Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Selamat Datang di Nexus
Tepat pukul lima lebih lima puluh menit pagi, seluruh sistem pencahayaan di Sektor Atas maupun Sektor Bawah berkedip merah tiga kali, diikuti oleh dengung alarm ultrasonik yang memaksa kesadaran lima puluh peserta terjaga seketika. Tidak ada waktu untuk memulihkan kelelahan mental dari hari kemarin. Di layar monitor setiap kamar suite maupun barak komunal, sebuah instruksi mutlak telah tertera: Wajib berkumpul di Auditorium Sentral Lantai Dasar dalam waktu sepuluh menit. Keterlambatan berarti pemotongan sepuluh poin individual.
Sepuluh menit kemudian, lima puluh remaja dengan seragam almamater abu-abu gelap mereka telah berdiri dalam formasi barisan yang kaku di Auditorium Sentral. Ruangan itu berbentuk lingkaran sempurna dengan lantai kaca siber yang menampilkan visualisasi sirkuit digital yang bergerak dinamis di bawah kaki mereka.
Di tengah lingkaran, sebuah podium mekanis perlahan terangkat dari balik lantai kaca. Profesor Adrian Surya Pradana berdiri di atasnya. Mantel formal hitamnya tampak kontras dengan pencahayaan neon biru ruangan, memancarkan otoritas seorang eksekutif tertinggi Veritas Lux Fortuna yang dingin dan tanpa cela.
"Selamat pagi, para entitas terpilih," suara Profesor Adrian menggema melalui sistem audio spasial, memotong sisa keheningan ruangan dengan nada baritonnya yang monoton namun penuh penekanan.
Mata tajam di balik kacamata milik Adrian menyapu seluruh barisan. Ia melirik Atharva yang berdiri tegak di posisi paling depan dengan ekspresi netralnya, lalu beralih ke barisan belakang tempat Nabila dan faksi beasiswa berdiri dengan sisa ketegangan fisik yang belum hilang sepenuhnya.
"Mulai hari ini, kalian tidak lagi dipanggil dengan nama belakang keluarga kalian, atau gelar akademik yang kalian banggakan di luar sana," lanjut Profesor Adrian, tangannya bergerak mengetuk layar tablet hologram di depannya. Seketika, lencana di dada masing-masing peserta memancarkan pendar cahaya kecil. "Kalian adalah angka. Kalian adalah aset. Dan yang paling penting, kalian adalah subjek eksperimen dari puncak peradaban yang sedang dibangun oleh Veritas Lux Fortuna di Kota Veridian ini."
Beberapa anak faksi elite di barisan depan tampak menegakkan rahang mereka. Mereka terbiasa dipuja sebagai jenius di lingkungan lama mereka, namun di sini mereka diperlakukan tidak lebih dari sekadar angka di atas papan catur. Raka Elang tersenyum tipis, matanya melirik ke arah podium dengan binar kalkulatif, sementara Kirana Safira tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang anggun dan patuh.
"Nexus Academy tidak didirikan untuk mencetak ilmuwan yang duduk di balik meja, atau politisi yang berargumen di ruang sidang sipil," Profesor Adrian melangkah perlahan mengitari podiumnya, menatap lurus ke arah para siswa. "Kami mencetak para eksekutor. Orang-orang yang mampu mengambil keputusan mutlak di bawah tekanan krisis global tanpa terikat oleh bias moralitas kuno. Fasilitas di Sektor Atas dan penindasan di Sektor Bawah yang kalian rasakan semalam adalah simulasi skala kecil dari struktur dunia yang sesungguhnya."
Keisya Aurellia mengepalkan tangannya di balik lipatan almamaternya, mengingat kembali bagaimana sistem ini memisahkan mereka secara kejam sejak hari pertama. Tempat ini benar-benar tidak menyisakan ruang bagi kemanusiaan.
Profesor Adrian berhenti melangkah, tepat di hadapan barisan tengah. Ia mematikan layar hologram di depannya, membuat seluruh pencahayaan auditorium mendadak meredup, menyisakan lampu sorot vertikal yang mengunci sosoknya di tengah ruangan. Di dalam auditorium seketika mendingin, begitu pekat hingga suara tarikan napas para siswa pun terdengar jelas.
Adrian menatap lima puluh remaja di hadapannya dengan pandangan yang kosong dari empati, namun penuh dengan kepastian yang mengerikan. Kalimat terakhir dari pidato penyambutannya meluncur dari bibirnya, dingin dan memotong seluruh sisa harapan yang menggantung di udara.
"Masuk ke Nexus adalah keberhasilan," ujar Profesor Adrian Surya Pradana dengan nada yang sangat lambat namun menusuk hingga ke dada setiap pendengarnya. "Bertahan hingga lulus adalah keajaiban."
