Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masalalu
Rayzan telah sampai di kantor tempat istrinya bekerja. Lelaki itu segera melangkahkan kaki ke arah area parkiran. Saat hendak masuk ke dalam mobil istrinya, seorang pria menghampirinya.
Dengan senyum tipis, Rayzan mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil Nadira. Pria itu mengulurkan tangan.
"Pak Revin."
"Pak Rayzan ... Ada yang ketinggalan di kantor saya?" tanya lelaki itu.
"Nggak, Pak. Tadi Nadira pulang bersama saya. Sekarang saya mau ambil mobil Nadira yang masih di sini."
Revin menganggukkan kepala perlahan.
"Bapak tau ... Nadira sangat rajin di sini. Dia begitu aktif. Saya suka sama dia."
"Ha! Maksud Bapak gimana?"
"Iya ... Saya suka sama Nadira. Dia juga tau kalau saya cinta sama dia."
Revin menepuk pundak Rayzan.
"Dari pembicaraan kita tadi pagi, itu artinya Bapak dan Nadira terpaksa menikah."
"Nggak. Saya sama sekali nggak terpaksa menikah dengan istri saya."
"Lalu bagaimana dengan Nadira?" Revin menaikkan sebelah alisnya.
"Begini ... Eummm, saya mau tanya sesuatu. Selain bekerja sama dengan saya dalam bisnis, apa sebenarnya tujuan anda membahas Nadira?"
"Saya mau Bapak menceraikan dia untuk saya."
Rayzan mengepalkan telapak tangannya di bawah.
"Jangan menggunakan kekerasan, Pak. Semua orang tau Anda dan Nadira menikah tanpa dasar cinta," ujar Revin setelah sekilas menoleh ke arah tangan Rayzan.
Lelaki itu mengembuskan napas perlahan.
"Coba saja kalau bisa. Diterima atau nggak, anda akan berurusan dengan saya."
"Kalau saya berhasil, kerja sama kita akan diputuskan dan semua saham anda akan berada di tangan saya. Kalau saya gagal, saya akan mengembalikannya. Bagaimana? Deal?"
Rayzan tersenyum tipis, kemudian menepuk pundak lelaki itu.
"Bekerjalah secara profesional kawan. Urusan ini nggak ada kaitannya dengan bisnis kita."
Rayzan pun masuk ke dalam mobil dan langsung berlalu pergi.
"Sialan! Bodoh banget, sih. Kenapa aku harus ngomong begitu?" gerutu Revin kepada dirinya sendiri.
[] [] []
Rayzan telah sampai di rumah mertuanya. Bersamaan dengan itu, Nadira juga tiba. Tatapan Rayzan begitu tajam ke arah istrinya hingga wanita itu mengernyitkan kening.
Pria itu menghampiri Nadira ketika dia baru saja keluar dari mobil. Rayzan segera menggenggam tangan istrinya.
"Rayzan, lepas! Tangan aku sakit tau."
"Aku mau kamu berhenti bekerja. Aku bisa menafkahi kamu."
"Apaan, sih? Lepasin tangan aku."
"Nadira ... Terima aku sebagai suamimu."
"Berapa kali aku bilang? Aku nggak akan pernah menerima pernikahan ini."
Nadira menginjak kaki Rayzan. Setelah berhasil melepaskan tangannya, wanita itu berlalu begitu saja.
"Nadira!!!" panggil Rayzan sambil menyusul istrinya.
Pertengkaran itu disaksikan langsung oleh Merry yang sedang berada di ruang tamu. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Rayzan.
"Rayzan, kenapa ini?"
"Mama," lirihnya.
"Kamu bertengkar sama Nadira?"
"Mama nggak usah panik, ya. Rayzan ke kamar dulu."
Namun, Merry tidak tinggal diam. Perlahan dia menyusul Rayzan dari belakang. Dia ingin tahu permasalahan yang terjadi antara anak dan menantunya.
"Kamu selingkuh sama Pak Revin?"
"Selingkuh apaan, sih? Kamu nggak usah nuduh orang, deh."
Rayzan mendekati Nadira yang sedang duduk di depan meja rias.
"Jangan kamu pikir aku akan diam aja, Nadira. Kamu harus sadar, kamu itu sudah nggak suci lagi. Cuma aku yang mau menikahi kamu."
Nadira kembali tersulut emosi. "Kamu!"
"Apa? Kamu mau nampar aku?" tanya Rayzan sambil menahan tangan Nadira.
Lelaki itu kemudian menepis tangan istrinya dan berbisik.
