NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pintu ganda grand ballroom terbuka lebar dengan kemegahan yang mengintimidasi. Langkah kaki Liam Oliver yang mantap seketika memediasi keheningan yang merayap di antara deretan kursi tamu VIP.

Setiap mata tertuju padanya. Kilatan lampu kilat kamera dari tim dokumentasi internal menyambar wajahnya dari berbagai sudut, namun tidak ada satu pun kedipan atau riak kecemasan yang tampak di wajah tampan itu.

Liam berjalan dengan postur tubuh tegap sempurna, memancarkan aura dingin dan berkelas khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan keadaan. Jas pengantin putih porselen milik Devon melekat pas di bahunya yang lebar, kontras dengan rambut hitamnya yang ditata rapi ke belakang.

Bagi para tamu undangan, sosok yang sedang berjalan menuju meja akad adalah Devon Oliver, sang putra mahkota yang karismatik. Tidak ada yang menyadari bahwa di balik tatapan tajam dan langkah tegas itu, ada seorang adik yang sedang mengorbankan seluruh masa depannya demi sebuah sandiwara korporat.

Liam menghentikan langkahnya tepat di depan meja akad yang didekorasi dengan untaian bunga melati suci. Di sana, penghulu, saksi, dan seorang pria paruh baya yang merupakan wali nikah dari pihak perempuan sudah duduk menanti.

Liam menarik kursi kayu berukir emas di hadapan wali nikah. Ia duduk dengan gerakan yang begitu tenang, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain dengan gestur yang memancarkan dominasi mutlak, sebuah pemandangan yang membuat beberapa wanita di barisan depan menahan napas kagum. Wajahnya datar, lurus menatap pria paruh baya di depannya tanpa ada kehangatan sepeser pun. Hatinya sedingin es.

"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Liam, suaranya yang bariton dan berat terdengar begitu tenang namun tidak bisa dibantah, langsung mendominasi atmosfer di sekitar meja akad.

Penghulu berdehem, sedikit tertegun oleh aura intimidatif yang dipancarkan oleh pemuda di hadapannya. "Baik, karena pengantin pria sudah siap, mari kita hadirkan pengantin wanita."

Detik itu juga, alunan musik instrumen piano yang lembut dan syahdu mulai menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua perhatian beralih ke arah pintu masuk utama.

Dari balik tirai sutra putih, sosok itu akhirnya melangkah masuk.

Mira Hazelya.

Langkah kakinya begitu pelan, anggun, dan seolah tidak menyentuh bumi. Ia mengenakan gaun pengantin satin modern berwarna putih bersih yang menjuntai indah di lantai marmer.

Potongan gaun itu sangat berkelas, membungkus tubuhnya yang ramping dengan sangat sopan namun memancarkan keanggunan tingkat tinggi. Sebuah tiara berlian kecil berkilauan di atas kepalanya, menahan sehelai kain brokat halus yang menjuntai menjadi jilbab panjangnya.

Namun, yang paling menarik perhatian Liam, dan seluruh orang di ruangan itu adalah kain sifon putih tipis yang menutupi setengah wajahnya. Sebuah cadar. Kain pelindung itu hanya menyisakan sepasang mata bulat yang indah. Namun, mata itu tidak memancarkan binar kebahagiaan seorang pengantin.

Dari jarak beberapa meter, Liam yang memiliki penglihatan tajam bisa melihat dengan jelas bahwa sudut mata Mira Hazelya tampak basah. Bulu mata lentiknya bergetar, dan sorot matanya menyiratkan sebuah luka emosional yang teramat dalam dan ketakutan yang disembunyikan rapat-rapat.

"Jadi ini wanita yang menghancurkan masa mudaku ?" batin Liam, menatap dingin tanpa ekspresi saat Mira berjalan didampingi oleh seorang ibu paruh baya menuju kursi di sebelah kanannya.

Saat Mira duduk di sampingnya, aroma harum bunga lili yang lembut dan menenangkan langsung menguar, menyapa indra penciuman Liam.

Ada getaran halus yang terasa dari tubuh Mira. Wanita itu terus menunduk, meremas jemarinya sendiri yang terbalut sarung tangan brokat putih di atas pangkuannya.

Liam bisa merasakan kecemasan yang luar biasa dari wanita di sebelahnya, namun ego dan kemarahannya yang terpendam membuat Liam enggan peduli. Bagi Liam, Mira adalah bagian dari konspirasi yang menjebak keluarganya.

"Baiklah, Saudara pengantin pria, silakan jabat tangan wali nikah," instruksi penghulu memecah keheningan yang menegangkan.

Liam mengabaikan debaran aneh di dadanya. Ia mengulurkan tangan kanannya, menjabat kuat dan mantap tangan ayah dari Mira Hazelya. Genggamannya begitu tegas, menunjukkan bahwa ia siap mengambil alih kendali, walau hatinya menolak mati-matian.

