Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di samping mereka, Freya berdiri dengan tangan masih terentang, senyumnya membeku di wajah. Matanya menyapu ruangan, menangkap bisikan-bisikan itu, dan Kayna bisa melihat bagaimana pupil gadis itu mengecil karena panik.
Skripnya hancur lagi. Ia seharusnya menjadi gadis baik yang mencoba berdamai, dan Kayla seharusnya menjadi wanita gila yang menyerangnya. Tapi yang terlihat oleh seluruh kerajaan justru Duke Adrian yang rela cedera demi melindungi tunangannya.
Dengan kecepatan yang mengagumkan, Freya menyesuaikan diri. Ia berlutut di samping mereka, wajah khawatir yang sempurna terpasang dalam sekejap. "Kak Kayla! Ya ampun, kau hampir jatuh! Terima kasih, Yang Mulia Adrian, kau menyelamatkannya! Aku sangat khawatir..."
Tangan Freya terulur untuk menyentuh lengan Kayna.
Adrian bergerak lebih cepat. Ia duduk, masih memegangi Kayna, dan menatap Freya dengan tatapan yang bisa membekukan lautan.
"Jangan sentuh dia."
Tiga kata. Dingin. Tajam. Final.
Freya menarik tangannya seolah tersengat api. Air mata mulai menggenang di matanya, air mata yang kali ini mungkin bukan sepenuhnya akting. "A-Adrian... aku hanya khawatir..."
"Kau berdiri tepat di bawah lampu gantung dan memancingnya untuk berlari ke arahmu," ucap Adrian pelan, cukup keras untuk didengar oleh bangsawan-bangsawan terdekat. "Jangan pikir aku tidak melihatnya."
Wajah Freya memucat. Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya, topeng white lotus-nya retak di depan umum.
Adrian berdiri, menarik Kayna bersamanya tanpa melepaskan pergelangan tangannya. Ia menatap sekeliling ruangan, menantang siapa pun yang berani berbisik lebih keras. Ruangan itu kembali hening.
"Perjamuan dimulai," titah Adrian dingin, seolah tidak baru saja menjatuhkan dirinya ke lantai marmer. Ia menarik Kayna menuju meja utama, langkahnya tegas, cengkeramannya di pergelangan tangan Kayna tidak mengendur sedikit pun.
***
Meja makan utama adalah neraka berbentuk persegi panjang.
Kayna duduk di kursi berlapis beludru merah di samping Adrian, yang duduk di kursi yang lebih besar di ujung meja. Di hadapannya, tertata rapi peralatan makan perak yang berkilauan: pisau steak dengan mata yang sangat tajam, garpu dengan ujung runcing, dan sendok sup yang cukup berat untuk dijadikan senjata tumpul.
Kayna menatap pisau steak itu dengan tatapan rindu yang mendalam. *Pisau itu... begitu indah. Begitu tajam. Kalau aku iris pergelangan tanganku sekarang, di depan seluruh bangsawan kerajaan, itu akan menjadi skandal terbesar abad ini. Adrian tidak akan bisa menutupinya.*
Tangan Kayna bergerak perlahan ke arah pisau itu.
Clang.
Adrian, tanpa menoleh dari percakapannya dengan seorang lord di seberang meja, telah mengambil pisau steak dari piring Kayna dan meletakkannya di sisi piringnya sendiri, jauh dari jangkauan Kayna.
"Yang Mulia?" lord itu menatap Adrian bingung. "Kenapa kau mengambil pisau Nona Kayla?"
"Tunanganku sedang diet," jawab Adrian tanpa ekspresi. "Dia tidak butuh pisau."
Kayna menatap Adrian dengan tatapan datar. "Aku tidak sedang diet."
"Kau kurus," balas Adrian singkat, lalu mulai memotong daging di piring Kayna menjadi potongan-potongan kecil yang aman. "Makan."
Kayna menghela napas, mengambil garpunya. Garpu. Ujungnya runcing. Kalau aku tusuk mataku sendiri....
Clang.
Adrian mengambil garpu itu juga, menggantinya dengan sendok kayu tumpul yang entah dari mana ia dapatkan. "Gunakan ini."
"Kau membawa sendok kayu tumpul ke perjamuan kerajaan?" tanya Kayna, tidak bisa menyembunyikan nada tak percaya dalam suaranya.
"Aku membawanya sejak insiden roti panggang," jawab Adrian datar, seolah itu adalah hal paling normal di dunia. "Rosa yang membuatnya. Kayu oak pilihan."
Kayna menatap sendok kayu itu, lalu menatap Adrian, lalu menatap ruangan penuh bangsawan yang kini menatap mereka dengan campuran kebingungan dan rasa ingin tahu. Seorang duchess makan dengan sendok kayu tumpul di perjamuan kerajaan, diawasi oleh tunangannya yang memotongkan daging untuknya seperti mengawasi anak balita.
Ini memalukan, tapi setidaknya aku tidak bisa mati dengan sendok kayu.
..gagal terus🤣