Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Angin malam berembus kencang, membawa rintik hujan yang mulai membasahi beton atap gedung kosong itu. Jarak 15 meter di seberang mereka adalah helipad penthouse milik DIKTA DIRGANTARA yang telah disegel.
Billy mengintip dari balik beton pembatas menggunakan teropong taktis. Di sampingnya, Marco sedang mengencangkan harness dan memeriksa simpul tali karabiner di pinggangnya.
"Pintu utama helipad digembok dari dalam, tapi kisi-kisi ventilasi utama di bawah dek helipad persis seperti yang kau katakan. Tidak ada penjagaan di atas sana" jelas Billy.
"Bagas itu arogan. Dia pikir tidak ada orang yang cukup gila untuk melompat dari ketinggian lantai 45 dalam cuaca seperti ini. Hubungkan grappling hook ke pelontar, Bil," pinta Marco dengan cepat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Billy memasang jangkar besi itu. "Marco, anginnya terlalu kencang. Kalau tembakanku meleset dan talinya tersangkut di baling-motor sensor, alarm seluruh gedung akan berdering."
Marco mencengkeram pundak Billy, menatap tajam padanya hingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa. "Den Arkan tidak punya waktu sampai besok pagi, Billy. Jika kita lambat bergerak, Den Arkan bisa lewat. Bidik besi penyangga helipad. Sekarang!" desis Marco, tanpa penolakan.
Billy menarik napas dalam, menahan napas sejenak, lalu menarik pelatuk dengan kuat.
Ujung jangkar besi menancap kuat di struktur baja bawah helipad seberang. Billy menarik talinya sekuat tenaga, memastikan posisinya terkunci mati sebelum mengaitkan ujung satunya ke katrol pengaman mereka.
"Jalur terkunci! Tapi ini bukan rappelling biasa, Marco. Kemiringannya curang, kau harus meluncur horizontal sebelum turun!" Nafasnya naik turun, seolah kematian sudah di depan mata.
Marco memasang sarung tangan dengan taktis. "Aku duluan. Begitu aku sampai di dek helipad, aku akan retas sensor pintu ventilasi. Kau menyusul setelah kuberi kode lampu hijau. Pegang talinya!"
Tanpa ragu, Marco melompat ke arah jurang kegelapan di antara dua gedung. Tubuhnya meluncur cepat menembus angin malam, tali pengamannya berdecit keras melawan gravitasi. Kakinya menghantam tepian beton helipad dengan bunyi teredam. Ia berguling, lalu merangkak ke bawah dek.
Lewat earpiece, mereka bertukar informasi terkait kondisi di sana. Marco menancapkan perangkat peretas portabel ke modul elektronik ventilasi udara. Jari-jarinya bergerak kilat di atas layar.
Bagaimana, Marco? Anak buah Bagas di basemen baru saja melakukan patroli radio berkala. Kita punya waktu kurang dari dua menit sebelum mereka curiga," jelas Billy dengan mata yang tak henti mengawasi keadaan.
Marco melakukannya dengan pelan dan tektis. Saat terdengar klik, kisi-kisi besi ventilasi besar itu terbuka perlahan tanpa suara.
"Lampu hijau, Billy! Meluncur sekarang! Bawa tas pendinginnya, jangan sampai pecah!" pintanya memburui.
Dengan cepat, Billy mengambil napas panjang. "Demi Den Arkan..." Ia melompat, meluncur membelah angin malam dengan tas khusus terikat di dadanya. Marco bersiap di ujung tali, menangkap tubuh Billy yang mendarat.
Marco menunjuk ke dalam lubang ventilasi yang gelap. "Masuk lewat sini. Begitu sampai di dapur penthouse, langsung ambil stok ASI di lemari pendingin. Ingat, jangan sentuh sakelar lampu ruangan. Gunakan night vision." Marco menatap raut Billy yang ketakutan. Pria itu pertama kali melakukan adegan yang mengerikan ini semata demi menyelamatkan putra dari bosnya.
"Aku takut. Bagaimana kalau ada orang Bagas yang ternyata berjaga di dalam kamar utama?" tanya Billy dengan suara gemetar.
Sudut bibirnya Marco terangkat dingin. "Kalau mereka menghalangi jalan kita untuk menyelamatkan nyawa anak Pak Dikta... pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi. Bergerak!"
Mereka merayap keluar dari lubang ventilasi dan mendarat tanpa suara di lantai dapur yang gelap itu. Pandangan mereka berubah menjadi hijau melalui kacamata night vision.
Marco mendekati Billy lebih dekat, "Billy, lemari pendingin khusus itu ada di sudut kanan dekat pantry. Cepat ambil, aku jaga pintu penghubung ke ruang utama. Ingat, lakukan dengan cepat tanpa menimbulkan masalah," pintanya.
Billy mengangguk dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang hingga terdengar jelas saking ketakutan. Ia membuka pintu lemari es khusus yang menyala. Di dalam, berjejer puluhan kantong ASI perah yang membeku. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kantong satu per satu ke dalam tas. Karena panik dan terburu-buru, Billy kehilangan fokus. Saat menarik kantong terakhir, sudut plastik kantong menyangkut pada rak besi. Ia pun menyentaknya terlalu kuat.
PRAAAK
Sebuah botol kaca tebal berisi cairan vitamin di rak atas tersenggol dan jatuh ke lantai.
Mendengar suara itu, seketika Marco berbalik, menatap Billy. "Bodoh!"
Suara radio komunikasi tiba-tiba memecah keheningan dari arah koridor luar dapur. Langkah sepatu terdengar mendekat ke arah mereka.
Tubuhnya Billy mendadak kaku. Raut wajahnya menjadi pusat pasi. "Marco... maaf... aku tidak sengaja. Botolnya..." Ia menjeda karena takut ketahuan.
Marco mencengkeram kerah jaket Billy, dan menariknya ke balik konter dapur. "Diam! Jangan bernapas! Masukkan kantong terakhir dan tutup tasmu itu!" bisiknya dengan tegas.
Cahaya senter dari luar dapur mulai menyorot masuk, menyapu lantai tepat di atas serpihan kaca botol yang pecah. Langkah kaki anak buah Bagas kini hanya berjarak tiga meter. "Ada pecahan botol di lantai dapur. Sepertinya ada tikus... atau penyusup. Senter ruangan tidak berfungsi, sakelar utama mati. Aku akan memeriksa area pantry," jelasnya lewat suara Radio penjaga.
Billy memeluk tas pendingin itu dengan sangat erat ke dadanya. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Dari celah konter, ia melihat ujung sepatu sang penjaga yang tinggal dua langkah lagi memutari meja dapur mereka.
Di sampingnya, Marco sudah perlahan-lahan mencabut pisau dari sarungnya. Matanya sedingin es, siap melompat untuk mengeksekusi penjaga itu sebelum sempat berteriak.
Tepat saat penjaga itu hendak melongok ke balik konter—
BIIIP... BIIIP... BIIIP...
Suara alarm kelistrikan darurat di lantai bawah tiba-tiba mendengung keras di seluruh gedung. Itu jebakan timer yang diaktifkan oleh Hendra dari markas.
"Semua unit! Panel basemen mengalami gangguan! Kembali ke pos masing-masing dan amankan perimeter!" titah petugas keamanan dari bawah.
Penjaga di dapur itu tertegun. Ia menyorotkan senternya sekali lagi dengan cepat ke arah meja dapur, lalu berbalik terburu-buru.
"Dapur bersih. Hanya botol jatuh. Saya turun ke basemen sekarang." Penjaga itu berjalan tergesa-gesa keluar dari sana.
Langkah kaki itu mulai menghilang di balik pintu besi yang tertutup rapat. Suasana kembali tenang. Billy langsung merosot duduk di lantai, napasnya memburu hebat. "Demi Tuhan, Marco... jantungku hampir copot..."
Marco memasukkan kembali pisaunya, lalu menatap Billy dengan dingin. "Simpan ketakutanmu nanti, Billy. Ketidaktelitianmu hampir membunuh kita berdua dan membiarkan Den Arkan mati kelaparan. Pastikan tas itu terkunci rapat. Kita kembali ke ventilasi sekarang, sekarang!"
Setelah berhasil lolos dari gedung penthouse, Marco dan Billy melaju menuju Panti Asuhan. Sementara itu, di dalam kamar panti yang redup, kondisi Den Arkan sudah kritis. Bayi mungil itu lemas dan mengalami dehidrasi parah karena terus menolak susu formula.
TOK! TOK! TOK!
Marco menggedor pintu depan panti dengan tidak sabar. Pintu terbuka sedikit, tertahan oleh rantai pengaman. Ibu Sarah, kepala panti asuhan, mengintip dari celah pintu dengan raut penuh kewaspadaan.
"Si-siapa kalian?! Pergi! Jangan ganggu tempat ini!" seru Ibu Sarah dengan suara bergetar hebat. Ia bersiap membanting pintu.
"Ibu, tolong tunggu! Kami membawa ASI untuk Den Arkan!" teriak Billy dari belakang Marco, berusaha menunjukkan tas pendinginnya.
"Bohong! Anak buah Bagas dari tadi mencari bayi itu! Saya tidak akan membiarkan orang-orang menyeramkan seperti kalian menyentuh anak-anak di sini!" bentak Ibu Sarah sambil menangis panik.
Mendengar suara Arkan dari dalam rumah, Marco langsung membuang semua egonya sebagai mantan agen kelas atas.
Marco berlutut di atas lantai teras yang basah dan dingin di hadapan Ibu Sarah.
"Saya memohon dengan sangat, Bu..." suara Marco bergetar tulus. "Pukul saya, usir saya setelah ini. Tapi saya mohon, demi nyawa anak itu... berikan ASI ini padanya. Den Arkan sekarat karena dehidrasi. Hanya ini yang bisa menyelamatkannya."
Ibu Sarah tertegun melihat pria berpenampilan beringas itu kini mengemis dengan tulus. Rasa kemanusiaannya meruntuhkan ketakutannya. Dengan tangan gemetar, ia perlahan membuka rantai pengaman.
"Masuk... cepat masuk sebelum mereka melihat kalian," bisik Ibu Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Begitu masuk, Billy segera menyerahkan kantong ASI yang telah dihangatkan secara darurat. Ibu Sarah membawanya ke kamar dan meminumkannya ke Arkan. Begitu cairan ASI menyentuh lidahnya, Arkan langsung meminumnya dengan rakus. Tangisan itu berubah menjadi haru.
Billy menyandarkan tubuhnya ke dinding panti dengan perasaan lega. "Hebat sekali panti ini, Marco. Ketulusan mereka melindungi Den Arkan membuat mereka sangat berhati-hati. Ibu Sarah benar-benar menjaga anak Pak Dikta dengan nyawanya."
Marco mengangguk pelan sambil menyeka sisa air hujan di wajahnya. "Ya. Panti asuhan ini tempat yang tepat. Dedikasi Ibu Sarah patut dipuji."
Tepat Marco dan Billy ingin keluar, pintu depan panti dihantam keras hingga engselnya patah. Belasan anak buah Bagas bersenjata lengkap langsung merangsek masuk ke dalam ruangan. Di depan pintu kamar bayi, Marco dengan kilat langsung pasang badan.
"Kalian terlambat," desis Marco, matanya sedingin es sementara tangannya meraba pisau taktis di balik jaket.
Komandan lapangan anak buah Bagas tertawa renyah, membidikkan senapan otomatisnya tepat ke dada Marco. "Terlambat? Justru tepat waktu, Marco. Trik matikan listrik di penthouse tadi lumayan, tapi bos Bagas sudah tahu semuanya!"
"Kalian bajingan! Anak kecil pun mau kalian bunuh?!" teriak Billy dari belakang, suaranya bergetar hebat.
"Diam kau!" bentak sang komandan, lalu kembali menatap Marco dengan seringai kejam. "Kami tahu bayi keparat itu dehidrasi dan menolak susu formula. Dan kami tahu, cuma kau orang yang cukup gila untuk menerobos penthouse demi sekantong ASI. Sekarang, serahkan bayinya atau panti asuhan ini jadi kuburan kalian malam ini!"
Marco mendengus remeh. Sudut bibirnya terangkat dingin. "Kau pikir aku ke sini tanpa rencana cadangan?" Umpatnya dengan senyuman menyeringai.