NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat Suami

Gala bangun saat azan subuh berkumandang dari arah masjid besar yang tidak jauh dari komplek rumahnya.

Ia menguap dan mengusap matanya, sebelum membuka mata itu dan menatap jam dinding. Dia kesiangan rupanya, padahal biasa bangun sebelum azan subuh, agar bisa tahajud lebih dulu.

Gala menatap tangan yang melingkar di pinggangnya, lalu beralih pada Rea yang masih terlelap dengan kepala bersandar di dadanya.

Gala memperhatikan wajah damai gadis itu. Tampak mulutnya yang sedikit terbuka, dan dengkuran halus terdengar jelas, bukti jika gadis itu tidak terbangun dengan suara azan yang cukup lantang.

Gala menggelengkan kepalanya, terlalu nyaman memeluknya atau memang sudah terbiasa bangun siang, ia tidak tahu.

"Re, bangun."

Gala menepuk pelan pipi Rea, seraya bergerak melepas pelukan gadis itu.

Namun, bukan melepas, Rea justru semakin erat memeluk Gala, menduselkan wajahnya di cerukan leher sang suami.

Gala berdecak pelan, lalu melepas paksa pelukan gadis itu, tidak kasar karena takut membuatnya terkejut.

Rea mengerang pelan, lalu beralih meraih bantal milik Gala untuk memeluknya seperti pada Gala tadi.

Gala berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil wudu.

Ia kembali, mengambil sarung dan peci serta sajadah, lalu menggelarnya tak jauh dari ranjang.

Gala memakai sarung dan pecinya, lalu kembali menoleh ke arah Rea. Ia mendekat dan bergerak menggoyangkan tubuh gadis itu.

"Bangun."

Rea mengerang sambil menendang-nendang apapun yang bisa ditendang.

"Bangun, subuh!"

Gala melepas paksa selimut yang dikenakan gadis itu, dan menarik bantal yang dijadikannya sebagai guling.

"Ish, apaan sih? Ngantuk tau." Rea menggeram kesal karena tidurnya terganggu, lalu beralih menutup kepalanya dengan bantal.

Gala menghela nafas berat, lalu kembali menarik bantal di kepala Rea.

"Bangun atau gue siram?"

Rea berdecak sambil mengucek matanya dan mengusap kasar wajahnya.

"Apaan sih?!"

Rea membuka mata dan menatap Gala dengan raut kesal.

Gala menatap gadis itu dengan datar. "Bangun, solat."

Rea berdecak. "Malas."

Gala menatapnya tajam, lalu bergerak duduk di sebelah Rea, menatap gadis itu dengan lekat.

"Malas solat?"

Dengan gampangnya, Rea mengangguk sambil menguap lebar.

Gala sontak menepuk mulut itu, karena Rea tidak menutupnya.

"Bangun sini."

Gala mengulurkan tangannya, memberi kode pada Rea untuk bangkit dengan berpegangan padanya.

Biarlah wudunya batal, nanti bisa mengambilnya lagi. Yang terpenting, kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang muslim harus dijalankan.

"Malas."

Gala berdecak, lalu menarik paksa tangan Rea agar duduk di hadapannya.

Rea sengaja melemaskan tubuhnya, hingga Gala semakin kesal. Gala tetap dengan pendiriannya, menarik gadis itu, kemudian menahan tubuhnya agar tetap duduk tegak.

"Bangun, wudu, solat."

Rea merengek pelan, lalu bergerak memeluk leher Gala, menumpukkan kepalanya di sana.

"Malas, Kak. Dingin," katanya sembari kembali memejamkan mata.

"Mending dingin air atau panas api neraka, hm?" tanya Gala dengan nada lembut, namun penuh penekanan.

Rea hanya diam tidak menjawab, ia masih terlalu mengantuk dan malas jika harus bangun sepagi ini.

"Lo malas salat?"

Rea mengangguk pelan atas pertanyaan Gala.

"Kalau Allah malas ngasih lo nafas lagi, gimana?"

Rea sontak menegakkan tubuhnya, dan menatap Gala dengan mata berkedip-kedip.

"Lo malas solat, terus Allah jawab gini, 'Aku juga lagi malas kasih kamu nafas', gimana? Lo mau apa?"

Rea memajukan bibir bawahnya, iya juga. Jika Allah malas memberi dia nafas, pasti dia mati, tentu saja.

"Tapi dingin," rengeknya lagi.

"Mendingan dingin, dari pada panas. Sana wudhu dulu, gue tunggu."