Kalimat itu bergaung di dalam auditorium, meninggalkan keheningan yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk merinding. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan penyambutan. Yang tersisa hanyalah kesadaran baru yang menghantam kepala lima puluh jenius tersebut: bahwa gerbang emas yang baru saja mereka masuki adalah sebuah arena eliminasi sistemik, di mana mukjizat adalah satu-satunya hal yang tidak pernah dimasukkan ke dalam algoritma penilaian.
...****************...
Keheningan yang mencekam itu tidak berlangsung lama. Detik berikutnya, lantai kaca siber di bawah kaki mereka bergetar pelan. Garis sirkuit digital yang tadinya berwarna biru mendadak berubah menjadi merah pekat, memancarkan pendaran cahaya yang menyinari wajah-wajah tegang lima puluh siswa di dalam auditorium.
BZZZZ
Sebuah pengumuman sistem sentral menggema dari langit-langit, memotong kebekuan atmosfer setelah pidato Profesor Adrian.
“Otorisasi Fase Transisi Selesai. Memulai sinkronisasi Peringkat Harian.”
Di atas kepala Profesor Adrian, sebuah layar hologram horizontal raksasa meluncur turun, menampilkan daftar lima puluh nomor lencana dari NX-001 hingga NX-050. Di samping setiap nomor, terdapat grafik batang vertikal berwarna hijau dan merah yang menunjukkan fluktuasi stabilitas poin mereka dalam dua belas jam terakhir.
"Pidato penyambutan saya telah selesai," kata Profesor Adrian sembari merapikan mantel formal hitamnya, ekspresi wajahnya kembali menjadi topeng ilmuwan yang dingin. "Sekarang, mari kita mulai agenda utama pagi ini: Fase Pembukaan Tantangan Biner. Aturan asrama yang kalian baca semalam akan langsung dieksekusi detik ini juga."
Profesor Adrian mengetuk tablet hologramnya sekali lagi. Layar raksasa di atasnya langsung mengunci dua nomor secara acak, memisahkan mereka dari daftar utama dan menampilkannya dengan ukuran tiga kali lebih besar di tengah aula.
Penantang: NX-042 (Dimas Arvant Nugraha — Sektor Bawah)
Bertahan: NX-018 (Raka Elang — Sektor Atas)
Dimas tersentak di barisan belakang, wajahnya seketika memucat saat menyadari namanya terpilih oleh sistem sebagai penantang pertama dari Sektor Bawah. Di barisan depan, Raka Elang perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah Dimas dengan senyum seringai yang penuh kemenangan seolah-olah ia baru saja melihat seekor domba yang sukarela berjalan masuk ke kandang serigala.
"Sistem memilih berdasarkan tingkat urgensi emosional dan disparitas poin terbesar di hari pertama," Profesor Adrian menjelaskan tanpa emosi, melangkah mundur membiarkan podium mekanisnya turun kembali ke bawah lantai kaca. "Siswa Dimas memiliki akumulasi poin kritis di batas bawah, sementara Siswa Raka memegang surplus poin taktis dari faksi atas. Pertarungan biner kalian akan menentukan apakah kasta asrama ini akan tetap kokoh, atau runtuh di pagi pertama."
Nabila meremas ujung almamaternya, menatap Dimas dengan kecemasan yang luar biasa. Ia tahu Dimas adalah seorang analis taktis yang berbakat, namun berhadapan langsung dengan Raka Elang yang agresif dan manipulatif secara verbal di bawah tekanan seperti ini adalah skenario terburuk.
Di sisi lain, Atharva tetap berdiri diam, matanya melacak pergerakan algoritma pada layar hologram atas. Ia menyadari satu hal: sistem tidak memilih mereka secara acak. Ini adalah kalkulasi presisi untuk memicu konflik horizontal secepat mungkin.
"Jangan melihat ke arahnya, Dimas," Farel berbisik dari sebelah kiri Dimas, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Raka ingin kamu merasa terintimidasi sebelum simulasi dimulai. Fokus pada parameter dasarmu."
Dimas menarik napas dalam-dalam, mencoba menghentikan gemetar di kedua tangan. Ia mengangguk kaku, lalu melangkah keluar dari barisan formasi, berjalan menuju lingkaran tengah aula tempat lantai kaca siber mulai membuka sebuah slot untuk dua pod simulasi portabel yang terangkat dari bawah tanah.
Pertempuran nyata di dalam benteng Nexus Academy telah resmi dimulai. Di tempat di mana kelulusan adalah sebuah keajaiban, lima puluh jenius ini dipaksa untuk mulai saling menjatuhkan demi mempertahankan angka di dada mereka masing-masing.