NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 25: KARANG HITAM

Kenzo meletakkan piring itu kembali ke rak, tetap terbalik.

"Biarkan begitu," katanya. "Kalau ada yang datang lagi, mereka kira kita belum ngerti."

Silva menyimpan kancing emas hitam itu ke saku mantel. Layar teleponnya sudah gelap, tapi pesan Bram terasa panas di balik kain.

*Hubungi saya sendirian.*

"Kita ikuti permainan Bram," kata Kenzo. "Dia bilang ada pergerakan di perimeter selatan. Kita ke sana dan pura-pura percaya."

"Itu jebakan."

"Aku tahu. Tapi tukang jebak selalu kirim penjaga, dan penjaga bisa ditanya."

Silva menatapnya. "Dua hari tidak tidur, dan kamu masih bisa berpikir serapi itu."

"Aku nggak rapi. Aku cuma nggak punya pilihan lain."

---

Mobil hitam itu melewati Pasar Kota Tua yang baru dibuka. Di depan sebuah toko kelontong, dua ibu berdiri di bawah rolling door yang digembok dan disegel kertas merah.

"Toko Pak Liem ditutup, Jeng. Katanya 'kurang setoran keamanan'."

"Padahal sudah bayar bulan lalu!"

"Bayarnya kurang lima puluh ribu. Lima puluh ribu, Jeng! Sekarang anaknya disuruh datang ke kantor kelurahan. Kalau nggak lunas, tokonya diambil."

"Ya Allah. Itu toko dari zaman kakeknya..."

Kenzo memperhatikan mereka sampai tikungan. Silva memperhatikan Kenzo.

"Kamu selalu melihat hal-hal seperti itu?"

"Aku tumbuh di tempat yang begitu."

"Aku tumbuh di ruangan yang menghitungnya," kata Silva pelan. "Berbeda. Ruangan itu tidak berbau."

Kenzo tidak menjawab. Tapi ia mengangguk sekali, seperti mengakui bahwa kalimat itu jujur.

---

Perimeter selatan ternyata sebuah lahan bekas depo kereta di ujung kota. Rel berkarat, gerbong tanpa roda, dan dua mobil sedan yang mesinnya menyala di bawah pohon ketapang.

Silva turun sendiri dan berjalan masuk dengan langkah tenang. Kenzo sudah naik ke atap gerbong dari sisi belakang.

Dua lelaki berjas hitam menyambutnya terlalu cepat. Terlalu sopan.

"Nyonya. Pak Bram belum datang."

"Aku lihat." Silva berhenti tiga langkah dari mereka. "Kalian berdua sedang melakukan apa di sini?"

"Menunggu perintah, Nyonya."

"Perintah siapa?"

Jeda. Satu detik. Yang di sebelah kiri melirik temannya.

Itu cukup. Kenzo melompat dari atap gerbong dengan kedua lutut menekuk, dan mendarat tepat di punggung lelaki kiri. Orang itu jatuh menghantam rel tanpa sempat berteriak. Yang kanan mencabut pistol. Satu tembakan *dor*.

Peluru itu menghantam kerikil. Silva sudah menembak lebih dulu, tepat di lutut lelaki itu, dan sebelum ia sempat menjerit, ia sudah mengganti magasin dengan satu gerakan kecil. Wajahnya tidak berubah sama sekali.

"Kamu menembak kayak orang menyetel jam," kata Kenzo.

"Aku tidak suka membuang waktu."

Kenzo berlutut di depan lelaki yang masih bisa bicara. Namanya Rudi, dua puluh lima tahun, wajahnya basah keringat. Ia gemetar ketika pisau kecil menempel di bawah dagunya.

"Aku... aku cuma disuruh jaga, Mas! Nggak tahu apa-apa!"

"Jaga apa?"

"Jaga Nyonya. Jangan sampai Nyonya... pergi dari sini sampai jam sepuluh malam. Katanya Pak Bram mau urus sesuatu."

"Urus apa?"

"Mas Arsenio. Dibawa ke Karang Hitam. Pabrik ikan tua di pantai utara." Rudi menelan ludah. "Pak Bram pesan, Nyonya boleh nyusul. Tapi sendiri. Kalau bawa orang... kalau bawa Mas ini..." matanya melirik Kenzo, "...Mas Arsenio nggak pulang."

Kenzo berdiri. Dua orang itu diikat dan dimasukkan ke bagasi. Ia dan Silva berdiri di bawah pohon ketapang, menghadap dua sedan kosong.

"Kalau kita bawa orang, dia tidak pulang," ulang Kenzo pelan. "Berarti mereka takut sama aku. Atau mereka butuh aku datang sendirian."

"Atau keduanya."

"Iya."

Silva memalingkan wajah. Kenzo melihat rahangnya mengeras sebentar, tapi ia tidak bertanya.

---

Sore itu, di klinik gigi, Silva berdiri di depan pintu ruang kerjanya dengan mantel terpasang.

