Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman
#8
Hening menyelimuti ruangan, tangis pahit Dina seolah menjadi bahan bakar premium untuk amarah di hati Pak Hermanto.
Setelah putrinya menikah, Pak Hermanto mencoba untuk menjadi orang tua yang bijak, termasuk tidak mencampuri urusan rumah tangga anak dan menantunya.
Isak tangis Dina terdengar, namun, Pak Hermanto membiarkannya agar putrinya puas meluapkan kesedihannya. Karena setelah ini ia tak ingin lagi melihat Dina terpuruk dalam kesedihan.
“Apa alasan Farhan menikah lagi?”
Isak tangis Dina semakin keras, tangannya bergerak lembut mengusap perutnya yang kian membuncit. “Sebenarnya masalah ini sudah sangat lama, tapi aku tak bercerita pada Papa dan Mama karena aku tak mau membebani kalian dengan masalahku.”
Meluncurlah keseluruhan kisah Dina, dimulai sejak vonis dokter pada janin dalam kandungannya, setelah itu perubahan sikap suami serta mertuanya, hingga sikap Farhan yang langsung setuju saat dokter mengatakan bahwa sebaiknya janin tersebut digugurkan sebelum bertambah besar.
“Namun, ditengah semua masalah itu, sebelum meninggal, Mas Farid justru meninggalkan sebuah wasiat berupa amanah yang sangat menyakiti hatiku, yaitu meminta Mas Farhan menikahi janda yang ia tinggalkan, dengan alasan khawatir jika anak mereka kehilangan sosok ayah.”
Brak!
Kepalan tangan Pak Hermanto kembali menggebrak meja, wajahnya semakin merah padam, serta kepalanya panas membara saat membayangkan betapa sulit posisi Ardina yang saat itu sendirian tanpa ada keluarga yang membantunya.
“Keterlaluan, mereka benar-benar keterlaluan. Papa tak akan biarkan hal ini terjadi!” geram Pak Hermanto.
“Maafkan Dina, Pa, Ma. Karena sudah sangat terlambat memberitahukan masalah ini,” isak Dina, namun, Pak Hermanto mengangguk tenang.
“Tidak, Nak. Kamu tak perlu minta maaf.”
“Tapi, Pa, saham yang Papa tanamkan di Permana Group mungkin akan lenyap.”
“Serahkan urusan ini pada Papa, Nak. Meski papamu ini bukan lagi pengusaha, tapi kita adalah investor yang menanamkan modal. Dan ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang papamu ini.” Pak Hermanto kembali mengusap tangan putrinya.
“Iya, Nak. Sekarang fokuslah pada kandunganmu, karena hari persalinan semakin dekat,” imbuh Bu Rara, menambahkan ucapan suaminya.
Rahang Pak Hermanto mengeras, menahan amarah agar tidak lagi meledak, ia tak ingin membalas Farhan dan Permana Group dengan cara yang gegabah. Namun disisi lain, Pak Hermanto juga tidak terima melihat anaknya diperlakukan seolah-olah tidak memiliki harga diri.
•••
Saat Dina beristirahat di kamarnya, Pak Hermanto dan Bu Rara berbicara berdua di kamar mereka.
“Pa, aku masih mendengar suara tangis Dina di kamarnya.”
Suara Bu Rara membuat Pak Hermanto mengalihkan pandangannya dari perkebunan milik mereka yang tertata asri serta terawat, berkat tangan dingin mereka berdua. “Biarkan saja dia menangis.”
“Tapi sampai kapan, Pa?” kata Bu Rara sendu.
“Salama yang dia butuhkan.”
Pak Hermanto kemudian duduk di tepi pembaringan, tepat bersisian dengan Bu Rara.
“Ma, kau tahu, kan, aku orang seperti apa?”
Bu Rara mengangguk, suaminya adalah tipe orang yang tak bisa diam saja bila menerima tantangan. “Aku tak akan memaksa Dina, tapi aku akan mendukung keputusannya bila ingin berpisah dari Farhan.”
“Lantas bagaimana dengan keluarga Farhan?”
Tatapan mata Pak Hermanto tidak berubah, tetap datar dan dingin, menggambarkan betapa parah luka hatinya. “Mereka sudah mengambil keputusan mereka sendiri ketika membiarkan anak kita diperlakukan seperti itu.”
Bu Rara terdiam, menanti ucapan Pak Hermanto selanjutnya.
