Warning alert 21+
Di sini juga banyak kata-kata kasar,,,
Perjodohan berujung luka dapatkah Ega yang sudah berhasil bercerai dengan suaminya menemukan kisah cintanya.
Sebagai pemanis aku tambahkan cerita Chris dan Taka yang ingin mendapatkan cinta sesungguhnya.
Chris mencintai Ega yang ia kira menjalin hubungan dengan Galih.
Taka mencintai Kania yang ia kira bertunangan dengan Poldi.
Bagaimana kisah mereka.
Simak ya 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViRuz04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Pertama Calon Kedua 32
"Tambang sialan. Ah... perih sekali," meniup pergelangan tangannya.
Jessy menghembus napas sesaat dan terburu membuka tali kaki. Ia berdiri namun tubuh nya limbung. Ternyata efek obat bius masih ada, membuat kepala Jessy terasa sangat berat. Sama seperti kurang darah, selepas berjongkok dan berdiri. Tubuh nya kembali bergetar.
"Tidak, aku harus kuat." Mencoba lagi berdiri, merambat perlahan pada dinding.
Satu titik menjadi pusat perhatian nya. Berjalan tertatih-tatih, sesekali memegangi kepala yang berdenyut. Ia merutuk berjalan merambat seperti bayi baru belajar. Jessy semakin berdecak sebal saat kekuatan nya untuk melangkah tidak lebih dari seekor siput. Tubuh nya saat ini tidak bisa diajak kerja sama dengan baik.
"Obat bius macam apa yang mereka pakai. Sialan, kalau lama seperti ini aku bisa tertangkap lagi." Berbisik sendiri.
Sampai depan lemari besar. Kepala nya mendongak menatap plafon berlubang di atas sana. Dua jari kurus nya mengetuk bibir. Berpikir, bagaimana cara naik ke atas sana? Iris mata Jessy kembali mengedar. Melihat benda sekitar untuk ia manfaatkan.
Jessy yakin ini masih di rumah yang pintunya ia ketuk sore tadi. Mengumpulkan tenaga dan menajamkan penglihatan. Ruang ini cukup rapi untuk di jadi tempat sekap. Tidak ada sarang laba-laba atau lantai kotor. Ini lebih cocok di sebut kamar belum terpakai.
Yah, memang lebih sempit tapi bisa jadi ini kamar pembantu. Kepala Jessy menggeleng. Kenapa harus memikirkan hal tidak penting tentang ruang ini? Tangannya membuka lemari kecil di sana, kosong—semua sama seperti sudah di atur dengan baik. Badannya berbalik, menarik napas pendek. Mencari lagi apa yang bisa ia gunakan untuk naik ke atas sana.
"Ayo cepat berpikir Jessy!" mengetuk dahi dengan telunjuk, senyum nya terbit, ide cemerlang melintas. "Hah, kenapa tidak dari tadi!" mencebik kesal. Menumpuk kursi pada sisi lemari. Tangan kurus mencapai ujung lemari besar. Kaki satu sudah berhasil naik.
Tubuh nya menegang satu kaki yang masih berada di bawah di tarik seseorang. Ia menoleh ragu, mendapati orang pingsan tadi sudah siuman. Sejak kapan?.
"Mau kabur sendiri, bukan ide cerdas nona."
Jessy gelisah menggoyangkan kaki minta di lepas. "Lepas sialan! aku harus keluar dari sini." Berseru dengan suara hampir berbisik.
"Tidak akan, jika kau mau kabur sendiri. Aku tidak sudi melepas mu, bagaimana?"
Jessy memutar mata, "B*d*h! Lepas dan cepat susul aku!" Walau kesusahan karena pakai baju ketat, tapi ia berhasil mendorong Manhole plafon di sana. Jessy masuk tidak lama kepalanya terlihat. Geram dengan satu orang tertinggal di sana.
"Oh b*tch, kau lama sekali."
Dea mendelik, tidak terima ucapan Jessy. "Kau tidak lihat, kaki ku pendek sedikit susah." Jessy memutar mata, menunggu Dea sampai akhirnya wanita itu berhasil naik.
Belum juga Dea masuk. Suara derap sepatu dan vocal Baritone dari luar. Memacu reaksi liar jantung Jessy. Dea mematung di tempat Ia merasa mati.
"Cepat!" bentak Jessy berbisik.
Dea segera masuk ke dalam plafon. Menutup rapi dan pergi dengan merangkak penuh hati-hati.
Pintu terbuka. Chris menekuk alis, "Di mana mereka?" desis nya.
Semua orang terkejut. Dua racun berhasil kabur. Namun tidak lama. Tiga detik berselang Chris tersenyum licik. Berbisik pada Nando dan Singgih.
Singgih dan Nando mengangguk, berlari ke bawah. Chris dan lain nya hanya berjalan santai.
Bodoh.
