭
Aricha: Karena menjadi manis itu harus nangis dulu kita 🤣🙏🥰🥰
total 1 replies
Fatmawatiiska Fatmawatiiska
knapa ya, sebel dg tokoh anita ini🤣🤣🤣
Aricha: iya kak hajar dia, sok-sok kali mentang dijadikan tokoh wanita kuat ma author nya 🤭🤣🙏
total 1 replies
Nina Hani Anissa
bagus ceritanya
Aricha: Makasih banyak kak atas dukungannya 🥰🥰🙏
total 1 replies
Yati Yati
awas anita klo udah sukses si jeng buang ke laut
Aricha: Hahaa, bagaimana kalau kita bawa jalan jalan melihat laut aja kak 🤭🤭
total 1 replies
Nana Bati
sehat selalu thor.... tetap semangat
Aricha: Aamiin, selalu sehat selalu juga ya and terimakasih 🥰
total 1 replies
Nana Bati
semangat thor.... lanjut deh semoga endingnya membahagiakan 👍👍👍
Aricha: Makasihhhh yaaa atas dukungannya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!