"Saudara Devon Oliver bin Bramantyo Oliver," ucap wali nikah dengan suara yang agak bergetar, menyebut nama Devon sesuai dengan berkas pernikahan yang tidak sempat diubah demi hukum formal di depan publik.

Liam tidak mengoreksi. Ia membiarkan nama kakaknya disebut, karena di mata dunia malam ini, ia adalah pengganti yang sah dalam kegelapan.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Mira Hazelya binti Ahmad, dengan mas kawin berupa logam mulia seratus gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

Keheningan di dalam ballroom mendadak menjadi begitu pekat, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu tersedot habis. Semua orang menantikan kalimat sakral itu keluar dari bibir sang pengantin pria.

Liam menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Tatapan matanya mengunci lurus mata wali nikah di hadapannya dengan ketegasan yang mematikan.

Tanpa ada keraguan sedikit pun, tanpa ada jeda yang membuat orang curiga, ia mengucapkan kalimat qobul dengan satu tarikan napas yang lugas, berat, dan sangat berwibawa.

"Saya terima nikah dan kawinnya Mira Hazelya binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Suaranya yang tegas menggelegar melalui mikrofon, menggema ke setiap sudut ruangan, memaku mati takdir dua insan yang tidak saling mencintai itu.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Kata itu diucapkan serempak oleh para saksi. Penghulu langsung memimpin doa. Di saat semua orang menengadahkan tangan dan mengucap syukur, Liam justru menurunkan tangannya dengan cepat. Ia melirik ke samping kanan. Di balik cadar tipisnya, Liam bisa melihat bahu Mira Hazelya mendadak terguncang kecil.

Sebutir air mata lolos dari sudut mata indahnya, jatuh membasahi kain cadar putihnya hingga membentuk noda basah kecil. Mira menangis dalam diam, sebuah tangisan yang tampak begitu menyakitkan.

"Kenapa dia harus menangis? Bukankah dia yang diuntungkan dari pernikahan dengan keluarga Oliver ?" gumam Liam dalam hati, rasa sinis kembali merayapi pikirannya.

"Silakan pengantin pria memasangkan cincin ke jari manis pengantin wanita, dan pengantin wanita mencium tangan suaminya," ucapan penghulu membawa mereka ke ritual berikutnya.

Liam mengambil kotak beludru merah yang disodorkan. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian berdesain modern yang sangat mewah.

Dengan gerakan yang dingin namun terlihat sangat lembut di depan kamera, Liam meraih tangan kanan Mira. Tangan wanita itu terasa sangat dingin dan gemetar hebat dalam genggamannya.

Liam menatap mata Mira dari jarak dekat saat menyelipkan cincin itu ke jari manisnya. Ada sengatan aneh yang membuat jantung Liam berdegup tidak karuan saat netra tajamnya beradu dengan netra sayu Mira yang dipenuhi kabut kesedihan.

Setelah cincin terpasang, kini giliran Mira. Dengan gerakan yang sangat pelan dan ragu-ragu, Mira meraih tangan kanan Liam. Ia membungkukkan tubuhnya yang anggun, lalu menyentuhkan kening dan bibirnya di punggung tangan Liam.

Sentuhan fisik pertama mereka terasa seperti aliran listrik yang dingin. Liam membeku. Ia bisa merasakan kehangatan napas Mira yang berembus di balik cadarnya, mengenai kulit tangannya. Di saat yang sama, setitik air mata hangat Mira jatuh tepat di atas pergelangan tangan Liam.

Air mata itu terasa membakar kulit Liam, meninggalkan rasa tidak nyaman yang aneh di hatinya. Liam segera menarik tangannya kembali begitu Mira menegakkan tubuhnya. Wajah Liam kembali mengeras, datar tanpa ekspresi, menyembunyikan badai batin yang mulai bergejolak di dalam dirinya.

Kini, mereka telah resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama. Namun bagi Liam, ini hanyalah awal dari sebuah permainan sandiwara yang melelahkan.

Satu semester...

Ia hanya perlu bertahan selama satu semester bersama wanita penuh misteri di sebelahnya ini, sebelum ia bisa menceraikannya dan mengambil kembali kebebasan hidupnya yang telah direnggut paksa malam ini.

Liam berdiri dari kursinya, menawarkan lengan kirinya dengan gestur formal yang kaku kepada Mira untuk membantu wanita itu berdiri menuju pelaminan. Mira menatap lengan kekar itu sekilas, lalu dengan sangat perlahan dan menjaga jarak, ia menyentuhkan ujung jemarinya di atas lengan jas Liam.

Di bawah guyuran ribuan lampu kristal dan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan yang mengira ini adalah akhir yang bahagia, Liam dan Mira melangkah bersama menuju pelaminan.

Mereka bersanding sebagai pasangan paling sempurna di mata dunia, tanpa ada yang tahu bahwa di balik senyum tipis yang dipaksakan Liam dan cadar yang menyembunyikan wajah Mira, sebuah neraka pernikahan baru saja dimulai.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!