NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Langkah Pertama Menuju Tanah Asing

Sore itu, kediaman yang biasanya tenang kini terasa sibuk namun tertib. Di halaman belakang, dua kereta perjalanan sedang diperiksa — roda-roda dilumasi, tali-tali diperkuat, peti-peti dibungkus kain pelindung. Di kejauhan, empat ekor kuda hitam yang gagah berdiri diikat, sesekali menghentakkan kakinya, seakan tak sabar melesat jauh.

Meiying berdiri di ambang pintu kamarnya, memandang ke luar. Angin musim gugur meniup daun-daun kering berputar di halaman. Hatinya terasa berat — meninggalkan ayah dan ibu yang masih dalam pemulihan, meninggalkan kedamaian yang baru saja ia temukan. Tapi ia tahu, ia tidak punya pilihan lain. Rouran menanti di tempat yang jauh dan berbahaya.

Suara langkah kaki mendekat. Wei Chen berdiri di sampingnya, memegang dua jubah tebal di tangan.

"Malam di perbatasan sudah dingin," ucapnya lembut, menyodorkan salah satunya. "Anginnya tajam, bisa menembus pakaian tipis."

Meiying menerima jubah itu, menyentuh kain tebalnya. "Kau sudah memeriksa semuanya?"

"Sudah. Kita berangkat fajar besok. Rombongan kecil — hanya aku, kau, dua pengawal kepercayaanku, dan supir kereta. Semakin sedikit orang, semakin sulit dilacak." Wei Chen menatapnya. "Kau yakin tidak ingin tinggal di sini? Aku bisa pergi sendiri..."

Meiying menoleh, menatapnya tegas. "Kita sudah sepakat, Wei Chen. Jangan ajukan itu lagi."

Ia tersenyum tipis, mengusap pipi istrinya. "Aku hanya memastikan. Hati-hatilah."

 

Malam itu, Meiying pulang ke kediaman klan Lin untuk berpamitan. Ayahnya sudah duduk di dipan, wajahnya masih pucat namun jauh lebih segar dari kemarin. Saat melihat putrinya masuk, ia mengulurkan tangan.

"Meiying..."

Meiying berlutut di tepi tempat tidur, memeluk tangan ayahnya. "Maafkan aku, Ayah. Harus pergi lagi."

Ayahnya mengusap rambut putrinya perlahan. "Tidak perlu minta maaf. Kau pergi untuk menyelamatkan keluarga. Itu hal yang mulia. Hanya saja... berjanjilah pada Ayah — jaga dirimu baik-baik. Dan jaga Rouran."

"Aku berjanji, Ayah."

Ibunya masuk membawa sebungkus kain tenunan, lalu memeluk putrinya erat. "Ini selimut buatan tangan Ibu. Bawalah. Agar kau tidak kedinginan, dan agar kau selalu ingat — di sini ada rumah yang menantimu pulang." Ia menyeka air matanya. "Wei Chen... dia pria yang baik. Tapi di perjalanan, dengarkan kata hatimu juga. Jangan ragu berbicara jika ada yang mengganjal."

"Baik, Ibu."

Saat Meiying hendak pergi, adik laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun berlari menghampiri, menyodorkan sebilah belati kecil bergagang kayu. "Kakak... ini untuk melindungi diri. Ayah mengajarkannya padaku, tapi Kakak lebih membutuhkannya sekarang."

Meiying menerima belati itu, mencium kening adiknya. "Terima kasih, Adikku. Kakak akan menjaganya baik-baik."

Keluar dari kamar, ia berhenti sejenak di halaman. Angin malam berhembus pelan. Ia mengangkat wajah ke arah bulan yang bersinar terang, berdoa agar perjalanan mereka selamat, agar Rouran baik-baik saja, agar mereka pulang membawa kebahagiaan, bukan kesedihan.

 

Fajar menyingsing kelabu saat kereta meluncur keluar dari gerbang kediaman Wei Chen. Tidak ada upacara perpisahan, tidak ada keramaian — hanya A-Mei yang berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan pelan hingga kereta hilang di tikungan jalan.

Di dalam kereta, suasana hening. Wei Chen memegang peta yang terbentur di antara mereka, jari telunjuknya menelusuri garis tipis yang melintasi pegunungan dan sungai.

"Kita akan sampai di kota perhentian pertama tiga hari lagi," ucapnya pelan. "Dari sana, jalan makin sempit dan sepi. Musuh bisa mengintai di mana saja."

Meiying menatap jendela, melihat pepohonan yang melintas cepat. "Siapa yang mengirim surat itu? Dan mengapa Pangeran Duan begitu ingin kita dihukum?"