Gala berdiri dan membantu Rea untuk bangkit dari duduknya. Dengan langkah berat, Rea berjalan ke kamar mandi. Gala yang melihat hal tersebut sontak menggelengkan kepalanya.

Gala mengambil mukena milik Ibunya yang sengaja ditinggal disana, lalu juga menggelar satu sajadah lagi di samping belakang sajadahnya.

Setelah Rea kembali, gantian Gala yang masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudu lagi.

Akhirnya, mereka salat dengan Gala sebagai imam dan Rea sebagai makmumnya.

Selesai salat dan berdoa, Gala berbalik dan mengulurkan tangan untuk menyalami Rea.

Rea dengan patuh menerima uluran tangan itu dan menempelkannya di hidung. Sekarang, ia sudah tidak perlu lagi diajarkan untuk mencium tangan, ia sudah mengerti sejak Gala menyontohkannya.

Rea sudah mencium tangan sang suami, namun tak kunjung melepasnya. Ia kini menatap lekat Gala, yang juga menatapnya dengan bingung.

"Apa?" tanya Gala heran.

"Lo gak niat cium kening gue?"

Diam-diam, Gala terkejut dengan ucapan gadis itu. Namun, setelahnya ia memilih menuruti permintaan Rea. Gala bangkit dan melipat sajadah serta melepas peci dan sarungnya.

Rea ikut bangkit, namun tidak melipat mukena dan sajadahnya. Gadis itu meletakkannya dengan asal dan hendak kembali merebahkan diri di atas ranjang.

Gala dengan sigap menahan gadis itu dan menatapnya tajam. "Lipat dulu!"

Rea mengerucutkan bibirnya, lalu kembali turun dari ranjang dan melipat mukena dan sajadahnya.

"Mulai sekarang, solat lima waktu gak boleh lewat. Lo harus nurut apa kata gue."

Rea mendengus, lalu duduk di sebelah Gala yang tengah bersandar di kepala ranjang.

"Kenapa lo ribet?"

Gala menatap Rea dengan tatapan tajamnya. "Solat itu kewajiban, bukan aturan dari gue."

"Iya-iya."

"Kalau bisa, lo juga pakai jilbab."

Rea membulatkan matanya. "Gak, kalau yang itu gue gak bisa."

Mendengar penolakan dari Rea, Gala menatapnya dalam. "Kenapa gak bisa?"

"Panas, Kak. Ya ampun, lo gak ngerti banget sih?"

Gala menghela nafas. "Itu bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban."

"Ya, tapi ...." Rea menatap Gala dengan seksama. "Gak sekarang," lanjutnya dengan suara pelan.

Gala mengangguk mengerti. "Pelan-pelan aja. Minimal jangan ninggalin solat lima waktu. Itu gak bisa nego."

"Memangnya kenapa sih? Ayah gak pernah, tuh maksa-maksa gue."

"Masa?"

Rea mengangguk. "Dulu Ayah sempat gitu juga, maksa gue buat pakai jilbab, salat, ngaji, gak boleh lewat. Tapi gue nya gak mau, jadi Ayah gak maksa lagi sekarang."

Gala menggelengkan kepala heran. "Lo nya aja yang bandel, makanya Ayah malas ngingetin lo lagi."

"Mulai sekarang, mau gak mau, lo harus nurut sama gue. Apapun yang gue minta, lo harus turutin."

Rea menatap Gala dengan sinis. "Kok lo egois, sih?"

"Bukan masalah egois. Lo istri gue, dan gue suami lo. Gue punya kewajiban untuk membimbing lo. Dosa istri itu ditanggung suami, tau gak?"

Rea mengerjapkan matanya beberapa kali. "Gitu, ya?"

"Ya iya. Lo pacaran, dosanya buat gue. Enak banget gitu, ya?" Gala menatap Rea sinis. "Lo gak solat, juga dosanya buat gue. Awas aja kalau sampai lo gak nurut apa kata gue."

"Berarti, gue gak boleh pacaran gitu?"

"Ya enggak, lah. Gak sudi nanggung dosa lo."

"Terus pacar gue, gimana?"

Gala memutar bola matanya malas. "Terserah."

Gala berlalu keluar kamar menuju dapur. Ia membuka kulkas untuk mencari bahan makanan di sana.

Hanya ada bakso, sosis, wortel dan sayur brokoli. Mungkin untuk memasak sayur sup atau sayur capcai.

"Lo masak, Kak?" tanya Rea yang tiba-tiba ada di sampingnya.

"Memangnya lo gak lapar?"

"Lapar, sih. Memang lo bisa masak?"

