Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kelahiran Sang Kaisar Anomali
Tetesan air yang dingin dan berbau lumut jatuh dari langit-langit gua, pecah menghantam bebatuan berlendir. Bau busuk yang mencekik—kombinasi dari darah kering, daging busuk, dan kotoran—menggantung pekat di udara.
Bagi manusia mana pun, tempat ini adalah perwujudan dari neraka. Namun, bagi makhluk yang baru saja membuka matanya di atas singgasana batu berlumut itu, tempat ini adalah kerajaan barunya.
Kesadarannya terasa berat, dipenuhi oleh memori dari kehidupan masa lalu di dunia modern yang kini terasa seperti mimpi yang memudar. Pemuda itu mengerjap, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan kegelapan gua yang hanya diterangi oleh obor-obor redup.
Di mana aku? batinnya.
Dia mengangkat tangannya. Hal pertama yang ia sadari adalah bahwa tubuhnya tidak lagi sama. Tidak ada lagi tubuh manusia biasa yang ia kenal. Kulitnya kini berwarna pucat keemasan, mulus tanpa cela. Jari-jarinya panjang dan ramping, memancarkan keanggunan yang tidak wajar. Ia menyentuh kepalanya; helaian rambut pirang yang panjang dan halus mengalir di bahunya, sementara di balik helaian itu, jari-jarinya meraba ujung telinga yang meruncing tajam ke atas.
Ini adalah atribut fisik yang selalu diasosiasikan dengan satu ras paling agung dalam literatur fantasi: High Elf.
Namun, realitas menamparnya dengan keras ketika pandangannya akhirnya terbiasa dengan kegelapan. Di bawah singgasana batunya, dalam keremangan cahaya api yang menari-nari, ratusan pasang mata kuning menyala menatapnya.
Mereka adalah makhluk-makhluk kerdil, bungkuk, dengan kulit hijau kotor yang dipenuhi kutil dan bekas luka. Wajah mereka bengis sekaligus bodoh, gigi-gigi tajam menyembul dari mulut yang meneteskan air liur. Mereka telanjang atau hanya mengenakan cawat kain compang-camping, memegang gada kayu dan tombak batu yang kasar.
Goblin. Makhluk terendah, terlemah, dan paling menjijikkan di seluruh hierarki dunia ini. Sisa-sisa ras rendahan yang hidup hanya untuk diburu, dibantai, dan dijadikan mangsa oleh ras lain.
Namun, tidak ada satu pun dari makhluk-makhluk buas itu yang berani menatap matanya secara langsung. Ratusan goblin hijau itu berlutut, menempelkan dahi kotor mereka ke lantai tanah yang lembap, gemetar dalam ketakutan yang bercampur dengan pemujaan religius.
Dari barisan terdepan, sesosok goblin yang berbeda merangkak maju. Tubuhnya bungkuk, kulitnya keriput berwarna ungu tua, dan ia bersandar pada sebuah tongkat kayu berkepala besar yang dihiasi batu sihir murahan. Itu adalah seorang Goblin Shaman—kasta elit di antara ras rendahan ini.
Goblin ungu tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya parau dan bergetar saat ia berbicara dalam bahasa guttural yang, anehnya, langsung dipahami oleh pemuda itu.
"Yang Mulia... Keajaiban kaum kami... Sang Kaisar telah lahir..."
Pemuda itu terdiam. Berkat ingatan dari kehidupan masa lalunya, dan insting yang kini mengalir dalam darahnya, ia memahami situasinya. Ia telah bereinkarnasi. Namun, bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai pangeran manusia, dan bukan pula sebagai Elf sejati.
Dia adalah sebuah anomali. Puncak mutasi dari ras yang paling dihinakan. Ia adalah Kaisar Goblin, dan entah bagaimana, evolusi mutlaknya mengambil wujud makhluk paling indah di dunia ini. Mulai detik ini, namanya adalah Altair.
Tiba-tiba, pandangannya menangkap sebuah teks transparan yang melayang di udara, berkilau seperti antarmuka sistem di dunia sebelumnya:
[Individu: Altair (Golden Emperor Goblin)] [Usia: Tidak Terbatas] [Atribut: Api] [Pekerjaan: Goblin Shaman] [Bakat Genetik: Belum disalin]
Altair menyipitkan matanya. Kekuatan mutlak. Sebagai seorang Kaisar, ia memiliki otoritas absolut atas setiap goblin di dunia ini, dan sistem genetik di tubuhnya memungkinkan dirinya untuk menyalin dan menyempurnakan bakat apa pun untuk melahirkan keturunan super.
Namun, untuk melakukan evolusi darah, goblin jantan tingkat tinggi tidak bisa bereproduksi dengan goblin betina. Mereka membutuhkan rahim dari ras yang lebih unggul. Manusia, atau ras lainnya.