"Aku baru sadar sekarang. Bisa-bisanya kamu dekat dengan Pak Revin saat kamu sudah menjadi istriku. Itu artinya apa? Kamu memang nggak menghargai pernikahan kita."
Rayzan menatapnya tajam.
"Pantas saja kamu sudah nggak suci lagi. Berapa banyak pria yang sudah dekat dengan kamu?"
Napas Nadira terasa sesak mendengar tuduhan itu lagi. Semuanya karena ucapan Daulat. Mungkin sebentar lagi orangtuanya akan mengetahui hal tersebut.
"Ceraikan aku sekarang juga!!!"
"Nadira!!!"
Pintu kamar terbuka lebar, memperlihatkan seorang wanita paruh baya. Merry berjalan mendekati mereka dengan tatapan tajam.
Plak!
Rayzan mendapatkan tamparan dari mertuanya karena dia melindungi sang istri.
Merry menggeleng perlahan. "Ra-Rayzan, maafin Mama. Kenapa kamu malah membela Nadira? Dia sudah sering kurang ajar sama kamu."
"Nggak ada yang boleh memukul istriku, Ma. Sekalipun orangtua kandungnya."
"Rayzan, tolong! Jangan bermuka dua di depan Mama," ujar Nadira. "Mama tau, Rayzan ini munafik."
"Nadira, diam!"
"Mama ... Izinkan aku menyelesaikan permasalahan rumah tangga kami. Aku mohon."
"Tapi, Nak—"
"Ma ... Percaya sama ku ya."
Merry mengembuskan napas perlahan. Kemudian dia mengusap bahu lelaki itu.
"Mama jangan khawatir ... Aku nggak akan pernah mengangkat tangan kepada istri ku sendiri."
"Atas nama Nadira, Mama minta maaf."
"Jangan, Ma. Mama nggak salah," ucap Rayzan.
"Nadira ... Kamu benar-benar sudah mempermalukan Mama." Merry langsung berlalu pergi.
"Kamu lihat, Rayzan. Kamu senang, 'kan, di depan aku Mama minta maaf sama kamu?"
Rayzan menarik tangan Nadira dan membawanya menjauh dari pintu.
"Kamu sudah terlalu berlebihan, Nadira. Kamu pikir aku nggak punya harga diri?"
Nadira mundur beberapa langkah. Ekspresi Rayzan yang serius membuatnya semakin takut.
"Rayzan ... A-aku mohon, jangan macam-macam."
"Apa yang kamu takutkan? Aku cuma ingin kamu berhenti mempermainkan pernikahan kita."
"Hiks ... Aku mohon, jangan sentuh aku."
Rayzan terdiam melihat istrinya yang mulai ketakutan.
"Nadira, lihat aku!"
"Jangan ... Hiks."
Rayzan menarik napas panjang. Kemudian dia mundur dan memberi jarak di antara mereka.
"Kamu harus tau, aku menerima dirimu dengan segala masa lalumu. Tapi kenapa kamu nggak pernah menghargai aku, Nadira?"
Air mata Nadira terus mengalir.
"Aku mau kamu menerima aku. Kita bisa membangun keluarga yang penuh dengan cinta."
"Aku nggak mau. Aku benci kamu, hiks ..."
"Maafin aku. Aku nggak bermaksud membuat kamu takut tadi. Tapi aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Pak Revin."
"Apa yang membuat kamu nggak senang, hiks? Kita berdua nggak memiliki perasaan apa pun."
"Aku cemburu. Aku cinta sama kamu," ucap Rayzan, meskipun dalam hatinya dia sendiri belum sepenuhnya yakin dengan perasaan tersebut.
Pria itu hanya mencoba meyakinkan Nadira agar pernikahan mereka tidak kandas. Sampai sekarang pun Rayzan masih berusaha menumbuhkan rasa cinta kepada istrinya.
"Cukup, Rayzan. Jangan mempermainkan aku seperti yang dilakukan Daulat. Kamu harus sadar, aku sudah nggak suci lagi."
Rayzan memiringkan tubuhnya, kemudian memeluk istrinya dengan pelan. Nadira sama sekali tidak melakukan perlawanan.
"Aku akan membuat kamu bahagia. Itu janjiku."
Cup!
Rayzan mengecup kepala Nadira tanpa ada penolakan dari istrinya.
Nadira perlahan melepaskan diri dari pelukan tersebut. Tanpa menoleh ke arah Rayzan, dia memberikan jarak di antara mereka.
Wanita merasa sakit hati ketika ada orang yang menuduhnya sudah tidak suci lagi. Bayangan masa lalu itu terus terbayang hingga sekarang.