Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat Celeste
Malam akhirnya turun sepenuhnya di atas kota. Lampu-lampu gantung kristal di ruang tamu mewah kediaman Delacroix berpijar terang, menerangi meja kaca yang kini dipenuhi beraneka cemilan mahal dan teh hangat. Atmosfer di ruangan itu terasa begitu tegang dan sarat akan tekanan.
Keluarga St. Claire telah hadir. Di sofa utama, duduk Tuan Reginald St. Claire dan istrinya, Nyonya Eleanor St. Claire. Keduanya memancarkan aura ketegasan dan wibawa yang luar biasa, membuat siapa pun enggan berurusan dengan mereka. Di samping Nyonya Eleanor, duduk anak bungsu mereka yang berusia tujuh tahun, Leo St. Claire, yang mengayunkan kakinya dengan bosan.
Tiga anak mereka lainnya Sebastian, Dominic, dan Flavio sudah lama menetap di luar negeri karena telah memiliki keluarga masing-masing.
Sementara itu, di sofa sudut yang terpisah, duduk Lucian St. Claire. Pria berusia 27 tahun itu tampil dalam balutan setelan jas yang luar biasa rapi. Wajahnya yang sangat tampan, rahangnya yang tegas, serta postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat siapa pun terpesona. Satu-satunya kekurangan Lucian adalah ketidakmampuannya untuk bersuara akibat trauma masa lalu.
Keluarga Delacroix duduk berseberangan dengan mereka. Alexander dan Chintya duduk berdampingan, sementara Caelia duduk di tengah dengan raut wajah muram dan bersedekap tangan. Di ujung sofa lainnya, Julian duduk tenang.
Hanya Celeste yang belum menampakkan diri. Ia masih berada di kamarnya, menunggu hingga matahari benar-benar tenggelam tanpa sisa di balik garis cakrawala.
Suasana tenang itu pecah saat Caelia tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan berbicara dengan nada ketus.
"Aku tidak mau menikah dengan pria ini! Aku punya seribu alasan untuk menolak!" seru Caelia tanpa beban, melipat tangan di dada. "Karierku sebagai model baru saja naik! Aku tidak mau masa depanku hancur begitu saja!"
Keluarga Delacroix seketika membatu. Alexander dan Chintya menahan napas, menahan amarah yang membakar dada mereka. Untuk apa mereka berpura-pura menerima perjodohan ini jika Caelia malah berulah seperti ini di depan calon mertuanya?
Nyonya Eleanor meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil dengan denting halus yang tajam. Tatapan matanya yang dingin menghujat Caelia.
"Jangan mempermainkan kami," kata Nyonya Eleanor dengan suara rendah namun mematikan. "Kalian tidak bisa membatalkan perjodohan ini secara sepihak. Hanya kami yang berhak membatalkannya. Lagipula, jika ini batal, yang akan rugi adalah kalian. Perusahaan kalian akan langsung hancur menanggung akibatnya."
Napas Alexander tertahan. Sebelum kepanikan melahap keluarga Delacroix, Julian mendadak mengangkat suaranya.
"Ada yang bisa menggantikan posisi pengantinnya," ujar Julian santai, menyenderkan punggungnya. "Tinggal kalian setuju atau tidak."
Mendengar ucapan Julian, Lucian di ujung sofa langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Ia merasa dimainkan secara terang-terangan.
Siapa yang mau mereka jadikan pengganti?
Pembantu mereka?
Atau gadis lain?
Kalau tahu akan begini, aku tidak akan pernah melanjutkan perjodohan sialan ini! batin Lucian membara.
Tuan Reginald duduk tegap, wajahnya memerah karena emosi yang mulai tersulut. "Apa maksudmu?! Jangan main-main dengan..."
Suara ketukan sepatu hak tinggi di atas tangga kayu memotong kalimat Tuan Reginald. Semua pasang mata di ruangan itu secara refleks menoleh ke arah sumber suara.
Seorang perempuan melangkah turun perlahan dari kegelapan lorong atas.
"Dia yang akan menggantikan Caelia, Tuan Reginald," potong Julian dingin. "Adik kembarnya... Celeste Delacroix."
Tubuh Lucian seketika menegang di tempatnya. Matanya membelalak menatap perempuan yang baru saja berjalan masuk. Perempuan itu... sangat mirip dengan Caelia! Wajahnya, garis tubuhnya, bahkan sepasang mata hazel-nya sangat mirip. Namun, pancaran matanya benar-benar berbeda. Jika Caelia memancarkan keangkuhan, mata Celeste terlihat begitu redup, tenang, dan sendu.
"Selamat malam semuanya," sapa Celeste dengan suara lembut dan sopan. Ia menundukkan kepala sebentar, lalu langsung mengambil tempat duduk di samping Julian, abangnya.