"Aku butuh satu jam untuk memanggil orang-orangku. Mata Senja punya tiga tim cadangan di Sarvenna. Tunggu di sini sampai aku kembali."

"Satu jam."

"Satu jam." Ia berbalik, lalu berhenti. "Kenzo."

"Hm."

"Kamu tidak akan pergi sendiri."

"Kamu nggak bisa nyuruh aku begitu."

"Aku tahu." Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Tapi aku minta."

Kenzo menatapnya dua detik. Silva berjeda, dan Kenzo menghitung dalam kepala. Tiga detik. Terlalu lama untuk orang yang mengaku hanya pergi menelepon.

"Oke," katanya.

Silva keluar. Pintu klinik menutup. Kenzo menunggu tiga puluh menit sambil menghabiskan setengah botol air dan mengganti perban lengannya sendiri. Lalu ia meraih jaket.

"Bos!" Aceng muncul di pintu dengan laptop di dada. "Kak Silva udah pergi lima belas menit lalu. Arahnya utara!"

"Aku tahu."

"Kak Kenzo mau..."

"Kalau aku nggak balik jam dua belas, kirim semua orang. Jangan tunggu izin siapa pun."

"S-siap, Kak!"

Di ruang pemulihan, Jack mengangkat kepalanya dari sisi ranjang Jeky. Ia tidak bicara. Hanya menyodorkan sebuah pistol cadangan lewat celah pintu, dan Kenzo menerimanya dengan anggukan.

---

Pabrik ikan Karang Hitam berdiri di tebing karang, setengah tertelan ombak. Dindingnya penuh karat, jendelanya pecah, dan bau amis laut bercampur bau besi tua. Bangunan itu sudah mati sepuluh tahun. Tapi malam ini ada cahaya menyala di lantai dua.

Kenzo masuk lewat pipa pembuangan di sisi barat. Ia merayap di rangka besi yang dulu menahan katrol kaleng, lalu berhenti di atas lorong jembatan baja, dua meter di atas lantai produksi.

Dari tempat itu ia bisa melihat semuanya.

Sebuah ruang kaca di lantai dua, bekas kantor mandor, terang oleh satu lampu. Di dalamnya ada meja kecil, dua kursi, dan satu orang kurus berhoodie hitam yang duduk dengan satu pergelangan terikat pada kaki kursi. Di depannya secangkir teh mengepul. Rambut Axel berantakan, tapi ia tampak utuh. Tidak ada darah.

Kenzo menahan napas. Dadanya turun sedikit, selega orang yang baru diizinkan bernapas.

Lalu Silva masuk dari tangga bawah.

Ia berjalan tegak, mantel abu arang menyapu lantai, pistol terarah ke depan. Bram menunggunya di depan ruang kaca dengan dua tangan terbuka.

"Selamat malam, Nyonya. Anda tepat waktu."

"Lepaskan dia."

"Dia aman. Teh sudah saya ganti dua kali." Bram menunjuk ruang kaca dengan dagu. "Anda boleh melihat sendiri."

Silva melirik ke dalam. Axel mengangkat kepala. Mata mereka bertemu di balik kaca, dan Kenzo melihat sesuatu yang aneh: Axel berdiri setengah, kursinya berderit, dan tangannya yang bebas bergerak cepat membentuk satu isyarat kecil sebelum ia sadar apa yang dilakukannya.

*Aku baik-baik saja.*

"Aku bisa membaca bibirmu, Arsenio," kata Silva, keras supaya terdengar lewat kaca tebal itu. "Tidak perlu menulis."

Telinga Axel memerah sampai ke leher. Ia duduk kembali, menunduk.

Bram tersenyum samar. Ia sudah melihatnya di kamera klinik, dan ia tidak berkomentar.

"Kita bicara, Bram." Silva menekan pistolnya ke dada lelaki itu. "Sembilan tahun. Siapa yang kamu layani?"

"Seseorang yang pernah menyelamatkan Letnan Anda dua kali," kata Bram tenang. "Dan terlambat satu kali."

Silva tidak bergerak.

"Letnan Anda tidak dibunuh Alexander. Dia dibunuh karena membuka berkas yang salah. Berkas tentang anak yang selamat dari Jalan Melati Dua." Suara Bram merendah. "Letnan menemukan siapa anak itu sebenarnya. Dan orang yang jauh lebih tinggi dari Alexander tahu dia menemukannya."

"Kenzo..." bisik Silva.

"Letnan menitipkan satu pesan sebelum mati. Cari anak itu. Lindungi dia." Bram memandangnya lurus. "Anda membangun semua ini untuk itu, Nyonya. Tapi Anda belum pernah mengatakannya padanya."

Di atas jembatan baja, Kenzo membeku. Jari-jarinya mencengkeram besi sampai buku-bukunya memutih.