“Selama ini aku diam karena aku percaya Dina bisa menyelesaikan rumah tangganya sendiri, Aku tidak mau menjadi orang tua yang terlalu ikut campur, Ma,” sambung Pak Hermanto dengan suara yang tetap rendah. “Tapi sekarang berbeda.”
“Maksudnya apa, Pa?” tanya Bu Rara bingung.
“Aku ingin mengambil kembali semua yang pernah keluarga kita berikan kepada keluarga Permana.”
Bu Ratih menatap suaminya. “Pa—”
“Aku tidak sedang ingin menghancurkan mereka.” Pak Hermanto menggeleng. “Sebaliknya, aku hanya ingin memastikan tidak ada satu pun hak keluarga kita yang hilang bersamaan dengan berakhirnya pernikahan Dina dengan Farhan.”
Bu Rara mulai memahami maksud suaminya, beberapa tahun lalu, mereka telah membantu menyokong Permana Group dari balik layar, semua demi membuat menantu mereka terlihat memiliki wibawa dengan cara berhasil membangun kembali bisnis mereka yang hampir pailit. Saat itu Pak Hermanto tidak mempermasalakannya meski ia harus merelakan harta terakhir mereka habis pada saat itu, karena menganggap itu adalah bagian dari membantu keluarga.
Tapi sekarang berbeda, jika Farhan dan keluarganya menganggap Dina tak sepenting itu bagi mereka, maka Pak Hermanto juga ingin memastikan, hak putrinya tidak ikut lenyap bersamaan dengan perpisahan mereka.
Yang tidak diketahui orang, selama ini Pak Hermanto diam-diam masih menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan bisnisnya. Jadi, meski bisnis mereka telah berhenti sejak lama, namun, tak serta merta menghentikan sepak terjang Pak Hermanto di belakang layar.
Ia banyak menjalin relasi dengan beberapa pengusaha di bidang yang sama, termasuk pria yang baru-baru ini ia datangi, Pak Irfan El-Amin. Sayangnya keluarga mereka sedang dalam kondisi berkabung, karena itulah, acara penyuluhan kemarin dibatalkan.
Kelak jika suasana sedang kondusif, ia akan mendatangi pria itu secara khusus guna meminta bantuan. “Mama tak usah ikut pusing memikirkannya, biar itu menjadi urusan Papa. Tugas Mama mendampingi Dina, agar mental dan fisiknya terjaga baik hingga hari persalinan tiba.”
•••
Kembali ke rumah keluarga Permana.
Hari itu, sebuah kiriman datang untuk Sarah, wanita itu memicingkan mata, sebab tak ada nama pengirim yang tertulis di sana. Secara reflek Sarah mengguncang kotak berukuran 16 cm x 16 cm itu, tapi yang terdengar hanya bunyi gesekan kertas.
“Kiriman dari siapa, Sarah?” tanya Bu Sintia tanpa rasa curiga.
“Entahlah, Bu. Tak ada nama pengirimnya, aku pun tidak merasa memesan sesuatu via daring.”
“Aneh,” gumam Bu Sintia, lalu kembali fokus mengajak Malika bicara dengan bahasa bayi yang tak jelas bunyinya.
Diam-diam Sarah menoleh ke arah ibu mertuanya, ia tak ingin ibu mertuanya menaruh curiga padanya. “Aku akan membukanya di kamar, titip Malika sebentar, ya, Bu?”
“Hmm, jangan lama-lama,” sahut Bu Sintia acuh.
Sarah pun berjalan cepat menuju kamarnya, dengan buru-buru ia membuka kotak misterius tersebut. Jantungnya berdebar tak menentu, dan benar saja, wajahnya langsung pucat pasi saat melihat isi di dalamnya.
Ada tulisan di belakang foto tersebut.
—Jika tak ingin foto ini beserta videonya kelak sampai di tangan suami dan mertuamu, segera datang dan temui aku—
Geram dan marah dengan tulisan tersebut beserta pengirimnya, Sarah langsung merobek dua lembar foto yang ada di dalam kotak tersebut hingga menjadi serpihan terkecil lalu membuangnya ke dalam kloset.
Nafasnya memburu dan jantungnya berpacu cepat seperti baru saja berlari jarak jauh. “Kurang ajar sekali, dia!” katanya penuh amarah.
Rupanya dua lembar foto tersebut adalah foto Sarah saat beradegan panas dengan pria selingkuhannya, baru ia tahu ternyata selama ini pria itu merekam perbuatan mereka.