Wei Chen melipat peta perlahan, wajahnya serius. "Pangeran Duan adalah paman dari pihak ibu Kaisar, tapi pengaruhnya makin merosot beberapa tahun terakhir. Jika dia bisa menjatuhkanku, keluargaku, dan keluargamu sekaligus... dia akan memperoleh kekuasaan yang besar. Tapi aku ragu dia sendirian. Ada seseorang di belakangnya — seseorang yang tahu banyak hal, yang punya mata dan telinga di mana-mana."

"Dan Rouran..." Meiying menelan ludah. "Apakah dia tahu apa yang terjadi?"

"Kita tidak tahu. Tapi selama dia masih bernapas, dia berjuang. Kita harus secepatnya menemukan jejaknya."

Tiga hari berlalu dalam perjalanan yang melelahkan. Hutan-hutan lebat berganti menjadi padang rumput yang luas, udara makin sejuk, langit makin tinggi dan biru. Mereka berhenti di penginapan sederhana di kaki pegunungan — bangunan kayu berlantai tanah, berbau kayu bakar dan debu jalanan.

Malam itu, Meiying duduk di beranda penginapan, memeluk lututnya, memandang api unggun yang menyala di halaman. Pengawal-pengawal sedang berbicara pelan di sudut lain, suara mereka samar tertiup angin.

Wei Chen datang duduk di sampingnya, menyodorkan secangkir teh hangat. "Kau belum tidur."

"Belum. Pikiranku gelisah." Meiying memegang cangkir itu, merasakan kehangatan menjalar ke jari-jarinya. "Wei Chen... jika kita menemukannya, dan orang-orang yang menahannya menuntut sesuatu yang tidak bisa kita penuhi?"

Wei Chen diam sejenak, menatap nyala api yang menari-nari. "Aku tidak tahu. Tapi aku berjanji — apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian."

Tiba-tiba percakapan dua pengelana yang duduk di meja sebelah menarik perhatian mereka. Suara mereka rendah, namun terdengar jelas di keheningan malam.

"...Kudengar ada gadis yang dibawa ke pos penjagaan di perbatasan utara. Cantik, berpakaian bagus, tapi matanya sedih sekali. Tidak bicara pada siapa pun."

"Siapa yang membawanya?"

"Orang-orang Pangeran Duan. Tidak ada yang berani mendekat. Katanya dia tamu istimewa."

Jantung Meiying berdegup kencang. Ia menatap Wei Chen. Tatapan istrinya dijawab dengan anggukan tegas. Jejak pertama ditemukan — lebih cepat dari yang mereka duga. Dan nama yang disebut mengonfirmasi kecurigaan mereka.

Pangeran Duan bukan sekadar mencurigakan. Ia dalangnya.

 

Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah lebih cepat. Kabar yang didengar semalam mengubah segalanya — mereka tidak lagi mencari petunjuk, mereka tahu ke mana arahnya.

Saat kereta melaju melewati lembah sunyi, Wei Chen membuka peta kembali, menunjuk sebuah titik kecil yang ditandai dengan tinta merah pudar.

"Ini pos penjagaan Bentuk Batu. Di sanalah mereka menahannya. Tempat itu kuat, dijaga ketat. Kita tidak bisa menyerbu masuk begitu saja."

Meiying menatap titik itu. "Lalu bagaimana?"

Wei Chen menatapnya, matanya tajam namun tenang. "Kita menyusun rencana. Aku akan masuk menyusup malam hari. Kau menunggu di tempat aman..."

"Tidak," potong Meiying tegas. "Kita masuk bersama."

"Meiying, itu terlalu berbahaya..."

"Rouran adalah keluargaku," suaranya mantap, tak bergeming. "Aku tidak akan menunggumu di tempat aman sementara dia menderita di sana. Aku ikut. Bantu aku, atau aku pergi sendiri."

Wei Chen menatapnya lama, melihat keteguhan di wajah istrinya. Ia menghela napas panjang, akhirnya mengangguk pelan.

"Baik. Bersama-sama. Tapi janji padaku — lakukan apa pun yang kukatakan saat di dalam sana. Jangan bertindak sendiri."

"Janji."

Kereta terus melaju menembus kabut pagi yang tebal. Di depan mereka, pegunungan menjulang kelabu dan gagah, menyembunyikan rahasia kelam di balik puncak-puncaknya. Bahaya semakin dekat, namun untuk pertama kalinya sejak kepergian Rouran, ada harapan yang nyata — mereka tahu ke mana harus pergi, dan mereka pergi bersama.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!