🌟🌟🌟
Jessy dan Dea terus merangkak. Udara begitu padat dalam plafon membuat mereka harus mengatur napas. Ada cahaya di depan mereka. Terlihat mirip seperti jaring. Ah, lubang ventilasi! Senyum mereka mengembang senang.
Kembali merangkak hati-hati. Jessy sedikit kesulitan mengingat ia pakai gaun sebatas lutut dan ketat. Kaki wanita itu sesekali terbentur dengan baja ringan saat kain nya harus terinjak tumit nya sendiri. Mengeluh dan mengumpat terus meluncur dari bibirnya.
Jessy melihat jam di tangan, ini sudah lebih dari dua jam lebih hampir tiga jam. Mereka masih saja terjebak, tidak menemukan jalan untuk keluar.
"Rumah sialan, aku kira ini akan mudah. Badan ku kotor, di sini juga bau. Ah, sialan ke**rat—"
Dea memutar mata. Telinga nya hampir muntah darah mendengar umpatan kotor dari Jessy. "Hey, biawak rawa! Jangan terus mengumpat. Telinga ku bersih, dan kau baru saja menjejal setumpuk kotoran." Menatap datar Jessy
Jessy melotot tidak suka. "Mungkin saja telinga mu itu memang sudah banyak serumen. Jangan membuat ku semakin ingin mengumpat keras." Bela Jessy geram. Dea sama saja menuduh nya bersuara bagai kaleng rusak.
Dea kesal, dia ingin sekali membalas ucapan biawak rawa tadi. Tapi percuma mereka hanya akan membuang waktu. Ia melangkah lebih dulu, meninggalkan Jessy jauh di belakang. Sampai ventilasi ia mengintip. Dapur. Ia mendesah.
"Kau kenapa?" Jessy bertanya dengan raut wajah bingung.
"Percuma ini pakai baut, hanya bisa di buka dari luar." Jawab Dea santai.
"Ini batang bautnya terlihat, tinggal putar beda arah saja," Dea melongo mendengar ide konyol Jessy.
"Putar dengkul mu, kau kira mudah. Putar saja sendiri sampai lebaran badak, tidak akan terbuka." Dea menyembur pedas kesal dengan wanita itu.
Jessy hanya merengut tidak membantah, merangkak lagi mengikuti Dea sampai bertemu Manhole lagi. Dea membuka pelan sangat hati-hati. Mengintip ke dalam sepertinya aman. Ruang kantor itu yang ada di benak Dea, selagi mengintip menemukan meja dan kursi besar. Dan ada lemari buku besar.
Alisnya hampir menyatu tajam, melirik sadis pada Jessy yang membuang wajah. Pura-pura tidak terjadi sesuatu. "Sialan, berapa lama kau tidak buang air?" umpat Dea mengibas dan menutup hidung ingin muntah bau nya sangat busuk.
Jessy meringis, "Memang bau nya seperti ini, setiap kali aku membuang nya, he he." Dua jari itu mengacung.
"Bau nya sama seperti mu, busuk!" mimik muka ingin muntah.
Jessy mencibir, "Kau lebih busuk, merebut suami orang. Kalau aku kekasih masih lebih baik, setidaknya mereka belum terikat janji suci." Sembur Jessy sengit.
"Perusak tetap saja perusak." Sungut Dea.
"Ya, itu terdengar cocok untuk mu." Jessy sama sekali tidak mau kalah. Jessy bingung melihat Dea membuka sepatu. "Kenapa di buka?"
"Aku tidak mau mengambil risiko, heels ini bisa merusak momen lari nanti."
Jessy mengangguk, melakukan hal yang sama. Ia meringis heels nya bahkan lebih tinggi dari Dea.
Mereka sudah siap turun. Tapi Dea ragu, "Jarak ini terlalu jauh. Sebelum lari, ku pastikan kaki sudah patah lebih dulu." Meringis melihat jarak tinggi.
Jessy mendesah lelah. "Kau benar." Mereka patah semangat untuk kabur.
Putus asa menguasai gejolak mereka. Saling menarik napas dalam, iris mereka melihat isi plafon. "Kita selamat," ucap Jessy kembali semangat menunjuk arah tali di sebelah kardus.
Jessy mengambil tali itu mengikat kencang pada baja ringan. Senyum mereka kembali merekah senang. Jessy lebih dulu turun, tali itu tidak begitu panjang, tapi cukup membantu. Mereka hanya perlu lompat sedikit tidak harus sampai meringis akibat patah atau terkilir seperti bayangan mereka sebelumnya.
Sampai di bawah, tubuh mereka sudah penuh debu dan kotor. Mereka saling menunjuk wajah dengan tertawa geli.
"Sudah ayo,"Jessy melangkah ke arah pintu namun di cekal Dea.
"Kau benar-benar bodoh. Kalau dari pintu yang ada kita terjebak. Lewat jendela saja, seperti di film-film mafia."
Jessy menggeleng lemah, "Cih, dasar penuh drama."