"Majikan saya hanya ingin satu hal," lanjut Bram. "Tuan Kenzo bergabung dengan Anda dan hidup di bawah perlindungan Mata Senja. Itu saja. Tapi dia keras kepala. Dia tidak akan masuk kalau tidak terpaksa. Jadi saya mengambil Arsenio. Supaya dia datang pada Anda sendiri, minta tolong."

"Kamu menculik saudaranya... untuk melindunginya."

"Dia tidak tersentuh sedikit pun."

"Itu bukan perlindungan. Itu tali."

Bram diam. Silva menurunkan pistolnya sedikit, dan suaranya yang selalu dingin mulai retak di pinggirnya.

"Aku tidak akan menjadikan Kenzo umpan. Tidak pada siapa pun. Tidak pada majikanmu, tidak pada Letnanku sendiri." Napasnya tersendat. "Dia menaruh plester di pelipisku. Dia membagi nasi bungkusnya jadi dua. Dia bilang kalau aku hilang, dia pasti cari. Kamu mau aku membalasnya dengan perangkap?"

Di ruang kaca, Axel tidak bisa mendengar. Tapi ia bisa membaca bibir. Cangkir tehnya berhenti di tengah jalan menuju mulut. Ia menatap wajah Silva yang sedang menyebut nama Kenzo, wajah yang tidak pernah selembut itu waktu menyebut namanya. Perlahan ia meletakkan cangkir itu, seolah cangkirnya yang bisa retak.

Tidak ada yang melihat. Hanya Kenzo, dari atas, yang melihat Axel menunduk lama menatap tangannya sendiri. Ia tidak mengerti apa yang dilihatnya. Ia hanya tahu perempuan itu baru saja menolak sesuatu demi dirinya dan tidak minta apa-apa sebagai gantinya. Itu terasa aneh, dan sedikit berat.

"Kamu pikir aku memercayai mereka," kata Silva. "Aku datang sendiri bukan karena aku percaya padamu. Aku datang karena aku..."

Lampu padam.

---

Gelap total. Pabrik itu bergetar oleh derap sepatu dari semua arah.

"Bram!" teriak Silva. "Kamu bawa orang!"

"Bukan orang saya!" Suara Bram pecah, untuk pertama kalinya tanpa ketenangan. "Mereka bukan jadwalnya! Ini seharusnya jam sebelas!"

Senter-senter menyala dari segala sisi. Sepuluh, lima belas titik cahaya memotong gelap menjadi serpihan putih. Orang-orang berjaket kulit mengalir naik tangga dan memenuhi lantai produksi dengan gerakan rapi, tenang, tidak terburu-buru.

Kenzo melompat dari jembatan baja.

Dua orang tumbang sebelum sempat mengangkat senjata. Ia menendang pintu ruang kaca, dan di saat yang sama sebuah tembakan membuat Bram terlempar ke dinding. Peluru menembus bahunya. Lelaki itu merosot dengan mata melebar dan satu tangan menekan luka.

Gandara melangkah masuk dari tangga utama.

Jasnya masih abu-abu. Tangannya yang kiri memegang pistol, dan tangan kanannya sudah mencengkeram kerah hoodie Axel, menariknya berdiri dari kursi. Pergelangan yang diikat sudah dipotong dengan satu sayatan pisau. Moncong pistol itu menempel di pelipis Axel.

"Tenang, Nak," kata Gandara ramah. "Satu langkah lagi dan anak bisu ini berhenti bernapas."

Kenzo membeku. Silva berdiri di sisinya dengan pistol terangkat. Lima belas senapan Lingkar Hitam mengarah ke mereka berdua.

"Lepaskan dia."

"Tidak ada topeng malam ini." Gandara menatap wajah Kenzo, lalu tersenyum kecil. "Jadi aku lihat sendiri. Mirip sekali."

"Mirip siapa?"

"Itu bukan urusanmu sekarang." Gandara menyeret Axel setengah langkah mendekat. Axel meronta dan tenggorokannya mengeluarkan bunyi serak yang tidak berbentuk kata. "Aku sudah pernah bilang. Bagus saja tidak cukup."

"Kamu datang bukan buat aku." Kenzo bicara pelan. Ia mulai mengerti, dan itu membuat perutnya dingin. "Dari awal."

"Pintar." Gandara menggeleng pelan, seperti guru yang kecewa. "Kamu pikir selama ini kami mengejar topengmu? Kamu itu umpan, Nak. Umpan yang sangat berhasil."

Ia menunduk sedikit ke arah telinga Axel, tapi suaranya cukup keras untuk didengar semua orang.

"Bos kami sudah mencari anak ini sejak dia lahir. Dua puluh enam tahun. Dan namanya..."

Gandara menatap Kenzo lurus.

"...bukan Arsenio Axel."

Mata Axel melebar. Napasnya berhenti. Di sebelah Kenzo, Silva menahan napas juga, dan jari Kenzo di pelatuk mulai gemetar untuk pertama kalinya malam itu.

Pistol di pelipis Axel berbunyi *klik*.

---

*Bersambung ke Bab 26*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!