Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung Jawab
Suasana menjadi dingin, Olivia dan Rey dapat merasakan tatapan menusuk seperti es batu yang runcing seolah akan menyergap mereka berdua. Keduanya saling berpandangan lalu menelan salivanya bersama.
"Ayah ibu ini tidak seperti yang kalian bayangkan" ucap Rey memberi pernyataan terlebih dahulu, Olivia mengangguk cepat.
"Iya tante dan Om, Olivia juga akan menjelaskan"
Ibu Rey nampak mengelus lengan suaminya, mencoba menenangkan hatinya.
"Bersihkan diri kalian, ayah akan menunggu kalian berdua di bawah" ujarnya dengan raut wajah datar, ibu tak mengatakan sepatah kata pun dan hanya mengekor pada ayah yang pergi.
Olivia dan Rey menarik napas lalu terjatuh lesu.
"Bagaimana ini cebol?" tanya Olivia gusar, tak bisa membayangkan kejadian apa yang akan terjadi di lantai bawah nanti. Ia nampak menggigit jari telunjuknya resah.
"Mau bagaimana lagi, kita ceritakan saja apa adanya toh paling kita hanya di nikahkan. Bukankah memang hal itu akan segera terjadi" jawab Rey enteng.
"Iisshhh aku tidak mau orang tua kita berpikir yang bukan-bukan! aku takut mereka akan kecewa, tapi Rey semalam kita memang tidak berbuat apa-apa kan?" tanya Olivia lagi mencoba mengingat-ngingat yang telah terjadi.
"Masa kau lupa?"
"Iihh kau jangan membuat keadaan semakin runyam!" hardiknya dengan mata yang melotot.
"Lagi pula untuk apa kau menanyakan hal itu, sudah jelas kan kita hanya tidur"
"Kita harus kompak ya menjawabnya, katakan seperti hal yang tadi kau katakan" ujar Olivia.
"Ahhh ya sudahlah cepat bersihkan wajahmu, kita harus menghadiri sebuah persidangan penting" Rey membangunkan dirinya terlebih dahulu.
"Sidang memalukan! aku seperti sudah berbuat dosa besar!"
"Memang dosa! Hahaha" Rey malah tergelak tawa, entah kenapa dia jadi menganggap santai semua ini.
"Heemm, aku ke kamar mandi duluan! ingat tidak usah mengikutiku!"
"Siapa juga yang mau mengikutimu!" Olivia melangkahkan kakinya menuju tempat pembersihan, ia menatap pantulan dirinya di sebuah cermin berukuran besar.
"Yah memang benar kata Rey mau bagaimana lagi, kami pasti akan segera di nikahkan tapi aku cuma tidak ingin nama baik kami berdua di anggap jelek oleh calon mertua masing-masing, setidaknya aku dan Rey harus membela diri" Olivia menganggukan kepalanya mantap kemudian memutar keran air dan membasuh wajahnya.
"Rey kita harus menghadapi ini bersama!" ucapnya menggebu-gebu setelah keluar dari kamar mandi.
"Cih! kau ini seperti akan berperang saja"
"Ayo kita turun, aku ingin segalanya cepat selesai!" Olivia memegang tangan Rey kuat dan menariknya.
"Eh aku belum mencuci muka!"
"Wajahmu tetap sama meski sudah di cuci!" Olivia menyeret calon suami kecilnya itu dan membawanya menemui kedua orangtua Rey yang sudah terduduk di sebuah ruang keluarga.
"Duduklah di sini Rey dan Olivia" ucap Cindy menunjuk dua kursi yang telah di atur untuk mereka, kedua pasangan itu saling berhadapan, sepertinya keadaan ini nampak telah di setting.
"Jadi sudah berapa bulan?" tanya Alex kemudian setelah keduanya terlihat siap untuk di tanyai.
"Apanya yah yang sudah berapa bulan?" tanya Rey tak mengerti.
"Tentu saja janin calon anak kalian" Olivia dan Rey menggeleng kompak saling bersitatap.
"Tidak ayah!"
"Aku tidak hamil om tante" kilah keduanya.
"Oh jadi belum hamil, lalu kapan kalian berencana akan memberi kami momongan?"
