PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Depan Setelah Cerai
Malam yang dingin merayap perlahan, menyisakan keheningan di dalam penthouse mewah yang sepi itu. Mina duduk termenung sendirian di balkon kamarnya, kamar luas milik Alicia yang sekarang otomatis sudah menjadi hak miliknya. Angin malam berembus pelan, mempermainkan ujung kardigan rajut yang membungkus tubuhnya.
Mina menopang dagu, menatap kerlip lampu kota metropolitan dari ketinggian lantai tiga puluh. Pikirannya mendadak melayang jauh merenungi nasibnya.
"Sekarang tubuh seksi ini beneran jadi punya gue, kan? Ya iyalah, lagipula Alicia yang asli udah ngasih atau entah ke mana ninggalin raganya," gumam Mina santai pada diri sendiri.
Namun, rasa penasaran mendadak menggelitik isi kepalanya. Lalu... gimana dengan tubuh aslinya di dunia nyata sekarang, ya? Apa ada jiwa lain juga yang menempati tubuhnya di sana? Mina merenung sejenak, lalu mendengus geli dengan tawa renyah yang tertahan.
"Ah, rasanya gak mungkin. Siapa juga yang mau menempati tubuh seorang pelayan kafe? Udah mah kurus kerempeng karena keseringan makan mi instan, kerjaannya tiap hari cuma fokus cari duit buat biaya hidup sama bayar kuliah yang nunggak terus." gumannya mengingat perjuangannya yang berat.
Mina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin Tuhan juga bakal mikir dua kali buat menempatkan jiwa orang lain di tubuh ringkih kayak gitu," ucapnya blak-blakan tanpa beban.
Jika ada orang yang mengira bahwa Mina merindukan kehidupan lamanya atau menangis bombay ingin kembali ke tubuh aslinya, maka jawabannya adalah tidak sama sekali. Untuk apa juga dia kembali ke tubuhnya yang kurus, ringkih, dan penyakitan itu? Hidup di sana sangat susah, penuh dengan tagihan dan jam kerja lembur yang menyiksa batin.
Mina jauh lebih memilih untuk tetap menempati tubuh Alicia ini. Dan dia juga sudah bertekad tidak mau berpura-pura menjadi sosok Alicia yang kejam, elegan, tapi manipulatif. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, Mina yang asyik, santai, dan sembrono.
Mina mulai menyusun rencana masa depannya dengan matang di dalam kepala.
"Oke, rencana jangka panjangnya begini. Kalau nanti gue beneran cerai sama Mas Arsenio, gue bakal fokus aja ngembangin media sosial gue. Akun selebgram Alicia kan udah centang biru dan punya jutaan pengikut, itu jelas ladang duit banget kalau dikelola dengan benar!" ucapnya percaya diri.
Mina tersenyum lebar, memikirkan mimpi-mimpinya yang terasa sangat realistis.
"Lagipula, sekarang wajah sama bentuk tubuh gue bener-bener perfect tanpa celah. Dada sintal, pinggang ramping, muka secantik bidadari. Dengan modal visual spek bidadari begini, pasti bakal banyak banget brand-brand besar yang antre mau kerja sama bareng gue. Pokoknya, habis cerai, gue bakal cari pekerjaan yang cocok dan hidup mandiri jadi janda kaya raya!" ucapnya tertawa terbahak-bahak.
"Tapi... gimana sama Gino, ya?" gumam Mina tiba-tiba, senyum lebarnya langsung luntur seketika.
Mina menghela napas panjang, ada rasa berat yang mengganjal di dadanya saat memikirkan bocah berusia tiga tahun itu. Apakah tidak apa-apa jika suatu saat nanti dia meninggalkan Gino sendirian bersama ayahnya yang kaku seperti papan tripleks? Selama beberapa minggu ini, kedekatan mereka sudah terbangun dengan sangat baik. Gino sudah menjelma menjadi anak yang ceria, cerewet, dan sangat menuruti perkataannya. Membayangkan mata bulat Gino menangis karena kehilangannya benar-benar membuat di dalam diri Mina kembali bergejolak hebat.
Mina berpikir keras untuk menentukan tujuan hidupnya nanti. Apalagi jika dia mengingat sosok Arsenio. Mengingat nama pria itu saja langsung membuat wajah Mina memerah padam karena kombinasi antara kesal, malu, dan gairah yang aneh.
"Sialan emang itu kulkas berjalan! Berani-beraninya dia menodai gue malam itu!" maki Mina kesal, meremas ujung kardigannya.
Jantungnya kembali berdegup kencang saat memori malam di dapur itu terputar otomatis. Arsenio benar-benar sudah bertindak gila dengan memasukkan jari panjangnya ke dalam lubang kemaluan Mina secara sepihak di atas meja makan. Tapi yang membuat Mina lebih frustrasi pada dirinya sendiri adalah sebuah pengakuan dosa yang tersembunyi di lubuk hatinya.