Dea menggeleng keras. Terserah Jessy mau bilang apa. Nyata nya wanita itu memang bodoh akut. Film mafia, di bilang drama. Melepas kunci jendela pelan mereka segera lompat. Jantung mereka terpacu bersamaan senyum lega bisa lolos dari sana. Masuk ke halaman luas ada pohon jambu besar di sana.
Jessy dan Dea berlari dan bersembunyi di balik pohon jambu besar. Memantau keadaan sekira nya aman. Dea mengibas tangan ke depan memberi kode jalan, Jessy mengekori dengan baik.
Berjalan endap-endap bersembunyi lagi pada tembok besar sebelum Jessy meraih tangan Dea. Memberi kode untuk melihat ke arah belakang wanita itu. Dea terus menepis tangan Jessy. Sampai Dea kesal dan berbalik, kelopak mata nya melebar. Mendapati satu kedip mata nakal dari pria yang ia ajak kerja sama, menodong pistol ke arah kepala Jessy juga dirinya bersamaan.
"Hello, ladies." Satu sapaan dari Baritone di balik punggung Dea, membuat kaki mereka lemas serta kerja jantung kelewat normal.
🍂🍂🍂
Chris duduk di kursi kayu dengan menyilang kaki, dan tangan terlipat depan dada. Pria itu mendengus keji kala dua medusa di hadapan nya, gelisah menunduk meminta maaf juga ingin di lepaskan.
Alis Chris terangkat menatap bingung serta geli pada dua medusa. Pasalnya Chris belum mengeluarkan suara atau satu kata. Mereka sudah lebih dulu merasa ter–intimidasi, meronta, gelisah dan bergetar minta di lepas.
Satu tawa bengis mengudara. Mampu menyengat bulu kuduk kedua medusa meremang. Mereka sama-sama meneguk saliva payah, aksi saling pandang bergidik kaku tidak terelak. Tubuh mereka semakin tegang. Aura membunuh di rasakan untuk ke sekian kalinya.
Tiga jam mereka terjebak di plafon besar. Napas sesak, berdebat, juga rela badan mereka kotor. Hanya untuk mencari jalan keluar untuk selamat dan sekarang berakhir dengan sekarat. Oh, miris! Tapi perjuangan kedua medusa itu cukup di beri dua jempol mengarah ke bawah.
Chris memasang wajah mode serius. Menatap penuh marah dan benci. "Kalian—"
Jessy menggeleng memutus ucapan Chris. "Bukan aku!" bela nya pada diri sendiri, "Dia," mengendik dagu pada Dea, "Wanita gila itu yang punya ide menabrak Ega. Aku tidak ikut campur, sudah ku katakan padanya kalau itu sangat berbahaya. Tapi wanita psikopat itu tidak bisa terima saran dari ku." Menuduh Dea dengan suara bergetar takut. Berusaha membela diri dengan argumen dadakan dalam otak kecilnya.
Dea mendengus kasar. Menggeleng kepala marah ternyata si j*l*ng ini tidak lebih dari seorang pengecut. "Wah, hebat sekali j*l*ng ini! Apa kau pikir sedang casting drama?" Dea melecut sinis.
Dea menarik napas jengah, sebelum kembali bersuara, "Jangan jadi pengecut dan munafik. Hey, b*tch! Kau sendiri bilang 'Oh, terserah mau Ega mati atau cacat. Aku tidak peduli, Chris milik ku!', tangan ku jadi gatal ingin membunuh mu." Mendesis sinis.
"Aa..." Chris membuka suara, "Terdengar menarik, lepas ikatan mereka." Singgih dan Nando saling lirik cemas, tanpa membantah melepas simpul ketat di tangan dua medusa.
Satu detik berikutnya tubuh mereka membeku. Chris melempar dua buah pistol ke arah mereka. "Gunakan itu, salah satu dari pistol itu terisi amunisi. Kita lihat siapa yang beruntung."
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
Tbc
CEWEK CULUN BERUBAH MENJADI CEWEK CANTIK.
MOHON DUKUNGANNYA YA, DENGAN CARA VOTE, LIKE DAN BERI TANGGAPAN YANG MENARIK YA.
SALAM DARI ANGGOTA VIE_GV
THANKS
tapi sudah sangat lengkap dan menyakitkan
tapi sungguh rumit hati ini
dan kemudian.......keadaan yang berubah
cibiran, kata-kata syirik di sekitar, begitulah manusia
andai benar Criss suka kepada Ega, apa nya yang salah 🤔🤔
Jangan lupa baca episode baru CIC
Salam dari Calon Istri Ceo☺💖
sebelum tidur😴 jangan lupa nganu dulu,
alias baca "NGANU" chat story.
nganu banget sih, asli🤰🏻
Jangan lupa baca episode baru CIC
Salam dari Calon Istri Ceo☺💖
Jangan lupa baca episode baru CIC
Salam dari Calon Istri Ceo☺💖