Tuan Reginald dan Nyonya Eleanor saling pandang dalam keterkejutan. Mereka baru tahu bahwa keluarga Delacroix menyembunyikan satu anak perempuan lagi dari publik.
"Seharusnya ini tidak ada bedanya, bukan? Mereka kembar," tambah Julian lagi, menatap tajam ke arah keluarga St. Claire.
Alexander dan Chintya menatap Julian dengan heran. Sang abang yang biasanya acuh tak acuh kini terlihat begitu ngotot ingin Celeste yang menikah dengan Lucian.
Sejak duduk, Celeste terus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menghindari tatapan tajam pria di ujung sofa yang kini mengintimidasi jiwanya. Celeste takut malah sangat takut jika Lucian mengenali wajahnya sebagai wanita dari bar semalam.
Tuan Reginald menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya ke arah putranya. "Bagaimana pendapatmu, Son?"
Lucian tidak menjawab lewat gerakan tangan biasa. Matanya masih menelisik Celeste dari ujung rambut hingga ujung kaki. Saat Celeste membetulkan letak gaunnya, kerah bajunya sedikit bergeser ke bawah.
Di sana, di atas kulit leher Celeste yang seputih salju, terpatri sebuah noda kemerahan yang pekat.
Mata Lucian memicing. Ia tahu betul itu bukan bekas alergi atau gigitan serangga. Itu adalah hickey, bekas gigitan gairah yang ia tinggalkan sendiri semalam!
Seketika, sebuah seringaian tipis terukir di sudut bibir tampan Lucian. Ternyata dia orangnya? batin Lucian bersorak dingin. Aku pikir yang bersamaku semalam Caelia, ternyata perempuan ini. Baguslah, aku tidak salah menikahi wanita. Aku penasaran, apa yang sedang kau rencanakan sampai tidak berani menatapku, Celeste?
Lucian lalu menatap ayahnya dan memberikan satu anggukan pelan namun mantap.
Melihat anggukan itu, Alexander, Chintya, dan Caelia secara bersamaan bernapas lega. Mereka tidak perlu menumbalkan Caelia untuk menjadi istri dari pria bisu itu.
"Jadi... semua sudah selesai, kan? Celeste yang akan menjadi pengantinnya," sahut Nyonya Chintya cepat dengan senyum merekah.
"Tunggu!" potong Nyonya Eleanor tegas, menghentikan euforia keluarga Delacroix. Matanya yang tajam kini beralih menatap perempuan yang sejak tadi terus menunduk. "Kita perlu mendengar pendapat Celeste terlebih dahulu."
Celeste tersentak. Kepalanya mendongak secara refleks, menatap Nyonya Eleanor dengan mata hazel-nya yang bergetar. Baru kali ini, dalam hidupnya yang penuh pengabaian, ada orang asing yang menanyakan pendapat dan keinginannya. Sebuah perasaan hangat yang asing tiba-tiba merayapi dada Celeste.
"Bagaimana, Celeste? Apakah kamu bersedia menikah dengan Lucian?" tanya Nyonya Eleanor dengan suara yang melunak.
"A-aku..." Celeste menelan ludahnya yang terasa pahit. Jantungnya berdegup kencang saat melirik singkat ke arah Lucian. "Aku mau, Nyonya... tapi aku punya satu syarat."
Mendengar kata 'syarat', Alexander dan Chintya langsung membelalakkan mata, berniat memarahi Celeste karena dianggap lancang. Namun, teguran mereka tertahan oleh tatapan mengancam dari Tuan Reginald.
"Katakan saja, Nak. Apa syaratmu?" tanya Tuan Reginald tenang.
Celeste mengepalkan tangannya di atas pangkuan, memberanikan diri. "Aku... aku tidak suka beraktivitas di siang hari. Lebih tepatnya, aku tidak suka berada di bawah sinar matahari. Kehidupanku hanya ada di malam hari. Hanya itu yang aku minta."
Keluarga St. Claire sempat mengerutkan dahi kebingungan mendengar syarat yang terkesan sangat aneh itu. Namun, kebangsawanan mereka membuat mereka tidak langsung mencecar dengan pertanyaan prying. Nyonya Eleanor memalingkan wajahnya menatap Lucian.
Lucian langsung menganggukkan kepalanya sekali lagi tanpa ragu. Ia siap memfasilitasi apa pun yang dibutuhkan calon istrinya.
Melihat respon positif dari Lucian, senyum hangat dan tulus mengembang di bibir pucat Celeste. Senyum yang begitu indah dan polos, berbanding terbalik dengan aura kelam di sekelilingnya.
Melihat senyuman tulus itu, dada Lucian mendadak berdebar kencang tanpa alasan. Sebuah rasa aneh menghantam jantungnya secara tiba-tiba saat menatap wajah lembut Celeste.
"Terima kasih... terima kasih banyak semuanya," tutur Celeste penuh ketulusan, menundukkan kepalanya lagi.