"Yaa... meskipun gue harus mengakui kalau malam itu gue... sedikit menikmatinya. Tapi cuma sedikit, ya! Gak banyak!" batin Mina membela diri dengan panik.
Plak!
Mina memukul kepalanya sendiri dengan pelan untuk menyadarkan otaknya yang mulai berbelok mesum.
"Aduh, Mina! Bodoh banget sih! Kenapa malah diingat lagi, bikin jantung mau copot aja!" runtuhnya pada diri sendiri dengan gemas.
Mina memeluk lututnya di atas kursi balkon, mencoba menganalisis keanehan sikap suaminya malam itu.
"Tapi dipikir-pikir... aneh banget gak sih? Jangan-jangan Mas Arsenio itu sebenarnya bernafsu sama tubuh Alicia? Tapi katanya dia benci setengah mati?" Mina bergumam bingung.
Dia mencoba mencari pembenaran lain yang lebih masuk akal menurut otak pintarnya.
"Atau... jangan-jangan malam itu dia lagi dirasuki roh halus atau setan budeg yang lewat di dapur? Kemungkinan besar emang iya sih! Dia pasti lagi kerasukan setang gairah, soalnya dalam keadaan sadar kan gak mungkin banget pria sesempurna dan sekaku dia sudi menyentuh wanita yang dia benci kayak gue."
"Mama? K-Kenapa belum b-bobok?"
Sebuah suara cempreng nan menggemaskan tiba-tiba terdengar dari arah pintu balkon yang terbuka. Mina tersentak kaget, langsung menoleh dan mendapati Gino sedang berdiri di sana dengan mengenakan piyama bermotif dinosaurus. Bocah kecil itu mengucek matanya yang masih mengantuk sambil memeluk sebuah boneka beruang kecil.
"Eh, Gino? Kok bangun, Sayang? Haus lagi ya?" tanya Mina dengan nada santai dan cerianya yang biasa, langsung menghampiri dan menggendong tubuh gembil Gino ke dalam pelukannya.
Gino menggelengkan kepalanya, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa hangat di bahu Mina.
"N-Nggak hauc, Mama. Ino cali Mama... tempat tidul k-kocong. Ino takut," ucap bocah itu dengan bicaranya yang ceria namun masih ada sisa-sisa kantuk yang membuatnya menggemaskan.
"Ululu, anak pinter Mama takut ya gak ada Mama di sampingnya?" goda Mina sambil mengecup gemas pipi gembil Gino, membawa bocah itu masuk kembali ke dalam kamar yang hangat dan mendudukkannya di atas ranjang king size.
"Yaudah, sekarang kita bobok lagi ya. Mama temenin di sini, gak bakal ke mana-mana lagi."
Gino langsung tersenyum ceria, rasa takutnya lenyap seketika.
"Iya, Mama! Gini mau didengelin celita mobil terbang lagi!" seru anak itu dengan cerewet, mulai banyak bicara mengekspresikan keinginannya.
"Oke, siap Bos Kecil! Malam ini ceritanya tentang mobil terbang yang menabrak awan berbentuk es krim, gimana?" sahut Mina asyik, langsung merebahkan tubuhnya di samping Gino dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"M-Mau! Ayo celita, Mama!" Gino memeluk lengan Mina dengan sangat erat, menuruti perkataan ibu tirinya dengan kepatuhan mutlak.
Mina mulai mendongeng dengan gaya bahasanya yang santai dan penuh lelucon, membuat Gino sesekali tertawa kecil hingga akhirnya mata bulat bocah itu perlahan-lahan terpejam kembali dan napasnya mulai teratur, tanda telah memasuki alam mimpi dengan tenang.
Melihat wajah damai Gino yang berada di dalam pelukannya, Mina menghentikan dongengnya. Dia mengusap rambut halus anak tirinya dengan sisa kasih sayang yang dia miliki. Pikiran di dalam dirinya kembali berbisik pelan. Jika suatu saat dia beneran pergi dari rumah ini demi mengejar mimpinya sebagai wanita mandiri, apa dia tega menghancurkan kebahagiaan baru yang dimiliki oleh bocah suci ini?
Mina menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang megah.
"Ah, sudahlah. Gimana jalannya nanti aja. Yang penting sekarang gue harus bertahan hidup dulu dari ancaman cerai dan sikap aneh Mas Arsenio," bisiknya lirih sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan rasa kantuk membawanya menyusul Gino ke alam mimpi, melupakan sejenak bayangan sentuhan jari panas Arsenio yang sempat mengacaukan kewarasannya siang dan malam.
Bersambung....
Kalau kalian diposisi Mina, kalian mau gimana guys?.
semngat update lagi ya kak