"Yang Mulia," panggil Goblin Shaman tua itu lagi, suaranya dipenuhi kebanggaan yang kelam. "Untuk merayakan kelahiran Anda... hamba yang hina ini telah membawakan sebuah persembahan. Sebuah wadah yang sempurna untuk meneruskan garis keturunan agung Anda."
Goblin ungu itu memberi isyarat dengan tongkatnya. Dua ekor Goblin Giant—mutan goblin berkulit putih pucat yang bertubuh besar dan berlemak—menyeret sesuatu dari sudut gelap gua dan melemparkannya dengan kasar ke kaki singgasana Altair.
Suara isak tangis yang tertahan memecah keheningan.
Di tanah yang kotor itu, meringkuk seorang gadis manusia. Pakaiannya adalah gaun sutra biru bangsawan yang kini kotor dan robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit putihnya yang selembut porselen. Rambut hitam panjangnya acak-acakan, menutupi sebagian wajah cantiknya yang basah oleh air mata keputusasaan.
Tubuh mungilnya gemetar hebat layaknya daun di tengah badai. Ia memeluk dirinya sendiri, tidak berani mengangkat wajah, membayangkan siksaan mengerikan macam apa yang akan dilakukan oleh monster-monster hijau di sekitarnya. Bagi gadis itu, jatuh ke sarang goblin adalah akhir dari segalanya. Kehormatannya, nyawanya, semuanya akan dirampas dengan cara yang paling brutal.
Altair menatapnya. Mata merahnya yang dingin menyala dalam gelap, dan antarmuka sistem kembali berkedip, memindai sang persembahan:
[Nama Individu: Manusia Bangsawan (Lyra Rejerson)] [Usia: 16 Tahun] [Nilai Harapan Saat Ini: 5 (Sangat Putus Asa)]
Lyra Rejerson, batin Altair. Seorang putri bangsawan. Ini berarti hilangnya gadis ini akan segera memancing pasukan manusia ke hutan ini. Pasukanku saat ini hanyalah sekumpulan sampah yang lemah. Jika kita berhadapan dengan ksatria manusia sekarang, kaum ini akan dimusnahkan.
Altair tahu, ia tidak punya waktu untuk bersimpati. Di dunia di mana rasnya dianggap sebagai hama yang harus dibasmi, ia harus menjadi lebih kejam, lebih licik, dan lebih pragmatis dari siapa pun.
Altair berdiri dari singgasananya. Gerakannya begitu hening, elegan, namun memancarkan aura penindasan yang membuat ratusan goblin di ruangan itu menahan napas. Ia melangkah turun, mendekati Lyra.
Merasakan bayangan tinggi yang menutupi cahaya obor di atasnya, Lyra semakin gemetar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, bersiap menerima nasib buruknya dicabik-cabik oleh monster bungkuk yang bau.
Namun, yang menyentuh dagunya bukanlah cakar yang kasar dan kotor.
Itu adalah sentuhan jari-jari yang panjang, ramping, hangat, dan sangat lembut. Jari-jari itu dengan perlahan namun tak terbantahkan, mengangkat wajah Lyra, memaksanya untuk membuka mata.
Isak tangis Lyra terhenti seketika.
Napas gadis bangsawan itu tercekat. Alih-alih monster hijau yang mengerikan, apa yang terpantul di pupil matanya yang bergetar adalah sebuah wajah yang ketampanannya melampaui akal sehat manusia. Rambut keemasan yang jatuh membingkai rahang yang tegas, kulit mulus, telinga meruncing yang agung, dan sepasang mata merah rubi yang menatapnya dengan intensitas yang melumpuhkan jiwa.
E-Elf? pikir Lyra, pikirannya kacau balau. Kenapa ada sesosok Elf yang sangat bangsawan di tengah sarang goblin kotor ini?
"Jangan menangis, Manusia Kecil," suara Altair mengalun pelan, rendah, dan sangat memikat, sangat kontras dengan geraman buas para goblin di sekelilingnya. Bahasa manusianya sempurna.
Ibu jari Altair mengusap sisa air mata di pipi Lyra dengan lembut, sebuah kelembutan yang mematikan.
"Mulai malam ini," bisik Altair, menatap tepat ke kedalaman mata Lyra yang kini dipenuhi kebingungan dan pesona yang tak terhindarkan. "Kau tidak lagi menjadi milik duniamu. Kau adalah milikku. Dan melalui rahimmu... fondasi kekaisaranku akan dibangun."
Di dalam gua yang kelam itu, sejarah baru dari ras yang paling dihinakan baru saja dimulai. Dan bagi Lyra Rejerson, mimpi buruknya baru saja mengenakan topeng yang paling indah.