Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pintu ruang rapat utama tertutup, memisahkan Reyna dari kekacauan yang baru saja ia ciptakan. Namun, bahkan melalui kaca buram, ia bisa membayangkan dengan sempurna apa yang terjadi di dalam sana.
Di dalam ruangan itu, keheningan yang mencekam menggantikan suara langkah kaki Reyna.
Richard Arland, pria yang selalu menganggap dirinya sebagai raja yang tak tersentuh, kini tampak seperti patung lilin yang mulai meleleh. Dadanya naik turun dengan napas memburu. Matanya yang tadi menyala oleh amarah kini beralih menatap dua orang yang paling ia percaya di dunia ini: tunangan putri kandungnya, dan putri yang selalu ia banggakan.
"Julian..." suara Richard terdengar serak, berbahaya. "Kau... kau menggerogoti perusahaanku? Empat puluh miliar?!"
"P-Pa, dengarkan aku dulu!" Julian berdiri, tangannya gemetar hebat. "Itu... itu hanya pinjaman! Aku bermaksud mengembalikannya sebelum kuartal berakhir! Dan Clarissa... Clarissa tidak tahu apa-apa tentang uang itu!"
"Bohong!" Clarissa tiba-tiba menjerit, air mata dan riasan wajahnya berantakan. Ia menatap Julian dengan tatapan penuh kebencian. "Kau bilang itu uang dari investor asing! Kau bilang kau hanya meminjamnya untuk investasi! Dan kau... kau tidur denganku karena kasihan, bukan karena cinta?!"
"Kalian berdua diam!" Richard menggebrak meja dengan sekuat tenaga, membuat gelas-gelas kristal berdenting keras. Wajahnya kini berwarna ungu, urat-urat di lehernya menonjol. "Kalian bermain di belakangku! Kalian berdua!"
Richard menatap Clarissa dengan tatapan yang belum pernah dilihat gadis itu sebelumnya. Bukan tatapan kasih sayang seorang ayah, melainkan tatapan jijik seorang pria yang menyadari bahwa ia telah dibodohi oleh darah dagingnya sendiri.
"Clarissa. Kau tidur dengan tunangan kakakmu di atas namaku? Di atas perusahaan yang sedang ku selamatkan?" suara Richard turun menjadi bisikan yang mengerikan. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu kalung berlinu itu sudah digadaikan? Julian yang mengatakannya padaku lima menit yang lalu!"
Julian menelan ludah, menyadari bahwa ia baru saja menjatuhkan Clarissa untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Pa... aku..." Clarissa mundur, kakinya menabrak kursi hingga ia terjatuh ke lantai. Gadis yang biasa menggunakan air matanya sebagai senjata kini kehabisan amunisi.
"Kumpulkan barang-barangmu. Kau tidak akan kembali ke mansion ini malam ini," perintah Richard dingin, lalu menoleh pada Julian. "Dan kau. Tanda tangani surat pengunduran diri yang diberikan Vincent. Kau punya waktu dua puluh empat jam untuk mengembalikan setiap sen dari empat puluh miliar itu. Jika tidak, aku akan memastikan kau membusuk di penjara selamanya. Keluar dari hadapanku sebelum aku memanggil keamanan!"
Julian tidak perlu disuruh dua kali. Ia menyambar pulpen, menandatangani surat itu dengan tangan gemetar, lalu berlari keluar dari ruang rapat seperti tikus yang tenggelam. Clarissa, masih terisak di lantai, diseret keluar oleh salah satu asisten yang dipanggil Richard.
***
Di lantai paling atas, pintu ruang CEO terbuka. Reyna melangkah masuk.
Ruangan ini luas, dengan jendela kaca raksasa yang menawarkan pemandangan seluruh kota. Namun, ruangan ini berbau cerutu basi dan kebohongan. Bau Richard.
Reyna berjalan menuju jendela besar itu, lalu menekan tombol pembuka. Kaca raksasa itu terbuka, membiarkan angin segar dan sinar matahari pagi menerobos masuk, mengusir udara pengap yang beracun.
"Pemandangan yang bagus, bukan?"
Vincent masuk, membawa map tipis. Wajah pria paruh baya itu masih menyisakan sisa-sisa kejutan. "Julian sudah menandatangani surat pengunduran dirinya. Dia pergi dengan wajah seperti orang mati. Richard sedang mengurung diri di ruangannya di lantai dua, dan Clarissa sudah diusir dari mansion."
"Bagus," jawab Reyna tanpa menoleh. Ia menatap gedung-gedung pencakar langit di bawahnya. "Tapi ini baru permulaan, Vincent. Richard tidak akan diam. Dia akan mencoba memanggil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menjatuhkanku. Dia masih memiliki suara dari para direksi yang ia suap."
"Benar," Vincent mengangguk, berjalan mendekati meja kerja CEO yang kini menjadi milik Reyna. "Tuan Richard memiliki pengaruh kuat pada tiga dari lima komisaris independen. Jika dia berhasil mengumpulkan suara mereka besok, dia bisa membatalkan pembekuan aset dan memecatmu atas alasan 'ketidakstabilan mental'."
Reyna berbalik, matanya menyipit. Dalam kehidupan sebelumnya, RUPSLB itulah yang menjadi akhir dari segalanya. Itulah hari di mana Direktur Santoso, orang yang Reyna anggap sebagai paman, secara dingin membacakan surat keterangan dari psikiater dan memberikan suara terakhir yang mengirim Reyna ke rumah sakit jiwa.
"Santoso," gumam Reyna.
"Maaf?" Vincent mengerutkan kening.
"Tidak ada. Panggilkan Kepala Keamanan kita. Bram, bukan?"
Vincent mengangguk, lalu menekan tombol interkom di meja. "Suruh Kepala Keamanan, Bram, ke ruang CEO."
Lima menit kemudian, Bram melangkah masuk. Pria berbadan tegap dengan seragam rapi itu membawa sikap arogan yang khas. Ia adalah orang yang secara fisik menyeret Reyna keluar dari gedung Arland di kehidupan sebelumnya atas perintah Richard.
"Nona Reyna," sapa Bram, nada suaranya meremehkan. "Tuan Richard meminta saya untuk...."
"Kau dipecat, Bram," potong Reyna. Suaranya datar, tidak ada ruang untuk bantahan.
Bram terkesiap, lalu tertawa meremehkan. "Nona, dengan hormat, saya hanya menerima perintah dari Tuan Richard. Dia adalah CEO perusahaan ini. Saya tidak bisa dipecat oleh.."
"Aku adalah pemegang hak veto mayoritas dan pengendali operasional mulai hari ini," Reyna melempar sebuah map tipis ke atas meja. "Dan aku juga tahu bahwa kau menerima suap lima ratus juta rupiah dari Julian setiap bulannya untuk 'menutup mata' terhadap barang-barang berharga yang dibawa keluar dari gedung ini oleh anak buahnya. Mau aku kirimkan data ini ke polisi, atau kau menyerahkan lencana dan kunci aksesmu sekarang?"
Wajah Bram seketika pucat. Arogansinya menguap dalam sekejap.