"Pertanyaan apa itu ayah" Rey memalingkan wajahnya malas sedangkan Olivia hanya bisa memainkan ujung bajunya saja.
Cindy nampak menyenggol lengan suaminya menggunakan siku tangannya meluruskan kembali permasalahannya.
"Olivia dan Rey apa kalian tahu dampak yang kalian perbuat?" tanya ibu Rey bijak, kedua anak yang di tanyainya mengangguk.
"Tapi aku dan Rey tidak. ."
"Alex maafkan kenakalan putriku" suara Danu tiba-tiba, membuat Olivia tak dapat meneruskan kata-katanya. Ayah Olivia langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya, raut wajahnya nampak sedih, Danu tak datang sendirian, dia datang bersama Laras istrinya.
"Alex aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah putriku lakukan pada Rey anakmu, aku akan menikahkan mereka berdua secepatnya. Aku tidak akan membuat Olivia lari dari tanggung jawab, aku akan memastikannya sendiri dia akan merawat putramu dengan baik" ucapnya dengan suara yang sedikit sesegukan, Olivia tak habis pikir dengan apa yang sudah di ucapkan ayahnya, kenapa sepertinya Olivia yang tersalahkan, seolah-olah dirinya telah menodai Rey, ini situasi gila. Rey yang mendengarkan malah terkikik, menurutnya ini kejadian lucu.
Olivia sempat melirik tajam ke arah Rey, dengan refleks dia menahan tawanya saat itu juga.
"Ayah aku dan Rey tidak berbuat hal yang di luar batas, kami hanya tidur bersama" ucap Olivia mencoba menjelaskan, ayahnya sempat menoleh dan menatap putrinya namun dengan segera dia memeluk Alex kembali.
"Kau dengar sendiri Alex, bahkan putriku sudah mengakuinya. Nikahkan! aku akan menikahkan mereka secepatnya" ayah malah semakin membuat yang lain menjadi salah paham.
"Ayah! maksudku hanya tidur, bukan berbuat anu! kami bobo, Rey memejamkan matanya aku juga memejamkan mataku, tidak ada perbuatan lain, kami benar-benar tertidur pulas" Olivia mencoba menjelaskannya kembali.
"Olivia kamu tidak harus menjelaskan sedetail mungkin apa yang telah kalian perbuat, ayah dan om Alex mengerti. Pokoknya lusa, kalian akan menikah. Bagaimana menurutmu Alex?"
"Aku setuju, lebih baik kita segera menikahkan mereka berdua, aku ingin segera menimang cucu" jawab Alex mengutarakan keinginannya, kedua ayah tersebut berjalan sambil berangkulan menuju ruangan lain.
"Akhirnya kita berdua akan menjadi besan"
"Betul, kau mau cucu laki-laki atau cucu perempuan?"
"Laki-laki atau perempuan yang penting mereka sehat" kedua pria paruh baya itu nampak akrab dan melupakan kejadian memalukan kedua putra dan putrinya.
Tapi tidak dengan para ibu, mereka nampak menatap dengan serius ke arah keduanya.
"Rey dan Olivia kalian berdua harus sama-sama bertanggung jawab terhadap pasangan masing-masing, kini sebentar lagi kalian akan menjalani mahligai rumah tangga" ucap Laras ibu Olivia.
"Iya, kalian harus dewasa, sebentar lagi era kehidupan yang sebenarnya akan kalian jalani. Rey sebagai lelaki dan kepala rumah tangga kamu harus bersikap tegas dan memimpin dengan benar meski usiamu lebih muda dari Olivia pemikiranmu harus lebih matang darinya" wejangan dari Cindy ibu Rey.
Putra putri mereka nampak menundukkan kepala dan mendengarkan.
"Baik bu" jawab keduanya kompak.
"Kalau begitu kalian boleh pergi" lanjut Cindy, keduanya pun membangunkan diri.
"Maafkan Olivia ya Cindy"
"Maafkan Rey juga ya Laras" kedua wanita itu saling merangkul dan meminta maaf serta saling memaafkan. Beruntung Olivia dan Rey memiliki orangtua yang sama-sama baik dan kompak.