Rea memperhatikan Gala yang kini mulai memotong wortel dan brokoli. Tampak rapi dan mahir, mungkin memang sudah terbiasa.

"Lanjutin."

Gala memberikan pisau dan sosis pada Rea untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan dia sendiri mulai menyalakan kompor untuk merebus wortel lebih dulu, agar teksturnya lebih lembek.

"Kak, menurut lo pernikahan kita ini buat apa, sih?" tanya Rea di tengah fokusnya mengiris sosis.

Gala menghentikan kegiatannya sejenak untuk menoleh. "Maksudnya?"

"Ya, gimana? Gue itu bingung, alasan apa yang sebenarnya orang tua kita maksud, sampai nikahin kita di umur semuda ini. Terus kita mau bawa kemana hubungan yang kayak gini, coba?"

"Ke surga," jawab Gala singkat.

"Lo yakin bakal sama gue sampai surga?" tanya Rea seraya mendekati Gala dengan membawa potongan sosisnya.

Gala menatap Rea singkat. "Kenapa enggak? Kalau tujuan kita sama, ya pasti bisa. Kecuali kalau tujuan lo ke neraka."

Rea mendengus sebal, kenapa jawaban Gala selalu membuatnya tidak bisa berkata-kata.

"Gue juga mau ke surga, lah."

"Gampang, tinggal nurut apa kata gue. Jalani kewajiban lo sebagai hamba Allah, pasti bakal masuk surga."

"Kalau ibadahnya malas, gimana mau masuk surga?" sindir Gala yang membuat Rea mengatupkan bibirnya.

"Masuk surga itu mudah, asal lo taat aja, bisa."

"Kenapa kalau mau berubah itu susah? Kenapa selalu ada rasa malas kalau mau ibadah?"

Gala tersenyum tipis. "Gue tanya, tujuan lo hidup itu buat apa?"

Rea berpikir. "Cari kebahagiaan?"

Gala terkekeh sambil mengaduk sayur supnya. "Tujuan hidup itu buat mati. Iya, kan?"

Gala mengangkat alisnya ke arah Rea yang hanya diam. "Semua yang hidup, itu pasti mati. Memangnya ada, orang yang hidup di dunia selama-lamanya?"

"Pernah gak, lo mikir masa depan lo bakal kayak gimana?"

Rea mengangguk, ia seringkali bermimpi akan hidup bahagia di masa depan nanti. Menjadi orang yang berhasil dan membuat orang-orang yang ia sayang merasa bahagia bersamanya.

"Pernah gak, lo bayangin kalau besok mati?"

Rea mengerjapkan matanya, ia belum pernah membayangkan itu. Ia tidak pernah membayangkan akan seperti apa jika ia mati nanti.

"Banyak orang yang mempersiapkan masa depannya, tapi mereka lupa mempersiapkan kematiannya. Padahal, kematian pasti datang. Gak peduli orang itu kaya atau miskin, tua atau muda, good looking atau jelek. Gak peduli orang itu lagi ngapain, mau ngapain. Kalau sudah waktunya mati, ya pasti mati, kan?"

"Bayangin kalau suatu saat kematian itu datang. Dimana kita harus lewatin yang namanya sakaratul maut, kita dimandiin, dikafani, digotong, dikubur, ditutup tanah, semua orang nangisin kita."

Mata Rea berkaca-kaca saat apa yang Gala ucapkan terlintas di pikirannya.

"Di ruang gelap sendirian, didatangin malaikat, ditanyain ini dan itu. Pernah gak lo bayangin itu terjadi pada diri kita?"

Rea menggelengkan kepalanya sambil menatap Gala dengan air mata yang siap tumpah.

"Padahal masa itu pasti datang suatu saat nanti. Amal apa yang bisa menolong kita di alam kubur, di alam akhirat. Kita gak tau, karena terlalu fokus sama dunia."

Rea terisak, membayangkan betapa mengerikannya masa-masa yang pasti akan ia lalui itu. Ia memeluk Gala, menumpahkan tangisnya di sana.

"Kalau lo tanya, gue mau bawa kemana pernikahan kita? Tujuan gue tetap satu, akhirat. Gue gak peduli gue cinta atau enggak sama lo. Yang gue butuh adalah pasangan yang bisa gue ajak sama-sama ke surga, sama-sama mengejar ridho Allah."

"Kalau lo ngerasa sulit untuk berubah, sulit untuk dapatin hidayah, malas buat ibadah. Ingat kalau kita pasti mati, enggak ada orang dalam yang bisa membantu kita perpanjang umur."

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!