NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Matthew

"Lepaskan aku! Ini jebakan! Keluarga Ashworth dijebak!" Leonor meronta-ronta histeris saat lengan anggunnya dicengkeram kasar dan diseret paksa oleh dua prajurit elit pasukan kekaisaran. Gaun beludru hijaunya yang mewah terseret di lantai marmer yang dingin, sementara mahkota kecil di sanggulnya miring berantakan.

Leonor menatap gadis itu penuh kebencian. "Evelyn, dasar kamu cewek tidak tahu diuntung! Berengsek kamu, Evelyn! Cewek sialan!" jerit Leonor. Suara melengkingnya terdengar memantul di aula pesta dansa.

Para tamu undangan membuka jalan, menatap Leonor dengan pandangan jijik dan cemoohan mendalam saat wanita paruh baya itu diseret keluar melewati pintu besar aula.

Sementara itu, di dekat tangga mimbar kehormatan, Cedric yang tersungkur di lantai marmer menatap Evelyn dengan mata memerah. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa sesak seolah dihantam bongkahan batu besar. Rasa malu yang luar biasa, rasa terhina, dendam, dan kemarahan bercampur menjadi satu, yang membakar isi kepalanya.

Semuanya hancur dalam semalam. Posisinya, reputasinya, dan mimpinya untuk menguasai kekayaan Keluarga Pendragon sirna begitu saja. Dan yang paling menghancurkan harga dirinya: Cedric tidak pernah menyangka bahwa Evelyn—gadis polos, lugu, dan terkesan penurut yang selama ini dikiranya sangat tergila-gila padanya—justru menjadi salah satu pelaku yang ikut menjebaknya.

"Evelyn... kamu..." bisik Cedric serak. Suaranya gemetar hebat.

Dua orang pasukan kekaisaran melangkah maju, hendak mencengkeram bahunya untuk menyeret Cedric pergi dari aula. Namun, tepat pada detik ketika salah satu prajurit mengulurkan tangan, kegilaan Cedric memuncak.

Semuanya berlangsung sangat cepat.

Cedric meronta liar, menghempaskan tangan prajurit yang belum siap. Dalam hitungan detik, ia merogoh saku dalam jasnya dan menarik sebuah belati kecil berbilah perak. Di ujung mata pisaunya yang mengilap, teroles cairan kental kehitaman—racun mematikan dari pasar gelap yang sengaja ia siapkan untuk membunuh Evelyn. Rencananya Cedric akan memancing kecemburuan Samantha dan Matthew untuk mengkambing hitamkan keduanya dalam tragedi berdarah pembunuhan Evelyn setelah pesta usai, dengan belati ini sebagai senjata pembunuhannya.

Cedric berlari kencang ke arah Evelyn, seperti orang kesetanan. Ia menerjang cepat, mengarahkan belati beracun itu lurus ke arah dada gadis itu.

"Mati kamu, Evelyn!" jerit Cedric histeris.

Evelyn membeku di tempatnya. Kakinya seolah dipaku ke lantai marmer. Di detik yang begitu krusial itu, bayangan kematian dari kehidupan-kehidupan sebelumnya—bayangan dinginnya bilah besi, darah yang mengalir, dan rasa sakit bertubi-tubi—mendadak berkelebat cepat di pelupuk matanya. Apakah takdir berdarahnya akan berulang lagi malam ini?

Tapi sebelum belati itu sempat menyentuh kain gaun maroon milik Evelyn, sebuah bayangan tegap bergerak jauh lebih cepat dari jangkauan mata telanjang.

Matthew menarik pinggang Evelyn ke dalam dekapannya dengan satu gerakan memutar yang bertenaga. Pria itu menjadikan punggung tegapnya sendiri sebagai tameng mutlak yang melindungi gadis itu sepenuhnya.

JLEB!

Ujung belati beracun milik Cedric menancap tajam di bahu belakang jas Matthew. Ujung belati itu menembus kain tebal berlapis sulaman emas dan menancap ke dalam bahunya sebelum terlepas karena Matthew menghempaskan Cedric ke belakang.

PRANK!

Belati itu pun terlepas dan jatuh berdentang di lantai marmer, diiringi kepanikan Cedric yang luar biasa. Tubuh Cedric mendadak gemetar hebat. Ia menatap tangannya sendiri lalu beralih menatap Matthew dengan tatapan tak percaya.

"Matthew!" Evelyn menjerit panik. Suaranya pecah, dan seketika itu juga air matanya tumpah deras membasahi pipinya.

Para tamu di seluruh aula langsung menjerit histeris. Para wanita menutup mulut mereka dengan kipas, sementara para pejabat dan bangsawan mundur, penuh kepanikan.

"Bajingan!" gertak Matthew sambil meringis menahan sakit yang mendadak membakar bahunya. Suara baritonnya bergema tebal, dipenuhi amarah yang mengancam.

Cedric sama sekali tidak menyangka Grand Duke Matthew Harrington akan memasang badannya sendiri hanya untuk melindungi seorang Evelyn. Bagi Cedric, Evelyn bukanlah siapa-siapa. Gadis itu bukan bangsawan, tidak punya gelar, hanya rakyat jelata yang sengaja dipilih Cedric karena kepolosan dan keluguannya. Evelyn hanyalah pion murah yang sejak awal berniat ia tumbalkan demi menjebak Keluarga Pendragon, agar seluruh harta dan kekuasaan jatuh ke tangannya.

Bagaimana bisa seorang pria dengan kekuasan tertinggi kedua di kekaisaran, seorang Grand Duke Harrington mempertaruhkan nyawanya demi cewek seperti Evelyn?

Tanpa peduli rasa panas dan sensasi membakar yang mulai menjalar cepat dari luka tusuk di punggungnya akibat racun mematikan itu, Matthew memutar tubuhnya. Matanya yang keemasan menyala murka bagai singa yang terluka.

Dengan gerakan cepat dan mematikan, tangan kiri Matthew mencengkeram erat kerah baju Cedric, menarik bajingan itu mendekat. Sementara tangan kanannya melayangkan tinju keras beruntun.

BUM!

Tinju pertama mendarat telak di tulang pipi Cedric, membuat kepala pria itu terlempar ke samping.

BUM!

Tinju kedua menghantam telak rahangnya hingga terdengar bunyi retakan teredam.

BUM!

Tinju ketiga melayang tepat di tengah wajah Cedric sebelum akhirnya Matthew mendorong tubuh bajingan itu dengan bertenaga.

Cedric terlempar beberapa meter ke belakang, meluncur di atas marmer licin dan menghantam pilar batu besar aula sebelum akhirnya tergeletak tak berdaya. Tubuhnya terkulai lemas, dan darah segar mengucur deras dari hidung serta mulutnya yang hancur.

"Seret bajingan itu ke penjara bawah tanah sekarang! Amankan belatinya untuk diteliti!" perintah Samantha dengan suara yang menyala penuh murka. Pedang perak di tangannya sudah terhunus separuh dari sarungnya.

Beberapa prajurit elit yang terlambat bereaksi langsung maju. Mereka menekan tubuh Cedric yang setengah sadar ke lantai, mencengkeram bajunya dengan kasar, lalu menyeretnya keluar dari aula. Sorakan cemooh dan makian kasar dari para tamu bangsawan mengiringi kejatuhan tragis Tuan Muda Ashworth tersebut.

Namun, perhatian Evelyn sudah sama sekali tidak tertuju pada Cedric.

Evelyn berlari mendekati Matthew. Ia berusaha menahan tubuh tegap pria itu yang mendadak terasa amat berat dan lemas. Tubuh tegap yang biasanya berdiri kokoh bak dinding batu itu kini berguncang pelan. Evelyn memeluk pinggang Matthew rapat-rapat, dadanya naik turun diiringi isak tangis yang pecah sepenuhnya.

"M-Matthew... Matthew..." suara gemetar oleh kepanikan melihat Matthew yang semakin lemas.

Jemari Evelyn yang gemetar meraba punggung jas Matthew. Kain tebal di area bahu belakang pria itu kini tidak hanya basah kuyup oleh darah merah, tapi warna darahnya mulai berubah menjadi kehitaman yang pekat. Bau anyir darah bercampur aroma samar racun menusuk hidungnya.

Matthew berusaha menyeimbangkan posisinya, menahan berat badannya agar tidak sepenuhnya membebani Evelyn. Napasnya terdengar semakin berat dan memburu. Efek racun keras itu mulai menyerang sistem saraf dan pembuluh darahnya dengan sangat cepat, membakar seluruh punggung dan lehernya.

"Aku... nggak apa-apa, Eve..." bisik Matthew pelan. Suaranya serak dan amat berat.

Pria itu memaksakan sudut bibirnya terangkat, berusaha menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. Dengan sisa tenaga yang ada, tangan tegap Matthew yang mulai terasa dingin mengangkat jemarinya, mengusap lembut air mata yang menetes deras di pipi Evelyn yang pucat pasi.

"Jangan takut... aku udah janji, kan?" bisik Matthew lagi, matanya yang keemasan menatap Evelyn dengan kehangatan dan rasa kasih yang begitu dalam. "Kamu nggak bakal... terluka lagi..."

"Matthew, jangan bicara lagi... tolong simpan tenagamu!" tangis Evelyn makin pecah. Ia memegang erat telapak tangan Matthew yang di pipinya, merasakan betapa suhu tubuh pria itu merosot cepat. "Jangan seperti ini, aku mohon..."

Pandangan Matthew mulai kabur. Matthew melihat cahaya lampu kristal raksasa di langit-langit aula perlahan meredup. Bayangan wajah Evelyn yang menangis di hadapannya berangsur-angsur samar dan kemudian gelap. Pria itu akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya, roboh ke depan dan bersandar pada pelukan Evelyn yang jatuh terhuyung karena tidak kuat menahan berat tubuh Matthew.

"Matthew! Matthew!" Tangisnya menggema tragis di tengah heningnya aula yang dicekam ketakutan.

Samantha yang melihat pemandangan itu langsung berbalik, wajahnya pucat pasi melihat warna kehitaman yang merembes di baju kakaknya.

"Pengawal! Cepat bawa Grand Duke segera ke kediaman utama! Panggil seluruh dokter elit kekaisaran sekarang juga!" teriak Samantha panik, suaranya menggelegar memerintah seluruh pengawal elit Pendragon.

Para pengawal bergegas maju membawakan tandu darurat dan memapah tubuh Matthew dengan sangat hati-hati.

Evelyn ikut bangkit, memegang erat salah satu tangan Matthew yang terkulai lemas, tidak membiarkan jemari dingin pria itu terlepas dari genggamannya sedikit pun. Air matanya terus menetes.

"Tahan, Matthew... tolong bertahan!" bisik Evelyn penuh kepasrahan, suaranya nyaris habis tertahan sesenggukan. Ia memeluk erat lengan Matthew saat para pengawal memindahkannya. "Jangan tinggalkan aku sekarang!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!