"Haahhh" Olivia menjatuhkan dirinya di sebuah sofa di ruangan lain, kejadian ini banyak menguras tenaga dan pikirannya, Rey mengikutinya dengan duduk di samping tunangannya.
"Cebol tadi kenapa kau diam saja? kau tidak membela diri dan hanya pasrah" protes Olivia kemudian.
"Membela diri pun akan percuma, mereka memang hanya ingin menikahkan kita. Ini hanya kebetulan yang luar biasa, alasan tepat untuk memajukan hari pernikahan" nampaknya Rey mengerti keinginan orangtuanya.
Sekali lagi Olivia setuju dengan perkataan Rey.
"Apa kau sudah siap untuk menikah dua hari lagi?" tanya Olivia menatap Rey lekat.
"Siap"
"Kau hanya anak kecil, sudah pasti menurutmu pernikahan ini hanya menyenangkan" ucap Olivia meremehkan.
"Aku tidak berpikir seperti itu, aku serius menjalani pernikahan ini. Lihat saja nanti setelah menikah, kau akan terkejut dengan kedewasaanku" Rey terlihat sangat percaya diri.
"Ada sesuatu di belakangmu!" Olivia berbicara dengan nada meninggi.
"Apa yang ada di belakangku! huwaaaa!" Rey terhenyak, dia terkejut dan melompat merangkul leher Olivia.
"Issshhh barusan kau bilang akan membuatku terkejut karena kedewasaanmu, lihat baru di kejutkan sedikit saja kau sudah ketakutan!" ledeknya ternyata hanya mengerjai Rey. Lelaki itu nampak malu dan menurunkan tubuhnya.
"Kau ini berani mengerjaiku!"
"Itu karena kau masih kecil dan penakut!"
Rey nampak mengepalkan tangannya, kemudian dia menarik tengkuk Olivia dan mendorong pinggangnya hingga jatuh ke pojok sofa dan di tindihnya. Kini Rey berada di atasnya, pandangan mata mereka bertemu.
Olivia tak bisa mengucapkan sebuah katapun dari mulutnya, ia merasa tersihir oleh wajah Rey yang tampan dari dekat.
"Kenapa kau sangat suka meremehkanku?" tanya Rey semakin menjatuhkan wajahnya, manik mata hitamnya berbinar menandang Olivia penuh kehangatan dan tajam secara bersamaan.
"A-aku" Olivia menjadi gelagapan tatkala deru napas yang keluar dari hidung mancung kekasihnya sudah terasa menyentuh kulit pipinya.
"Kenapa kau tidak bisa menjawabnya? kau tahu, aku tidak suka saat kau hanya mengganggapku seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, aku bisa menjadi pria dewasa, akan ku buktikan sekarang juga. Saat itu kau tidak akan bisa memandangku lagi sebelah mata!" dengan gerakan cepat bibir mungil Rey meraup benda ranum berwarna kemerahan di depannya, dia menjadi cukup liar, dengan luwes dia bahkan menyesap dan ******* lembut bibir kenyal kekasihnya. Olivia mematung, sisi lain yang Rey tunjukkan membuat hati dan tubuhnya lemas tak berdaya, ia hanya dapat membulatkan mata menerima permainan lincah dari calon suaminya.
Glek
Olivia menelan salivanya yang berat, sesaat kemudian Rey melepas tautan kedua bibir itu dan mengusap benda yang menjadi basah karena air liurnya. Dia tersenyum simpul dan membangunkan diri lalu pergi meninggalkan Olivia yang masih syok dengan perbuatannya.
Detak jantung Olivia berdebar kencang seolah akan lompat dari tempatnya. Ia mencoba merasai kejadian yang baru saja di laluinya, Olivia mengambil sebuah bantal dan menutupi wajahnya.
"Ini kenapa aku sangat senang! gila aku sudah gila!!" ujarnya memukulkan bantal itu ke wajahnya.
"Bibirnya sangat manis meski dia belum menggosok gigi!! aaakkkhh kenapa aku seperti ini!!" wajah Olivia berubah menjadi merah padam, ia masih merutuki dirinya sendiri dan tak merasa marah tidak seperti biasanya.
***
Maafkan kegajean author. 😁
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak